Posted by: genetika21 | 2 December 2010

WHO Evaluasi Pelatihan Penanganan Flu Burung

Antara, 1 December 2010

Sukoharjo, 1/12 (ANTARA) – Tim Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengunjungi Puskesmas Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Rabu, untuk evaluasi Pelatihan Survelen Avian Influenza (AI), sebagai bagian siaga dini terhadap munculnya kembali flu burung. 

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sukoharjo, Agus Prihatmo, di Sukoharjo, Rabu, mengatakan, kedatangan Tim WHO tersebut untuk mengevaluasi hasil pelatihan yang telah diikuti petugas DKK setempat terkait dengan penanganan flu burung. Dia menjelaskan, petugas DKK Sukoharjo telah mendapatkan Pelatihan Survelen Avian Influenza (AI) atau kegiatan penelitian secara komprehensif terkait flu burung yang diberikan pihak Dinas Kesehatan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, beberapa bulan lalu. 

“Sekitar dua atau tiga bulan lalu, sebanyak 90 petugas DKK Sukoharjo, terdiri atas dokter dan perawat, dibagi dalam tiga gelombang mendapatkan pelatihan survelen tentang penanganan flu burung,” katanya. Pelatihan itu diberikan mereka sebagai salah satu bentuk siaga dini setelah pada Juli 2010 dijumpai kasus seorang gadis berasal dari Desa Menjing, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah meninggal dunia akibat positif flu burung. 

“Kecamatan Polokarto dipilih sebagai tempat pelatihan, karena beberapa bulan lalu di salah satu desanya memang terdapat satu orang meninggal akibat flu burung, sehingga pelatihan itu sangat tepat dengan lokasi dan kasusnya,” katanya Dia mengatakan, pelatihan itu juga dilakukan terhadap beberapa provinsi lainnya, sedangkan di Jawa Tengah kegiatan itu untuk Kabupaten Sukoharjo dan Wonogiri. Dia menjelaskan, pelatihan survelen terkait flu burung tersebut diselenggarakan agar petugas bisa menularkan kemampuan dan ilmunya hingga petugas tingkat kecamatan. Selain itu, katanya, masyarakat menjadi peka terhadap permasalahan tentang flu burung tersebut. 

“Ketika hidup di tengah-tengah endemisitas AI, masyarakat dituntut untuk bisa menyikapinya, yakni dapat hidup berdampingan dengan ayam yang ada di sekitarnya tanpa tertular virus flu burung,” katanya. Kepala Bidang Penularan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) DKK Sukoharjo, Rustiningsih, mengatakan, kehadiran tim WHO tersebut untuk mengevaluasi beberapa hal yang berkaitan dengan teknis pelatihan dan hasil pelatihan itu. 

“Yang dievaluasi antara lain tentang kurikulum atau metode yang digunakan, lamanya pelatihan, dan masyarakat yang menjadi sasaran pelatihan, ” katanya. Dia menjelaskan, evaluasi menyangkut teknis pelatihan, didapatkan beberapa hasil antara lain terkait dengan waktu yang terlalu singkat dan perlunya penambahan metode. 

“Selama ini pelatihan digelar dalam waktu dua hari saja, dan itu bagi sebagian peserta dinilai terlalu singkat dan agar ditambah menjadi tiga hari,” katanya. Metode pelatihan berupa studi kasus yang digunakan selama ini, katanya, sudah dianggap baik, akan tetapi akan ditambah dengan simulasi sehingga semakin dipahami oleh peserta pelatihan. Secara keseluruhan, katanya, penilaian oleh pihak WHO terhadap teknis pelatihan tersebut dikatakan cukup berhasil karena masyarakat sudah semakin tanggap dan waspada terhadap bahaya flu burung. 

Tim WHO yang berkunjung ke Kabupaten Sukoharjo tersebut juga disertai pihak Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah. 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: