Posted by: genetika21 | 13 April 2008

Antraks…

– Fetty Dinya Nurbara –

Pasti sudah amat sangat familiar dengan penyakit ini toh..he3… mungkin bisa dianggap basi…tapi moga-moga bisa bermanfaat…

Penyebab : siapa lagi kalo bukan Bacillus antracis.

Sekedar mengingat-ingat barangkali ada yang lupa, bakteri ini berbentuk batang, termasuk gram positif, anaerob dan memiliki spora dibagian tengahnya. Eksotoksin dan kapsul yang dimilikinya membuat bakteri ini sulit untuk difagosit. Toksinnya terdiri dari tiga faktor, yaitu antigen protektif, letal dan edema. Gabungan antara faktor edema dan antigen proteksif menyebabkan terganggunya homeostasis cairan dalam sel, yang mengakibatkan terjadinya edema. Faktor letal yang dimiliki B. antracis merupakan zinc metalloprotease yang mengakibatkan hiperinflamasi pada makrofag, sehingga dilepaskan Tumor Nekrosis Factor (TNF) dan interleukin, yang mengakibatkan kematian mendadak pada keadaan sistemik (Dixon et al, 1999).

Jika lingkungan sudah tidak memungkinkan untuk tumbuh dan bermultiplikasi maka bakteri ini akan membentuk spora. Spora masuk melalui luka pada kulit, inhalasi dan ingesti, yang kemudian akan difagosit makrofag, kemudian dibawa oleh limfonodula terdekat. Didalam makrofag spora akan berubah menjadi bentuk vegetatif atau yang disebut dengan bergerminasi. Setelah itu dilepaskan makrofag dan beredar dalam dan bermultiplikasi didalam system limfatik. Selanjutnya bakteri-bakteri ini akan memasuki peredaran darah, yang jika sudah mencapai 107 hingga 108/ml darah berarti sudah terjadi septikemia

Kejadian Pada Manusia

Pada manusia pada umumnya gejala klinis yang terjadi terbagi menjadi tiga bentuk, yaitu :

1. Bentuk kulit

Bentuk ini yang paling umum terjadi, masa inkubasinya dua sampai tiga hari. Manusia tertular karena kontak dengan hewan atau daging dari hewan yang terinfeksi, wol, kulit atau rambut hewan. Pada bagian kulit yang terkena akan menjadi gatal dan muncul papula, yang 24-36 jam kemudian menjadi vesikula. Bagian tengah vesikula tersebut menjadi nekrosa dan mengering, yang sangat khas berwarna hitam dan dikelilingi oleh udema. Jika dilakukan pewarnaan Gram, bakteri antraks dapat ditemukan pada bagian subkutan

Istilah malignant pustule yang sering kita ketahui sebagai nama lain penyakit ini sebenarnya kurang tepat, karena pada lesio kulit tidak bersifat purulen dan tidak nyeri. Adanyanya rasa nyeri dan demam terjadi jika adanya infeksi sekunder dari Staphylococcus sp dan Streptococcus sp. Walaupun biasanya bentuk antraks ini tidak berbahaya (80-90% kasus tidak mengalami komplikasi), membiarkannya tanpa pemeberian antibiotik dapat berakibat fatal. Komplikasi yang dapat terjadi adalah malignant edema, indurasi, multipel bullae dan shok. Malignant edema jika terjadi di daerah thoraks atau leher akan menyebabkan sulit bernafas, sehingga diperlukan terapi kortikosteroid atau intubasi (Dixon et al, 1999).

2. Bentuk respiratori

Manusia terinfeksi karena menghirup udara yang mengandung spora antraks yang tersebar secara aerosol, yang kemudian dikenal sebagai wool sorter disease. Kejadiannya sangat jarang, bahkan pada pekerja di pabrik kulit kambing yang sehari-hari telah terpapar spora ini. Akan tetapi dengan alasan yang masih belum diketahui terdapat juga kasus-kasus yang terjadi jauh dari sumber awal lepasnya spora antraks ini, seperti dalam kasus di Rusia.

Bentuk antraks ini umumnya fatal, bahkan dengan terapi antibiotik secara agresif. Spora antraks yang berukuran 1 – 2 µm dapat memasuki alveol, walaupun tidak menyebabkan pneumonia. Pada sebagian besar kasus antraks inhalasi justru tidak terjadi infeksi pada paru-paru. Spora yang difagosit oleh makrofag dalam alveol kemudian akan dibawa ke mediastinum dan limfonodula peribronchial untuk kemudian bergerminasi, yang mengakibatkan hemorrhagic mediastinitis dan menyebar ke seluruh tubuh melalui peredaran darah.

Masa inkubasi bentuk inhalasi ini antara 6 – 10 hari, Gejala awal biasanya demam, batuk, myalgia dan malaise yang terlihat seperti flu biasa. Gambaran rontgen menunjukan perluasan mediastinum dan effusi pleura. Setelah satu hingga tiga hari batuk akan terdengar lebih keras, terjadi dyspnoe, meriang dan berakhir dengan kematian. walaupun sangat jarang terjadi, terdapat juga kasus inhalasi dengan dengan lesio primer di selaput lendir dan hidung, yang menyebabkan udema pada bagian wajah dan hidung mengeluarkan discharge yang kental seperti gelatin (Swartz, 2001)

3. Bentuk gastrointestinal.

Masa inkubasi bentuk ini berkisar antara dua hingga lima hari, yang terjadi karena mengonsumsi daging mentah atau kurang masak yang berasal dari hewan yang terinfeksi. Akibatnya terjadi gastroenteritis yang parah, sehingga muntah dan feses yang keluar mengandung darah. Diduga inokulasi bakteri terjadi di tempat lukanya mukosa, akan tetapi lokasi tepatnya germinasi spora tidak diketahui. Dalam pemeriksaan patologis bakteri ini dapat ditemukan di mukosa dan submukosa jaringan limfatik dan juga terjadi mesenterik limfadenitis. Ulcer selalu ditemukan, tetapi tidak diketahui hal ini hanya terdapat pada bagian yang diinfeksi bakteri atau dapat juga merupakan akibat dari toksin yang dihasilkan. Pemeriksaan mikroskopis menggambarkan adanya edema besar-besaran dan nekrosa mukosa pada lokasi infeksi. Pewarnaan Gram pada cairan peritoneum menunjukkan sejumlah besar bakteri antraks ini.

Pembesaran mediastinum dapat dikatakan patognomonis antraks inhalasi, akan tetapi pernah juga dilaporkan pada bentuk gastrointestinal. Adanya ulcer pada saluran pencernaan menyebabkan penderitanya mengeluarkan muntah-muntah yang mengandung darah. Asites dapat terjadi setelah dua hingga lima hari sejak gejala klinis mulai terlihat. Kematian terjadi akibat perforasi pada usus atau toksemia. Jika pasien sembuh, gejalanya akan berkurang dalam 10 hingga 14 hari .

Penularan antar manusia jarang terjadi karena status carrier pada penyakit ini tidak pernah ditemukan. Bagaimanapun cara masuk agen penyakit ini, jika sudah sistemik menunjukkan tingginya kadar bakterimia dan toksemia. Gejala kinis yang terlihat tidak jelas, hingga terjadinya hipotensi, shok dan kematian mendadak tersebut sebagai akibat dari toksin yang dihasilkan bakteri ini (Dixon et al, 1999)

Patofisiologi Antraks

Dixon et al, 1999 (http. http://www.nejm.org)

Kejadian Pada Hewan

Pada hewan gejala klinis terlihat dalam tiga bentuk , yaitu perakut, akut dan kronis. Perakut biasanya terjadi pada domba, sapi dan kambing. Bentuk akut biasanya pada sapi, kuda juga pada domba. Gejala yang ditunjukkan adalah depresi, sulit bernafas, inkoordinasi, konvulsi dan berakhir pada kematian. Selain itu tejadi oedema di berbagai bagian tubuh dan keluar discharge darah dari lubang kumlah. Bentuk kronis pada umumnya terjadi pada babi, tetapi dapat juga pada sapi, kuda dan anjing. Gejala yang terlihat adalah kebengkakan pada faring dan lidah (Acha dan Szyfres, 2003).

Tidak ada kelainan yang patognomonis, kelainan yang ditemukan memiliki kesamaan dengan kematian yang disebabkan oleh penyakit infeksius dan toksik lainnya dan seringkali tidak konsisten. Darah berwarna kehitaman, limpa yang bengkak dan multipel haemorrhagi ptechie yang terlihat adalah ciri umum dari septikemia. Untuk mencegah tercemarnya lingkungan, maka tidak diperbolehkan menekropsi hewan yang diduga terkena antraks.

Proses dekomposisi alamiah dari karkas dapat membunuh sebagian besar bakteri vegetatifnya, akibat kerja dari bakteri-bakteri pembusuk. Proses dekomposisi ini dapat terjadi dalam satu hingga dua hari di daerah yang beriklim panas. Sporulasi kemungkinan dapat terjadi akibat cairan tubuh yang keluar dari lubang kumlah dan menccemari lingkungan. Oleh karena itu, sampel terbaik dari karkas yang sudah mengalami pembusukan adalah tanah disekitar bangkai. (OIE, 2004)

Tanah adalah adalah reservoar utama agen penyakit ini. Masih belum terungkap kenapa di negara-negara beriklim sedang bakteri ini tidak berkembang dengan baik. Di daerah dataran rendah terutama tanah dengan pH tinggi spora dapat terbawa oleh banjir dari dataran tinggi. Wabah biasanya terjadi pada musim panas setelah musim semi berlangsung dengan curah hujan yang tinggi. Hewan pada umumnya terinfeksi melalui rumput atau minuman yang terkontaminasi spora antraks, terutama di daerah sekitar bangkai hewan yang terinfeksi. Tanah yang bersifat asam maupun alkalis tetap berpotensi sebagai sumber infeksi spora. Cara transmisi yang lain, yaitu dari hasil ikutan hewan seperti bahan pakan dari tulang maupun darah (Acha dan Szyfres, 2003).

Dilihat dari sudut ekonomi dan kesehatan masyarakat, kepentingan dari penyakit ini adalah kemampuannya untuk menginfeksi hewan dalam jumlah besar dalam satu waktu. Karkasnya akan membahayakan manusia dan hewan lainnya melalui daging, rambut, wool atau tulang. Bahan-bahan asal hewan yang terinfeksi tersebut dapat berpindah dalam jarak yang sangat jauh karena digunakan untuk berbagai industri Hewan ternak biasanya terinfeksi melalui pakan yang terkontaminasi atau melalui spora yang ada di tanah (WHO, 1998).

Pengobatan

Pengobatan pada manusia dapat digunakan beberapa jenis antibiotik, yaitu Penisilin, Ciprofloksasin dan doksisiklin. Penisilin masih menjadi pilihan utama, kecuali jika memiliki alergi atau resistensi. Pada keadaan khusus, seperti terjadinya serangan senjata biologis dengan menggunakan spora antraks, pengobatan profilaksis dapat dilakukan. Ciprofloksasin menjadi pilihan utama, karena spektrum nya yang luas, mudah dalam pemberiannya, secara umum aman dan aktivitasnya dapat diperkirakan. Pada ibu hamil, anak-anak dan orang yang sudah tua obat ini tidak dianjurkan, karena dapat mengakibatkan kelainan tulang rawan atau kelainan saraf. Obat alternatif lainnya adalah amoksilin dan doksisiklin.

Hal yang harus diperhatikan dalam pengobatan profilaksis ini adalah pemberiannya yang hanya diberikan kepada orang yang benar-benar membutuhkannya. Penggunaannya secara sembarangan dapat menyebabkan resistensi pada berbagai jenis bakteri yang terdapat dalam tubuh manusia (Hart dan Beeching, 2001). Pengobatan profilaksis ini dilakukan selama 60 hari, yang berdasarkan penelitian bahwa B. antracis ini dapat bertahan di limfonodula mediastinalis hingga 60 hari (Swartz, 2001).

Pengendalian

Vaksinasi pada manusia masih menjadi kontroversi, karena belum ada penelitian yang benar-benar dapat menunjukkan keefektifan dan keamanannya. Central for Disease Control (CDC) di Amerika telah memberikan rekomendasi terhadap penggunaan vaksin ini, walaupun terbatas hanya pada anggota militer yang memiliki resiko menghadapi perang biologis dan petugas atau peneliti yang beresiko terkena antraks (Nass, 2002).

Menurut Pedoman Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Hewan Menular (DKH, 2003), tindakan yang dilakukan untuk mengendalikan penyakit ini terdiri dari :

1. Pengobatan

Pemberian antibiotik seperti Penisilin G, Penisilin-Streptomisin ataupun Oksitetrasiklin pada hewan tersangka atau positif terkena antraks selama 4-5 hari berturut-turut.

2. Isolasi hewan

Isolasi dilakukan pada hewan tersangka dan yang positif terkena antraks. Dan disediakan lubang untuk menampung kotorannya.

3. Vaksinasi

Vaksinasi dilakukan di daerah tertular, daerah terancam I (daerah sekitar daerah tertular) dan daerah terancam II (daerah sekitar daerah terancam I).

Vaksin yang paling umum di seluruh digunakan dikembangkan oleh Sterne strain 34F2, yang tidak dapat membentuk kapsul. Strain lainnya adalah strain 55 yang digunakan di eropa tengah dan timur

Vaksin antraks ini terkadangmenyebabkan efek samping pada kambing dan ilama, yang kemungkinan berhubungan dengan penggunaan saponin sebagai ajuvan. Vaksin ini tidak direkomendasikan untuk hewan bunting dan pada tidak boleh dipotong selama dua hingga tiga minggu sesudah divaksin. Hewan yang divaksin tidak boleh diberikan antibiotik selama satu minggu sebelum dan setelah vaksinasi (OIE, 2004).

4. Desinfeksi

Penyemprotan atau perendaman desinfektan di lokasi hewan yang positif terkena antraks, alat-alat yang kontak dengan hewan, kandang, lokasi hewan dikubur.

5. pengawasan lalu lintas hewan

Hewan dilarang keluar dari daerah wabah dan pada lokasi isolasi dilarang untuk memasukan hewan.

6. Penanganan bangkai

Hewan dikubur dalam lubang minimal sedalam 2 meter, sebelum bangkai dikubur, disiram dulu dengan minyak tanah lalu dibakar kemudian baru ditimbun dengan tanah, kemudian disiram dengan desinfektan.

——————————————————————————

(DKH) Direktorat Kesehatan Hewan. 2003. Pedoman Pengendalian dan Pemeberantasan Penyakit Hewan Menular. Ditjen Bina Produksi Peternakan, Deptan RI.

Acha PN dan Szyfres B. 2003. Zoonoses and Communicable Diseases Common to Man and Animals. PAN American Health Organization. 3th Ed. Washington, D.C. PAHO Press.

Dixon TC, Meselson M, Guillemin J dan Hanna PC. 1999. Anthrax. The New England Journal of Medicine 341 (11)

Hart CA dan Beeching NJ. 2001. Prophylactic treatment of anthrax with antibiotics. BMJ 323:1017–8

Nass M. 2002. The Anthrax Vaccine Program: An Analysis of the CDC’s Recommendations for Vaccine Use. American Journal of Public Health. 92 (5).

OIE. 2004. ANTHRAX. http://www.oie.int/eng/normes/mmanual/A_00040.htm

Swartz, MN. 2001. Recognition and Management of Anthrax. http://www.nejm.org

WHO. 1998. Guidelines for the Surveillance and Control of Anthrax in Humans and Animals. http://www.who.int/csr/resources/publications/anthrax/whoemczdi986text.pdf

The Anthrax Vaccine Program: An Analysis of the CDC’s

Recommendations for Vaccine Use

May 2002, Vol 92, No. 5 | American Journal of Public Health. Meryl Nass


Responses

  1. Wow….akhirnya muncul juga tulisan dari Ibu Dinas yang satu ini. Re-freshing plus aplikatif pula, jadi inget Bu Bib deh.
    o0(^_^)0o

  2. Top fet!! mungkin nanti seperti saran mas langgeng buat membukukan blog kumpulan ttg penyakit kayak gini bisa juga ya. kan dah ada ttg dirofilaria, dll deh. ditunggu yang laennya..

  3. Finally fet… :p

  4. Bram maaf ya nga dateng ke pernikahan. abis lu nikah disaat gue gawe, he – 3x. gue padahal mau dtg sore tapi kena macet ama iwan di parumg en tersesat jadi kemaleman, teler eh langsung cabut deh.

  5. Fetty ngomong – ngomong soal anthrax, gimana kalo kita bikin senjata biologis en kite juak ke negara yg membutuhkan. kan lumayan buat dana untuk nikah.

  6. fetty..

  7. wah wah…
    sepertinya riza yang mulai melancarkan serangan pertama nih..

    gimana fet, dilawan dongs…..

    ude siap jadi saksi?s..s..s..sah!!
    😉

  8. pa andi ss..sss..saya mh..hm mhe nyatakan ss….ssiap.dan sesssah.lawan fet.perlu bantuan teu?

  9. *celingak-celinguk*

    “Fet…!”

    *celingak-celinguk*

    “Fetty…!”

  10. hihihi….

    fet…..

    lid.. gw bantuin nyari nih….🙂

    fettt….. ka mana ieu…🙂

    hahahaha….. 🙂

  11. euleuh…euleuh…tenang para komentator nya…
    situasi aman dan terkendali… :p

  12. akhirnya..bu fetty

  13. selamat deh buat semuanya …….. ehmmm

    de …. iraha rek papanggih jeung urg…..

    For all : Mohon maaf lahir bathin pokona mah……..

  14. Riii…………. zzaaaaaaaaaaaaaaaaa…………..

    eit……… mulai ……… siaaaaaaap…….

  15. siap aja wa kapan saja urang mah ready..just call me atuh biar gampil ketemunya..

  16. kamil juga siap…

    pasti pake makan2 kan..🙂

    ya iya lah..🙂

  17. masa ya iya dong..tapi ingt pa makan teuteup jatah masing2 ga pake nyebrang..he piss pa kamil

  18. bakal rame nih kayaknye ye….

    riza, udah siap blm?mandi dulu, luluran,menucure,pedicure, rambut di blow…. barisan dibelakang riza dah siap semua tuh. dah ada ude kamil ajat andi halid. yang laen gimana?siap juga toh?

  19. eh, enak aja halid mah di belakang fety kali, ndi.
    masa dibarengin sm bokap2..

    *glek*

  20. ke..ke kyknya aku ikut halid aia lah…biasana suka bnyk makanan kalo sama ibi2mah.gmn di apa yg kamu tawarkan biar aku tak berpaling…

  21. hoii……
    mani pd kcida…

  22. ih fetty…udah mulai jorok ya sekarang…
    masa bawa bawa…”MANI”…?

  23. wah ada yang rame he he

    Fety……………..

  24. loe yg jorok cep…maksudnya fetty kan bukan mani…bukan begitu fet?kl urusan mani si cecep emang cepet responnya, meskipun waktu pemeriksaan di URR respon mani nya cecep tidak secepat yg kita kira, super rarum🙂.

    tenang fet, gw belain loe nih…ef fet, kayaknya banyak yang komen nih,apa perlu kita bikin tulisan khusus mengenai topik ini supaya terbuka komen komen baru? riza kok ga ada lagi nih. riza…..dimana dirimu?

    tenang fet, gw belain loe nih… 🙂

  25. Wah, dah rame…Fet bener dah jadian sama Reza..sykurlah semoga sampe pelaminan. Za kalau nikah mas kawinnya janag bakteri antrax….yah

  26. di…
    mau tambah panjang atau lebar?????

  27. fet, yg komen kan yana, ude, ajat, kamil, halid ama esthi, ama riza juga…di komen gw kan gw bilang kl gw belain loe fet…tp berhubung gw moderator, jadi gw harus membuka jalan supaya komen komen bisa lancar masuk fet…

    buat temen temen, ditunggu komennya…buat fetty, gw belain loe fet!!

    buat kamil, kl loe ga belain juga, ga dapet makanan!!dan gw tindas loe di “space domination”
    🙂

  28. tenang fet…dibelain neeh.riza juga kalem aja dibantuin..he2..

  29. ndi….

    koq lo jagoan di space domination aja…
    secara yg car + motorcycle madness tetep anteng di level 1 …..🙂

  30. saya hanya manusia biasa..tidak sempurna vie hehehe

  31. By: fetty on October 22, 2008
    at 7:50 am

    di…
    mau tambah panjang atau lebar?????

    ….???????…..

    ndi… pilih mana hayo…🙂

  32. oiiii………..
    bntar lg g mau ultah nih………
    ada yg mau ngasi kdo ga….
    he3…..
    buat org2 bogr…
    met nyoblos!!!!!!

  33. ga usach dikomenin komennya feti…ntumah cuma usahanya dia aja ngalihin pbicaraan…yok lanjut ngbahas duet maut feti n Riza…ha ha
    rame euy….

  34. assalamualiakum
    saya hery mahasisa kedokteran hewan UGM 2006
    saya ingin menanyakan apakah saudara ada jurnal atau artikel yang khusus menbicarakan tentang masalah pemeriksaan sistem limfatika pada sapi dalam kasus diagnosa klinik….
    terima kasih sebelumnya

  35. fetot……jangan mikirin penyakit terus
    mikir juga yang itu tuh……
    hehehehehe
    sukses selalu nih buat genetika 21
    kompak terus ya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: