Posted by: genetika21 | 31 May 2010

Kumpulan Berita Veteriner hari ini 29-31/05/2010

INDEX:

1.      Jawa Pos: Pasien Suspect AI Masih Dirawat

2.      Pikiran Rakyat: Rumah Potong Hewan Perlu Upaya Modernisasi

3.      Suara Pembaruan: Kerbau Mati Terserang Penyakit Ngorok

4.      Kompas.Com: Penyakit Menular Baru Timbulkan Kerugian

5.      Antara: DINAS PETERNAKAN BELUM TANGANI AYAM MATI MENDADAK

***

1. Jawa Pos

May 29, 2010

Pasien Suspect AI Masih Dirawat

KLATEN – Matinya puluhan ayam sepekan terakhir di Desa Ngandong, Kecamatan Gantiwarno, mendapat perhatian serius dari pemkab setempat. Apalagi, satu warga di desa tersebut sudah dinyatakan suspect flu burung avian influenza (AI). Pengawasan terhadap aktivitas masyarakat terus dipantau Dinas Kesehatan (DInkes) melalui petugas puskesmas.
Kepala Dinkes Klaten Rony Roekminto mengatakan , pengawasan terhadap kegiatan masyarakat bertujuan untuk antisipasi agar serangan AI dari unggas tidak menular ke manusia. Jadi, warga harus meghindari kontak langsung dengan unggas.
“Kami sudah memberi sosialisasi dengan mengumpulkan warga. Diharapkan apa yang sudah disampaikan petugas dapat dilaksanakan dengan baik. Misalnya apabila sudah terlanjur bersentuhan dengan unggas harus mencuci tangan dengan sabun,” ujarnya.
Lebih lanjut, jika ditemukan ayam mati mendadak warga harus segera melapor ke perangkat desa. Sehingga langsung bisa ditindaklanjuti oleh petugas lapangan dengan memeriksa bangkai ayam. Sebab, sebelumnya puluhan ayam yang mati mendadak milik warga Dusun Bometen, Desa Ngandong dinyatakan positif terserang AI.
“Sehingga desa tersebut akan terus diawasi. Minimal sampai warga yang diduga suspect AI berinisial AM, 13, dinyatakan negatif. Saat ini, pasien masih menjalani perawatan intensif di RSUP Soeradji Tirtonegoro,” ungkapnya.
Sementara itu, masyarakat Desa Ngandong sempat mengalami kepanikan pasca kematian puluhan ayam secara mendadak. Namun, setelah diadakan sosialisasi dari dinkes setempat warga sudah mulai tenang.
“Saat ini perangkat desa juga proaktit untuk ikut mengawasi. Jika ada ayam yang mati langsung akan dilaporkan ke petugas kesehatan yang siaga di puskesmas. Saya mengimbau kepada masyarakat untuk tidak terlalu panik,” kata Kades Ngandong Joko Daryono.
Dua hari lalu satu warga berinisial AM dilarikan ke RSUP karena mengalami demam tinggi. Suhu badan AM sempat naik menjadi 40 derajat celcius, padahal suhu normal manusia maksimal 37 derajat celcius. (oh/bun)

2. Pikiran Rakyat

May 29, 2010

Rumah Potong Hewan Perlu Upaya Modernisasi
Akan Dibangun Kembali di Jalan Sukimun

CIMAHI, (PR).-Pembangunan rumah pemotongan hewan (RPH) baru di Kota Cimahi diperkirakan akan menelan biaya Rp 3 miliar. Pemerintah Kota Cimahi ingin membangun RPH modern lengkap dengan teknologi pembekuan dan pengepakan daging sehingga dapat menyumbangkan pendapatan asli daerah (PAD) secara maksimal.

Kepala Bidang Pertanian Dinas Koperasi, UMKM, Industri, Perdagangan, dan Pertanian Kota Cimahi Suyoto mengatakan, saat ini, pihaknya tengah mencari investor yang tertarik untuk membiayai pembangunan RPH dengan standar internasional. Nantinya, RPH ini diproyeksikan menjadi pemasok daging untuk pasar modern dan tradisional di Jakarta dan Bandung Raya.

“Soalnya, di Bandung Raya dan Jakarta belum ada yang punya RPH modern. Padahal, tuntutan konsumen sudah sangat besar terhadap daging yang tahan lama dan segar,” tuturnya di Cimahi, Kamis (27/5).

Menurut Suyoto, RPH akan kembali dibangun di lokasi lamanya, yaitu di Jalan Sukimun, Kelurahan Baros, Kecamatan Cimahi Tengah. Jika dibandingkan dengan dua alternatif tempat lainnya, yaitu Kelurahan Sukamanah dan Citeureup, lokasi lama memiliki keunggulan karena dekat dengan akses jalan tol, didukung oleh lingkungan sosial masyarakat sekitar, serta jaraknya dekat dengan Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan).

50 ekor per hari

Di Kelurahan Baros, Pemerintah Kota Cimahi memiliki aset tanah seluas 3.910 meter persegi. Lahan seluas itu, kata Suyoto, mencukupi bagi RPH modern yang akan dibangun. Selain mencari investor, pendanaan pembangunan juga diusahakan dari APBN melalui dana alokasi khusus (DAK).

Menurut Suyoto, kebutuhan daging sapi Kota Cimahi saat ini mencapai lima puluh ekor per hari. Kebutuhan itu kini dipenuhi dengan memasok daging sapi dari luar kota sehingga setiap hari petugas dari Dinas Peternakan harus memeriksa kualitas daging sapi ke pasar tradisional dan modern.

Sekretaris Dinas Koperasi, UMKM, Industri, Perdagangan, dan Pertanian Kota Cimahi Supendi Heriyadi menambahkan, tidak beroperasinya RPH di Kota Cimahi sangat disayangkan karena selain merupakan bangunan bersejarah, RPH itu juga seharusnya menjadi sumber PAD bagi Cimahi. Terlebih, Cimahi telah memiliki Perda No. 4/2005 tentang Rumah Potong Hewan (RPH).

Namun, Supendi belum dapat memastikan kapan pembangunan RPH akan terlaksana. “Kami berharap, bisa secepatnya. Jadi, Cimahi tak hanya punya tempat pemotongan hewan kecil seperti unggas, tetapi juga sapi dan domba,” ujarnya, Selasa (25/5). (A-180)***

3. Suara Pembaruan

May 29, 2010

Kerbau Mati Terserang Penyakit Ngorok

Dalam sepekan ini, sedikitnya 30 ekor kebau milik warga Kecamatan Selagan Raya, Kabupaten Muko-Muko, Bengkulu mati mendadak. Diduga, kematian ternak kerbau milik warga ini terserang penyakit ngorok.
Kepala Dinas Kelautan, Perikanan, dan Peternakan Kabupaten Muko-Muko, Muaz yang dihubungi SP dari Bengkulu, Jumat (28/5) membenarkan hal tersebut. “Kita sudah menurunkan tim ke lapangan untuk mencari penyebab kematian kerbau masyarakat di Selaga Jaya tersebut,” ujarnya.
Sebelumnya, penyakit ini menyerang ternak kerbau milik warga di Kecamatan Ipuh. Di kecamatan itu, sekitar 10 ekor kerbau masyarakat mati mendadak. Namun, pihaknya belum dapat memastikan penyebab kematian kerbau tersebut.
Dari dugaan sementara kematian puluhan kerbau milik warga di Kecamatan Selagan Raya dan Ipuh disebabkan terkena penyakit ngorok. Soalnya, kerbau masyarakat yang mati mulutnya berbusa dan kejang-kejang seperti tanda-tanda hewan terkena penyakit ngorok. Pihaknya sudah menurunkan tim ke lapangan guna mendapatkan informasi yang akurat soal kematian kerbau tersebut. [143]

4. Kompas.Com

May 27, 2010

Penyakit Menular Baru Timbulkan Kerugian

JAKARTA, KOMPAS.com Penyakit menular yang baru muncul (PMBM) atau emerging infectious diseases (EID) berpotensi menimbulkan wabah, kerugian ekonomi, dan kekacauan sosial yang hebat.
Ancaman tersebut sekitar 70 persen berasal dari penyakit hewan, seperti SARS, dan flu burung. Hal ini diperberat karena bangsa Indonesia juga menghadapi penyakit menular bersumber binatang lainnya, seperti malaria, demam berdarah, filariasis, rabies, dan penyakit menular langsung, seperti diare, cacingan, dan kusta.
Demikian terungkap dalam rilis yang disampaikan Pusat Komunikasi Publik Kementerian Kesehatan terkait kegiatan Rakernas Gerakan Peternak Sehat, Ternak Sehat, Rabu (26/5/2010).
Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, ketika membuka rakernas yang diselenggarakan Himpunan Masyarakat Peternak Unggas Lokal Indonesia di Bogor, menyatakan, pengembangan desa siaga dengan kegiatan ”Peternak Sehat Ternak Sehat” merupakan model upaya strategis.
Model itu merupakan terobosan kegiatan keterpaduan kesehatan masyarakat, kesehatan lingkungan, dan kesehatan ternak di desa sesuai dengan kebutuhan masyarakat. (*/INE)

5. Antara

May 26, 2010

DINAS PETERNAKAN BELUM TANGANI AYAM MATI MENDADAK

Pamekasan, 26/5 (ANTARA) – Dinas Peternakan Pamekasan, Madura, Jawa Timur, hingga kini belum melakukan tindakan penanganan ratusan ayam mati mendadak milik warga Desa Panglemah dan Desa Billan, Kecamatan Proppo yang diduga terserang virus flu burung.
“Belum, kami belum menerjunkan petugas ke sana, karena belum ada laporan dari pihak kecamatan,” kata Kepala Dinas Peternakan Hanafi Indrayana kepada ANTARA, Rabu siang.
Sebelumnya pemilik ayam di Desa Panglemah Mi`an mengaku telah melaporkan kejadian tersebut kepada aparat di desa itu. Demikian juga dengan pemilik unggas Sunakib.
Warga Desa Billaan Kecamatan Proppo ini mengaku, sudah menginformasikan matinya 40 unggas lebih miliknya itu kepada aparat desanya agar disampaikan kepada Dinas Peternakan.
“Katanya sistem pelaporannya seperti itu. Tapi sampai sekarang belum ada petugas dari Dinas Peternakan,” kata Sunakib.
Pemilik unggas dan warga menduga, matinya unggas itu karena terserang flu burung, karena gejalanya sama seperti yang diiklankan di televisi selama ini, yaitu mulutnya mengeluarkan lendir, kejang-kejang, lalu mati.
Sampai saat ini sudah ada sebanyak 500 ayam milik Mi`an, warga Desa Panglemah yang mati mendadak. Sehingga jumlah total ayam dan unggas yang mati mendadak sebanyak 540 ekor.
Warga di dua desa mengaku resah dengan kejadian tersebut, karena belum ada penanganan dari Dinas Peternakan Pamekasan. “Kami takut virusnya menular kepada warga yang ada di sini,” kata warga Desa Panglemah, Kurniawan. B/Z003 (T.KR-ZIZ/B/Z003/Z003) 26-05-2010 14:53:12 NNNNCopyright © ANTARA

**  5 articles


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: