Posted by: genetika21 | 25 June 2010

Kumpulan Berita Veteriner Hari Ini 25/06/2010

INDEX:

1.      Jurnal Nasional:Kalbar Siaga Flu Burung

2.      Antara  : KEMATIAN UNGGAS DI PONTIANAK POSITIF H5N1

3.      Antara : RABIES DI NIAS TETAP JADI PERHATIAN DINKES

***

1. Jurnal Nasional

June 25, 2010

Kalbar Siaga Flu Burung

MISTERI kematian ratusan ayam milik warga di Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat (Kalbar) akhirnya terjawab. Hasil uji laboratorium Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner (BPPV) menyebutkan, dari 40 specimen yang diajukan, delapan positif virus avian influenza (H5N1) atau flu burung.

Kendati demikian, Pemerintah Kalbar tidak ingin tergesa-gesa mengeluarkan kebijakan seperti mengisolasi Kota Pontianak terkait wabah mematikan ini. Langkah-langkah antisipatif adalah membatasi jalur keluar-masuk unggas dari dan ke Kota Pontianak. Pemusnahan unggas dan penyemprotan disinfektan dilakukan di lokasi yang terjangkit wabah.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Kadisnakkeswan) Kalbar, Abdul Manaf Mustafa mengatakan, pemerintah dan seluruh instansi terkait telah memperketat pintu keluar masuk unggas. “Sesuai instruksi gubernur, belum saatnya Kota Pontianak diisolasi terkait wabah ini,” katanya di Pontianak, Kamis (24/6).

Manaf meminta seluruh lapisan masyarakat Kalbar tidak panik dengan wabah flu burung ini. Dia berharap, masyarakat meningkatkan kewaspadaan dengan melakukan tindakan antisipatif, seperti melaporkan ke aparat desa jika menemukan ada unggas yang mati atau ada unggas yang masuk dari luar Kalbar yang diangkut dari kapal-kapal nelayan.

Korban Flu Burung

Sementara itu kondisi pasien RSUD dr Soedarso Pontianak, Deby Debora, yang terindikasi flu burung, saat ini mulai membaik. Namun, bocah usia 4,8 tahun ini masih menjalani perawatan intensif di ruang isolasi khusus flu burung/flu babi. Belum ada kepastian apakah warga Sanggau yang kini berdomisili di Gang Swasembada I, Jalan Situt Machmud, Kecamatan Pontianak Utara itu positif flu burung atau tidak.

Koordinator tim perawat khusus pasien flu burung, Ida Royani mengatakan, kondisi bocah itu terus membaik dibandingkan saat masuk ke rumah sakit. ”Saat masuk, suhu tubuh mencapai 39 derajat celcius. Sekarang sudah turun menjadi 36 derajat celcius,” ujar dia.

Ida mengatakan, selama dalam perawatan, sudah memberikan obat-obatan injeksi. Selain itu, pasien juga diberikan tamiflu agar dapat menekan kemampuan virus menyebar dari sel yang terinfeksi ke sel yang sehat.

Hal itu diakui Delina Elia, ibu kandung pasien. Perempuan 37 tahun ini menyebut kondisi anak keduanya ini sudah membaik. “Sudah bisa makan. Setiap kali saya masuk, dia selalu meminta pulang. Ini berbeda pada saat baru masuk ke rumah sakit Senin malam lalu. Saat itu, suhu badan sangat tinggi dan diselingi batuk berdahak,” ucap Delina.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Multi Jutho Batarendro menegaskan, apa yang dialami Deby Debora belum tentususpect flu burung. “Masyarakat harus tahu kita sudah mengirim sampel darah ke laboratorium Kementerian Kesehatan di Jakarta. Dan sampai sekarang, hasilnya masih kita tunggu.”

Namun, hasil diagnosa Koordinator Tim Medis Ruang Isolasi RSUD Soedarso, Abdul Salam mengatakan, pasien mengalami gangguan di saluran pernafasan akut dan disertai demam tinggi dan flu. “Kita duga ini flu burung. Agar tak menular, kita rawat di ruang isolasi.” Andi Fachrizal

Kutipan: pemerintah dan seluruh instansi terkait telah memperketat pintu keluar masuk unggas

2. Antara

June 24, 2010

KEMATIAN UNGGAS DI PONTIANAK POSITIF H5N1

Pontianak, 24/6 (ANTARA) – Dinas Pertanian dan Kehewanan Kota Pontianak menyatakan hasil uji laboratorium mengungkapkan penyebab matinya puluhan unggas atau ayam bangkok (aduan) di Kampung Dalam, Kecamatan Pontianak Timur pekan lalu positif terinfeksi virus flu burung atau H5N1.
Dinas Pertanian dan Kehewanan Kota Pontianak, Aswin H. Dja`far di Pontianak, Kamis, mengatakan, hasil uji laboratorium yang dilakukan Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner (BPPV) pusat, menyatakan sampel darah yang diambil dari ayam yang mati itu positif flu burung.
“Virus itu sudah menyebar di semua kecamatan yang ada di Kota Pontianak,” kata Aswin.
Aswin menyatakan saat ini pihaknya bekerja keras memberantas penyebaran virus itu, seperti membakar ayam-ayam yang diduga terinfeksi dan menyemprot kandang ayam dengan desinfektan atau penghalau hama.
“Dalam enam bulan ke depan kami akan terus melakukan pemantauan terhadap kasus flu burung yang ada di Pontianak. Jam kerja kami juga ditambah dari pagi hingga sore bahkan malam bila diperlukan,” ujarnya.
Pada kesempatan itu Aswin juga menyatakan, De (4,8) warga Gang Swasembada I, Jalan Gusti Situt Mahmud yang diduga suspect flu burung dan saat ini menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Dokter Sudarso Pontianak, kondisinya sudah membaik.
Hasil rekam medis dari rumah sakit itu, kondisi kesehatan korban normal tidak terkena virus flu burung, kata Aswin.
Aswin mengimbau kepada pemilik rumah makan dan restoran untuk membeli ayam potong di rumah potong ayam resmi yang saat ini ada di tiga tempat di Kota Ponianak, yakni Batu Layang, Parit Mayor dan Nipah Kuning.
Sebelumnya, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalbar Abdul Manaf Mustafa menyatakan, dari 40 sampel darah yang diuji hasilnya 32 sampel darah itu terdapat ND (newcastle diseaseganas) dan sisanya delapan sampel positif flu burung.
“Hasil uji laboratorium itu saya terima Senin (21/6). Hingga saat ini pencegahan masih dilakukan dengan memusnahkan unggas yang diduga terinfeksi virus flu burung dan menyemprotkan desinfektan,” katanya.
Menurut dia, Gubernur Kalbar belum memerintahkan untuk menutup kota secara total dengan adanya kasus itu. “Kami diminta memperketat keluar masuknya unggas dari luar, terutama di kawasan perbatasan darat Kalbar – Malaysia.
Sepanjang 1.500 kilometer perbatasan Kalimantan, menurut Abdul Manaf merupakan daerah rawan bagi masuknya unggas-unggas pembawa penyakit.
Sementara Kalbar pada 25 Januari lalu sudah mendapatkan sertifikat bebas flu burung dari Kementerian Pertanian. Sertifikat diperoleh setelah pada bulan Januari 2007 Kalbar mengajukan permohonan sertifikat bebas flu burung.
Komisi Ahli Kesehatan Hewan dan Masyarakat menerbitkan rekomendasi Kalbar Bebas Flu burung pada 16 Desember 2009. (U.A057/ (U.A057/B/N005/N005) 24-06-2010 15:36:35 NNNN

3. Antara

June 24, 2010

RABIES DI NIAS TETAP JADI PERHATIAN DINKES

Medan 24/6 (ANTARA) – Kasus merebaknya rabies di Kabupaten Nias, Sumatera Utara beberapa waktu yang lalu tetap menjadi perhatian serius bagi Dinas Kesehatan Sumut meski dewasa ini penyakit tersebut sudah mulai mereda.
Kepala Dinas Kesehatan Sumut Chandra Syafei, di Medan, Kamis, mengatakan, pihaknya melibatkan berbagai pihak dan instansi dalam upaya pemberantasan penyakit rabies di Pulau Nias yang sempat dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).
Nias sempat dinyatakan KLB rabies karena meningkatnya kasus manusia terkena penyakit yang berasal dari gigitan anjing tersebut.
Dinyatakannya daerah itu KLB karena rabies di Nias merupakan kasus baru, dan untuk menekan tingginya angka jangkitan salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan melakukan kegiatan pemberantasan rabies lintas program dan lintas sektoral.
Departemen kesehatan dan departemen pertanian dalam hal ini bagian peternakan sudah mengadakan pertemuan dan melakukan kunjungan ke Nias.Juga telah mengirimkan bantuan vaksin anti rabies.
“Tim penyelidik epidemologi dan evaluasi KLB rabies juga diturunkan guna menindaklanjuti kasus rabies didaerah tersebut. Kita juga sudah buat rabies center di Nias serta membentuk tim-tim penanggulangan rabies sampai ke desa-desa,” katanya.
Pihaknya juga terus minta dinas-dinas terkait dan masyarakat di kabupaten Nias demi meminimalisir rabies melakukan saling koordinasi mengeliminasi anjing-anjing yang dicurigai menderita rabies.
“Kalau ada anjing yang dicurigai membawa rabies cepat ditangkap, masyarakat juga harus mau bekerja sama dan jangan menyembunyikan anjingnya. Kalau ada yang digigit anjing cepat dibawa kerumah sakit untuk diobati, jangan dibiarkan,” katanya.
Untuk gejala rabies, lanjut dia, penderita yang telah digigit binatang seperti anjing, kucing dan monyet yang mengidapat rabies akan mengalami gejala, demam, kebas-kebas, sulit menelan, keluar air liur, takut cahaya, takut air dan takut mendengar suara.
Berdasarkan data hingga akhir Februari 2010 di Sumut telah ditemukan 108 kasus gigitan anjing di Nias dengan 5 penderita positif rabies dan mereka meninggal dunia.
“Sedang untuk tahun 2009, ditemukan 2.386 kasus gigitan dengan 22 kematian, dengan demikian kasus rabies 2010 termasuk kasus yang cukup besar. Meski saat ini kasus rabies di daerah itu sudah mereda namun masyarakat harus tetap waspada,” katanya.
Di Nias, lanjutnya kasus rabies dulunya tidak mendapat perhatian karena selama ini belum pernah dilaporkan.
Masuknya rabies ke Nias itu diduga karena dibawa oleh nelayan asing yang singgah di daerah tersebut.
“Saat berada di Nias mereka juga membawa anjing yang diperkirakan terkena virus rabies,” katanya.. (T.KR-JRD/B/M034/M034) 24-06-2010 17:03:23 NNNN


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: