Posted by: genetika21 | 8 December 2010

Rumah Pasien Flu Burung Dipantau

Seputar Indonesia, 8 Desember 2010

BANDUNG (SINDO) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung melakukan pemantauan dan penyelidikan epidimologi di tempat tinggal pasien terduga flu burung,Ny K,21,Kelurahan Holis,Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung.Hingga kini,Ny K masih menjalani perawatan di Ruang Flamboyan Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.

Kepala Seksi Pemantau Penyakit Dinkes Kota Bandung Yorisa Sativa mengungkapkan bahwa pihaknya juga mewawancarai keluarga pasien untuk mendapatkan keterangan dan data yang dibutuhkan. “Dari penyelidikan itu, kami belum mendapatkan keterangan bahwa di tempat tinggal yang bersangkutan ada unggas yang mati mendadak,”kata Yorisa saat dihubungi wartawan,kemarin.

Pemantauan epidimologi ini dilakukan hingga radius 300 meter dari rumah tinggal pasien. Selain tidak adanya unggas yang mati mendadak,Dinkes juga tidak menemukan peternakan unggas, baik yang legal maupun ilegal. Menurut keterangan pihak keluarga, pasien juga tidak pernah kontak langsung dengan unggas. “Jadi, kami belum tahu pasti penyebabnya, tapi kami akan terus melakukan pemeriksaan,pemantauan, dan penyelidikan secara intensif,” ujar Yorisa. 

Pemantauan yang melibatkan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan ini juga untuk memonitor kesehatan warga di daerah tersebut pasca-adanya warga yang menjadi pasien terduga flu burung. Yorisa mengatakan, pada umumnya, suspect flu burung diakibatkan oleh kontak langsung dengan unggas. “Kami berkoordinasi dengan puskesmas setempat untuk memantau kondisi kesehatan warganya serta apa penyebab pastinya,”ujarnya. 

Dinkes Kota Bandung juga terus melakukan koordinasi dengan RT/RW, kelurahan, dan kecamatan tempat Ny K berdomisili. “Kami meminta pada aparat kewilayahan di sana untuk terus memantau juga melaporkan kepada puskesmas terdekat jika ada warga yang mengalami gejala flu burung agar nantinya ada tindakan preventif.Karena memang terkadang banyak warga yang takut untuk melapor,”papar Yorisa. 

Diharapkan, aparat kewilayahan juga dapat melakukan sosialisasi penyakit yang disebabkan virus H5N1 ini. Selain agar masyarakat mengetahui gejala flu burung, sosialisasi juga dilakukan untuk menghindari gejolak yang ditimbulkan akibat adanya warga yang menjadi terduga flu burung. “Jangan sampai ada kekhawatiran berlebih,”tandas Yorisa. Dihubungi terpisah, Juru Bicara Tim Penanganan Flu Burung dan Penyakit Infeksi Menular RSHS Primal Sudjana mengaku belum mendapatkan hasil pemeriksaan spesimen 1, 2, dan 3 Ny K dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) di Jakarta.

“Untuk itu, kami juga belum tahu hasilnya. Mungkin Rabu (8/12) besok kami sudah mendapatkan hasilnya dari Balitbangkes,” ujar Primal. Diberitakan sebelumnya, pada 22 November 2010 lalu,Ny K dilarikan ke RSHS Bandung dengan kondisi kesehatan memburuk. Pasien datang dengan keluhan nyeri perut, batuk, dan sesak nafas serta mengalami radang paru-paru kritis (pneumonia). “Berdasarkan pengalaman, kami curiga kalau gejalanya tersebut mengarah ke flu burung,” kata Primal. (krisiandi sacawisastra)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: