Posted by: genetika21 | 24 March 2009

Kualitas Semen Segar Pejantan Domba Garut Di Peternakan Ternak Domba Sehat, Kampoeng Ternak, Bogor

Oleh : Ajat Sudarjat

diambil dari http://www.kampoengternak.or.id

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Salah satu plasma nutfah asli Indonesia adalah domba garut. Sampai saat ini kelebihan domba garut sudah banyak disebutkan dalam berbagai pustaka. Kelebihan-kelebihan dari domba tersebut antara lain lebih cepat mencapai dewasa kelamin, dapat kawin dan beranak sepanjang tahun, mampu beradaptasi dengan baik dan tahan terhadap parasit dan penyakit serta menghasilkan anak yang lebih dari satu (prolifik) (Istiqomah, 2005). Dalam hal kemampuan reproduksi dari induk betina dengan manajemen yang baik, domba garut mampu bunting kembali kurang dari satu bulan pasca melahirkan atau dengan kata lain efisiensi reproduksinya sangat tinggi.

Walaupun secara genetik domba garut memiliki prospek ekonomi yang tinggi, sangat disayangkan sebagian besar sistem pemeliharaannya masih bersifat tradisional, sehingga manajemen pemeliharaannya belum berorientasi kepada pasar atau belum memperhitungkan untung rugi. Hal tersebut disebabkan oleh rendahnya pengetahuan peternak yang notabene peternak kecil, yang menjadikan beternak hanya sebagai usaha sambilan atau tabungan.

Sistem pemeliharaan yang masih bersifat tradisional tersebut pada akhirnya belum dapat menghasilkan sumber-sumber bibit berkualitas, padahal kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa saat ini semakin banyak peternak tradisional yang menjual ternak terbaiknya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Implikasi dari itu semua adalah kita akan kehabisan bibit unggul dari domba garut. Satu-satunya langkah penyelamatan adalah melakukan perbibitan.

Untuk melakukan program perbibitan tentunya harus menyediakan sumber bibit yang baik menurut standar ilmiah, sehingga keunggulannya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah pula.

Langkah pengujian secara ilmiah untuk mengetahui kualitas bibit pejantan adalah dengan memeriksa kualitas semen segar pejantan yang akan digunakan sebagai bibit. Apabila pejantan tersebut telah memenuhi standar kualitas maka dengan otomatis pejantan tersebut dinyatakan sebagai bibit pejantan.

Selain untuk kebutuhan sendiri dan saat ini, maka pejantan bibit tersebut dapat juga digunakan dimasa yang akan datang dan di tempat lain yang membutuhkan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka semen dari pejantan harus diawetkan atau disimpan. Pejantan yang semennya akan diawetkan juga harus memiliki kualitas semen sesuai standar.

Tujuan

Tujuan dari pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui kualitas semen segar pejantan di Ternak Domba Sehat, Kampoeng Ternak yang akan dijadikan calon bibit pejantan.

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu

Pemeriksaan ini dilakukan di Laboratorium Mini Veteriner, Ternak Domba Sehat, Kampoeng

Ternak, Dompet Dhuafa Republika, Kampung Wangun Jaya Desa Pasir Buncir Kecamatan Caringin Kabupaten Bogor. Pemeriksaan berlangsung pada tanggal 16 sampai dengan 27 Februari 2008.

Materi

Materi yang digunakan berupa 8 ekor domba garut jantan tipe tangkas berumur 2 sampai 10 tahun, dengan berat badan antara 45 Kg sampai 65 Kg. Domba-domba tersebut dipelihara secara intensif di dalam kandang individu, hanya dikeluarkan apabila akan digunakan untuk mengawini induk betina atau untuk dimandikan. Pakan yang diberikan berupa rumput gajah tipe Hawai rata-rata sebanyak 10 Kg dan konsentrat sebanyak 0,5 Kg per ekor per hari. Kemudian ditambah dengan air minum secara ad libitum.

Alat dan Bahan

Peralatan yang digunakan adalah timbangan digital dengan ketelitian 2 digit di belakang koma,

tabung reaksi, rak tabung reaksi, termomoter, gelas ukur, gelas erlemeyer, pipet tetes, pembakar bunsen, vagina buatan dan perlengkapannya, mikroskop cahaya, gelas obyek, gelas penutup, dan haemositometer.

Bahan yang digunakan berupa semen domba garut, NaCl fisiologis, eosin 0,2 %, eosin 2,0 %, kelly KY, kertas tissue, air dengan suhu 50 – 60oC, dan alkohol.

Metode

Domba dikelompokkan ke dalam dua kelompok berdasarkan umur. Kelompok pertama berumur 2 – 3 tahun (umur produktif) dan kelompok kedua berumur 8 tahun ke atas (umur tua). Kelompok pertama merupakan anak atau keturunan dari kelompok kedua. Penampungan semen yang akan dievaluasi dilakukan hanya sekali, selanjutnya semen dievaluasi secara makroskopis untuk mengetahui, volume per ejakulat, warna, konsistensi, dan pH. Pemeriksaan dilanjutkan dengan pemeriksaan mikroskopis untuk mengetahui gerakan massa, motilitas, konsentrasi, daya hidup, dan abnormalitas.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Hasil evaluasi kualitas semen segar secara makroskopis menunjukkan bahwa volume per  ejakulat semen pejantan yang diperiksa adalah 1,31 ± 0,16 ml, lebih tinggi dibandingkan dengan hasil yang diperoleh oleh Herdis (2005) sebesar 0,82 ± 0,11 ml. Volume tersebut juga lebih tinggi daripada temuan Cole and Cupps (1997) dan Bearden, Fuquay, and Willard (2004) masing-masing 1,00 ml. Hafez and Hafez (2000) menyatakan bahwa volume per ejakulat pada domba adalah antara 0,20 sampai dengan 1,20 ml. Jika dibandingkan dengan standar Kampoeng Ternak (minimal 0,80 ml), hasil tersebut menunjukkan bahwa semua pejantan masuk standar.

Untuk warna semen, konsistensi, dan pH, diperoleh hasil masing-masing secara berurutan adalah krem, kental dan 7,00 ± 0,00. Secara umum hasil ini sesuai dengan standar Kampoeng Ternak dan temuan dari penelitian lainnya. Khusus pH berada pada kisaran 5,9 – 7,3, hampir sama dengan temuan Herdis (2005) sebesar 7,00 ± 0,08. Pemeriksaan secara mikroskopis diperoleh hasil seperti tertera pada Tabel 1. Gerakan massa semen yang diperiksa semuanya berada pada kondisi positif 3 (+++), yang berarti gerakan cepat berpindah, awan tebal dan gelap, celah antara gumpalan awan satu dengan yang lainnya sedikit atau rapat (Tumbelaka, 2005). Motilitas spermatozoa sebesar 87,50 %, lebih baik jika dibandingkan dengan informasi yang diperoleh dari Herdis (2005), Hafez & Hafez (2000), Cole & Cupps (1977), dan Bearden,

Fuquay & Willard (2004) yang menyatakan bahwa kisaran motilitas spermatozoa domba sebesar 60 – 80 %. Hasil ini juga masih lebih tinggi daripada standar Kampoeng Ternak (minimal 75%). Menurut Toelihere (1979), motilitas atau daya gerak spermatozoa dijadikan patokan sederhana dalam penilaian kualitas semen untuk inseminasi buatan. Motilitas juga dapat menunjukkan kemampuan spermatozoa untuk mencapai saluran reproduksi betina. Dengan kualitas motilitas di atas dapat disimpulkan bahwa kualitas semen hasil pemeriksaan dapat digunakan untuk inseminasi buatan.

Tabel 1. Kualitas semen segar pejantan di TDS

tab22

Rataan konsentrasi spermatozoa hasil pemeriksaan adalah sebesar 4.315 ± 843 juta

spermatozoa per ml. Hasil ini lebih tinggi dibandingkan dengan temuan Herdis (2005) sebesar 3.803 ± 478 juta spermatozoa per ml dan temuan lainnya pada kisaran 2.000 – 3.000 juta spermatozoa per ml.

Informasi ini memberikan gambaran bahwa konsentrasi spermatozoa per ml yang dihasilkan lebih tinggi dari standar Kampoeng Ternak. Persentase daya hidup dan abnormalitas spermatozoa hasil pemeriksaan masing-masing 94,58 ± 2,26 % dan 2,67 ± 0,88 %. Keduanya memenuhi standar Kampoeng Ternak dan masih dalam kisaran normal. Temuan ini masih lebih tinggi dibandingkan dengan temuan Herdis (2005) pada daya hidup sebesar 85,67 ± 2,25 %. Namun pada abnormalitas sedikit lebih tinggi jika dibandingkan dengan temuan yang sama. Nilai abnormalitas tersebut menunjukkan bahwa semen yang dihasilkan memiliki fertilitas

yang tinggi karena menurut Hafez and Hafez (2000) semen domba yang fertil secara normal tidak boleh memiliki spermatozoa abnormal lebih dari 15 %.

Perbedaan hasil pemeriksaan dengan temuan lainnya terjadi karena perbedaan ternak yang diperiksa, perlakuan terhadap ternak, dan waktu pemeriksaan. Menurut Herdis (2005), perbedaan kualitas semen segar tergantung dari umur, ukuran tubuh, perubahan kesehatan reproduksi, dan frekuensi penampungan. Meskipun demikian secara keseluruhan, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa semen pejantan yang diperiksa memiliki kualitas yang baik dan memenuhi syarat sebagai pejantan yang akan digunakan di lingkungan Kampoeng Ternak. Selain itu, semen pejantan yang diperiksa layak untuk disimpan baik dalam bentuk semen cair maupun semen beku.

Untuk mengetahui perbedaan kualitas semen pada umur produktif dan umur tua, dilakukan

pengelompokan domba menjadi kelompok produktif (kelompok I) dan kelompok umur tua (kelompok II).

Tabel 2 menunjukkan bahwa volume per ejakulat kelompok I sebanyak 1,30 ± 0,08 ml lebih rendah jika dibandingkan dengan kelompok II sebanyak 1,33 ± 0,24 ml. Menurut Prasetyo (2008b), tingginya volume per ejakulat semen pada umur tua kemungkinan disebabkan oleh tingginya pengeluaran cairan sekreta yang berasal dari kelenjar kelamin pelengkap (kelenjar vesikularis, kelenjar prostat, dan kelenjar bulbourethralis).

Untuk warna, konsistensi, pH, dan gerakan massa tidak ada perbedaan antara umur produktif dengan umur tua masing-masing krem, kental, pH 7,00 ± 0,00 dan motilitasnya positif tiga.

Tabel 2. Perbandingan kualitas semen umur produktif dan umur tua

tab2

Pada kelompok umur produktif motilitasnya sebesar 90,00 ± 0,00 %, sedangkan pada umur tua motilitasnya lebih rendah, yaitu sebesar 85,00 ± 5,77 %. Hasil ini menunjukkan bahwa kemampuan spermatozoa pejantan umur produktif lebih baik jika dibandingkan dengan umur tua untuk mencapai saluran reproduksi betina. Dengan kata lain, pejantan umur produktif lebih baik daripada umur tua jika akan digunakan dalam inseminasi buatan.

Konsentrasi spermatozoa pada umur produktif lebih tinggi (4.720 ± 832 x 106 sprematozoa/ml) dibandingkan dengan konsentrasi pada umur tua (3.910 ± 848 x 106 sprematozoa/ml). Hal ini terjadi karena pada umur tua, aktivitas proses spermatogenesis sudah semakin menurun sehingga spermatozoa yang dihasilkan akan menurun juga. Menurut Prasetyo (2008a), pada usia lanjut jumlah spermatogonia tipe A yang merupakan sumber spermatozoa akan menurun. Selain itu sel Sertoli yang merupakan sumber nutrisi bagi spermazoa dan sel Leydig yang memproduksi testosteron juga akan menurun jumlahnya seiring dengan bertambahnya umur.

Persentase daya hidup dan abnormalitas kedua kelompok secara umum tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelompok pejantan produktif dengan kelompok pejantan tua.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Dari hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa semua pejantan yang diperiksa memiliki kualitas yang baik dan semennya layak untuk diawetkan. Motilitas dan konsentrasi spermatozoa domba umur produktif lebih tinggi dibandingkan dengan umur tua, sedangkan volume semennya berbanding terbalik.

Saran

Karena memiliki kualitas yang baik dan semennya layak untuk diawetkan maka semua pejantan yang diperiksa harus dijaga kelestariannya dan semennya segera diawetkan.

DAFTAR PUSTAKA

Bearden, H. J., J. W. Fuquay, and S. T. Willard. 2004. Applied Animal Reproduction 6th Edition. New Jersey : Pearson Prentice Hall.

Cole, H. H. and P. T. Cupps. 1997. Reproduction in Domestic Animals. New York : Academic Press Inc.

Hafez, E. S. E. and B. Hafez. 2000. Reproduction in Farm Animals. Philadelphia : Lippicott Williams & Wilkins.

Herdis. 2005. Optimalisasi jenis pengencer dan dosis gliserol pada proses pembekuan semen domba garut (Ovis aries). Di dalam : Optimalisasi Inseminasi Buatan melalui Aplikasi Teknologi

Laserpunktur pada Domba Garut (Ovis aries). Disertasi. Sekolah Pascasarjana Institut

Pertanian Bogor. Bogor.

Prasetyo, W. E. 2008a. Apakah usia tua mempengaruhi kulaitas sperma ?. Laboratory of Embriology, Department of Anatomy Physiology and Pharmacology, Faculty of Veterinery Medicine, Bogor Agricultural University. https://genetika21.wordpress.com/2008/02/20/apakah-usia-tuamempengaruhi-

kualitas-sperma.

Prasetyo, W. E. 2008b. Diskusi pribadi.

Tumbelaka, L. I. T. A. 2005. Penuntun Praktikum Ilmu dan Teknologi Reproduksi Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Toelihere, M. R. 1979. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Penerbit Angkasa. Bandung.


Responses

  1. Wah nuhun nyak kang uztad…ternyata dari lamunan joroknya tentang penis domba bisa tercipta tulisan ilmiah yang keluar dari ujung gland penisnya…haha…

  2. Hebat oi pak dokter ajat. Untuk dijaga kelestariannya maksudnya diapakan domba ini pak? tetap di adu? Btw, Pak menteri pertanian kita juga bangga menyebutkan kalau indonesia sudah menjadi eksportir domba, disebutkan dalam diskusi politik disalah satu TV swasta. Salah satunya hasil kerja keras drh. Ajat dan rekan2 di perdombaan ya pak.

  3. Sebenarnya banyak tulisan saya hasil mengutak-atik sesuatu yang jorok dan kotor. Skripsi sy hasil mengorek-orek feses ayam, ada tulisan sy tentang diagnosa penyakit dari feses, dan yang di tas hasil membohongi pejantan…….

    Jangan lihat dari mana keluar dan siapa yang menyampaikan tapi lihat isinya……

    semua yang ada di alam ini diciptakan untuk dipelajari dan memberi manfaat bagi kesejahteraan umat manusia……

    memang kita sudah ekspor domba dan kambing tapi sy sangat khawatir bibit-bibit yang terbaik domba dan kambing Indonesia diekspor ke luar negeri semua sementara kita sendiri kekurangan……

    Kebanyakan orang lebih suka jadi eksportir dan penjual daripada menjadi pembibit……. memang ini dilema jika dikaji dari segi bisnis…… seharusnya setiap dinas peternakan daerah mempunyai pusat-pusat perbibitan ternak, jadi tidak perlu impor bibit lagi…….

    Dua minggu yang lalu sy main ke BET cipelang dan ada program penyebaran embrio hasil penelitian tapi BET kesulitan mencari peternak yang bergerak di perbibitan sebagai sumber resipien…….. ketemu Mba yas juga lo

  4. dibagi atuh pak tulisannya,yg diagnosa penyakit dari feses dah ada,tinggal di upload minggu depan. kebetulan kmrn gak ada kerjaan jadi iseng iseng cari tulisan orang2 dan banyak sekli tulisan pak ajat ini.

    kl ada yg laen bisa di bagi juga disini pak.

  5. Jat… kayanya tujuan kamu ke BET tuh,kalimat yang terakir deh!!!he.he

  6. Ah fieta bisa aja………. itu namanya silaturahim……. pengen ngecek aja sih … ternyata masih segede itu juga……… (vis … mba Ning….!)

    Oleh-olehnya nanti saya bikin tulisan tentang TWINNING (kelahiran kembar) pada sapi menggunakan teknologi tranfer embrio dan IB….

    Tulisan sy banyak news atau feature krn gampang bikinnya, setiap saya pulang keliling daerah suka dapat ide……..

    Sy fikir kl feature temen-temen kurang gereget bacanya, tapi itu isinya kenyataan di lingkungan kita terutama kisah-kisah nyata kehidupan para peternak dan petani bahkan bisa jadi peluang-peluang dan kekuatan negara kita yang belum terungkap ke permukaan……….

  7. emang hebat bapak ajat nie.
    Boleh dong sampel sperma dombanya dibagi he he untuk penelitian lanjutan apakah penurunan kualitas sampai terjadi kerusakan DNA dsb?

  8. aduh asal jangan orang garut aja yang di jadiin samplenya he…he….

  9. Bisa ngga saya dapat sperma bekunya pak. Oh ya domisili saya di Medan pak


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: