Posted by: genetika21 | 19 May 2008

S.N.O.A.P.A.D

– M. M. (Andi) Hidayat –


Kalau kita ingat lagi pelajaran penyakit parasitik, kita akan ingat istilah istilah yang digunakan pada saat kita belajar dulu. Ada istilah Parasitiasis dan parasitosis yang keduanya digunakan untuk kondisi dimana inang terinfeksi atau terinfestasi oleh parasit. Misal apabila inang terinfestesi oleh helminth (Cacing) maka istilah yang kita kenal adalah Helminthiasis atau Helminthosis. Yang membedakan penggunaan dari kedua istilah ini adalah adanya gejala atau tidak pada inang yang terinfestasi atau terinfeksi parasit ini.

Perkembangan sekarang ternyata kedua istilah ini menimbulkan banyak kebingungan dan inefisiensi. Sebagai contoh apabila kita melakukan pencarian referensi atau jurnal tentang trichinella di internet dengan kata kunci “trichinellasis”, maka yang keluar adalah semua tentang trichinellasis saja, sedangkan informasi tentang trichinellosis tidak termasuk, atau sebaliknya. Hal ini mengharuskan kita untuk mencari ulang dengan kata kunci lainnya, padahal yang membedakan hanya ada tidaknya gejala klinis yang seringkali pada penyakit penyakit parasit ini tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.

Akhiran “asis”, “iasis” dan “osis”

Pembedaan ahiran “asis” dan “osis” pada kondisi inang yang terinfestasi dan terinfeksi parasit dengan atau tanpa gejala ini pada awalnya diperkenalkan oleh Whitlock pada tahun 1949. Ide ini masuk akal karena memang tidak semua inang yang terinfeksi atau terinfestasi menunjukkan gejala klinis. Namun pada prakteknya hal ini tidak bisa dibedakan.

Oleh karena itu persatuan ahli penyakit parasit veteriner dunia (World Association for the Advancement of Veterinary Parasitology/W.A.A.V.P.)

Mengusulkan penyeragaman dan penyederhanaan penggunaan istilah untuk menggambarkan kondisi inang yang terinfeksi atau terinfestasi penyakit parasit. Sebenarnya ide ini sudah dimunculkan sejak tahun 1953 namun baru diresmikan pada akhir tahun 1980an.

Penyeragaman dan penyederhanaan ini adalah diperkenalkan dengan konsep S.N.O.A.P.A.D yang merupakan singkatan dari :

S = Standardized

N = Nomenclature

O = Of

A = Animal

P A = Parasitic

D = diseases

Secara umum SNOAPAD ini bertujuan untuk menyeragakman penggunaan istilah yang digunakan untuk penyakit yang diakibatkan oleh parasit. Penggunaan satu akhiran “Osis” disarankan untuk digunakan. Selama ini kita menggunakan “asis”, “iasis” dan juga “osis”. Hal ini disarankan karena mempertimbangkan hampir sema bahasa di dunia dapat melafalkan osis (atau ”oses” untuk jamak) dan juga untuk menyamakan dengan istilah yang digunakan pada sebagian besar penyakit yang ditimbulkan oleh agen lain seperti bakteri atau virus. Sebagai contoh pada penyakit TB diistilahkan dengan tuberculosis, atau infeksi leptospira dengan Leptospirosis.

Penggunaan akhiran ”osis” ini ditempatkan dibelakang nama takson dengan beberapa pegecualian dan pengurangan, penambahan atau penggantian huruf huruf akhir untuk nama nama tertentu. Sebagai contoh infeksi parasit Babesia diistilahkan dengan mengganti huruf a kemudian ditambahkan dengan akhiran osis menjadi : Babesiosis. Namun untuk parasit hepatozoon misalnya, langsung ditambahkan dengan osis menjadi hepatozoonosis. Untuk Parasit tertentu dengan akhiran ”x” seperti Demodex cati, dilakukan penggantian huruf x dengan c kemudian ditambahkan dengan osis : demodecosis. Untuk penyakit parasit yang sudah lazim digunakan seperti malaria, surra dan scabies misalnya tetap digunakan dan tidak dirubah.

Prinsip umum SNOAPAD

1. dari tiga akhiran yang biasa digunakan “asis”, “iasis” dan juga “osis” hanya akhiran ”osis” yang digunakan.

2. Penggunaan istilah osis ini ditempatkan dibelakang nama takson dengan beberapa pegecualian dan pengurangan, penambahan atau penggantian huruf huruf akhir untuk nama nama tertentu.

3. Untuk Parasit dengan akhiran ”x” seperti Demodex cati, dilakukan penggantian huruf x dengan c kemudian ditambahkan dengan osis : demodecosis.

4. Pada kasus Cyathostoma (Syngamidae) digunakan istilah Cyathostoma + t + osis : Cyathostomatosis. Hal ini dilakukan untuk membedakan dengan infeksi akibat Cyathostomum (Strongylidae) yang menggunakan istilah Cyathostom + osis : Cyathostomosis.

5. Pada beberapa penyakit akhiran osis langsung ditambahkan setelah nama agennya seperti : hepatozoon misalnya, langsung ditambahkan dengan osis menjadi hepatozoonosis atau lecocytozoon menjadi lecocytozoonosis.

6. Untuk penyakit parasit yang sudah lazim digunakan seperti malaria, surra dan scabies misalnya tetap digunakan dan tidak dirubah

7. Tidak ada lagi pembedaan antara kasus dengan atau tanpa gejala. Semua menggunakan akhiran yang sama (osis).

8. SNOAPAD ini dibuat untuk menyeragamkan dan menyederhanakan. Oleh karena itu penamaan yang dibuat juga harus sesederhana mungkin.

Dari jurnal Kassai T. et al. SNOAPAD.vet. Parasitology, 29 (1988) 299 – 326.


Responses

  1. Salut gw ndi udah bguru ama pak fadjar satria emang harus jd master parasit…hal2 basic memang kita tkadang lupa tp justru dr situlah awal dr segala nya…hehe..

  2. Cieee..gatot bijaksana banget… :p

  3. thanx ndi…jadi inget lagi..istilah2 itu.dah hampir lupa n kelelep…hehe.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: