Posted by: genetika21 | 25 December 2010

Acar Kol untuk Orangutan

Kompas.com, 24 Desember 2010

Oleh Soren Kittel Setiap sore, ketika Ulrike von Mengden pulang ke rumahnya, setelah berkeliling Kebun Binatang Ragunan, Jakarta, seekor orangutan menyambutnya. Makhluk berbulu coklat kemerahan itu mengangkat tangan, menghampirinya perlahan-lahan, dan menyentuh lengannya dengan halus. Ia berciut tertahan. Itu suara tanda dia sedang senang. Binatang itu menjabat tangan Ulrike dengan lembut, seakan tahu harus berhati-hati dengan wanita berusia 90 tahun yang terlihat renta itu.

Ulrike von Mengden membelai pipi si orangutan, dan orangutan itu membalas belaiannya. “Kita harus menghadapi dalam posisi sama tinggi dan tidak boleh bersikap dominan,” ujarnya. Ibu Ulla—demikian panggilannya—kemudian menyenandungkan lagu karangannya untuk si orangutan, Liebeliebelei, Liebeliebelei.

Penyandang gelar bangsawan Jerman “Freifrau” itu adalah penjaga tidak resmi orangutan di KB Ragunan. Ya, tidak resmi karena wanita kelahiran Prussia itu tidak mendapat bayaran dari siapa pun. Dia sudah lebih dari 40 tahun tinggal di tengah-tengah Ragunan, di sebuah rumah yang tampak mencolok di tengah kehijauan hutan rimba.

Kusen pintu dan jendelanya bercat merah. Selain para pembantu dan penjaga malam, tidak ada orang yang boleh tinggal di rumah tersebut. Janda seorang diplomat Jerman ini memang sudah mengabdikan hidupnya untuk mengurus para orangutan, yang secara konsekuen disebutnya sebagai “leluhur manusia”.

Ibu Ulla seakan menjadi ibu bagi ke-38 orangutan asuhannya. Ia memberi makan orangutan minimal dua kali sehari; mengawasi pemeliharaannya; mengontrol renovasi kandang; dan menyuruh para pembantunya memelihara kandang.

Pukul 09.00 Ibu Ulla mulai berkeliling. Ia menyapa setiap hewan, memberi belaian, membagikan buah-buahan dan sayur-sayuran. “Kecuali pisang enggak. Pisang selalu mereka lempar kembali,” ujarnya.

Dia menyapa semuanya, mulai dari Ratna yang asal Sumatera, lalu beralih ke Saima yang suka bersembunyi dari pengunjung. Nama-nama orangutan itu diberikan terkait dengan peristiwa yang terjadi seputar kelahiran mereka. Misalnya, Pascal lahir pada hari Paskah, Imlek pada Tahun Baru China, dan Vulkana ketika pemberitaan di Eropa sedang didominasi oleh awan debu vulkanik. Atau si Obama, yang lahir pada hari pelantikan Presiden AS itu.

Cuma di kandang Budi, Ibu Ulla sengaja menjaga jarak. “Dia agak aneh,” ujarnya. Kera besar itu mengguncang-guncangkan kerangkengnya dan terus meludah. Ibu Ulla menghela napas panjang. Ia lebih suka melihat Budi di alam bebas di Kalimantan.

Tidak peduli “leluhur” Walaupun demikian, dia selalu harus berhati-hati. Tenaga orangutan tujuh kali lipat tenaga manusia. Makanya Ibu Ulla harus sangat berhati-hati saat berkeliling menyapa para anak asuhnya. Sepuluh tahun lalu, kakinya ditarik seekor orangutan dari balik pintu kandang. Alhasil, kakinya terkilir dan bahunya membengkak. Pernah pula kakinya patah karena terpeleset di jalan yang licin setelah hujan. “Bisa saja kaki saya patah dua-duanya sekaligus,” ujarnya.

Namun, dia tidak pernah merasa kesal kepada hewan-hewan asuhannya. Orangutan itu pernah menjatuhkan semua buku-buku dari rak ke lantai, makan krem pelembut kulit, atau membuat berantakan seisi rumahnya.

Kedekatannya dengan orangutan meyakinkan Ibu Ulla bahwa metabolisme orangutan sangat mirip dengan metabolisme manusia. Beberapa tahun lalu, si Budi dan si Sukarna terserang parasit strongyloides. Mereka mengalami diare. Ibu Ulla teringat obat yang manjur untuk mengobati gangguan perut dari masa kecilnya di Prussia Timur: acar kol yang dirajang.

Budi diberi makanan tradisional Jerman itu, sedangkan Sukarna tidak. Wanita yang sempat belajar menjadi asisten teknik medis ini pun menjadi ilmuwan kera dan berhasil. Pada kelompok acar kol, penyakit itu menghilang dan tidak kambuh lagi. Sejak itu, “obat” tersebut juga digunakan di pos perawatan orangutan lainnya.

Atas dedikasinya dalam mengurus hewan-hewan itu, Ibu Ulla dianugerahi tanda jasa Bundesverdienstkreuz kelas satu dari Pemerintah Jerman. Selain itu, dia juga telah memperoleh berbagai penghargaan lingkungan. Di pintu masuk KB Ragunan, terdapat patung perunggu dirinya. Namun, dia tidak menyukai patung tersebut karena tidak ingin dikultuskan seperti seorang kaisar. Ia akan lebih senang seandainya orang Indonesia akhirnya mengembangkan rasa sayang binatang seperti yang menahannya di Jakarta sejak 60 tahun lalu.

“Sayangnya orang Indonesia masih kurang peduli kepada leluhur mereka yang berharga,” ujarnya. Ulrike menyesalkan, di Jakarta ini semuanya seakan-akan harus berhubungan dengan uang. Sudah berulang kali ia mencoba mengalihkan hewan-hewan itu kepada berbagai organisasi perlindungan hewan. Tetapi, langkah yang dahulu jauh lebih mudah kini tiba-tiba selalu terkait dengan pembayaran uang dalam jumlah besar. Itu pun tidak selalu jelas untuk apa sesungguhnya uang yang ia bayarkan. Ia yang kenal Indonesia dengan baik, tidak memungkiri korupsi merupakan bagian dari negeri ini.

Sejak dulu, para pemikir besar dan politisi ulung pun biasa bertandang ke rumahnya. “Soekarno orang yang sangat karismatik,” komentarnya. Nama presiden pertama itu dipinjam untuk nama bayi kera Sukarna. “Bila Soekarno berbicara, semua orang mendengarkannya, mirip dengan Obama sekarang ini,” kenangnya. Selain Soekarno, presiden yang memahami bahasa Jerman dan pernah berjumpa dengannya adalah BJ Habibie dan KH Abdurrahman Wahid. Mereka bisa berkomunikasi dalam bahasa Jerman.

Jika ia berbicara tentang politik, suaranya bisa mendadak lantang. Tubuhnya yang mungil akan membungkuk, seakan-akan ia hendak menggebrak meja. Namun, lengannya tak lagi memiliki tenaga yang diperlukan untuk itu. “Rasa gusar membuat saya tetap sehat,” katanya. Andai kata ia terbiasa memendam kemarahan, ia sudah lama terserang kanker, karena itu semuanya harus langsung diungkapkan. Tetapi ia tidak sering marah. “Saya hanya dikelilingi oleh orangutan yang baik hati,” kata Ibu Ulla.

Tahun depan, Ibu Ulla mau “pensiun” atau berhenti dari tugasnya mengasuh orangutan di KB Ragunan. Hingga kini belum ada orang yang mau mengambil alih pekerjaannya itu.

Penulis Soren Kittel,Wartawan Die Welt, Peserta Program Goethe Institut Magang di KompasEditor: wah


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: