Posted by: genetika21 | 24 June 2008

Iatrogenic Cushing’s Disease

Pristiani Nurantika –

Tahukah Anda bahwa pemberian preparat kortikosteroid berkepanjangan dapat menyebabkan cushing’s disease?

Tulisan singkat ini terutama ditujukan untuk menambah pengetahuan teman-teman yang berkecimpung sebagai praktisi terutama praktisi hewan kecil. Topik ini saya pilih setelah berdiskusi dengan praktisi senior kita yang saya yakin selalu mengikuti perkembangan dunia kedokteran hewan. Semoga teman-teman dapat mengambil ilmu dari tulisan ini dan mengaplikasikannya sebagai pertimbangan dalam memberikan treatment pada pasien.

Cushing’s Disease

Cushing’s disease atau hiperadrenokortisme atau hiperkortisolisme adalah suatu kondisi kelainan endokrin yang disebabkan oleh kandungan kortisol yang berlebihan pada darah. Kortisol adalah hormon yang berpotensi sebagai anti-inflamatori yang memiliki efek imunosupresi.

Penyebab utama cushing’s disease dikelompokkan menjadi 3 bagian yaitu (1) hiperadrenokortisme akibat aktifitas kelenjar hipofise yang berlebihan, (2) akibat tumor adrenokortikal dan (3) akibat induksi obat yang biasa diberikan kepada hewan sebagai tindakan terapi (kondisi ini disebut sebagai iatrogenic).

Kasus cushing’s disease lebih banyak terjadi pada anjing daripada kucing. Sekitar 85% cushing’s disease pada anjing disebabkan oleh aktivitas kelenjar hipofise yang berlebihan. Kelenjar hipofise adalah kelenjar sebesar kacang yang terletak pada otak yang menghasilkan hormon ACTH. Bilamana kelenjar hipofise memproduksi hormon ACTH secara berlebihan maka akan menimbulkan reaksi umpan balik negatif yaitu menstimulasi kelenjar adrenal untuk memproduksi kortisol dalam jumlah yang berlebihan pula. Hal inilah yang menyebabkan kondisi hiperadrenokortisme. Penyebab kedua dari hiperadrenokortisme adalah tumor pada kelenjar adrenal, meskipun 50% dari tumor tersebut bersifat jinak (benign).

Berbeda dengan 2 penyebab lainnya, iatrogenic hiperadrenokortisme terjadi akibat penggunaan preparat kortikosteroid sebagai medikasi pada berbagai kasus penyakit. Adapun contoh-contoh dari preparat kortikosteroid yang sering digunakan adalah glukokortikoid seperti Dexamethasone, Prednisone dan derivat-derivatnya. Umumnya preparat-preparat tersebut digunakan untuk pengobatan kelainan pada kulit, peradangan, atau obat yang diberikan dengan tujuan menurunkan sistem kekebalan tubuh setelah transplantasi organ. Seringkali kasus hiperadrenokortisme terjadi akibat pemberian kortikosteroid yang kontinyu dalam jangka waktu yang cukup lama dan lebih sering terjadi pada pasien dengan pengobatan harian dibandingkan dengan pasien yang menerima terapi kortikosteroid setiap 48 jam sekali, juga sering terjadi pada pasien dengan pengobatan injeksi preparat kortikosteroid dengan frekuensi lebih dari 1 kali/bulan.

Kadar kortisol yang berlebihan pada tubuh tersebut selanjutnya memberikan sinyal ke kelenjar adrenal untuk mengurangi produksi kortisol normalnya, sehingga dalam jangka panjang berakibat mengecilnya ukuran kelenjar adrenal.

Cushing’s disease umumnya terjadi pada anjing berusia menengah sampai dengan tua (75% diantaranya berusia >9 tahun) dan beberapa ras seperti boston terrier, poodle, dachshund, boxer, scottie, dan german shepherd memiliki faktor predisposisi secara genetik. Namun demikian, semua ras anjing tak terkecuali dapat terserang penyakit ini. Pada kucing, kasus ini banyak terjadi pada individu berusia > 9 tahun.

Gejala klinis yang nampak diantaranya adalah kebotakan hingga kebotakan yang simetris bilateral, makan-minum berlebihan, polyuria, keadaan cepat lelah, pot-bellied abdomen (bentuk abdomen seperti mengenakan ikat pinggang; terjadi pembesaran hanya pada bagian perut dan mengecil pada bagian pinggang), serta infeksi kronis lain. Pada kucing, gejala yang tampak umumnya berupa penipisan kulit serta bulu (rambut) yang mudah rontok. Gejala-gejala tersebut bukan merupakan gejala yang spesifik pada pasien hiperadrenokortisme dan oleh karenanya maka teman-teman praktisi harus melakukan beberapa tes laboratorium sebagai tindakan konfirmasi terhadap diagnosa penyakit dan sekaligus mendeteksi penyebab utama penyakit tersebut. Salah satu gejala spesifik yang terjadi pada kucing adalah ketika dirasakan sulit mengontrol kadar insulin pada kucing penderita diabetes. Ketika dosis insulin untuk maintenance sulit sekali ditetapkan, maka terdapat kemungkinan bahwa kucing tersebut menderita cushing’s disease.

Test laboratorium secara rutin tidak begitu membantu dalam mendiagnosa cushing’s disease. Namun, tes-tes tersebut dapat memberikan petunjuk kemungkinan terjadinya cushing’s disease dan sebagai contoh adalah kadar alkalin phosphatase yang tinggi.

Dalam mendiagnosa cushing’s disease diperlukan tes khusus. Pada anjing tersedia beberapa pilihan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Saat ini ahli endokrinologi cenderung melakukan tes menggunakan tes supresi dexamethasone dosis rendah (low dose dexamethasone suppression test/LDSS). Selain itu perbandingan kadar kortisol:kreatinin pada urin juga dapat berguna sebagai screening test terhadap cushing’s disease meskipun dinilai kurang akurat untuk dijadikan sebagai dasar penentuan treatment. Keakuratan dari tes-tes yang dilakukan sangat diperlukan untuk mempertimbangkan sensitifitas dan spesifisitas dalam terapi. LDSS dinilai 95% sensitif namun hanya 70% spesifik. Kadar kortisol:kreatinin pada urin dinilai kurang lebih 90% sensitif namun memiliki spesifisitas rendah.

Diagnosa cushing’s disease pada kucing lebih sulit dilakukan karena kemampuan kucing memproduksi kadar kortisol yang tinggi akibat kondisi stress yang dialaminya. Kadar kortisol:kreatinin urin dan tes LDSS kemungkinan dapat bekerja dengan baik dalam penentuan terjadinya cushing’s disease pada kucing. Perlu diingat bahwa tes dexamethasone “dosis rendah” yang direkomendasikan untuk kucing menggunakan dosis tertinggi dexamethasone untuk tes LDSS pada anjing.

Terapi

Pengobatan terhadap penderita cushing’s disease didasarkan pada usaha untuk menormalkan kembali kadar kortisol tanpa menyebabkan kondisi defisiensi kortisol yang tentunya memberikan efek negatif terhadap kesehatan. Pada kasus iatrogenic cushing’s disease, terapi dilakukan dengan pemberian kortisol secara perlahan dan pemberiannya harus secara hati-hati mengingat bilamana kelenjar adrenal belum siap akan penggantian kortisol dari sumber lainnya maka dapat menyebabkan hewan muntah, diare, kolaps pembuluh darah bahkan kematian.

Prognosa terhadap cushing’s disease bervariasi, tergantung tipe penyakit yang diderita pasien. Pada kasus tumor kelenjar adrenal, tindakan bedah (adrenalectomy) dapat mengatasi tumor yang belum menyebar. Namun bilamana telah terjadi penyebaran sel tumor kelenjar adrenal maka prognosa yang lebih buruk dapat terjadi (pada kasus tumor ganas). Cushing’s disease akibat aktifitas kelenjar hipofise yang berlebihan memiliki prognosa yang baik dalam jangka waktu singkat, namun demikian penderita cushing’s disease dalam jangka waktu yang lama memiliki predisposisi terhadap penyakit-penyakit lain seperti diabetes mellitus, infeksi saluran urin, penyakit ginjal, hipertensi, dan pankreatitis. Penderita iatrogenic cushing’s disease memiliki prognosa yang baik bilamana substitusi kortisol yang sesuai tetap terjaga dengan baik. Umumnya, terapi terhadap penderita cushing’s disease diberikan dalam jangka waktu cukup lama dengan senantiasa melakukan monitoring terhadap kadar kortisol tubuh.

Beberapa produk obat yang dapat digunakan adalah Lysodren, Mitotane, Trilostane ataupun Ketoconazole yang dapat digunakan sebagai alternatif untuk pengobatan cushing’s disease. Namun sepertinya produk-produk obat ini belum terdaftar di Indonesia sehingga mungkin tidak mudah dijumpai dalam pasar obat hewan di Indonesia.

Sumber bacaan :

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Wikipedia. Cushing’s syndrome. http://en.wikipedia.org/wiki/Cushing%27s_syndrome

<!–[if !supportLists]–>2. Columbia Animal Hospital. Cushing’s Disease-Hyperadrenocortism. http://www.petshealth.com/dr_library/cushing.html

<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–> Hahn, J. Cushing’s Disease Affects Dogs, Cats, and People. http://www.thepetcenter.com/gen/cd.html

<!–[if !supportLists]–>4. <!–[endif]–> Richards, M. 2005. Cushing’s disease and corticosteroids.


Responses

  1. mantab!! pake B… Mantab

  2. mantaf!! pake F… Mantaf

  3. kl baca dari gaya bahasanya seperti kuliah pa widodo dan bu ligaya………

    Mantap……… dibaca …… Mantaf

    enak ya kl banyak yg nulis seputar profesi……… serasa masih kuliah……….

  4. cayo bu, asah trus ya bakatnya……..ditunggu tulisanya lgi ya

  5. Pungent bedanya cushing syndrome Dan cushing disease apa ?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: