Posted by: genetika21 | 15 June 2008

Agar Satwa Liar Tak Menjadi Hikayat

– Anang S. Achmadi –

Indonesia sangat kaya akan keanekaragaman hayati dan karenanya Indonesia mendapat predikat megabiodiversity secara internasional. Predikat ini seharusnya membuat Indonesia menjadi negara yang besar dan patut berbangga mengenakannya. Soalnya adalah betulkah predikat ini mencitrakan kondisi keanekaragaman hayati Indonesia yang sesungguhnya? Ini yang mungkin masih sulit kita menjawabnya secara tepat.

Setuju atau tidak, sejujurnya kita harus mengakui bahwa dewasa ini sesungguhnya banyak satwa liar—yang menjadi bagian dari keanekaragaman hayati itu—asal Indonesia yang telah punah (extinct) karena kealpaan kita. Sebut saja harimau Jawa (Panthera tigris javanicus) kini hanya tersisa hikayatnya. Benar, kita telah banyak mendengar adanya banyak lembaga atau organisasi yang berusaha melestarikan satwa liar dengan cara menangkarkannya. Tapi apakah mereka telah berhasil melakukannya sesuai dengan kondisi saat ini? Atau apakah mereka melakukannya untuk tujuan konservasi dan pelestarian satwa liar untuk menghindari kepunahan sesuai dengan harapan negeri ini? Ini yang mungkin patut kita kaji secara lebih mendalam.

Apakah penangkaran itu?

Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1999 menyebutkan bahwa penangkaran ialah serangkaian kegiatan yang dilakukan berhubungan dengan pengembangbiakan satwa atau perbanyakan tumbuhan secara buatan dalam lingkungan yang terkontrol dan/atau penetasan telur dan pembesaran anakan yang diambil dari alam. Penangkaran dapat dilakukan terhadap jenis satwa liar yang dilindungi atau yang tidak dilindungi.

Pengertian di atas dapat menerangkan bahwa penangkaran dapat ditujukan untuk konservasi pada hewan yang terancam punah (threatened), ataupun dilakukan dengan tujuan perdagangan atau komersialisasi. Pengertian ini juga mendorong kita untuk mengkaji kembali dari semua lembaga yang ada, mana sesungguhnya yang berbuat untuk kepentingan konservasi dan mana yang untuk tujuan komersialisasi. Selain itu, masihkah semua yang dilakukan sesuai dengan peraturan-peraturan yang telah ada.

Perdagangan satwa liar

Pada masa sekarang ini yang sering menjadi masalah adalah penangkaran dengan tujuan komersialisasi, padahal dalam PP No. 8/1999 sangat jelas disebutkan bahwa satwa liar yang dapat diperdagangkan adalah jenis satwa liar yang tidak dilindungi. Praktek perdagangan satwa liar dilindungi ini sebagian besar terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, Solo, Surabaya, dan Semarang masih banyak kita temukan.

Jika merujuk pada PP No. 8 Tahun 1999, sebenarnya sudah jelas ditentukan bahwa satwa liar yang dilindungi yang dapat diperdagangkan hanyalah satwa liar generasi kedua (Filial 2) dan generasi-generasi berikutnya. Hal ini pun telah diatur dalam Convention of International Trade Species of Wild Fauna and Flora (Cites) yang telah terbagi ke dalam kategori kelangkaan yang disebut sebagai Appendix.

Adapun pembagiannya sebagai berikut ini.

1. Appendix I

adalah semua jenis hidupan liar yang terancam (threatened) dari kepunahan (extinction) yang dapat atau ada kemungkinan dapat disebabkan adanya tindakan perdagangan internasional. Penjualan dari jenis hidupan liar dalam kategori ini hanya dapat dilakukan setelah melalui proses pengaturan/kajian yang sangat ketat dengan maksud tidak menambah tingkat tekanan terhadap daya kemampuan hidupnya (survival) dan hanya bisa dilakukan dengan alasan yang sangat kuat.

2. Appendix II

adalah (a) semua jenis hidupan liar walau tidak dalam kondisi terancam dari kepunahan, dapat menjadi terancam, terkecuali perdagangan terhadap hidupan liar tersebut dikenai suatu peraturan yang ketat dalam rangka menghindari pemanfaatan yang tidak sepadan dengan daya kemampuan hidupnya, (b) atau hidupan liar lainnya yang perlu dikenai pengaturan dengan maksud bahwa perdagangan hidupan liar tersebut sesuai dengan paragraf (a) dapat dilakukan pengontrolan secara efektif.

3. Appendix III

adalah semua hidupan liar sehingga semua pihak telah mengidentifikasinya sebagai bahan perdagangan yang dapat diterapkan sesuai dengan peraturan yang berlaku di masing-masing wilayahnya, dengan maksud mencegah/membatasi eksploitasi lewat kerja sama dengan semua pihak terkait dalam pengawasan perdagangannya. Dalam pelaksanaannya, untuk semua jenis hidupan liar dalam kelompok Appendix I dan II, biasanya diperdagangkan lewat penetapan jumlah yang boleh diperjualbelikan (kuota) dan diawasi bersama.

Berdasarkan Cites yang merujuk pada PP No. 8 Tahun 1999 ini, kebijakan atau peraturan yang ada di dalamnya sudah sangat jelas. Soalnya adalah bagaimana kita menegakkan peraturan ini. Kelemahan dalam pengawasan perdagangan satwa liar saat ini menjadi titik pangkal terjadinya penyelewengan dan penyalahgunaan satwa liar yang diperdagangkan. Jadi untuk mengatasinya, jelas penegakan hukum dan peraturan menjadi mutlak adanya, di samping upaya penyadaran akan pentingnya konservasi satwa liar di kalangan masyarakat, dan terutama mereka yang terlibat dalam praktek perdagangan satwa.

Kita mungkin masih harus belajar banyak dari negara lain, yakni mereka sangat keras dan tegas dalam menindak oknumoknum yang telah melakukan pelanggaran. Sebut saja negaranegara di Eropa, Amerika Serikat, dan negara-negara di Afrika sekalipun yang sangat memperhatikan kelangkaan dan kepunahan satwa liar yang terdapat di negara masing-masing. Sekecil apa pun permasalahan yang menyangkut animal welfare sangat diperhatikan.

Selagi masih banyak waktu untuk memperbaiki, tidak salah kiranya bila kita mulai memperhatikan kelangkaan dan kepunahan satwa liar yang ada di Indonesia. Setidaknya anak-anak dan cucu kita kelak tak hanya bisa mengenal satwa melalui hikayatnya.


Responses

  1. ck…ck…
    Anang = Profesor ahli satwa liar…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: