Posted by: genetika21 | 15 June 2010

Kumpulan Berita Veteriner Hari Ini 12-15/06/2010

INDEX:

1.      Kompas: Ribuan Anjing Liar Bakal Dimusnahkan

2.      Jawa Pos: Si Guk-Guk Kembali Minta Nyawa

3.      Equator News On Line : Ratusan Ayam Mati Mendadak di Kalimantan Barat

4.      Equator News On Line : Tak Rela Ayam DiMusnahkan

5.      Kompas: Puluhan Unggas Diduga Terinfeksi Flu Burung

6.      Media Indonesia: Ternak Mati Diserang Bakteri

7.      Antara: MASYARAKAT KALBAR DIMINTA WASPADA ANCAMAN H5N1
***

1. Kompas

June 14, 2010

Ribuan Anjing Liar Bakal Dimusnahkan

Menjelang pelaksanaan Sea Games 2011, Dinas Peternakan Sumsel akan memusnahkan ribuan ekor anjing liar di Palembang untuk menghindari penyakit rabies. Kepala Dinas Peternakan Sumsel Asrillazi, Minggu (13/6), mengatakan, di Palembang diperkirakan terdapat 4.000 sampai 5.000 ekor anjing liar. Asrillazi menjelaskan, pemusnahan dilakukan dengan cara memberikan pakan yang mengandung obat kepada anjing liar. ”Pemusnahan anjing liar dilakukan mulai bulan ini sampai sebelum pelaksanaan Sea Games,” ujarnya. Menurut Asrillazi, pemusnahan anjing liar perlu dilakukan agar penyakit rabies tidak berjangkit saat di Palembang banyak dikunjungi tamu asing. (WAD)

2. Jawa Pos

June 13, 2010

Si Guk-Guk Kembali Minta Nyawa

DENPASAR-Serangan virus anjing gila tak kunjung bisa dibendung. Kendati segala upaya tetap diupayakan, namun penyebaran virus rabies di Bali terus saja memakan korban jiwa. Terakhir I Ketut Rintik, 50 menjadi korban keganasan virus rabies. Pria paruh baya asal Banjar Dinas Sumber Kesambi, Desa Sumberkima, Gerokgak, Buleleng, sekitar pukul 11.15, Sabtu kemarin (12/6) dinyatakan tewas saat menjalani perawatan di ruang isolasi Nusa Indah RS Sanglah akibat suspect rabies.

Dari informasi yang berhasil dihimpun koran ini kemarin, sebelum meninggal korban sempat mengamuk sesaat setelah tiba di rumah sakit, Jumat lalu (11/6), sekitar pukul 21.30. Akibat amukan Rintik, dua anaknya, yakni Kadek Yasa, 35, dan Ketut Arnata, 34, yang ketika itu berusaha menenangkan korban sempat terkena muntahan. ”Saat itu keluarga yang ikut jaga sempat terkena ludahnya,” aku Yasa.

Yasa mengaku ayahnya sempat digigit anjing di Pulaki dua bulan lalu. ”Gigitannya ketika itu mengenai telunjuk dan ibu jari tangan kanan,” terangnya. Meski diakui pernah mendapat perawatan di Puskesmas, namun seperti dikatakan Yasa, ayahnya saat itu tidak mendapatkan vaksin antirabies (VAR) lantaran saat itu sedang kosong. Tetapi korban enggan divaksin karena merasa lukanya telah sembuh. Padahal saat itu VAR telah tersedia di Puskesmas.

Terakhir sekitar seminggu lalu, korban mulai mengeluh tubuhnya panas. Sempat dibawa ke RSUD Buleleng, namun karena curiga, tim medis akhirnya merujuk pasien ke RS Sanglah. Sekretaris Tim Penanganan Rabies RS Sanglah dr. IGB Ken Wirasandhi, MARS, yang dikonfirmasi kemarin mengakui dilihat dari gejala klinis, pihaknya tidak menampik bahwa Rintik meninggal karena rabies.

Sedangkan tindakan RS atas tiga keluarga korban yang terkena muntahan korban saat ngamuk, diakuinya pihak medis sudah langsung memberikan VAR. “Pihak keluarga sudah divaksin. Mereka kena muntahan pasien di bagian dada. Meskipun secara medis bisa dipertanggungjawabkan dengan alat pelindung diri, namun untuk menghilangkan kecemasan kami juga berikan VAR,” ungkapnya.(pra)

3. Equator News On Line

14 Juni 2010

Ratusan Ayam Mati Mendadak. Deteksi Flu Burung, Kirim Sampel ke Bogor

PONTIANAK. Wabah yang menyerang ratusan ayam ternak di Kecamatan Pontianak Timur dalam enam hari terakhir ini telah diidentifikasi Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Kalbar.

“Kita bahkan sudah menurunkan tim sejak lima hari lalu. Indikasi memang mengarah flu burung karena tingkat kematiannya tinggi,” kata Kepala Disnakeswan Kalbar drh Adul Manaf Mustafa kepada Equator, kemarin (13/6).

Tetapi, kata Manaf, alat test belum tentu akurat. Karena itu akan mengirimkan sampel ayam yang mati untuk diperiksa di Balai Besar Penelitian Veteriner, Bogor, Jawa Barat. Tim bekerja meneliti sampel ayam yang mati menggunakan Visual Conversion Reaction (VCR) dan alat test cepat (rapid test).

Menurutnya, pengiriman sampel ayam mati itu rencananya akan dilakukan hari ini, Senin (14/6). Diprediksi hari Rabu hasil laboratorium itu akan diketahui secara pasti.

Kendati enggan memberi ketegasan soal kematian ayam itu terkait erat dengan flu burung, namun Disnakeswan tidak mau under estimate. Mereka sudah melakukan sejumlah pendekatan kepada masyarakat setempat untuk segera memusnahkan ayam yang mati dengan cara dikubur atau dibakar.

Sebagai daerah yang baru saja mendapatkan pujian dari Food and Agriculture Organization (FAO) karena bebas kasus Flu Burung sejak Januari 2010, Manaf memberikan perhatian besar terhadap kasus ini. Namun di sisi lain Ia berharap agar hal ini tidak menimbulkan kepanikan. ”Kalau diberitakan flu burung, akan mundur itu investor yang sudah memiliki rencana investasi di Kalbar,” tukasnya.

Sudarso Siaga

Ketua Tim Penanggulangan Flu Burung RSUD Dr Soedarso Pontianak, Dr Abdul Salam mengaku belum ada satu pun pasien demam tinggi yang dirawat di RSUD Dr Soedarso. ”Sampai saat ini belum ada yang terkena flu burung. Kalau di Puskesmas, saya kurang tahu,” tegas Salam kepada koran ini via selularnya, tadi malam.

Sejauh ini, RSUD Dr Soedarso merupakan satu diantara empat rumah sakit rujukan penyakit flu burung di Kalbar. Rumah Sakit pemerintah ini sudah memiliki satu ruangan isolasi dengan daya tampung sebanyak 11 pasien.

”Kita selalu waspada. Persediaan tamiflu juga cukup. Sementara untuk tenaga medis, kita punya 2 dokter paru, 1 dokter anak, 1 doketr dalam,  1 dokter anastesi, 1 dokter radiologi, dan 10 orang tenaga perawat,” pungkasnya.

Setiap hari

Sementara itu, warga Tanjung Raya I Pontianak Timur merasa khawatir wabah itu positif flu burung (avian influenza/AI), karena cirinya mati mendadak dengan wajah membiru.

“Dalam sehari pasti ada ayam warga ditemukan mati. Bukan hanya di gang kami, di gang yang lain juga banyak ayam mati mendadak,” ujar Rahimah, warga Gang Alhinduan, pemilik ayam yang mati mendadak, kemarin (13/6).

Rahimah merasa heran ketika melihat ayam yang dilepasnya mati mendadak. Padahal ayam miliknya dalam kelihatan sehat. “Kalau benar itu flu burung, kami takut  virus itu menyebar kepada warga di sini. Apalagi flu burung katanya bisa mematikan,” keluhnya.

Rahimah juga menceritakan kalau ayam-ayam yang mati mendadak itu, memiliki ciri wajah berwarna kebiru-biruan. “Kita harapkan pemerintah melalui instansi yang bersangkutan dapat meneliti, penyakit apa yang mematikan ayam-ayam kami.

Hal serupa juga menimpa Yusup, warga Gang Jiran, Jalan Tanjung Raya I Pontianak Timur. Baru-baru ini, pihaknya sudah kehilangan 13 ekor ayam karena mati mendadak.

“Ayam peliharaan saya yang baru-baru ini mati mendadak 13 ekor. Namun sebelumnya 70 ekor ayam saya juga pernah mati seketika. Awalnya saya tidak begitu cemas, karena disangka penyakit biasa. Namun melihat ciri-ciri kematiannya yang mendadak, hampir tiap warga di sini ketakutan itu flu burung,” ucap Yusup dengan paras muka memelas.

Peternak ayam ini sedih dengan wabah yang menjangkiti ayamnya. Alasannya selama ini, ia menyokong ekonomi keluargannya dari berternak ayam kampung. “Ini (beternak ayam kampung, red) merupakan penghidupan keluarga kami,” pintanya.

Yusup juga memberikan kesaksian kalau kematian ayam mendadak, bukan hanya miliknya, tapi juga milik para tetangganya. “Ayam kampung milik tetangga kami juga banyak yang mati mendadak!” tegas Yusup seraya berharap pemerintah bisa membantu mengatasi masalah ini. (bdu/sul)

4. Equator News On Line

15 Juni 2010

Tak Rela Ayam Dimusnahkan

PONTIANAK. Yusuf hanya bisa menangis ketika 28 ekor ayam bangkok yang sudah dipeliharanya bertahun-tahun, dibakar petugas Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalbar, Senin (14/6).

Mulanya dia ngotot tidak mau menyerahkan ayam-ayamnya, ketika sekitar pukul 10.00 sejumlah petugas mendatangi kediamannya di Gang Jiran, Pontianak Timur. ”Saya tidak tahu sakit apa ayam saya tiba-tiba mau dibakar,” tuturnya kepada Equator, kemarin.

Ketika petugas mau mengambil ayamnya Yusuf berteriak. “Jangan bakar ayam kami, itu bukan ayam warisan, itu bukan ayam pemberian orang.  Hanya itu yang bisa diandalkan menghidupkan keluarga. Kalau mau dibakar, bakar sekalian dengan rumah kami,” teriak Yusuf terus berontak.

Setelah berdialog cukup panjang akhirnya dengan berat hati ayah 10 anak itu menyerahkan sebagian ayamnya. ”Kalau terjadi apa-apa dengan warga, bapak harus betanggung jawab. Bapak nanti akan dikenai denda dan masuk penjara,” ujar Yusuf menyitir ancaman petugas.

Satiri, 63, istri Yusuf, 57, mengaku telah 20 tahun beternak ayam bangkok dan filipina yang didatangkannya dari Malaysia. Mulanya ia membeli sepasang dari temannya seharga Rp500 ribu per ekor.

Suami istri itu tak boleh melihat ke lokasi pembakaran agar tak merasa sakit ayam kesayangannya dijilati api. “Hanya itu yang saya kembangkan, tidak ada hasil lain. Lima belas tahun lalu saya beli bibit bangkok yang menang sabung,” tutur Satiri.

Satiri merasa telah dibunuh secara pelan-pelan oleh petugas, melihat ayamnya dimusnakan.“Saya harus gimana, sedangkan keluarga saya banyak, 10 orang yang hidup dari ternak ayam. Saya sangat tidak ikhlas kalau petugas tidak ganti rugi. Saya tidak minta banyak, tetapi yang sesuai,” ujar Satiri.
Keluarga Yusif berharap ada jalan keluar dari Diskeswan Kalbar. Selain mengganti ayam yang dibakar, ratusan unggas peliharaannya yang sehat jangan terus dimusnahkan. (sul)
5. Kompas
June 15, 2010
Puluhan Unggas Diduga Terinfeksi Flu Burung

Puluhan unggas mati mendadak di Kota Pontianak dalam waktu enam hari berturut-turut. Hasil tes cepat menunjukkan positif terjadi infeksi virus flu burung. Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalimantan Barat Abdul Mustafa Manaf, seusai pemusnahan unggas di Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Utara, Kota Pontianak, Senin (14/6), mengatakan, hasil tes cepat masih akan dipadukan dengan uji laboratorium untuk mendapatkan kepastian penyebab kematian mendadak unggas-unggas itu. ”Kalaupun nanti hasil uji laboratorium menyatakan positif terinfeksi flu burung, virus kemungkinan besar berasal dari luar Kalimantan Barat karena provinsi ini telah mendapatkan sertifikat bebas flu burung dari Kementerian Pertanian pada Januari lalu,” kata Manaf. (AHA)

6. Media Indonesia
June 15, 2010
Ternak Mati Diserang Bakteri

WABAH penyakit ternak berjangkit di Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, dalam dua pekan terakhir. Belasan ternak sapi, kambing, dan unggas ditemukan mati mendadak.Dinas Peternakan dan Perikanan Sragen belum mampu menanggulangi wabah.Petugas juga belum bisa mendeteksi jenis penyakit ternak itu.”Kami telah melapor, dan pemkab juga sudah menerjunkan tim kesehatan hewan, mengambil sampel bangkai, tanah maupun makanan,” kata Haryanto, peternak dari Desa Ketro.Warga memastikan dari ciri binatang yang mati, wabah itu bukan antraks atau flu burung. Ternak mati setelah beberapa hari terlihat lemas. Kematian selalu diawali kejang-kejang. Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Sragen Eka Rini menyatakan wabah itu diduga akibat serangan bakteri clostridium. (WJ/N-3) 11.20 WIB Sragen, Jawa Tengah

7. Antara
June 14, 2010
MASYARAKAT KALBAR DIMINTA WASPADA ANCAMAN H5N1

Pontianak, 14/6 (ANTARA) – Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalimantan Barat Abdul Manaf Mustafa, Senin, meminta masyarakat setempat untuk mewaspadai virus flu burung H5N1 yang masuk dari luar provinsi tersebut.

“Masyarakat harus waspada, jangan gampang percaya jika ada tawaran jenis unggas dari luar walaupun dikatakan merupakan bibit unggul dan bagus,” kata Abdul Manaf Mustafa saat dihubungi di Pontianak, Senin.

Menurut ia, selama ini petugas Balai Karantina yang ada di Kalbar sudah mewaspadai ancaman penyakit unggas dengan mencegah masuknya unggas jenis ayam dan burung ke wilayah tersebut.

Sejak Januari lalu ada sekitar 153 ekor ayam dan burung yang disita Balai Karantina yang akan masuk lewat Pelabuhan Dwikora.

Biasanya, menurut ia, ada warga yang membawa dua sampai tiga ekor ayam bangkok (ayam untuk aduan) dari luar dengan menumpang kapal laut, padahal ayam-ayam tersebut tidak diketahui kondisi kesehatannya.

Manaf mengakui, kasus kematian ayam yang beberapa hari ini terjadi di Kelurahan Kampung Dalam, Parit Pangeran dan Gang Merak itu terkait dengan masuknya ayam bangkok dari luar Kalbar.

“Kami sudah mengatasinya dengan memusnahkan ayam satu kandang dan yang ada di sekitarnya. Masih dilakukan pemeriksaan di laboratorium dan dalam waktu dekat ada hasilnya. Indikasinya mengarah ke sana (H5N1),” katanya.

Saat ini Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalbar sedang menyosialisasikan kepada masyarakat agar terus mewaspadai ancaman masuknya unggas dari luar dan penanganan pemberian desinfektan bekerja sama dengan kantor Dinas Peternakan di Kota Pontianak.

“Tetapi yang lebih penting, kesadaran masyarakat. Letupan yang terjadi di penangkaran ayam bangkok itu karena mereka membeli ayam bangkok dari luar akibatnya tertular,” katanya.

Menurut Abdul Manaf, pemilik ayam kini dapat menerima teguran dari Pemprov dan bersedia ayam-ayamnya dimusnahkan. Pemilik ayam itu tidak dikenakan ancaman hukuman karena hanya membeli ayam dari daerah lain.

“Dia (pemilik ayam) ditawari orang dari Jawa, ada ayam bangkok yang bagus. Kemudian dibeli, dan ternyata menjadi sumber penularan,” katanya.

Sepanjang 1.500 kilometer perbatasan Kalimantan, menurut Abdul Manaf merupakan daerah rawan bagi masuknya unggas-unggas pembawa penyakit.

Sementara Kalbar pada 25 Januari lalu sudah mendapatkan sertifikat bebas flu burung dari Kementerian Pertanian. Sertifikat diperoleh setelah pada bulan Januari 2007 Kalbar mengajukan permohonan sertifikat bebas flu burung.

Komisi Ahli Kesehatan Hewan dan Masyarakat menerbitkan rekomendasi Kalbar Bebas Flu burung pada 16 Desember 2009. (U.N005/C/B013/B013) 14-06-2010 13:04:04 NNNNCopyright © ANTARA


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: