Posted by: genetika21 | 25 March 2008

Animal Euthanasia

– Sylvie Yuliani – 

Kali ini saya ingin menyinggung sedikit mengenai animal euthanasia mengingat topik ini hingga sekarang masih menjadi pro dan kontra bagi setiap orang yang secara langsung ataupun secara tidak langsung terlibat di dalamnya, mulai dari pemilik hewan, pecinta binatang, dokter hewan maupun bagi kebanyakan orang awam.

Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan euthanasia itu?

Kata euthanasia sendiri berasal dari Yunani, yaitu Eu – baik dan Thanatos – kematian sehingga euthanasia disebutkan sebagai kematian dengan cara yang baik karena dilakukan dengan meminimalisasikan rasa sakit dan stress. Euthanasia dinyatakan sebagai jalan keluar terakhir disaat tidak diketemukannya alternatif medis lain yang dapat membantu pasien menuju persembuhan.

Sedikit cuplikan dari brosur tentang pet-euthanasia yang dibuat oleh American Veterinary Medical Association (AVMA):

..…“If your pet can no longer experience the things it once enjoyed, cannot respond to you in its usual ways, or appears to be experiencing more pain than pleasure, you may need to consider euthanasia”…..

….”if your pets is terminally ill or critically injured, or if the financial or the emotional cost of treatment is beyond your means, euthanasia may be a valid option”…..

Brosur ini memuat informasi yang sangat berguna tentang euthanasia sehingga para pemilik hewan dapat mengambil keputusan yang tepat bagi hewan kesayangan mereka. Informasi yang diberikan meliputi hal-hal yang perlu dipertimbangan terutama tentang pemilihan waktu dan alasan euthanasia tersebut perlu dilakukan. Di dalamnya juga disebutkan bahwa dokter hewan berperan memberikan informasi sebanyak-banyaknya mengenai kondisi pasien terutama setelah melakukan pemeriksaan termasuk pilihan terapi beserta resikonya sementara keputusan euthanasia sepenuhnya tetap berada di tangan klien sebagai pemilik hewan.

Beberapa sumber informasi menyebutkan bahwa animal euthanasia umumnya dilakukan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :

1. Terminal Illness

Hewan diketahui menderita penyakit-penyakit seperti kanker, rabies, dan penyakit lain yang dapat menyebabkan kematian.

2. Aggressive behavior (vicious, dangerous, unmanageable)

Hewan memiliki perilaku agresif yang tidak dapat dikendalikan lagi dan membahayakan lingkungan sekitarnya, terutama bagi manusia. Apakah ada yang masih ingat kisah nyata tentang seorang anak kecil di Amerika di gigit pitbull milik pamannya hingga meninggal, sementara neneknya terluka parah. (http://news.bbc.co.uk/1/hi/england/merseyside/6222319.stm)

3. Overpopulated animal with limited adoption

Hewan-hewan liar yang ditampung di shelter dan terpaksa harus ditidurkan karena jumlahnya terlalu banyak dengan jumlah adopsi yang tidak berimbang, dalam kasus ini kebanyakan anjing ataupun kucing liar yang berada di jalanan.

4. Accident causing permanent damage with financial difficulty for the owner to support the therapy.

Hewan mengalami kecelakaan yang menyebabkan terjadinya kerusakan permanen sehingga membutuhkan terapi khusus, sementara pemilik mengalami kesulitan finansial untuk mensupport biaya terapi yang dibutuhkan.

5. Old age

Usia hewan yang semakin tua menyebabkan penurunan fungsi dari organ-organ tubuh hewan sehingga pada fase ini sering dikatakan bahwa hewan telah mengalami penurunan kualitas hidup.

Selain brosur pet-euthanasia, AVMA juga telah mengeluarkan Guidelines to Euthanasia (Formerly Report of the AVMA Panel on the Euthanasia, June 2007) yang merupakan review dari guideline-guideline sebelumnya yang mengulas tentang panduan pelaksanaan euthanasia yang baik sesuai dengan tujuannya terhadap berbagai macam hewan dengan lingkungan hidup yang berbeda pula. Pengevaluasian metode euthanasia oleh AVMA dilakukan dengan merujuk kepada kemampuan agen euthanasia untuk menginduksi hewan tanpa disertai rasa sakit dan stress; jangka waktu yang diperlukan agen euthanasia untuk menginduksi; konsistensi agen euthanasia yang digunakan; keamanan agen euthanasia bagi personel; kompatibilitas agen euthanasia sesuai dengan persyaratan dan alasan euthanasia; efek emosional yang dapat ditimbulkan bagi pengamat dan operator euthanasia; kompatibilitas dengan evaluasi selanjutnya atau penggunaan jaringan tubuh setelah proses berlangsung; ketersediaan dan akses terhadap agen euthanasia; kompatibilitas agen euthanasia dengan jenis hewan, umur dan status kesehatan; ketentuan perawatan peralatan yang digunakan dalam proses euthanasia; serta keamanan karkas terhadap predator.

Secara umum, kebanyakan euthanasia pada hewan kesayangan dilakukan melalui injeksi intra vena (IV) menggunakan sediaan barbiturate dalam dosis tinggi (pentobarbital). Penyuntikan ini dapat dilakukan dengan satu tahapan atau dua tahapan. Euthanasia dengan 2 tahapan diawali dengan penyuntikan obat bius hingga pasien menjadi tidak sadar, kemudian dilanjutkan dengan penyuntikan kedua sehingga hewan tidak mengalami rasa sakit, penyuntikan kedua ini dapat dilakukan melalui injeksi intra cardiac. Penyuntikan intra cardiac langsung tanpa didahului fase pembiusan di California dinyatakan sebagai tindakan kejahatan loh. Untuk hewan-hewan kecil seperti marmot, hamster, atau burung – euthanasia dilakukan melalui inhalasi menggunakan anesthetics gas seperti isoflurane dan sevoflurane. Sementara itu pada hewan besar seperti kuda, euthanasia dilakukan dengan penembakan pada dahi yang diarahkan ke spinal cord melalui medulla oblongata yang menyebabkan kematian seketika pada hewan, tentu saja hal tersebut harus dilakukan oleh orang yang sudah berpengalaman. Perlakuan terhadap hewan-hewan untuk kepentingan konsumsi manusia juga disebutkan sepantasnya mendapatkan perlakuan yang sama dengan hewan yang akan dieuthanasia. Dalam hal ini, euthanasia pada sapi dilakukan dengan menggunakan captive bolt/ penyetruman yang dilanjutkan dengan exsanguinasi.

Lokasi pelaksanaan euthanasia dapat dilakukan di klinik hewan, di rumah klien, ataupun di tempat kejadian, hal tersebut disesuaikan dengan keinginan klien. Euthanasia yang dilakukan pada tempat kejadian biasanya terjadi pada kuda pacu yang mengalami kecelakaan pada saat berpacu di lapangan. Pada saat pelaksanaan euthanasia, pemilik diberikan kesempatan untuk mengikuti proses atau menunggu hingga proses itu selesai. Pemilik yang memutuskan untuk mendampingi hewannya tentu saja harus diberikan penjelasan mengenai rigor mortis, urinasi atau defekasi yang mungkin dapat terjadi pada saat proses berjalan sehingga pemilik tidak kaget dan mengalami shock. Bahkan pada beberapa kasus pemilik dianjurkan untuk melakukan nekropsi supaya mendapatkan informasi yang jelas mengenai kondisi penyakit yang diderita hewannya.

O p i N i . . . .

Opini-opini yang bermunculan tentang benar atau salahnya pengambilan keputusan euthanasia, menurut saya masih sangat relatif sekali karena tidak semua orang mempunyai pendapat, pengalaman ataupun perasaan yang sama dengan apa yang kita alami. Opini seorang pecinta binatang tentu saja tidak akan sama dengan opini orang yang takut dengan binatang.

Sebagai pendapat pribadi, saya sendiri pun merasa bahwa pada beberapa kasus, euthanasia memang perlu untuk dilakukan. Idealnya sebisa mungkin, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa euthanasia diambil sebagai langkah terakhir ketika sudah tidak tersedia alternatif medis lainnya. Dalam pelaksanaannya di lapangan, euthanasia sendiri dilakukan ada yang tanpa kompromi dan ada yang disertai kompromi terlebih dulu. Bagi saya, keputusan tidak melakukan euthanasia tanpa diikuti tindakan terapi yang sesuai pun akan mengakibatkan penderitaan yang bekepanjangan bagi hewan, serta memerlukan biaya perawatan yang tidak sedikit yang dapat memberatkan klien. Lain halnya dengan penangkaran-penangkaran primata yang bertujuan untuk menyediakan hewan model yang Specific Pathogen Free (SPF), euthanasia terhadap hewan yang positif tuberculosis dilakukan tanpa kompromi (tentu saja sesuai dengan SOP-nya) mengingat penyakit ini dapat menular dan membahayakan kesehatan personel yang bekerja di lingkungan tersebut. Dan sebagai salah satu bentuk penghormatan yang dapat kita berikan adalah melakukan proses tersebut sebaik-baiknya sesuai dengan kode etik yang kita pegang.

Tapi kalau boleh ngayal yang ngeyel, andai si dogi atau si mpus bisa ditanya bagaimana maunya ya…

Bagaimana dengan Anda?

* * * * *

Sekedar informasi tambahan, beberapa tempat penampungan hewan di Amerika yang juga sudah menerapkan program “No-Kill” shelter yang berarti hewan-hewan yang berada di dalamnya tidak akan di-euthanasi berdasarkan alasan non-medis. Kegiatan dalam shelter-shelter itu disponsori oleh organisasi kesejahteraan hewan, subsidi pemerintah lokal ataupun sumbangan pribadi para penyayang binatang. Disediakan juga hotline khusus bagi para pemilik hewan yang hendak berkonsultasi ataupun bagi para pemilik hewan yang telah melalui proses euthanasia.

Kita di Indonesia juga mempunyai beberapa animal shelter yang tersebar di beberapa lokasi seperti Pondok Pengayom Satwa di Ragunan – Jakarta; Pusat Perlindungan Satwa di Cikananga – Sukabumi; Pusat Perlindungan Satwa di Petung Sewu – Malang; Yayasan Yudhistira – Bali yang bergerak di bidang kesejahteraan bagi anjing. Penanganan terhadap hewan-hewan liar di jalanan, umumnya terhadap anjing dan kucing dilakukan dengan program sterilisasi untuk membatasi over populasi di lingkungan.

* * * * *

Informasi diperoleh dari berbagai sumber : http://www.justusdogs.com.au/flex/euthanasia_when_to_consider_ending_your_dogs_life/662/1 http://www.avma.org/communications/brochures/euthanasia/pet/pet_euth_brochure.asp http://en.wikipedia.org/wiki/Animal_euthanasia http://www.thepetcenter.com/imtop/euthanasia.htm http://dogs.lovetoknow.com/wiki/Dog_Euthanasia


Responses

  1. bagus bgt tulisannya pis…tp sy sbg petugas poskeswan mengalami kendala dalam hal pemberantasan peny. rabies…karena byk anjing liar alias tanpa tuan…shg kadang terpaksa meng euthanasia paksa anjing liar…alias di strignin wae

  2. pa gunjal….ini euthanasia…bukan amnesia…
    yang nulis itu ny drg yuliani…bukan…silvis triani,.,…
    masih terobsesi yach???ha ha…

  3. Kok “pis” sih njal…”pie”… ntar ketuker ma ipis… ^_^

    Gue mah ga kontra ma Euthanasia anjing kucing, terutama Euthanasia yang didasarkan pada pertimbangan” no. 2-4, coz disitu menyangkut juga hajat hidup kesejahteraan manusia yang menurut gue harus lebih diutamakan…

  4. Ralat : Euthanasia anjing kucing (dibaca : Euthanasia hewan) .. :p

  5. Woi Cecep lagi….itu yang nulis Pipie!

  6. ha ha…ngatain gunjal yg amnesia…tnyata malah gw..heee
    sory pie….gw liat n inget yulianinya…ha ha

  7. pie, trims ya tulisannya. jadi dapet tambahan informasi nih. oh ya pie istilah decapitasi pada euthanasia itu tindakan yang kayak apa sih? buat teman-teman yang lain juga kalo ada yang tau mohon informasinya.

  8. GRAUKKK… untuk Andi, kau….kauuu…….tegaaaa…..

    *Gunjal : antara ideal ma praktis emang ga selalu sejalan bang….

    * Chimay : ya maap bu, keasikan ngulas pet nya abis contohnya lebih banyak, tapi prinsipnya gak beda jauh kok antar binatang malah ada yang sama kok. Di guidelinenya lebih komplit tuh kalo mo baca neng.

    * Cepcep : temen sekelompok masih salah? temen sekelompok kundang nihhh ;p

  9. maap satu lagi ketinggalan, ada juga istilah thoracotomy. nah loh apa lagi tuh? abis dah banyak yang lupa nih. trims

  10. Fera, decapitasi itu artinya kepalanya di cuputin hiiiiii……itu mah sadis euy

    Decapitation (from Latin, caput, capitis, meaning head), or beheading, is the removal of a living organism’s head.

  11. Thoracotomy is an incision into the chest. It is performed by a surgeon, and, rarely, by emergency physicians and paramedics, to gain access to the thoracic organs, most commonly the heart, the lungs, the esophagus or thoracic aorta, or for access to the anterior spine such as is necessary for access to tumors in the spine.

    Thoracotomy is a major surgical maneuver—the first step in cardiothoracic surgery, which involves major procedures such as coronary artery bypass surgery and lobectomy or pneumonectomy for lung cancer—and as such requires general anesthesia with endotracheal tube insertion and mechanical ventilation.

    http://en.wikipedia.org/wiki/Thoracotomy

  12. Pie trims ya informasinya. soale tadi aku sedikit bingung. khan lagi baca modul tentang euthanasia, eh koq tiba-tiba dalam tulisan itu muncul thoracotomy. aku kira itu salah satu cara euthanasia. setahuku itu adalah salah satu tindakan bedah seperti informasi kamu di atas

  13. tante fe, pa kabar? udah “ngisi” lg blm…

  14. @tjetjep : hahahhaa…masih terobsesinya ya Cep! :p

    @fera : pa kabar bu?

    @pipie : gue waktu nulis komen itu lagi inget acara RSPCA Animal Rescue, jadinya kepikirannya anjing kucing… hehe

  15. emang bener sih antara idealnya dengan prakteknya di lapangan sering ngak sejalan, problem di t4ku sama ama gunjal, Rabies masih meraja lela jadinya ya banyak anjing-anjing yang dengan terpaksa harus dilenyapkan

  16. cep, akhirnya kutau obsesimu…selamat datang di amnesia blogs

  17. yah…saya juga setuju pie….dalam dunia praktisi khususnya pet’s, sering sekali di klinik hewan atau rsh di jabodetabek ini ujung-ujungnya juga begitu…..
    oleh karena itu client education itu penting sekali untuk para pemilik pet’s..semoga di indonesia ada undang -undang euthanasia pada hewan untuk 5 kategori di atas…

  18. Halo halid,
    selamat ya pengantin baru. aku positif terinfeksi tokso n CMV, so utk saat ni lg blm isi dulu, mau ditreatment dulu.

  19. Bang umbu
    kemana aja .. masih di Jakartaya

    Pak gunjal gimana susu kambingya kemarin
    trims… sudah mampir kerumah

    Makasih mba Pipie perbanyak terus tulisan
    tentang pet animal biar kita dilap tdk ketinggalan info
    trims….

    Kang cecep operasinya kemarin tdk kebalikan.

  20. Wah, apa maksudnya tuh mas Langgeng? Cecep kebalik apanya?

  21. Fera, CMV itu apa? Cytomegalovirus? Seberapa bahaya? Cerita dung bu..
    Tetap semangat ya..

  22. o0(^_^)0o sukur deh kalo nih orat oret bisa nambah informasi yaa…

    “cek ucek rambut kol’e jeng Fera…. semangat bu ayo semangat!!!

    Umi : *colek colek* he.. he… he…. PR berikutnya animal welfare mi…. (boro-boro animal welfare, humannya aja banyak yang belom welfare ya???)

    Mas Langgeng: buntute wis piro saiki? Salam buat jeng Indah ya

    Bang mod, blognye boleh di link ke grup FKH IPB yang di FS itu ga?

  23. Umbu :

    Nemu dari blog tetangga nih….

    Sesuai dengan Kode Etik Dokter Hewan Bab. III pasal 18 : Dokter hewan dengan persetujuan kliennya dapat melakukan euthanasia karena diyakini tindakan itulah yang terbaik sebagai jalan keluar bagi pasien dan kliennya. Bertolak dari dasar tersebut maka tindakan euthanasia merupakan tindakan yang tidak menyalahi etika baik etika profesi maupun etika kehidupan asalkan dilakukan secara manusiawi (humane euthanasia)

    http://carejogja.org/portal/content/view/39/1/lang,id/

  24. NIh sdikit info buat ibu-ibu, eh buat bapak-bapaknya juga deh.

    Infeksi CMV disebabkan oleh virus Cytomegalo, dan virus ini temasuk golongan virus keluarga Herpes. Seperti halnya keluarga herpes lainnya, virus CMV dapat tinggal secara laten dalam tubuh dan CMV merupakan salah satu penyebab infeksi yang berbahaya bagi janin bila infeksi yang berbahaya bagi janin bila infeksi terjadi saat ibu sedang hamil.

    Jika ibu hamil terinfeksi. maka janin yang dikandung mempunyai risiko tertular sehingga mengalami gangguan misalnya pembesaran hati, kuning, ekapuran otak, ketulian, retardasi mental, dan lain-lain.

    Pemeriksaan laboratorium sangat bermanfaat untuk mengetahui infeksi akut atau infeski berulang, dimana infeksi akut mempunyai risiko yang lebih tinggi. Pemeriksaan laboratorium yang silakukan meliputi Anti CMV IgG dan IgM, serta Aviditas Anti-CMV IgG.

  25. eh.. mba May
    Kang Cecep yg dioperasi kemarin karena prolap terus
    tapi kalau yang depan memang diharapkan prolap terus.
    kalau sampai kemarin sang dokter ….. operasinya salah
    pasti bubar mba… yg pasti tuk melanjutkan perjuangan kang
    cecep harus ada nantinya…..
    jangan…… jangan kang cecep oh tidak…
    Moga cepat sembuh yach
    jangan banyak duduk aja
    ajak jalan jalan kepalembang kan ngak nyampai 17 juta toh

  26. Eh gue dulu pas cek TORCH juga IgM Cytomegalovirusnya tinggi, so dikasih kapsul gitu…

    Trus sama sekali ga punya imunitas terhadap Rubella, akhirnya disuruh vaksin tuh 2 kali, and setelah vaksin ga boleh hamil dulu selama 6 bulan….

    Ayo kalian para wanita, mending cek TORCHnya cepetan, sebelum merit kayanya paling Ok, biar bisa diobati or divaksin so begitu merit kalo misalnya langsung hamil dah aman…

    To Mas Langgeng :

    O…o…o…o…gitu ya mas…bisa aja nih mas lp.. ^_^

  27. bang dani.. mari kita dukung terbentuknya Dirjen veteriner… kalau otoritas vetriner ada eselon I di deptan, mudah2an dunia veteriner kita semakin maju,,,
    vera.. smg lekas sembuh…saran :combine obat herbal
    cep.tehroris…ane doain cepet sembuh…banyak pelanggan antri nih….
    lp: susu kambingnya bikin tokcer…

  28. Mba Pie….
    anakku sdh dua
    Aisyah enam tahun kelas satu SD
    Azmi tiga tahun …
    Mba Pie sendiri gimana sdh punya belum
    sekarang posisi dimana
    masih pakai nama Oshin ngak …..Mba…….
    trims…….

  29. test…

  30. Aku sblm nikah juga periksa TORCH dulu. dan positif Tokso dan CMV (IgG). pemeriksaan di Prodia atas permintaan sendiri. setelah keluar hasilnya, saya konsultasi ke dokter spesialis kandungan. ternyata gak ada terapi apa2. karena blm nikah dan blm akan hamil. dokter bilang nanti aja periksa lagi kalo dah menikah.
    Bingung khan?? Apa karena aku positif di IgG ya?? (yang notabene kejadian infeksi sudah lama, atau dalam kata lain infeksi terjadi waktu lampau bukan sekarang??)

  31. esthi,
    kalo menurut dokter kandungan, memang masih ada beberapa kontroversi. ada yang bilang justru lebih baik diobati sebelum merencanakan kehamilan, begitu kehamilan tinggal dikontrol aja. di indra prasta ada pengobatan alternatif herbal khusus untuk penderita TORCH. aku mau coba karena bukan sekedar pengobatan alternatif, ramuannya sih menurut info yang aku dengar sudah di approve ma lab.UI. n bapak itu dapat gelar profesor karena nemuin ramuan tersebut. emang esthi titer Ig G nya berapa?rencana treatmentnya selama 3 bulan, lalu cek lagi titernya sudah negatif atau tidak.

  32. Mas Langgeng, KB ni ye…. cukup 2 ato mau tambah lagi nih?

    Sejak keilangan anak (baca: Chiko) belum mau punya lagi Mas ;p

    Oshinnya dah merdeka kali ya… balik nama jadi pippie aja

  33. fer..stau gw..yg di indraprasta itu bukan ramuannya yg di “approve”, tapi emang klo berobat dsana suka disuruh priksa ke lab…memang byk yg bilang kalo dari hasil lab menunjukkan hasil akhirnya setelah pngobatan bisa jadi negatif setelah minum ramuan itu…
    tentang gelar profesor nya itu jug klo ga salah dipermasalahkan…jadi bukan dari institusi tertentu…
    NB : itu spengetahuan gw ya…ga tau klo ada info lain ttg pengobatan alternatif itu .

  34. aku lupa fer titernya berapa. yang pasti lumayan tinggi. tapi waktu konsultasi ke dokter dibilang gak ada treatment. padahal aku periksa bln2 desember apa november dah aku bilang mau menikah bln februari. tetap gak diterapi hehe.

  35. fera kalo dokter kandungan ngasih sarannya untk cmv pengobatan 3 bln dulu
    dikasihnya obatnya 3 mcm…
    ada yasmin, vit…dll
    ktnya buat menekan pertumbuhan virusnya
    trus jg kebersihan jg
    trus kontrol lg biar tau titernya

    stlh itu baru rencanakan kehamilannya
    kalo dah jd ttp kontrol kondisi kehamilannya

  36. -ok bang gunjal…mudah-mudahan dirjen veteriner ada , kalo bisa sekalian aja ada menteri kesehatan hewan…setuju nga??? masa kalah sama menteri kesehatan mc……gimana???? jangan tangung2x lagi hehehehehehehe entah sampai kapan ini bisa terlaksana…
    -yah mas langgeng saya masih sama kang huda di RSH-IPB,,,
    menekuni dunia praktisi….
    -salam buat keluaga di sana yah…………

  37. Selamat..keep on going ya rekan2 ipb

  38. ko gada lg y komen….,sepi amat. pd kmn anak2 34


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: