Posted by: genetika21 | 7 April 2008

Keberadaan Karantina Hewan Di Dalam Mendukung Pengembangan Peternakan Di Sumatera Selatan

– Drh. Langgeng Priyanto –

Stasiun karantina hewan kelas I Sultan Mahmud Badarruddin II berdasarkan SK. Menteri Pertanian No. 501/KPTS/OT.210/8/2002 terdiri dari Pelabuhan Udara Sultan Mahmud Badarruddin II , Pelabuhan Sungai Boom Baru , Kantor Pos Palembang , tempat – tempat pemasukan dan pengeluaran lainnya di Propinsi Sumatera Selatan dan Propinsi Bangka Belitung.

Sesuai tugas dan tanggung jawabnya karantina hewan bertugas untuk mencegah masuknya hama dan penyakit hewan karantina dari luar negeri ke wilayah negara Republik Indonesia dan mencegah keluarnya hama dan penyakit hewan karantina tertentu dari wilayah negara Republik Indonesia dan mencegah menyebarnya hama dan penyakit hewan karantina dari suatu area ke area lainnya di dalam wilayah Republik Indonesia.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 15 tahun 1977 tentang penolakan, pencegahan, pemberantasan dan pengobatan penyakit hewan bahwa ternak sebagai sumber produksi untuk mencukupi kebutuhan manusia akan protein hewani merupakan salah satu bahan produksi untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat kemakmuran serta kesejahteraan bangsa dan negara perlu dipelihara dan dikembangkan sebaik-baiknya dan usaha pemeliharaan dan peningkatan perkembangan hewan perlu dilindungi dari kerugian yang dapat ditimbulkan oleh berbagai macam penyakit hewan serta adanya penyakit yang dapat menular dari hewan kemanusia. Atas dasar tersebut pentingnya keberadaaan karantina hewan yang berada Di Propinsi Sumatera Selatan dan tentunya Propinsi Bangka Belitung di dalam pengembangan peternakan di kedua Propinsi tersebut.

Beberapa isu penyakit menular dan penyakit zoonosis yang sangat merugikan dan merisaukan keberadaanya adalah penyakit Flu Burung atau Avian Influenza (AI). Mewabahnya sejak bulan Agustus 2003 dan baru dinyatakan pemerintah positif Flu Burung pada tanggal 24 Januari 2004 sampai sekarang telah memakan korban 54 orang meninggal dunia dari 74 kasus yang ada ( Data Departemen Kesehatan per tanggal 28 November 2006, kompas 7 November 2006 ). Kerugian dari wabah Flu burung ini sudah tak terhitung jumlahnya rasa mencekam disetiap orang selalu menhantui disetiap daerah. Pemerintah sendiri memperkirakan sampai 2008 dana yang diperlukan untuk penanggulangan Flu Burung mencapai Rp. 9 trilliun yang dibagi Rp. 7.5 trilliun untuk pengendalian penyebaran Flu Burung dan sisanya untuk penanganan unggas dan pasien yang terkena virus Flu Burung tersebut. Sedangkan alokasi dana untuk tahun 2006 sebesar Rp. 600 milyar ( kompas, 7 Januari 2006 ). Seperti yang disampaikan anggota komisi DPR RI komisi IX H. Ismail Ishak Saleh ( Solo Pos 30 Oktober 2006 ) di dalam penanganan beberapa penyakit menular yang melanda di Republik Indonesia termasuk Flu Burung anggaran belanja negara untuk sektor kesehatan 6.17 % dari total APBN 2007 atau sekitar Rp. 737 trilliun. Namun demikian dana yang begitu besar sampai sekarangpun belum bisa meredam wabah Flu Burung tersebut beberapa nyawa tak berdosa melayang begitu saja tanpa ada pertanggungan yang jelas dari pemerintah. Sampai-sampai pemerintah membentuk Komite Nasional Flu Burung yang fungsinya untuk mengorganisasi semua lembaga dan kegiatan yang berkaitan dengan penyebaran Flu Burung. Apakah lembaga ini juga efektif keberadaanya?

Perkembangan terbaru penanganan Flu Burung masih tetap, masalahnya antara pemerintah dengan peneliti selalu berbeda pandangan perihal pencegahan dan pengendaliannya ( Infovet edisi 149 Desember 2006 ). Pekan Baru wabah Flu Burung menyebabkan beberapa ekor ayam dan 6 orang diduga terinfeksi virus Flu Burung. Dengan informasi tersebut menyebabkan penjualan ayam potong mengalami penurunan 50 % ( Kompas, 16 November 2006 ). Pagar Alam akhir –akhir ini dikabarkan ada kematian mendadak pada ayam 50 ekor di dusun Plangkenidai Sukajadi Dempo Tengah ( Sumeks, 18 Desember 2006 ). Carut marutnya penanganan Flu Burung baik pada hewan ataupun manusia itulah yang menjadi bukti ada ketidaksingkronnya perilaku beberapa lembaga yang terlibat langsung didalam penanganan ini. Sampai Badan Pangan Dunia FAO dan Amerika Serikat bekerja sama dengan Departemen Pertanian RI membentuk lembaga baru didalam penanganan Flu Burung yaitu dengan membentuk Local Disease Control Center ( LDCC ). Lembaga ini sudah beroperasi di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Lampung. Rencana seluruh Indonesia akan diadakan. Local Disease Control Center ( LDCC ) memberi bantuan bukan dalam bentuk uang tetapi beberapa SDM dokter hewan yang selalu memonitor perkembangan Flu Burung yang ada diwilayah kerjanya masing-masing.

Melihat beberapa kasus dan data diatas keberadaan karantina hewan selaku regulator di dalam mencegah menyebarnya Flu Burung dan hama penyakit hewan lainnya masih dilihat sebelah mata keberadaanya. Opini yang ada dimasyarakat keberadaanya belum pernah disinggung dengan segala aspek tugas dan misinya. Melihat jauh kebelakang sejarah karantina hewan menurut stbl. 1923 No. 289 pasal 3-18 tugas mencegah penyakit hewan menular dari luar negeri dan menjaga pemindahan penyakit – penyakit demikian Di wilayah Republik Indonesia ( waktu itu dibawah kolonial Belanda ) dibebankan kepada Polisi Kehewanan ( Dokter Hewan ). Kata kunci dari stbl. 1923 No. 289 ini adalah Dokter Hewan selaku Ahli Hewan dan Kepala Pemerintahan baik Gubernur ataupun Bupati yang memegang kekuasaan wilayah waktu itu. Pada waktu itulah Dokter Hewan dengan status profesi dan sumpahnya selaku Dokter hewan harus bisa menyatakan baik buruknya suatu keadaan penyakit. Dan Kepala Pemerintahan selaku pemegang pemerintahan yang wajib menyampaikan kepada masyarakat dan pemerintah tetangga tentang kondisi penyebaran penyakit yang ada di daerahnya tersebut. Sekarang untuk menyatakan wabah Flu Burung atau tidak saja susahnya seperti bahaya yang diakibatkanya. Takut dipecat dan takut dimutasikan. Kenyataanya data yang ada masih di KKNkan. Gambaran suram Republik Indonesia saat ini.

Uraian diatas menyimpulkan keberadaan karantina hewan 100 % harus ada di Propinsi Sumatera Selatan dan Propinsi Bangka Belitung dengan segala tugas dan misi yang diembannya mengingat berapa kerugian yang diakibatkan dari beberapa penyakit menular tersebut. Dengan pengaturan yang benar dan penerapan kerja yang sesuai standart segala hama penyakit hewan yang berbahaya seharusnya tidak akan terjadi. Apalagi prestasi yang telah mencatat dengan membebaskan Penyakit Mulut dan Kuku hampir 100 tahun untuk membebaskanya menjadi pengalaman tersediri untuk melangkah dikemudian hari.

Tumpang tindih antara lembaga pemerintah yang terkait seharusnya tidak terjadi. Letakkan sesuai tugas dan kapasitasnya masing-masing selaku alat negara yang dapat mengayomi kesejahtera seluruh rakyat Republik Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Semoga karantina hewan sukses selalu didalam mengemban tugas bangsa dan negara didalam keutuhan wilayah Republik Indonesia.


Responses

  1. setuju……pak…

  2. Wah, setuju tapi bukan asal ada az…karatina hewan harus di lengkapi infrastruktur yang memenuhi syarat, SDM yang mantep dan dukungan semua pihak (pemerintah dan swastanya). yang penting karatina bukan tempat ajang tipu2 an n memeperkaya segelintir orang…..di balik birokrasi ok. pak

  3. Informasi tambahan
    Tulisan saya yang diatas merupakan tulisan yang sudah lama
    dari bulan Desember 2006 waktu seminar dikarantina Palembang
    jadi dataya sudah telat semua. Minimal pemikirannya yang belum telat

  4. kang yana
    kolega kita mas anes dikarantina lho masak
    beliau suka tipu tipu. Kalau tipu tipu awek wek mungkin
    tapi ini masalah negara yang seragam beliau ada tali gantungan
    leher. bukan gantungan peluit(kalau itu wasit main bola setahu saya)
    he he…………..heeeeeeeeeeeee

  5. yahhhh…saya termasuk yang pesimis dengan kabar penyakit penyakit hewan di atas serta penanggulangan nya yang masih sangat kurang dan lambat…..pemerintah sekarang lebih banyak ngurusin partai dari pada penyakit…..jangankan luar pulau jawa. didaerah jawa aja nga beres…dan nga selesai…
    benar tuh apa yang di katakan kang yana….saya juga setuju…
    selamat untuk mas langgeng….yang sudah muat brita ini semoga sukses….

  6. saya sangat setuju dgn mas langgeng.karantina emang harus diberi porsi yg lebih dalam hal ini.namun kenyataan nya dalam otonomi daerah ini banyak kerancuan dan kecemburuan dari pihak2 lain yg berkaitan dengan bidang kita ini, yg pd akhirnya mengecilkan peran yg telah dilakukan. sebagai tambahan juga..perlu dipahami bahwa peran karantina bukan sebagai REGULATOR, akan tetapi sebagai PELAKSANA TEKNIS di lapangan. jadi hendaknya tidak terjadi salah persepsi dalam membaca masalah dan peraturan yg kita punya saat ini.kesan yg timbul di masyarakat memang tercermin dalam tulisan ini..yakni menunjuk (kalau tidak mau dikatakan menyalahkan) karantina hewan sebagai biang segala kecolongan penyakit di tanah air. kita melupakan/tidak tahu bahwa karantina hewan bekerja terkait dengan instansi pemerintah lainnya yg berkepentingan juga dengan bidang kesehatan hewan. ada dinas yg memberikan ijin hewan masuk atau keluar dari daerah, lab dinas yg perannya harus memeriksa lab hewan yg akan berpindah tempat (biasanya disertai dgn surat keterangan sehat/bebas penyakit tertentu), dirjen peternakan lewat dirkeswan yg memberikan ijin hewan masuk dr negara luar (tanpa memeriksa hewan secara langsung), dirkesmavet memberikan ijin daging masuk dari negara luar (sudah dengarkah gosip daging dari brazil akan masuk?daging dari amrik sdh boleh masuk?) dan lainnya lagi.
    jadi hendaknya melihat masalah ini dengan sangat komprehensif. tidak sekedar menuding siapa yang bersalah tanpa tahu asal usul kebenaran masalahnya dengan jelas.
    ini mungkin terkesan pembelaan.namun kita sebagai generasi muda dokter hewan harus cermat melihat suatu permasalahan (akar masalah tepatnya) sehingga bisa berkiprah dan berkomentar secara proporsional.
    sebagai orang yg bekerja di karantina, saya minta juga teman2 sebagai dokter hewan, baik yg di pemerintah maupun di swasta untuk bisa bekerjasama secara baik, salah satunya dengan :
    1. tidak lagi membiasakan meminta ‘kemudahan’ proses karantina terhadap hewan/produk hewan yg berkaitan langsung dengan kita (entah itu milik siapa..sendiri,saudara, atau juga atasan),
    2. membuang kebiasaan ‘semua bisa diatur dengan uang’ untuk suatu yang berkaitan dengan karantina dan kesehatan hewan, ataupun membiasakan memberi duit buat petugas karantina hewan biar hewannya gak perlu di karantina.
    3. melaporkan dan memberikan informasi kepada petugas karantina saat akan membawa hewan/produk hewan ke tempat yang lain,
    4. memberikan informasi apabila kita mengetahui ada orang yang berusaha membawa masuk hewan/produk hewan ataupun obat/vaksin tanpa melalui proses karantina dan masih banyak lagi lainnya.
    apabila kita sudah sepakat untuk hal ini alangkah indahnya dan damainya para petugas karantina di lapangan, mereka tidak perlu ribut/berantem lagi dengan pengusaha ataupun perorangan yang tidak ingin hewannya diperiksa dan dimasukkan ke instalasi karantina hewan, atau juga orang2 yang berusaha menyelundupkan daging di daerah batam dan riau kepulauan dsb.kalau kita perduli dengan dunia kesehatan hewan maka tunjukkan dengan langkah nyata dan kongkret (seperti contoh diatas), tidak hanya sekedar bisa berkomentar miring atau mengkritik. bangsa ini sudah cukup banyak yang hobi mengkritik, namun masih sedikit orang yang bisa berbuat dengan langkah nyata. jayalah Indonesia!
    (diskusi bisa dilanjutkan di ariecandra@gmail.com atau website http://www.ariecandra.blogspot.com. Promosi!hehehe…)

  7. comment… jangan.. comment. jangan comment🙂

  8. Sumpah deh Ka Peb! Garing abizzzz! *tuk tuk*

  9. HEH??? bukannya sesama orang garing dilarang comment ya? kekekeke pis May……

    MAS LANGGENG…maju terus pantang mundur, artikelnya masih mengena kok biarpun dibuat tahun 2006.

  10. comment lah peb, kita ini kan masih awam….perlu masukan dari senior juga…loe kan dah banyak makan asam garam, gula ama merica segala kan loe makan. masukan mu sangat berarti demi perbaikan negara hehehe.

    Mungkin perlu juga Arip atau rekan yang bekerja di Karantina Hewan membuat tulisan tersendiri ttg tupoksi karantina, terutama karantina hewan, sebagai masukan juga buat temen temen lain. Kayaknya Arip dah siap tuh tulisannya…Kita menunggu tulisanmu bro. Kita???? taaa…… hehe.

  11. chimay: kacang kalo ga garing ga enak…(hehehe)
    andi: karantina penting-“sangat setuju”; karantina harus ada di tiap pintu masuk-“setuju untuk yang pintu masuk internasional”; intinya mah “biosecurity continuum”, apa itu? biosecurity pre-border, biosecurity at border dan biosecurity post-border; maksudnya??? silahkan bos andi yang jelasin, kan si bos yang ikut pelatihannya….hehehehe…sok atuh mangga….dipersilahkan…

  12. mengenai biosecurity continuum ini, pak pebi (buat yang blm tau, Pebi ini kakak kelas angkatan 32, tp semua pasti dah tau) sebenarnya udah bikin tulisannya :

    http://pebipurwosuseno.wordpress.com/2007/11/28/biosecurity-continuum-dan-pelaksanaannya-di-indonesia/

    Sangat bagus buat referensi temen temen untuk mengetahui lebih luas mengenai biosecurity. kalau ada pertanyaan pak pebi bisa menjadi nara sumber hehehe. mungkin apabila diijinkan, tulisan pak pebi ini bisa ditampilkan disini juga.

  13. yehh..maneh mah..dititah nulis malahan ngasupkeun link tulisan….tulisan eta mah iseng2 doang..sok atuh tambahan….
    lamun diperlukeun, sok we pindahkeun ka blog ieu…

  14. pak pebi ditunggu masukannya buat dunia kesehatan hewan..comment aja bos.demi bangsa dan negara.hehehe
    pak admin ntar ye tulisan karantina nya.sekedar sharing apa yg sudah kita punya dan lakukan..tp gw masih nunggu wangsit dulu nih.hihihi

  15. mas langggeng……..
    emang dikau dimana???
    ih ndak gaul dah nyiet
    salam buat keluargamu

  16. Waduh mba nyiet
    saya dari 2003 rejeki diPalembang putra sudah 2. satu Aisyah naik kelas 2 dan
    Azmi mau masuk TK. Mba Nyiet sendiri gimana. mampir kalau kePalembang
    Moga sukses selalu
    Salam dari Palembang

  17. Buat mas muhib selamat menepuh hidup baru
    moga sukses selalu

    Buat mas Arip mas Gatot and.Dimas Anis
    Gimana komentarnya .. Sekarang karantina hewan
    kok tidak ada fungsinya. Digabung dengan karantina tanaman
    sebagai induk. Tadi waktu menhadiri serah jabatan kepala
    karantina. kata kunci dokter hewan sdh tidak ada lagi………..
    Sekarang harapan teman sejawat drh tinggal UPPAI dan PDHI

    Bubarlah semua.. kenapa pada diam seribu bahasa yach………?

  18. Wah….wah…wah Mas Langgeng dah hilang kesabaran sepertinya nich? Boleh saya tahu permasalahan yang terbaru Mas?
    Mas Langgeng “Geram” dengan siapa sebenarnya??
    Ada apa dengan Dokter Hewan Kita Nich?

  19. ngak tahu
    geram sama siapa mas… Tapi saya hanya bingung aja kenapa
    kebijakan pemerintah sekarang tidak jelas juntrungnya. Atau memang saya
    yang kurang jelas yach.
    hanya saja saya melihat sepintas tugas dan fungsi dibidang
    veteriner dipersempit keberadaanya. Apa iya yah…

  20. Oh, begitu ya Mas….Apa isu “Flu Burung”, Isu “Sakazakii”, “Anthrax Damage”, dan Zoonosis Disease lain yang ada di Indonesia sampai saat ini tidak cukup untuk “Membukakan Mata Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia” akan arti dan peran penting kata “Veterinary” di bumi tercinta ini Mas?
    Atau mungkin masih memerlukan “korban” lagi untuk membuktikan pentingnya peran “DOKTER HEWAN” atau mungkin karena lemahnya “Promosi dan Provokasi” dari kawan-kawan kita di level pemegang kebijakan?
    Itu yang menjadi “PR” kita semua Mas, atau mungkin mas langgeng mulai mencari data-data yang tepat dan akurat mengenai “Fenomena” ini Mas….
    Setelah itu bagi informasinya dengan kita semua….
    Maaf Mas saya hanya bisa berkomentar saja….

  21. Mas nang saya kira teman sejawat
    yang dari karantina yang paham betul tentang adanya
    perampingan atau penyempitan fungsi atau apa artinya..
    Saya kira beberapa kolega adem ayem aja. Makna apa yg terkandung
    dari perubahan itu semua juga ngak paham kali.
    Minimal jangan sampai wilayah veteriner dipimpim oleh orang yang
    tidak paham veteriner. Kasus sekarang aja pak Dirofilaria immitis
    dikatakan bukan penyakit zoonosis. Sedangkan webnya Depkes
    mengatakan zoonosis. kan jauh sekali tho. atau dr Anang buka buka
    aja dheh dinegeri orang. gimana dirofilaria . Jangan jangan hanya perasaan
    saya (siapa tahu)
    Takutnya juga dr Anang balik dari negeri Nurul Izzah ketularan Penyakit
    Nipah. wah jangan sampai. Kasus lain lagi pak , ada kolega suruh masuk
    menjadi pegawai balai inseminasi. seharusnya yang ditanya pasti bisa ngak
    kamu bisa meningkatkan keberhasilan IB ( S/C atau C/R) atau calving interval
    tapi yang nanya ngak nyambung dan pasti ngak ada korelasi dgn BIB.
    Tapi kita maklum yg memimpin memang bukan seorang veteriner
    pasti ngak nyambung lah.
    Cerita pak gimana veteriner dinegeri Nurul Izzah
    Sukses yah selamat belajar moga cepat beres

  22. Ok, Mas LP, terimakasih atas infonya….
    Mengenai veteriner di Negeri Jiran, mungkin saya hanya dapat menginformasikan sedikit saja Mas, yang Intinya Orang Malaysia “sangat takut “Lecet, Flu, Sakit Kepala dan Sejenisnya”, apalagi penyakit yang lebih berat dari itulah, atau zoonosis sekalipun Mas…Jadi Pencegahan, Penanganan dan Peningkatan “TARAF Kesehatan” menjadi prioritas utama Kerajaan Malaysia…
    Yang kedua Mas: Apresiasi masyarakat Malaysia terhadap Profesi DRH yang lebih maju dari kita…Ini Pengalaman pribadi : Pada saat saya mengatakan bahwa Saya adalah Dokter “haiwan”, semua lawan bicara langsung respek dan angkat topi, dalam artian “MEDICAL DOCTOR = VET DOCTOR”, bertolak belakang pada saat saya mengaku “Saya Dokter ‘Hewan'” di Indonesia, semua lawan bicara saya akan ‘tertawa’ dengan ekspresi yang ‘setengah meremehkan’, “boro-boro sama ama dokter manusia, ama tukang dagang di pasar aja kalah soal gaya bicara dan promosi”…(Bukan Maksud Menyinggung, Mohon Maaf Bila Ada yang Tersinggung, Tapi Ini Fakta Yang Pernah Saya Dapatkan DOELOE, Yang Sekarang Saya Gunakan Hanya Sebagai Kiasan Saja, Bukan Sindiran).
    Ini yang saya khawatirkan Mas, jadi POLA PIKIR masyarakatnya sendiri belum terbentuk untuk memahami “PERAN DAN FUNGSI DOKTER HEWAN”, jadi tidak boleh 100% kita menyalahkan pemerintah dengan kebijakannya tersebut Mas, karena memang “MUNGKIN” tidak ada “SATU” orangpun “VETERINARIAN” yang maju kedepan dan berkata dengan lantang “Saya DOKTER HEWAN, dan Ini PERAN DAN FUNGSI PROFESI SAYA”, yang secara jujur saya katakan “saya tidak mampu” untuk melakukan itu Mas, sembari meluruskan “Kebijakan Pemerintah” yang menurut Mas LP telah merugikan salah satu pihak…
    Atau mungkin kawan-kawan kita telah merasa “COMFORT” dengan apa yang sudah ada dan merasa bahwa “Kebijakan” itu tidak berpengaruh dan tidak akan merubah apapun yang terpenting dalam hidup mereka, jadi buat apa untuk di “BELA” Mas LP, atau mungkin Mas LP mampu untuk Maju Ke Depan dan Pimpin Kawan-Kawan Kita semua?
    Memang sungguh tragis PROFESI Kita Ini Mas, Sepertinya sangat sesuai dengan Tulisan Mba Susi yang judulnya “MAAFKAN DAKU PROFESIKU, AKU TAK MAMPU MENJUNJUNG TINGGI MARTABATMU”, maaf Mba Susi, ada tambahan judul jadinya….
    Ini sebuah tamparan buat kita teman-teman…
    Bangunlah dari “MIMPI” kita semua….
    Kang Cecep???
    Manteb jadi Lawyer Kayaknya Nich?
    Mas LP, terimakasih atas dukungannya…

    Salam Dari Bumi Kenyalang

  23. Betul sekali pak
    Intinya kita harus merapatkan barisan dibawah PDHI tentunya.
    yang kedua diharapkan teman sejawat yang mempunyai posisi
    mampu berbuat lebih banyak lagi, minimal punya visi dan misi yang jelas.
    Kemarin PDHI SUMSEL mengadakan vaksinasi rabies masal nyatanya tanggapan
    masyarakat sangat antusias sekali.
    ya ya yahhhhhhhhhh

  24. Saya setuju dan saya dukung semua hal positif yang Mas LP lakukan…
    Tantangan berikutnya adalah Skala Nasional Mas???
    Saya tunggu beritanya Ok…
    Others….????

  25. mau sedikit ikut urun rembug, sekedar sharing uneg-uneg ….

    saya agak tidak setuju dengan pendapat anang yg mengatakan profesi dokter hewan di Indonesia dilecehkan dan mengatakan profesi dokter hewan sungguh tragis.
    karena menurut saya masyarakat Indonesia masih sangat antusias menerima profesi dokter hewan. buktinya klinik dokter-dokter hewan praktek kita semakin menjamur dan masih banyak memiliki klien dan pasien. itu suatu bukti kalo profesi dokter hewan sangat diterima oleh masyarakat kita.

    kalo masalah dilecehkan atau diremehkan, mungkin itu kembali pada bagaimana cara kita membawa diri sebagai dokter hewan yang baik di masyarakat atau dunia kerja yang kita hadapi. kalo kita mempunyai skill dan performa yg baik saya rasa tidak mungkin kita akan diremehkan oleh siapa pun, apapun itu profesi kita.
    dan yang bertanggungjawab menjunjung tinggi martabat dokter hewan ya kita yang sudah disumpah menjadi dokter hewan ini. kalo bukan kita siapa lagi?
    kalo tidak sanggup menjunjung tinggi martabat profesi kita sendiri sebagai dokter hewan, mending ijazah dokter hewan yang sudah kita kantongi sekarang dikembalikan saja ke kampus dan kita berganti profesi yang lain.

    mungkin agak lebih bijaksana kalau kita tidak saling menyalahkan, tetapi lebih baik introspeksi diri, apakah selama ini kita sudah berperan dan berfungsi dengan baik sebagai dokter hewan melalui bidang kerja kita masing-masing.

    sampai detik ini saya masih tetap optimis dengan keberadaan profesi dokter hewan di Indonesia apapun dan dimanapun bidang kerja kita…..

    TETAP SEMANGAT MENJADI DOKTER HEWAN…!!!!

  26. Sebenarnya politik-lah yang jadi “sumbu” dari semua. Bahkan sampai ke dunia pendidikan ‘n kesehatan (yg semestinya zona netral), politik dah bisa merambahnya. Coba tengok kampus kita sekarang…

    Kalau kita perhatikan, beberapa departemen (bidang) dipimpin oleh seseorang yg latar belakangnya bukan dari bidang tsb. Mungkin sebagian mampu menjalankan tugas2nya (atas dasar pengalaman) tapi gak jarang juga yg sebaliknya. Seperti yang vivi bilang, disinilah perlunya introspeksi. Akan lebih baik klo sebelum mengemban jabatan, mbok ya dipertimbangkan baik2 kemampuan & kompetensi kita. Jgn langsung manggut aja…apalagi yg diurus tuh bukan cuma 1 or 2 org, tapi negara!

    So…mungkin klo kita (drh) mau suaranya didengar, di jaman sekarang ini,…masukilah dulu dunia politik. Dari langkah itu, mudah2an kebijakan yg lebih baik dibidang kita bisa diwujudkan. Bbrp org teman, sy dengar mli berkancah didunia politik. Semoga membawa kebaikan buat kita semua. Amin…

    Apapun profesi kita, selama kita menjalankannya dengan penuh tanggung jawab dan senantiasa mengindahkan etika2, tentunya orang lain pun akan menghargai kita.

    Tetap smangat ya!!
    Cheers (^__^)v

  27. wah wah seru ye obrolannya,

    perbedaan pendapat sih sah sah aja, gak ada salahnya. buat menuju ke arah yang ideal seperti yang kita semua pengenin memang agak susah dan sedikit tersendat mungkin ya, tapi semua perubahan memerlukan waktu dan juga perlu konsistensi dari kita yang pengen berubah. gak bisa kayak bikin mie, 5 menit langsung jadi, alias instant. tp saya yakin para kolega dokter hewan semuanya pengen ke arah yang ideal itu dan sedang berusaha semampunya.

    mungkin yang bisa kita lakukan buat menuju ke arah yang ideal itu ya memberikan kontribusi kita sekecil apapun, meskipun hanya menyemangati misalnya, tapi tetep kita berkontribusi. dan kalau memang saat ini kondisinya belum memungkinkan buat adanya perubahan itu ya sabar dulu dan tetep semangat, sedikit sedikit lah berubahnya. kl terlalu drastis juga kita kaget sendiri ntarnya.

  28. karantina…??? o…!!!

  29. Saya setuju dengan Bang Mod, bahwa perbedaan pendapat bukan hanya perlu, tapi sangat penting untuk saling kontrol diri kita masing-masing….

  30. Pada kemana kolega karantina

  31. Bali rabies sudah masuk lho. Dimana karantinanya yach
    yach yach………… ngantuk dheh

  32. kok padha sepi
    baru demam FB ya
    flu babi ya mana

    Flu Babi virus swine influenza yang apling umum adalah subtype H1N1. Subtipe yang
    yang lain seperti H1N2, H3N1 dan H3N2 juga bersirkulasi pada babi.
    Babi dapat juga terinfeksi virus avian influenza dan human influenza musiman
    Flu babi pertama kali dilaporkan di Amerika Serikat pada saat pandemi
    flu Spanyol tahun 1918 – 1919.
    Gejala klinis flu babi pada babi
    1. Inkubasi 1 – 3 hari
    2. Saluran pernafasan terganggu
    3. Demam 41.5 Derajat celsius
    4. Nafsu makan turun
    5. Rhinitis
    6. Konjungtivitis
    7. Batuk hebat sampai membusung
    8 Beberapa bronkopenia akhirnya mati
    9. Tingkat kefatalan kasus kurang 1 % ( PB PDHI Lab biomedik dan
    biologi molokuler hewan FKH Udayana)

    Flu babi tidak ditularkan ke orang melalui konsumsi daging babi yang telah dimasak.
    Virus mati dengan pemanasan 70 derajat celsius.
    yaacc ngantuk

  33. “KAMBING-KAMBING ITU TERBANG KE MALAYSIA …”

    “PETERNAK MINTA SUBSIDI HARGA (SUSU)”
    (Baca Kompas hari ini, 4 Mei 2009)

    Habis baca berita ini saya jadi sedih tapi gembira.

    Selama ini saya berjuang untuk memperbaiki kualitas ternak di peternakan rakyat dan meningkatkan kemampuan peternak dalam hal teknis dan manjerial beternak agar menghasilkan bibit yang baik dan akhirnya mudah-mudahan dapat meningkatkan derajat kesejahteraan peternak.

    Kenapa sedih ?
    Dalam benak saya bibit-bibit yang dihasilkan peternak akan mampu meningkatkan produktivitas sehingga ternak-ternak yg ada di peternakan rakyat mampu berproduksi tinggi sehingga peternak merasa beruntung untuk menjadi peternak, tapi ternyata bibit-bibit itu “Terbang ke Malaysia”, jadi yang menikmati produktivitas tinggi dan keuntungan adalah Malaysia.

    Kenapa gembira ?
    Kalau diekspor ke Malaysia harganya tinggi sehingga peternak memperoleh penghasilan yang besar, akhirnya kesejahteraan peternak meningkat.

    Tapi kenapa ya yang beli ternak-ternak di masyarakat itu bukan yang berkepentingan dengan perbibitan, bukannya ada dana kompensasi penjaringan bibit ? Mungkin dananya terlalu kecil ?

    YA … ITULAH INDONESIA………..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: