Posted by: genetika21 | 19 November 2008

Rabies di Flores, akankah berakhir?

– Ewaldus Wera –

Dalam sebelas tahun terakhir (1997-2008) jumlah korban tewas akibat gigitan anjing rabis di Pulau Flores dan Lembata mencapai 163 orang. Sedankan total gigitan mencapai 15.422 kasus. Korban tewas terbanyak berasal dari Kabupaten Ngada (60 orang), disusul Flores Timur(32 orang), Sikka (19 orang), Manggarai (21 orang), Ende (3 orang), Lembata (5 orang) dan Manggarai Barat (5 orang) (Dinkes Propinsi NTT, 2008).

Dari data ini kita bisa melihat bahwa rabies di Flores sudah menyebar ke seluruh wilayah kabupaten di Flores. Kejadian ini juga mengisyaratkan pada kita bahwa rabies bukannya hilang dari Flores namun malah menyebar ke pulau lain, yaitu Lembata. Pulau Timor dan Sumba merupakan daerah terancam karena bukan tidak mungkin 10 atau 15 tahun lagi kedua pulau ini akan tertular jika pemerintah lemah dalam pengawasan lalu lintas hewan penular rabies, terutama anjing, kucing dan kera.

Masih segar dalam ingatan kita ketika awal tahun 1998 pertama kali diketahui adanya rabies di Kota Larantuka, Flores Timur, masyarakat Flores umumnya masih berharap agar masalah itu bisa diisolasi di Kabupaten Flores Timur saja. Tetapi itu adalah harapan kosong, kenyataannya lain, rabies telah menyebar di seluruh Pulau Flores bahkan menyebar keluar pulau itu yaitu ke pulau lain di sekitar Flores, seperti Lembata, Adonara, dan Solor yang telah tertular penyakit yang mematikan ini. Bahkan tidak tertutup kemungkinan Pulau Sumba dan Timor yang berdekatan dengan Flores terancam tertular penyakit yang dikenal zoonosis nomor satu di Indonesia ini.

Kasus penggigitan anjing tersangka rabies pertama kali dilaporkan di Kota Larantuka pada bulan November 1997. Dari Kota Larantuka, penyakit rabies menyebar ke pulau lain, yakni Pulau Solor dan Adonara. Sampai dengan Juli 2002 rabies telah menyebar dari Kabupaten Flores Timur ke kabupaten lainnya di daratan Flores seperti Kabupaten Sikka (1998), Ende (1999), Bajawa (Juni 2000), dan Manggarai (Juli 2000).

Cepatnya penyebaran wabah rabies di Flores sangat dipengaruhi oleh faktor sosial budaya masyarakat setempat. Misalkan saja, perdagangan anjing untuk dikonsumsi telah begitu mendarah daging dalam masyarakat Flores umumnya. Banyaknya populasi anjing di Flores ditunjang pula dengan tingginya frekuensi lalu lintas hewan penyebar tersebut ke atau dari berbagai daerah, merupakan ancaman terjadinya bawah (out break) dan penyebaran penyakit rabies. Kurang tersedianya sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan vaksinasi, eliminasi dan pengambilan spesimen. Kurangnya kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam memberantas penyakit rabies. Keterbatasan dana operasional, sarana dan perlengkapan stasiun check point yang belum memadai.

Sosial budaya

Di Pulau Flores hampir semua rumah tangga memiliki anjing. Bagi masyarakat Flores umumnya anjing digunakan untuk menjaga rumah, menjaga kebun dari serangan binatang liar seperti kera, babi hutan, musang dan tikus. Anjing mempunyai nilai ekonomi yang tinggi karena disamping sebagai penjaga rumah dan kebun, anjing juga dijadikan santapan yang lezat di restoran dan warung-warung setempat. Anjing bagi masyarakat Flores juga digunakan sebagai mas kawin dalam upacara perkawinan dan sebagai lauk pauk yang khas pada upacara memasuki rumah yang baru.

Ada sebagian masyarakat yang mengaku memiliki anjing, tetapi tidak dipelihara dengan baik. Satu hal yang sering terabaikan dari kelompok anjing berpemilik tetapi tidak terpelihara dengan baik adalah masalah reproduksinya yang cukup tinggi karena memiliki dua sumber makanan, dari tuannya dan dari sisa makanan di tempat sampah. Reproduksinya terjadi secara alami, tanpa hambatan atau dikendalikan pemilik. Akoso (2000)menyatakan bahwa banyak anjing liar di Flores yang disebabkan karena kehilangan pemiliknya akibat terjadi bencana banjir tahun 1979 dan gelombang tsunami 1992.

Dalam pelaksanaan vaksinasi dan eliminasi banyak tantangan yang dihadapi petugas. Banyak masyarakat yang tidak mau anjingnya divaksinasi atau dibunuh secara massal (eliminasi). Banyak di antara mereka yang menyimpan atau menyembunyikan anjingnya di rumah atau di kebun dan bahkan ada yang membawa ke desa, kecamatan atau pulau lain. Hal ini memungkinkan meluasnya wabah rabies di Flores. Ini buktikan dengan masuknya rabies ke pulau-pulau lain di Kabupaten Flores Timur, seperti Pulau Adonara, Solor dan Lembata. Hal ini diduga kuat adanya pemasukan anjing dalam masa inkubasi dari Kota Larantuka dalam rangka menghindari eliminasi massal yang dilaksanakan di daratan Flores Timur tahun 1998. Kesuksesan vaksinasi dan eliminasi terhambat karena adanya sebagian masyarakat pada desa-desa tertentu di Flores yang mempercayai akan nilai-nilai mistik bahwa anjing dianggap sebagai leluhur sehingga tidak bisa dibunuh secara massal.

Kondisi infrastruktur kesehatan hewan di Pulau Flores secara keseluruhan sangat minim. Kondisi ini terlihat dengan jelas pada keterbatasan jumlah petugas operasional. Belum lagi keterbatasan dana untuk pembelian vaksin dan jumlah jarum suntik karena tingginya biaya operasional. Dana lebih banyak dialokasikan untuk biaya operasional seperti pembentukan tim penanggulangan, rapat evaluasi dan biaya transportasi karena tidak adanya kendaraan roda empat untuk operasional, kalaupun ada kendaraan roda dua itu pun dalam jumlah terbatas. Hal ini masih dibarengi dengan keterbatasan kemampuan sumber daya manusia dan persediaan peralatan laboratorium yang minim yang membuat diagnosa rabies harus menunggu dalam waktu yang lama karena pemeriksaan terhadap spesimen hewan tersangka rabies harus dibawa ke Balai Penyidikan Penyakit Hewan (BPPH) Maros, Makassar yang memakan waktu dua hari menggunakan kapal laut. Belum lagi kalau pengemasan spesimen yang tidak sesuai prosedur yang membuat spesimen tidak segar lagi. Juga permasalahan yang ada di lapangan, yaitu sulitnya menemukan spesimen yang utuh dari hewan tersangka rabies karena masyarakat umumnya langsung membunuh anjing yang menggigit manusia dan dibuang ke got atau selokan dan bahkan dikonsumsi. Selain itu kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam rangka pemberantasan rabies masih sangat kurang. Bahkan ada sebagian tokoh masyarakat dan aparat pemerintah yang belum rela anjingnya divaksinasi atau dieliminasi. Pengawasan lalu lintas hewan peka rabies baik melalui darat maupun laut belum sepenuhnya berjalan dengan baik, yang walaupun di beberapa tempat telah ada check point. Keterbatasan dana operasional dan tenaga serta panjangnya garis pantai dan adanya tempat-tempat yang tidak dapat diawasi sepenuhnya, menyebabkan pengawasan agak sulit dilakukan.

Estimasi menurut FAO (Food and Agriculture Organization) yaitu perbandingan jumlah anjing dengan jumlah penduduk yang ideal adalah 1:16. Artinya setiap 16 penduduk terdapat satu ekor anjing. Perbandingan ini sangat berbeda dengan keadaan di Flores dimana jumlah anjing mencapai kurang lebih 618.560 ekor atau 1:3 dibanding jumlah penduduk (1,8 juta jiwa), maka kepadatan jumlah anjing yang berlebihan di pulau yang dikenal dengan sebutan nusa bunga itu merupakan keadaan yang rawan (Wera, 2001). Hal ini tentunya akan mengancam keberadaan pariwisata di Pulau Flores yang terkenal dengan danau tiga warnanya.

Dalam rangka menekan kasus rabies dan peningkatan pariwisata di Pulau Flores, maka dalam rangka otonomi daerah, pemerintah daerah harus mampu membebaskan Pulau Flores dari kasus rabies. Untuk pemberantasan tersebut sangat diperlukan pemahaman epidemiologi dari penyakit rabies sehingga cara penanggulangannya dapat dilaksanakan lebih efektif dan efisien. Penanggulangan dengan cara eliminasi hewan rentan tidak akan cepat menyelesaikan masalah rabies di Flores, sebaliknya akan mempercepat perluasan penyebaran rabies ke daerah lain yang belum tertular penyakit yang mematikan tersebut.

Dengan berbagai permasalahan di atas, terutama mengenai kondisi infrastruktur kesehatan hewan yang serba minim, kurangnya kesadaran masyarakat dan padatnya populasi, maka timbul pertanyaan, rabies di Flores, akankah berakhir? Pertanyaan ini tentunya untuk menggugah hati para penggambil kebijakan dalam hal ini pemerintah daerah di bawah pengawasan pemerintah pusat untuk terus berupaya memberantas penyakit yang mematikan ini. Kita menyadari bahwa ini bukan suatu kerja yang mudah, tidak segampang membalik telapak tangan, namun membutuhkan keuletan dari semua pihak, karena menyangkut berbagai aspek kehidupan, baik teknis, sosial, ekonomi, politis, dan mempunyai konsekuensi mengubah pola pikir sektoral menuju keterpaduan yang harus melibatkan berbagai kelembagaan dan departemen.

* *) Penulis adalah Mahasiswa Program Master Veterinary Epidemiology and Economics-Faculty of Veterinary MedicineUtrecht University– The Netherlands (Staf Pengajar program Studi Kesehatan Hewan Politeknik Pertanian Negeri Kupang)


Responses

  1. mantap pak!! ditunggu tulisan tulisan selanjutnya!!

  2. Dear Reader Genetika21’s Weblog,

    Ada sedikit kesalahan yg mengganggu hati penulis yaitu penulis bukan koordinator program studi keswan politeknik pertanian negeri kupang. Tulisan ini pernah dimuat di Pos Kupang edisi 22 Pebruari 2005. Tulisan ini sebenarnya uda basih. karena keadaan rabies yg sesunggunya di Flores udah jauh dari apa yang ditulis saudara Ewaldus. Sampai hari ini korban meninggal akibat rabies di Flores sudah mencapai 163 orang. Siapa yang peduli? Deptan?? Depkes???

  3. Aih….
    Jadi inget video korban rabies pas kuliah…

  4. Makasih infonya pak dokter
    tapi yang saya kwatirkan adalah populasinya 1;3 sangat mencengangkan.
    sedangkan tiap beranak anjing rata2 5 sampai 6 ekor kadang ada yang sampai
    9 ekor. jangan jangan 5 tahun lagi flores manjadi pulau yang berpenduduknya
    lebih banyak antjing daripada manusia dan yang pasti rabies semua.
    SANGAT MENYERAMKAN TENTUNTAYA.
    Tapi dengan kondisi veteriner yang terkesampingkan apalagi peran karantina
    hewan yg sudah diciutkan(disumsel ngak tahu yang lainnya). Dan PDHI belum
    punya taring ditambah lagi otonomi daerah seperti ini , ditambah lagi kalau
    kepala dinas peternakan atau penanggung jawabnya bukan seorang veteriner
    . Membuat diagnosa yg salah kaprah yang berakibat dengan pengambilan
    keputusan yang tentunya salah. Yach bingung dheh
    Bagus pak dokter. mudah mudahan saya bisa menambahi kasus yang ada dipalembang
    yang tentunya tidak kalah serunya. Wong dirofilaria tdk dianggap zoonosis oleh
    deptan. tapi dianggap zoonosis oleh depkes. gimana sih mas andi. DiBelanda cari
    dong literaturnya. nanti kalau perlu yg nyalin saya.

  5. ThANk yOu sO mUCh!!!!!!!!!!!

  6. hi mas Langgeng, thx atas komentnya. Memang sulit mas, memperediksi jumlah anjing yg ada secara pasti. semua data yg ada di Dinas merupakan prediksi atau hasil sensus beberapa tahun sebelumnya. yang tentunya tidak sesuai lg dg realita yg ada di lapangan. Ada cerita lucu mas, laporan dinas mengatakan 80 % anjing sudah tervaksinasi, tapi kasus gigitan ribuan org dan meninggal 10-15 org per tahun. lah.. vaksinnya ke mana???? ayo rekan2x bisa nebak ga??? Saya kasi sedikit bocoran, Di daerah tersebut hanya ada 2 drh, 3 paramedis. luas wilayahnya 1 1/4 pulau bali. Vaksivasi diproyekan (BLM). Masyarakat awam yg memvaksin anjing. Gilee… Kalau ada kasus, bupati tinggal perinta eliminasi semua anjing liar… kembali ke pertanyaan tadi, Vaccine nya kemane??? Ndi jawab dong, siapa tau punya pengalaman…

  7. kelemahan kita memang kita gak punya database apapun sepertinya. Bahkan data populasi ternak yang ada di Dinas2 hanya data proyeksi/perkiraan dari tahun ke tahun, apalagi kalau data base berapa anjing liar, siapa yang perduli.Apalagi data anjing liar mana yg sudah divaksin. Di Bali ada Yayasan Yudistira kalo ga salah yg concern masalah seperti ini.

    masalah rabies saat ini juga menjadi ancaman buat pariwisata kita,mungkin bagus buat kang waldy atau mas langgeng untuk bikin tulisan lain mengenai rabies ini, karena Rabies sudah masuk ke Pulau Bali, dan sudah ada korban jiwa juga. Bali dengan populasi anjing liarnya yg cukup banyak, dengan adanya rabies pasti akan membuat para turis pikir pikir untuk liburan di Bali.

    Kalau sudah begini pasti tidak ada pihak yang mau disalahkan. Menurut saya, krn rabies hanya menular lewat gigitan(kecuali dlm kasus tertentu) pasti ada yang membawa masuk hewan hidup yg terinfeksi ke Bali. mungkin kang waldy bisa bikin tulisan ttg bagaimana penularan rabies dan bagaimana kemungkinan dia bisa masuk ke Bali.
    atau mungkin kang langgeng bisa bikin tulisan tentang peran Dinas dan Karantina dalam pencegahan penyakit Rabies ke Bali. Atau kang cecep bisa bikin tulisan secara hukum siapa yg harus bertanggung jawab jika ada kejadian seperti ini. atau ada temen2 yg mau kirim tulisan ttg peran dokter hewannya. Setelah Anthrax, Fluburung, Rabies, apalagi abis ini?masih juga profesi dokterhewan dianggap tidak penting?

  8. Oi Kardus!!!! Gmana Kabar?? Itu Telo Masih buat pipis aja bukan?? Dah sukses situ ya???Bagi2 dunk…ah kalo gw bilang mah, kalo memang anjing-anjing disana punya nilai ekonomis yang tinggi, kenapa lu ga jadi broker anjing aja dus?? kirim aja ke lapo2 di jakarta! asal lu tau aja ya, abang gw ada yang profesinya nyolong anjing buat dijual ke lapo. lah daripada tuh anjing2 disana mati sia2 gara2 rabies, mendingan sebelum mati lu kulitin, potong kepalanye, kirim ke jakarta beku!! (illegaly of course)..

    Ato lebih hebat lagi (sekedar brain storming), kalo bikin aja Pabrik Pengolahan daging anjing, diasapin, bikin dalam kaleng, abon, dll lah.. ntar kita ekspor ke Cina or negara mana lagi ya yang penduduknya suka makan daging anjing?Nah kalo lu dah nemu investor yang mau nanam modal jangan lupa kontak gw ya, kan gw yang ngasih ide..;)

    Sama aja kaya AI lah, asal masaknya bener ga bakalan menular dunk..

  9. hahaha… loe kreatip banged bro..🙂

  10. Nimrung lagi nih tmn2 …….

    Dari pembicaraan dan sejarah kasus rabies di Flores ini menurut saya titik kritisnya adalah masalah sosial budaya masyarakat setempat dan keseriusan aparat berwenang terutama pemda setempat. Ada sedikit masukan nih :
    1. Untuk mengatasi masalah sosial tidak bisa hanya ditangani oleh petugas teknis. Libatkan para tokoh agama, tokoh adat, orang yang berpengaruh di wilayah tersebut, aparat kepolisian dan TNI, serta pemda setempat.
    2. Tokoh agama, adat dan orang berpengaruh berperan memberikan penjelasan kepada masyarakat tentang bahaya rabies dari sudut agama, adat, dan aspek-aspek sosial lainnya (PASTI ADA YANG BERHUBUNGAN, KALO DIKAJI SECARA CERMAT DAN CERDAS PASTI ADA CELAH UNTUK MEMBERIKAN PEMAHAMAN KEPADA MASYARAKT SECARA SOSIOTEOLOGI)
    3. Pemda dan legislatif mengeluarkan peraturan yang ketat dan mengikat dengan sedikit ada unsur pemaksaan (PEMAKSAAN DEMI KESELAMATAN BERSAMA SAYA KIRA TIDAK MELANGGAR HAM DAN BUKAN TINDAK KRIMINAL)
    4. Aparat kepolisian dan TNI senantiasa siap siaga mengamankan peraturan daerah yang dibuat Pemda dengan tegas dan tanpa pandang bulu denga tetap memperhatikan kaidah hukum yang berlaku
    5. Petugas Teknis dari DInas Peternakan dan Kesehatan menjalankan fungsinya secara cerdas dan perencanaan yang matang (TAPI JANGAN TERLALU BANYAK RAPAT DAN MEMBUAT PERENCANAAN TANPA ACTION YANG JELAS)
    6. Pilih kader-kader pemuda yang berpengaruh dan mempunyai kepdulian terhadap masalah ini
    7. DANA PERLU, TAPI BUKAN SEGALANYA.
    8. GOOD LUCK !!!

  11. Nambah tempatkan dokter hewan sebagai komando perang NYA.
    Jangan sarjana agama . so pasti membunuhnya ( anjing ) harus melihat amalannya ter
    lebih dahulu. Atau malah sarjana peternakan. pasti mendingan dibudidayakan
    aja (anjing2 tersebut) biar bisa dikalengkan. (teman tidur ).
    Ngantuk ……lagi

  12. eh ……….eeh lupa
    Biar banyak kasus rabies aja lah biar praktek dokterya banyak yang laku.
    he..heeee

  13. Seeeeettttttttuuuuuuuujjjjuuuuuuuuuuu Massssss…………

  14. sekedar ngasih tahu aja ama lp, gw bukan sarjana peternakan, kita kan sama-sama pernah ikut kuliah bussines veteriner.. istilah brainstorming itu kan pak widi yang ngasih tau..

    oh ya, gw jg pernah jd temen tidur lu juga loh…;)

  15. ah yang bener …..
    perasaan indah aja yg pernah saya tiduri
    trus anakku udah gedhe dhong sekarang

  16. Kalo gitu gw kasih clue aja, kita pernah tidur bareng di kalimantan n yang paling gw ga pernah lupakan :

    PUTING GW LU ISEP!!!

    Traumanya ga bakalan pernah ilang dah…
    Ampe sekarang masih kebayang perlakuan tidak senonoh itu kepadaku…

  17. Waduh, sejak kapan Mas Langgeng doyan ama sesama jenis???
    AC-DC donk Mas???

  18. ternyata bekasnya cecep juga mas langgeng…

  19. Woi kalian jangan berpikiran negatif ke mas langgeng lah, hormati dia lah. Setahuku dia kan alumni fkh angkatan 34 yang paling sukses dalam merintis karir di berbagai macam profesi. Sekarang dia bekerja sebagai salah satu staf di perusahaan pakan ternak ternama di Indonesia, disela-sela kesibukannya dia juga menjadi penyiar radio di salah satu stasiun radio ternama di palembang, dia juga punya dedikasi yang kuat dalam mendedikasikan ilmunya dengan menjadi dokter hewan praktek dan team surveilence AI. Mulai tahun 2009 dia mulai merambah ke dunia politik dengan menjadi salah satu caleg DPRD II kab. Banyuasin yang berasal dari salah satu partai ternama di Indonesia. Gak mungkin lah mas langgeng melakukan hal yang tidak benar seperti itu. Bapak yang berwibawa satu ini juga sukses membina keluarga bahagia dengan 1 istri dan dikaruniai 2 anak yang berbakti. Denger2 sebentar lagi dia mau bikin buku biografi yang menceritakan liku2 kehidupannya sampai sesukses sekarang ini.

  20. woi kendi…maneh teh nyak..meuni dendam pisan kaurang teh..
    ya…dulu urang nolak nt bukan brarti nt teu gantenk loh…tapi gag masuk kriteria aja…hua haaa……………
    batur nu paraseana urg dibabawa…kendi…kendi..

  21. wah pak ayat terlalu dibesar besarkan. tapi yach gitulah kenyataannya
    wah gimana yach
    mau komentar apa yach
    wanaraya baritokuala kalimantan selatan
    dan tentunya ada rasa cinta yang mendayu diantara deburan sungai barito
    oyeeeeeeeeee.
    mau ke cianjur dulu yach. hari minggu balik kepalembang sapa ikut

  22. wah…wah… wah……. kyknya sdh keluar dr inti pembahasan nih….. jgn-jgn rabies dan AI masih berkeliaran krn kt terlalu melebar dalam pembahasan sehingga tidak fokus…….

    kyknya ditahun baru ini kt perlu introspeksi dech…..

    KATA KUNCINYA “FOKUS” “F – O – K – U – S”…….

  23. Buat Mas LP, Bapak tidak perlu komentar apa2….Tanggungjawab yang lebih berat menunggu Bapak…
    Harap Bapak lebih-lebih berhati-hati dalam mengeluarkan kata2, karena mungkin suatu hari nanti akan menjadi “boomerang” buat Bapak sendiri, dan “apalagi” Bapak adalah “CALEG” dari “SALAH SATU PARTAI POLITIK TERKENAL”….
    MASA LALU BIARLAH BERLALU, anda punya tangan kanan yang bisa dan akan selalu membela anda….
    Yang perlu diingat Pak!!! Anda mau CALEG, anda mau Petinggi Di Perusahaan Terkenal, Mau Penyiar Radio, Tapi Mas LP tetaplah menjadi Mas LP yang dulu saya kenal….
    Jangan Pernah Berubah Karena Keadaan Pak, Itu Sementara saja, ngga Kekal….
    Justru “TANGGUNGJAWAB”, itu yang harus anda perhatikan dan buktikan….!!!!

  24. Buat Pak Ayat, Bapak ini kaya juru kampanye Mas Langgeng aja….
    Waktu Kampanye belum di Buka Pak???

  25. Buat pa Anang…. Bpk harus tahu bahwa bpk Ayat sekrang sedang mencri kegiatan krn di rmh ga ada kegiatan…….. sekedar info atau mungkin yg lain sdh tahu… menurut info sih katnya ayat sedang jadi jamlay (jarang membelay) krn yg dibelai lg ke luar negeri…. ktnya sih 1 tahun….

    Yat……. yat……… kl aku sih ga kuat smp 1 tahun gitu…… boro-boro satu tahun 3 hari ga ketemu aja kyknya berat……..

    tapi itu perjuangan…….. dan itu pilihan………

    apa sudah pilih-pilih lagi yg baru ?………

    ga apa-apa kan…….. daripada ………. jadi masalah……. beda loh seblm nikah sm sdh nikah……

  26. Hoi…… frends, where are you….. ?

    RABIES DI BALI SUDAH MENELAN KORBAN 4 ORANG……..!!!!!

  27. dari sekian banyak respon, koq ga ada respon dari yang nulis tentang rabies diatas ya..

    selidik punya selidik ternyata si cerita waldus di atas dikerjakan waktu kita masih satu kamar kost pake komputer gw.. OI KARDUS, BAYAR ROYALTI GW DUNK!!!!

  28. waldus betah amat lho di belanda, ga ingat flores ntar rabiesnya ga abis-abis.

  29. bener bone, di flores rabiesnya gak abis abis krn si waldus disini. kl dia disana kan dia bisa lakukan pemberantasan, dimakannya semua yg rabies disana hehehe. damai bang waldy…

  30. halo bang Tambos, teman tidurku dulu di Sindang Barang. Kehangatan dan keempukan badanmu ketika menindihku masih terasa, desahan napas nggorokmu masih terngiang ditelingaku (kawan genetika 21, hal ini yg membuat aku susah memejamkan mata… he…3x). apalagi sentuhan jemarimu yg kreatif menelusuri …ku tak mungkin aku lupa bang. ah begitu indah bang. Pinginnya kembali ke Sindang Barang lagi, merajut lagi benang-benang asmara yg pernah kita lakukan dulu. Bersama kawan dari Irak, kita menebak masa depan kita, abang masih ingatkah akan hal itu??? Sahabat Irak itu bilang: “Nama Waldi membawa berkah, banyak cewek yang suka” katanya saat itu. Utk nama Tambos kawan itu bilang : pasti ngutang dimana-mana, soalnya suka dagang (sorry, just kidding)

    Utk Bang Ajat:
    Terimakasih kang atas masukannya
    Memang benar dana penting, tapi bukan segalanya.

    utk mas LP:
    benar Mas, kalau tidak ada penyakit hewan yg berefek pada manusia (AI, Rabies, antraks, etc), pemerintah daerah/pusat tidak buka lowongan PNS utk profesi drh.

    btw, sukses ya dgn pemilunya. Saya tidak nyoblos mas. Lupa daftar diri kemarin. pingin nyoblos barang lain aja. he3x.

    Utk pa Bone, orang terganteng dari Sulawesi.
    mau tidak mau saya harus betah di Londo, soalnya saya harus nemanin si Andy. kalau ga, dia kabur ke tempat lain di sini. tau toh kebiasaannya??? Kemana lagi kalau bukan ke ….(tempat pelepas kerinduan…)

    Utk Akang Andy Malaranggang Nurhidayat, Mentan 2025:
    masalah rabies itu tidak akan selesai kalau org deptannya tidak FOKUS (niru kata bang Ajat)…
    FOKUS DONG…

    Utk Abangku Tambos:

    benar mbos, tulisan itu dulu kan kita nyusun bareng, kalau tidak salah kamu yg buatin petanya kan??? Masih ada filenya??? kalau komputernya masih ada, hibah in ke Waldi ya???? He3x

    salam kangen utk Ito Sri, uda momongan belum??
    Salam hangat utk kaka, bapa n mama. Tuhan memberkati.

  31. Baca juga ini Apa itu rabies

  32. Jam di dinding kamarku menunjukan pkl 23.39 (jam pkl 5.39 Waktu jakarta). entah kenapa aku bangun n langsung menghidupkan laptopku yg sudah usang dimakan waktu. Tiba-tiba aku rindu pada kawan2x genetika ’21. Kawan canda di ruang Moeslihon yg kini tinggal kenangan. Aku baca lagi postingan canda kawan2x yg saat ini tlah menjadi org2x penting di negeri yg bernama Indonesia itu. Aku ketawa sendiri akan candaan dlm postinganmu kawan, aku rindu padamu smua… andaikan kalian ada disini saat ini akan kubuatkan teh hangat untukmu…. sungguh menyenangkan tentunya… Salam akhir pekan dari Wageningen…. Sobat kalian Waldi


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: