Posted by: genetika21 | 18 June 2010

Kumpulan Berita Veteriner Hari Ini 18/06/2010

INDEX:

1.      Suara Pembaruan: Rabies Menyerang Toraja

2.       Antara: WARGA BANDA ACEH DIIMBAU WASPADAI RABIES

3.       Antara: DISNAK BALI INTENSIFKAN VAKSINASI DAN ELIMINASI ANJING

4.       Antara: DUA KASUS FLU BURUNG DITEMUKAN SELAMA 2010

5.       Republika : Virus H1N1 Bertukar Gen pada Babi

6.       Equator News On line : Permintaan Ayam Potong Menurun

7.       Kompas.com : Babi Hong Kong Kedatangan Virus Flu Babi

***

1. Suara Pembaruan

17 Juni 2010

Rabies Menyerang Toraja

Daerah tujuan wisata (DTW) Toraja mengalami angka tertinggi penyebaran penyakit rabies di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel). Untuk memberantas rabies, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sulsel saat ini mengalami kekurangan vaksin.Padahal penyebaran penyakit tersebut telah meluas ke 10 kabupaten/kota di Provinsi Sulsel. Selama tiga tahun terakhir, perkembangan penyakit rabies di Sulsel cukup tinggi. Pada tahun 2007 terjadi 116 kasus, 2008 naik menjadi 160 kasus, 2009 terjadi 114 kasus, 2010 pada posisi April terdapat 33 kasus di 10 kabupaten dan kota, meliputi Kabupaten Toraja Utara, Toraja, Bone, Maros, Pinrang, Luwu Timur, Pangkep, Barru, Takalar dan Palopo, menyebar di 26 kecamatan dan 30 desa.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sulsel, Murtala Ali kepada SP di Makassar, Kamis (17/6) pagi mengatakan, sejak 2005 sampai sekarang, Tana Toraja menempati urutan teratas penyebaran penyakit rabies dan 2008 paling tinggi, mencapai 65 kasus. [148]

2. Antara

17 Juni 2010

WARGA BANDA ACEH DIIMBAU WASPADAI RABIES

Banda Aceh, 17/6 (ANTARA) – Warga Kota Banda Aceh diimbau mewaspadai penularan rabies karena masih maraknya kasus gigitan hewan pada manusia di daerah itu.  “Kita mengimbau warga agar mewaspadai gigitan hewan seperti anjing, kucing dan kera agar segera ditangani sehingga tidak tertular rabies,” kata Kasi Peternakan Dinas Peternakan, Pertanian, Perikanan dan Kelautan (P3K) Kota Banda Aceh, drh Mustafa di Banda Aceh, Kamis.  Mustafa merincikan, selama tiga bulan pertama 2010 terjadi sepuluh kasus gigitan hewan pada manusia namun hanya tiga kasus yang mengarah ke rabies.
Sepuluh kasus tersebut terdiri dari enam kasus pada Januari, satu kasus pada Februari selebihnya terjadi pada Maret 2010 yaitu dua kasus akibat gigitan anjing, masing-masing empat kasus akibat gigitan kera dan kucing. Dikatakannya, jumlah kasus tersebut menurun dibandingkan 2009 yaitu sebanyak 26 kasus gigitan hewan sedangkan yang mengarah ke rabies mencapai 11 kasus. “Memang jumlah kasus menurun dibandingkan sebelumnya namun kita tetap waspada dan mengimbau masyarakat untuk menangani dengan tepat jika digigit hewan,” tambahnya. Rabies atau penyakit anjing gila bisa ditularkan ke manusia melalui gigitan hewan seperti anjing, kucing, kera, rakun, dan kelelawar. Penyakit yang disebabkan virus rabies itu dapat menyebabkan kematian. Maka diimbau untuk melakukan penanganan yang tepat yaitu segera membersihkan luka gigitan dengan air mengalir dan memakai sabun sekitar lima menit. Setelah dibersihkan, luka diberi yodium tincture (betadine) atau alkohol 70 persen lalu segera bawa penderita ke Puskesmas atau rumah sakit terdekat untuk penanganan lebih lanjut.
“Setiap kejadian pengigitan dilaporkan kepada petugas atau dokter hewan dan pastikan kucing, anjing dan kera sudah divaksin rabies,” tambah Mustafa. Selain imbauan, upaya lain yang dilakukan adalah melakukan eliminasi dua kali setahun terutama terhadap anjing liar. Pada Maret 2010, P3K Kota Banda Aceh telah mengeliminasi 239 ekor anjing.
Diperkirakan saat ini terdapat 800 ekor anjing liar di sembilan kecamatan di Kota Banda Aceh dengan estimasi sedikitnya 20 ekor anjing di setiap kecamatan. Sementara pada 2006-2009 diperkirakan sebanyak 1.800 ekor anjing liar. (T.D016/B/Z003)
(T.D016/B/Z003/Z003) 17-06-2010 15:50:52 NNNN

3. Antara

17 Juni 2010

DISNAK BALI INTENSIFKAN VAKSINASI DAN ELIMINASI ANJING

Denpasar, 17/6 (ANTARA) – Dinas Peternakan Provinsi Bali mengintensifkan pelaksanaan vaksinasi dan eliminasi anjing, sebagai upaya menangani penyakit rabies secara tuntas.  “Kegiatan vaksinasi yang dilakukan secara berkesinambungan itu hingga kini telah mencapai 304.275 ekor atau 67,92 persen dari perkiraan populasi anjing sebanyak 447.966 ekor,” kata Kabag Publikasi dan Dokumentasi Biro Humas dan Protokol Pemprov Bali I Ketut Teneng di Denpasar, Kamis.
Ia mengatakan, vaksinasi tersebut meningkat 7.477 ekor dibanding akhir Mei 2010 yang tercatat 296.798 ekor. Kegiatan tersebut juga disertai dengan eliminasi anjing-anjing liar atau binatang yang tidak mendapat perawatan dari masyarakat.
Eliminasi tersebut hingga kini mencapai 85.472 ekor atau 19,08 persen dari jumlah estimasi populasi.
Upaya eliminasi tersebut juga menunjukkan adanya peningkatan dibanding akhir Mei 2010 yang hanya tercatat 84.199 ekor.  Ketut Teneng menjelaskan, tindakan eliminasi terhadap anjing liar itu dilakukan oleh petugas Dinas Peternakan kabupaten/kota se-Bali bekerja sama dengan desa adat setempat.  Kegiatan eliminasi maupun vaksinasi itu dilakukan secara berkesinambungan dengan harapan tidak ada lagi anjing yang berkeliaran sesuai peraturan daerah (Perda) Nomor 15 tahun 2009 tentang Penanggulangan Rabies. Berbagai upaya tersebut diharapkan mampu menanggulangi penyakit rabies secara tuntas di Bali pada 2012. Upaya merpercepat pengendalian dan pemberantasan penyakit rabies lebih menekankan pada peningkatan vaksinasi dan eliminasi hewan penular rabies (HPR) di seluruh kabupaten/kota, ujar Ketut Teneng. B/Z003 (T.I006/B/Z003/Z003) 17-06-2010 15:26:06 NNNN

4. Antara

17 Juni 2010

DUA KASUS FLU BURUNG DITEMUKAN SELAMA 2010

Banda Aceh, 17/6 (ANTARA) – Dinas Peternakan Kota Banda Aceh menemukan dua kasus flu burung (avian influenza) yang disebabkan virus H5N1 pada ternak unggas milik warga setempat hingga pertengahan 2010.  “Kasus kematian unggas akibat virus flu burung terjadi pada Februari lalu,” kata Kasi Peternakan Dinas Peternakan, Pertanian, Perikanan dan Kelautan (P3K) Kota Banda Aceh drh Mustafa di Banda Aceh, Kamis. Kedua kasus tersebut terjadi di desa Ie Masen Kayee Adang dan Pango, Kecamatan Ulee Kareng, masing-masing ditemukan 30 unggas mati di Ie Masen dan 18 ekor di Pango. Mustafa mengatakan, kasus tersebut diketahui setelah masyarakat melaporkan kematian unggas di desanya kepada dinas terkait sehingga cepat ditangani dan tidak menular pada unggas lain. “Sesuai dengan ketentuan FAO bahwa jika ada 20 unggas yang mati, unggas lain harus dilindungi, kami segera tangani jika ada laporan dari masyarakat,” tambahnya.
Untuk setiap unggas yang mati, Pemerintah Kota Banda Aceh memberikan ganti rugi sebesar Rp15.000 Sementara hingga November 2009, tercatat 14 kasus flu burung di Kota Banda Aceh yaitu tujuh kasus di Kecamatan Kutaraja, dua di Kecamatan Meuraxa, dua di Kecamatan Jaya Baru. Kasus flu burung di ibukota Provinsi Aceh pada 2009 meningkat dibandingkan 2008 yang terjadi sebanyak empat kasus. Kota Banda Aceh merupakan salah satu daerah dari 10 kabupaten/kota di Aceh yang ditemukan kasus flu burung pada 2008. Namun saat ini belum ditemukan kasus flu burung pada manusia di Aceh. Flu burung yang disebabkan virus H5N1 sempat marak di Indonesia pada 2007 bahkan hingga menyebabkan kematian pada manusia.
Mustafa mengatakan masyarakat perlu memperhatikan kebersihan kandang unggas dan segera mencuci tangan setelah kontak langsung dengan hewan tersebut. Selain itu, kandang unggas perlu disemprot disinfektan untuk mematikan virus penyakit. (T.D016/ (T.D016/B/N002/N002) 17-06-2010 17:00:31 NNNN

5. Republika

18 Juni 2010

Virus H1N1 Bertukar Gen pada Babi

REPUBLIKA.CO.ID, HONG KONG–Virus flu babi H1N1 telah menyebar secara diam-diam pada babi di Hong Kong dan bertukar gen dengan virus lain. Para peneliti mengatakan temuan itu mendukung seruan bagi pengawasan lebih ketat penyakit pada babi sebelum virus tersebut menyerang manusia dan obat baru dapat dihasilkan.

Temuan yang disiarkan di majalah Science, Jumat (18/6), penting karena mendukung teori bahwa virus flu yang menyerang babi dapat bertukar gen dengan virus lain yang ada pada hewan tersebut, termasuk virus yang lebih berbahaya seperti virus flu unggas H5N1 atau H9N2.

Malik Peiris, ahli mengenai influenza yang mengerjakan studi itu, mengatakan temuan tersebut menggarisbawahi pentingnya pengawasan penyakit pada babi. “Itu memperlihatkan virus wabah dapat dengan mudah kembali ke babi. Segera setelah itu terjadi, virus tersebut dapat menyebar lagi bersama virus lain babi dan meningkatkan potensi konsekuensi yang tak terduga,” kata Peiris, profesor mikrobiologi di University of Hong Kong.

Peiris dan rekannya, termasuk Guan Yi di University of Hong Kong, telah menemukan virus wabah H1N1 pada kain penyeka hidung dari babi yang kelihatan sehat di rumah jagal Hong Kong selama pemeriksaan rutin sejak Oktober 2009.

“Dari analisis genetika, apa yang ditunjukkan ialah masing-masing virus yang kami temukan pada babi tersebut berasal dari manusia,” kata Peiris dalam satu wawacaran telefon dengan wartawan Reuters, Tan Ee Lyn. “Tak mengejutkan karena virus wabah muncul dari babi, jadi tak mengejutkan bahwa virus itu kembali ke babi,” katanya.

Satu sampel yang dipisahkan dari babi di Hong Kong pada Januari 2010 membawa gen dari tiga virus –wabah H1N1, H1N1 “seperti virus unggas” Eropa dan apa yang disebut virus “triple reassortant”, yang berisi sedikit virus flu unggas, babi dan manusia yang pertama kali ditemukan di Amerika Utara pada 1998.

“Ini menunjukkan babi adalah tempat virus wabah mungkin sebenarnya berubah dan menyebar kembali serta memperoleh kandungan baru yang mungkin,” kata Peiris.
Virus wabah tersebut pada manusia telah sangat stabil. “Virus tak berubah sama sekali, bahkan meskipun orang prihatin itu mungkin menyebar kembali dan bercampur dengan virus manusia … tapi tampaknya virus itu dapat bercampur dengan virus flu lain (pada babi),” katanya.

Penelitian genetika telah menunjukkan H1N1, yang pertama kali diidentifikasi pada April 2009, dan pada kenyataannya telah beredar selama setidaknya satu dasawarsa dan barangkali pada babi. Kendati ada pemantauan ketat pada ternak untuk melindungi mereka dari manusia, sedikit pemeriksaan dilakukan secara global untuk melihat apakah makanan ternak terinfeksi dan jika iya, oleh virus apa.

Beragam studi dalam satu tahun belakangan telah menunjukkan babi di Kanada dan negara lain tertular virus wabah H1N1, yang terbukti dibawa ke hewan oleh manusia. “Saya harus menekankan poin ini bahwa itu sama sekali tak berarti babi berbahaya untuk dimakan (jika dimasak dengan baik). Maksudnya ialah penting untuk melakukan pengawasan sistematis pada babi sehingga kita mengetahui apa yang terjadi pada babi sehubungan dengan virus influenza pada umumnya dan virus wabah pada khususnya,” kata Peiris.

Red: Siwi Tri Puji.B
Sumber: Antara

6. Equator News Online

18 Juni 2010

Permintaan Ayam Potong Menurun

PONTIANAK. Sampai tadi malam, belum seorangpun yang dirawat di rumah sakit di Kota Pontianak akibat flu burung (H5N1). Tapi penjualan ayam potong merosot sekitar 40 persen menurut versi asosiasi.

“Pembeli ayam berkurang karena isu terjadinya flu burung. Akibat berita itu, pendapatan kami menjadi berkurang sekitar 30 persen,” ungkap Endi, penjual ayam di Pasar Dahlia kepada Equator, kemarin (17/6).

Versi Asosiasi Agribisnis Perunggasan Kalbar, penurunan permintaan ayam di Kota Pontianak malah 40 persen sejak sepekan  terakhir. “Harga pun ikut turun,”  kata Suryaman, ketua asosiasi kepada Equator tadi malam.

Permintaan biasanya 10 ribu ekor per hari kecuali Sabtu hingga 20 ribu saat musim pesta kawinan. “Sekarang menurun hanya berkisar 4.000-6.000 ekor saja,” tambahnya.

Sebelumnya harga agen Rp 24 ribu – Rp25 ribu per kg turun seribu rupiah, begitupun tingkat eceran dari Rp 26-27 ribu jadi Rp 24-25 ribu. “Selain berita flu burung, harga turun juga oleh tengah bulan dan tahun ajaran baru anak-anak masuk sekolah, sehingga menghemat pengeluaran,” jelasnya.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Kalbar, Abdul Manaf Mustafa mengimbau warga untuk tidak takut mengkonsumsi ayam dan telur selama dimasak dengan baik. “Kemudian, menerapkan perilaku hidup sehat. Sehabis menyiang atau memegang ayam cuci tangan dengan deterjen,” sarannya.

Kompensasi
Dimusnahkannya ratusan ayam kampung milik warga maupun yang mati akibat serangan virus sepekan ini, akan diganti. “Ternak ayam yang mati dan dimusnahkan oleh dinas diganti dengan dana kompensasi sebesar Rp12.500 per ekor. Hal ini sesuai Peraturan Dirjen Peternakan,” ungkap drh. Manaf  dihubungi Kamis (17/6).

Menurut Kepala Disnakeswan Kalbar, warga yang enggan menyerahkan ayamnya untuk dimusnahkan seperti Yusuf, Manaf menilai wajar dan pihaknya tidak akan mengambil tindakan apapun.

“Ya kami berikan pengarahan saja. Sementara ini, daerah yang tertular ayam-ayamnya kami musnahkan. Kemudian ayam yang hidup dikurung dan jangan dijual. Akan tetapi ayam Pak Yusuf itu kami musnahkan total,” tegas Manaf.

Kadisnakeswan minta masyarakat untuk proaktif dalam penanggulangan virus ini. “Kalau ada melihat ada orang yang menurunkan ayam, membawa ayam dari kapal-kapal nelayan antar pulau, misalnya di Nipah Kuning, laporkan saja kepada kepolisian,” kata Manaf.

Selama ini, Disnakeswan dalam penanggulangan masih persuasif. Padahal Undang-Undang Nomor 18 tahun 2009 tentang peternakan dan kesehatan hewan, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 80 tahun 2000 tentang karantina hewan, diharuskan tegas.

“Pasal 46 ayat 5 disebutkan setiap orang dilarang membawa hewan, pangan asal hewan dan media yang dapat menularkan penyakit dari daerah tertular atau terduga ke daerah bebas,” terang Manaf.

Jika melanggar, sesuai pasal 89 ayat 2 diancam pidana minimal 1 tahun, maksimal 5 tahun dan denda minimal Rp 150 juta dan maksimal Rp1 miliar. “Jika menimbulkan kematian orang, pada ayat 3 pidana minimal 3 tahun, maksimal 9 tahun dan denda minimal Rp 3 miliar, maksimal Rp 9 miliar,” ingatnya.

Sanggau-KH Waspada
Sementara itu, Kabupaten Sanggau dan Kapuas Hulu (KH) masih bersih dari H5N1 maupun sampar. Seperti diberitakan kemarin, di Kota Pontianak terjangkit wabah sampar dan dugaan H5N1 dari hasil rapid test terhadap 50 ekor ayam mati mendadak.

“Sejauh ini, daerah kita masih aman terhadap serangan flu burung. Informasi yang kita peroleh baru terjadi di Pontianak,” ungkap Fadli Persi, Kabid Pencegahan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Sanggau, Rabu (16/6).

Menurutnya, Dinas Kesehatan baru akan menggalang komunikasi dan kerjasama dengan dinas/instansi terkait seperti Pertanian Perikanan dan Peternakan serta Dinas Perindagkop. “Untuk Dinas Pertanian, kita berkejasama dalam mengantisipasi penularan unggas milik masyarakat.,” terangnya.

Dinas Kesehatan sendiri mempersiapkan diri akan kemungkinan flu burung menular pada manusia. “Segala kemungkinan akan kita upayakan untuk segera ditangani. Harapan kita Sanggau tidak menjadi salah satu daerah terjangkit,” ujarnya.

Untuk di PLB Entikong, koordinasi dengan Kantor Kesehatan Pelabuhan. Pertanian bakal berkoordinasi dengan Karantina. Sementara Disperindag kita minta memantau keluar masuknya ternak unggas melalui jalur perbatasan “Jadi kita siap menghadapai segala kemungkinan terburuk, jangan sampai kita kecolongan” ujarnya.

Sebelumnya ketua DPRD Sanggau Andreas Nyas SAg berharap dinas instansi terkait untuk segera melakukan langkah antisipasi.“ Jangan sampai daerah kita ini menjadi salah satu kawasan penularan flu burung,” harapnya.

Meski masih aman dari serangan H5NI, Pemkab Kapuas Hulu sebagai salah satu kabupaten di kawasan perbatasan tetap siaga. Langkah pertama, membuat surat edaran kepada para camat. Warga diimbau tidak membawa masuk unggas atau daging hewan dari negara tetangga Malaysia, melalui pintu masuk perbatasan di kawasan Kecamatan Badau maupun beberapa jalan tikus.

”Segera kita akan menyurati para camat, agar mengimbau warga untuk waspada dan melarang memasukan hewan jenis unggas ke wilayah kita,” ujar Wakil Bupati Kapuas Hulu Drs Y Alexander M S kepada Equator, kemarin.

Upaya pelarangan unggas masuk wilayah Kabupaten Kapuas Hulu ini, sudah dilaksanakan sejak merebaknya virus flu burung maupun flu babi beberapa waktu lalu. ”Dulu pernah kita lakukan. Nah, dengan adanya berita merebak lagi, maka akan kita pertegas kembali pelarangan itu, melalui para camat hingga ke desa-desa. Terutama yang berada di dekat perbatasan,” tegasnya.

Alex yakin meski pintu perbatasan di Kapuas Hulu belum resmi di buka. Tapi untuk lalu lintas unggas, sangat jarang sekali dilakukan warga. Soalnya di Malaysia pun, hal itu diperketat. ”Selama ini, jarang sekali adanya warga yang membawa keluar-masuk unggas. Kan di Malaysia, hal ini sangat diperketat,” timpalnya.

Terpisah dr Harisson Azroi M Kes, pelaksana tugas (Plt) Kadis Kesehatan sekaligus Direktur RSUD dr Akhmad Diponegoro Kapuas Hulu dikonfirmasi via telepon selularnya, kemarin mengatakan pihaknya telah menyurati Puskesmas-puskesmas untuk siaga.

Jika menemukan warga, menderita demam tinggi dengan ciri-ciri mencurigakan, untuk segera melaporkan ke Dinas Kesehatan. Selain itu, pihak RSUD telah menyiapkan ruang khusus serta dokter dan perawat. ”Kita telah menyurati puskesmas-puskesmas untuk selalu siaga. Nah, untuk rumah sakit kitatelah menyiapkan ruangan khusus, berikut para tenaga medisnya,” tukas Harisson.

Dibeberkan, pihaknya malah mencurigai virus itu masuk melalui Sintang dari Pontianak. Pasalnya, jika melalui pintu perbatasan secara prosedur Malaysia sangat ketat, untuk penanganan unggas. Hal yang dikhawatirkan di Kalbar, apakah para peternak sudah melaksanakan prosedur yang benar, untuk penanganan unggas-unggas tersebut. (ian/bdu/dri/sry)

7. KOMPAS.com

18 Juni 2010

Babi Hong Kong Kedatangan Virus Flu Babi

Virus flu babi H1N1 telah menyebar secara diam-diam pada babi di Hong Kong dan bertukar gen dengan virus lain.

Para peneliti mengatakan temuan itu mendukung seruan bagi pengawasan lebih ketat penyakit pada babi sebelum virus tersebut menyerang manusia dan obat baru dapat dihasilkan.

Temuan yang disiarkan di majalah Science,Jumat (18/6/2010), penting karena mendukung teori bahwa virus flu yang menyerang babi dapat bertukar gen dengan virus lain yang ada pada hewan tersebut, termasuk virus yang lebih berbahaya seperti virus flu unggas H5N1 atau H9N2.

Malik Peiris, ahli mengenai influenza yang mengerjakan studi itu, mengatakan temuan tersebut menggarisbawahi pentingnya pengawasan penyakit pada babi. “Itu memperlihatkan virus wabah dapat dengan mudah kembali ke babi. Segera setelah itu terjadi, virus tersebut dapat menyebar lagi bersama virus lain babi dan meningkatkan potensi konsekuensi yang tak terduga,” kata Peiris, profesor mikrobiologi dari University of Hong Kong.

Peiris dan rekannya, termasuk Guan Yi di University of Hong Kong, telah menemukan virus wabah H1N1 pada kain penyeka hidung dari babi yang kelihatan sehat di rumah jagal Hong Kong selama pemeriksaan rutin sejak Oktober 2009. “Dari analisis genetika, apa yang ditunjukkan ialah masing-masing virus yang kami temukan pada babi tersebut berasal dari manusia,” kata Peiris dalam satu wawacaran telepon dengan wartawan Reuters, Tan Ee Lyn.

“Tak mengejutkan karena virus wabah muncul dari babi, jadi tak mengejutkan bahwa virus itu kembali ke babi,” katanya.
Bertukar gen

Satu sampel yang dipisahkan dari babi di Hong Kong pada Januari 2010 membawa gen dari tiga virus –wabah H1N1, H1N1 “seperti virus unggas” Eropa dan apa yang disebut virus “triple reassortant”, yang berisi sedikit virus flu unggas, babi dan manusia yang pertama kali ditemukan di Amerika Utara pada 1998.

“Ini menunjukkan babi adalah tempat virus wabah mungkin sebenarnya berubah dan menyebar kembali serta memperoleh kandungan baru yang mungkin,” kata Peiris.

“Virus wabah tersebut pada manusia telah sangat stabil. Virus tak berubah sama sekali, bahkan meskipun orang prihatin itu mungkin menyebar kembali dan bercampur dengan virus manusia … tapi tampaknya virus itu dapat bercampur dengan virus flu lain (pada babi),” katanya.

Penelitian genetika telah menunjukkan H1N1, yang pertama kali diidentifikasi pada April 2009, dan pada kenyataannya telah beredar selama setidaknya satu dasawarsa dan barangkali pada babi. Kendati ada pemantauan ketat pada ternak untuk melindungi mereka dari manusia, sedikit pemeriksaan dilakukan secara global untuk melihat apakah makanan ternak terinfeksi dan jika iya, oleh virus apa.

Beragam studi dalam satu tahun belakangan telah menunjukkan babi di Kanada dan negara lain tertular virus wabah H1N1, yang terbukti dibawa ke hewan oleh manusia.

“Saya harus menekankan poin ini bahwa itu sama sekali tak berarti babi berbahaya untuk dimakan (jika dimasak dengan baik). Maksudnya ialah penting untuk melakukan pengawasan sistematis pada babi sehingga kita mengetahui apa yang terjadi pada babi sehubungan dengan virus influenza pada umumnya dan virus wabah pada khususnya,” kata Peiris.

Babi adalah waduk bagi banyak virus manusia, unggas dan babi dan para ahli seringkali merujuk hewan itu sebagai wadah pencampur yang ideal bagi patogen baru yang mungkin lebih berbahaya.

Ketika ditanya apakah ada kemungkinan H1N1 bercampur dengan H5N1, Peiris menjawab, “Itu tentu saja satu kemungkinan, itu sebabnya mengapa kita perlu mengikuti perkembangannya.”

“Jika virus itu sangat mungkin untuk siap menyebar dan mengambil gen dari virus babi, kita mungkin akan menghadapi kombinasi gen baru yang dapat meningkat. Jika kita tak siap menghadapi itu, kita mungkin dapat menghadapi virus yang lebih mematikan, yang kembali menyerang manusia,” katanya.

Meskipun H5N1 adalah virus yang kebanyakan berasal dari unggas, virus tersebut mengakibatkan sakit yang lebih parah pada manusia dibandingkan dengan flu musiman dan menewaskan 60 persen orang yang diserangnya. Virus itu telah menyerang 499 orang dan menewaskan 295 di antara mereka sejak virus tersebut muncul pada 2003.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) awal Juni menyatakan wabah H1N1 belum usai, kendati kegiatannya yang paling kuat telah berlalu di banyak wilayah di dunia.


Responses

  1. […] & Restoran Kota DenpasarFlu Burung merebak, Warga Bima ResahPenanganan Flu Burung Angin-AnginanKumpulan Berita Veteriner Hari Ini 18/06/2010Kumpulan Berita Veteriner Hari Ini 18/06/2010 // .recentcomments […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: