Posted by: genetika21 | 11 June 2010

Kumpulan Berita Veteriner Hari Ini 10-11/06/2010

INDEX:

1.      Kompas: Dalam Sebulan Sekitar 900 Kasus di Mappi

2.      Antara: DI BALI TERJADI 25.531 KASUS GIGITAN ANJING

3.      Antara: KASUS RABIES DI KOTA JAMBI DIPREDIKSI MENURUN

4.     Jakarta Post :Alleged malaria outbreak under investigation

***

1. Kompas

June 10 , 2010

Dalam Sebulan Sekitar 900 Kasus di Mappi

MAPPI, KOMPAS – Kabupaten Mappi yang berada di wilayah pedalaman Papua bagian selatan menjadi daerah endemik penyakit malaria. Dalam sebulan ditemukan sekitar 900 kasus malaria di wilayah itu. Angka kematian juga cukup tinggi.

Direktur Rumah Sakit Umum (RSU) Kabupaten Mappi Pranoto mengatakan, Rabu (9/6), dari 120 pasien yang ditangani tim rumah sakit dalam sehari, penderita malaria bisa mencapai 36 kasus. Belum lagi kasus malaria di puskesmas pembantu di setiap distrik.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Mappi, jumlah penderita malaria pada 2008 mencapai 13.519 orang. Angka ini meningkat ketimbang tahun 2004 sebanyak 11.500 penderita.

Jenis penyakit yang disebarkan nyamuk Anopheles betina ini terutama malaria tropika yang disebabkan parasit Plasmodium falciparum dan malaria tersiana akibat Plasmodium ovale. Mappi menjadi daerah endemik karena kondisi topografi yang didominasi rawa.

Menurut Pranoto, dalam pemeriksaan massal, hampir semua penduduk mengidap parasit malaria dalam limpanya. ”Kebanyakan masyarakat terlambat membawa keluarganya yang menunjukkan gejala malaria, seperti lemas disertai demam tinggi. Banyak pasien dibawa ke puskesmas atau rumah sakit dalam kondisi kritis,” kata Pranoto.

Misalnya, Efraim Komimu (35), warga Kampung Emete, Distrik Obaa, membawa anaknya, Sebastianus Komimu (12), sepekan setelah gejala tampak. Semula anaknya diobati secara tradisional. Setelah anaknya kritis, baru dibawa ke RSU Mappi.

Kepala Seksi Pencegahan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Mappi Nasrun mengatakan, upaya pemkab adalah membagikan obat gratis dan kelambu. Tahun ini Dinkes Kabupaten Mappi menganggarkan Rp 74 miliar untuk penanggulangan malaria. Bupati Mappi Aminadab Jumame mengakui, tingkat kesehatan masyarakat di wilayahnya masih rendah.

Sementara itu, dugaan terjadinya kematian 40 orang sepanjang April-Juni 2010 di Kabupaten Intan Jaya, Papua, akibat malaria tropika akan diteliti Dinkes Provinsi Papua. Temuan ini mendapat perhatian khusus karena kabupaten itu terletak di dataran tinggi dan bersuhu 10-15 derajat Celcius, sehingga tidak memungkinkan nyamuk berkembang biak. Informasi kematian 40 orang akibat malaria itu berasal dari temuan Sekretaris Komisi A DPR Papua Julius Miagoni saat reses pekan lalu.

Anggota tim dinkes yang juga koordinator Health Crisis Center Provinsi Papua, Paminto Widodo, Rabu, menuturkan, ia bersama tiga anggota tim akan ke Desa Degesiga dan Desa Bamba di Distrik Homeyo, Intan Jaya, yang angka kematiannya tujuh orang sebulan. Anggota tim itu adalah dr Ary Pongtiku, dr Made Gafar, dan dr Neny Mulyani.

“Akan kita teliti, apakah betul kematian karena malaria. Kalau betul, apakah yang meninggal pernah bepergian dari kampung, karena bisa saja ia tertular saat berada di daerah lain,” katanya. Jika memang ditemukan warga meninggal akibat malaria dan tidak pernah keluar dari kampungnya, maka ini menjadi fenomena baru, yaitu munculnya malaria pegunungan. (GRE/ICH)

2. Antara

June 9 , 2010

DI BALI TERJADI 25.531 KASUS GIGITAN ANJING

Denpasar, 9/6 (ANTARA) – Terjadi sebanyak 25.531 kasus anjing menggigit manusia di Bali sejak munculnya penyakit rabies di pulau wisata itu pada 2008, demikian data Setda Bali.
“Ribuan gigitan anjing itu hanya yang dilaporkan secara resmi ke pusat-pusat pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pertolongan vaksin anti rabies (VAR),” kata Kabag Publikasi dan Dokumentasi pada Biro Humas dan Protokol Setda Bali I Ketut Teneng, di Denpasar Rabu.
Ia mengatakan, banyaknya korban gigitan anjing tersebut mengakibatkan kebutuhan VAR juga sangat banyak. Sejak 2008, Bali telah menghabiskan sebanyak 23.031 vial VAR.
Menurut Ketut Teneng, Bali hingga awal Juni 2010 masih mempunyai persediaan 15.582 vial.
Stok tersebut masing-masing di RSUP Sanglah 742 vial, Denpasar 1.780 vial, Badung 2.954 vial, Tabanan 300 vial dan Gianyar 3.549 vial, Karangasem 200 vial, Klungkung 100 vial, Bangli 350 vial, Jembrana 80 vial, Buleleng 1.713 vial dan Dinas Kesehatan Provinsi Bali 3.814 vial.
Ketut Teneng menjelaskan, persediaan VAR pada Dinas Kesehatan Provinsi Bali itu bisa diarahkan kepada delapan kabupaten dan satu kota di daerah ini yang memerlukan adanya tambahan VAR.
Untuk mencegah adanya gigitan anjing pada manusia, sekaligus menangani rabies secara tuntas, Dinas Peternakan Bali terus melakukan eliminasi dan vaksinasi pada anjing.
Vaksinasi telah dilakukan terhadap 296.723 ekor anjing peliharaan di delapan kabupaten dan satu kota hingga awal Juni 2010.
Cakupan vaksinasi tersebut menurut Ketut Teneng mencapai 66,26 persen dari perkiraan populasi anjing sebanyak 447.966 ekor.
Vaksinasi tersebut sebagian besar terhadap anjing baru, dan sebagian lainnya berupa pemberian vaksinasi ulangan. Pemberian VAR pada anjing piaraan itu terus dilakukan dengan harapan mampu menjangkau seluruh anjing piaraan. Selain itu, sebanyak 84.199 anjing, atau sekitar 18,8 persen dari seluruh anjing yang ada di Bali, telah dieliminasi.
Tindakan eliminasi terhadap anjing liar itu dilakukan oleh petugas Dinas Peternakan kabupaten/kota se-Bali bekerja sama dengan desa adat setempat.
Kegiatan eliminasi itu dilakukan secara berkesinambungan dengan harapan tidak ada lagi anjing yang berkeliaran sesuai peraturan daerah (Perda) Nomor 15 tahun 2009 tentang Penanggulangan Rabies, kata Ketut Teneng. (T.I006/B/s018/s018) 09-06-2010 12:31:47 NNNN

3. Antara

June 9 , 2010

KASUS RABIES DI KOTA JAMBI DIPREDIKSI MENURUN

Jambi, 9/6 (ANTARA) – Kasus penyakit rabies di Kota Jambi diprediksi menurun pada 2010 dibanding 2009, kata Kasubdin Peternakan Dinas Pertanian, Peternakan, Perikanan dan Kehutanan Kota Jambi Said Abu Bakar di Jambi, Rabu.
Berdasarkan data, hingga Mei 2010 ditemukan enam kasus penyakit rabies, sementara pada 2009 ditemukan sebanyak 18 kasus, sedangkan 2008 sebanyak 22 kasus.
“Jika melihat data hingga Mei 2010, hingga akhir 2010 kasus rabies bisa ditekan menjadi kurang dari 12 kasus,” ujar Said.
Untuk menekan jumlah kasus rabies, DP3K melakukan beberapa langkah, salah satunya dengan melakukan eliminasi atau pemusnahan hewan jenis anjing sebagai media utama penyebaran rabies.
Said menjelaskan, upaya pemusnahan dilakukan tiga kali dalam satu tahun. Dari beberapa kali usaha pemusnahan, rata-rata per tahun DP3K berhasil memusnahkan sekitar 200 anjing pengidap rabies.
Salah satu daerah kecamatan di Kota Jambi yang paling banyak ditemukan anjing pengidap rabies adalah Kecamatan Kotabaru. Di daerah tersebut terdapat hampir 40 persen dari total anjing yang dimusnahkan dalam satu tahun.
Beberapa penyebab banyaknya anjing pengidap rabies di daerah tersebut adalah wilayah kecamatan yang luas dan banyak terdapat kebun yang bisa dijadikan sarana bersembunyi anjing liar. Selain itu, sebagian masyarakat di Kecamatan Kotabaru gemar memelihara anjing.
Selain melakukan pemusnahan anjing rabies, DP3K Kota Jambi juga melakukan program vaksinasi rabies terhadap anjing peliharaan masyarakat.
Meski begitu, Said menilai, kesadaran masyarakat untuk memvaksin hewan peliharaannya masih kurang. Hal itu terbukti dengan minimnya minat masyarakat untuk membawa hewan peliharaannya, khususnya anjing untuk divaksinasi di pusat kesehatan hewan.
“Kami dari DP3K lebih banyak turun langsung ke masyarakat untuk memberikan vaksinasi. Namun sayangnya, banyak warga yang enggan mengaku jika memiliki hewan peliharaan anjing,” kata Said.
Untuk menyukseskan program nasional yang menargetkan bebas rabies pada 2015, Said mengimbau masyarakat lebih meningkatkan kesadaran untuk memvaksin hewan peliharan di pusat kesehatan hewan.
“Yang paling penting adalah kerja sama dan kesadaran masyarakat. Apalagi vaksin rabies hanya enam bulan sekali. Itupun dengan biaya murah yakni antara Rp3.000-Rp5.000 per hewan, pemilik sudah bisa tenang dan merasa aman memelihara hewan,” tambah Said Abu Bakar. (T.KR-BS) (T.KR-BS/B/N002/N002) 09-06-2010 16:21:00 NNNN

4. The Jakarta Post

June 10 , 2010

Alleged malaria outbreak under investigation

The Papua Health Agency has set up a team to investigate a malaria outbreak in Intan Jaya regency, where 40 people have reportedly died from the mosquito-borne disease.

Coordinator of Papua Health Crisis Center (HCC) Paminto Widodo, said the team, which comprised of four members including himself, would depart to the two subdistricts of Degesiga and Bamba, where death tolls were reportedly highest over recent months.

“We will re-examine and retest to make sure that these [40] people really died from malaria,” said Paminto.

Other team members were Ary Pongtiku, Made Gafar and Neny Mulyani.

Malaria, a serious infectious disease spread by certain mosquitoes, is most common in tropical climates and is characterized by recurrent symptoms, such as chills, fever and an enlarged spleen.

Paminto said that a report filed by the Intan Jaya Health Agency confirmed the victims had tested positive to Malaria.

However, he said, the regency’s geographical situation, which is relatively high and cold with temperatures between 10 and 15 degrees, was not a suitable place for malaria to grow.

“More thorough research is needed,” Paminto said.

One of the examined factors, he said, included whether the victims had traveled outside their villages.

“It’s quite possible they contracted malaria while traveling in other regions such as Nabire, a malaria-endemic area,” he said.

He said that if the victims were later proven to have never left their subdistricts, then the outbreak would be a new phenomenon the emergence of mountain range malaria.

He said the team would also look into the possibility that the number of dead victims listed in the report was an accumulation of deaths from previous years — and had not occurred over a short period of time.

Paminto said that three deaths in three months in a subdistrict would still be considered normal.

“That is the reason why the team will go directly to subdistricts with the highest number of deaths reported in the last month [to find out the real figure],” he said.

As a precaution, he said that the team had also coordinated with the Intan Jaya Health Agency to
conduct fogging in the region.

The secretary of  the Papua legislative council’s Commission A overseeing health, Julius Miagoni, told reporters that the deaths of the 40 people occurred over three months — from April to June.


Responses

  1. Moga kasus penyakit ini di Bali dan di Indonesia menurun dan hilang, dan tidak ada yang terkena lagi..
    Thanx infonya ya..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: