Posted by: genetika21 | 16 March 2008

Perlukah Kirim Isolat ke Luar Negeri

M. M. (Andi) Hidayat –

Maraknya pemberitaan mengenai buku yang dikeluarkan oleh Menteri Kesehatan Indonesia yang berkaitan dengan pengiriman isolat virus flu burung asal manusia, yang menurut pihak Kesehatan telah disalah gunakan oleh pihak asing untuk digunakan untuk tujuan komersil, mungkin perlu dipahami lebih luas latar belakang hal ini terjadi dan kepentingan melakukan pengiriman isolat ke luar negeri. Tidak hanya di Kesehatan manusia, pengiriman isolat virus yang berasal dari hewan pun dilakukan untuk kepentingan pemeriksaan di laboratorium di luar negeri.

Pengiriman isolat fluburung asal manusia

Pertama tama mungkin kita mulai dengan latar belakang penolakan pihak Kesehatan manusia di Indonesia untuk berbagi isolat dengan WHO. Tindakan yang dilakukan oleh Indonesia ini tergolong radikal, namun banyak negara berkembang lainnya juga mendukung tindakan ini. Selama lebih dari 50 tahun sebuah badan yang dibentuk WHO dengan nama Global Influenza Surveillance Network melakukan kegiatan kegiatan sebagai berikut : setiap tahun Laboratorium yang bekerja sama dengan WHO manganalisa setiap sampel virus inluenza yang baru, khususnya di Asia. Kemudian sebuah komite di WHO menentukan strain mana yang kemungkinan akan menyerang manusia di bulan bulan mendatang, dan produsen vaksin mulai memproduksi vaksin dengan menggunakan strain tersebut.

Sekitar 250–300 juta dosis vaksin diproduksi dan kebanyakan memang dijual ke negara berkembang. Wajar apabila kemudian muncul pertanyaan ”apa untungnya untuk kita” dari pihak yang merasa virus itu berasal dari daerahnya tapi kemudian dirugikan dengan harus membeli vaksin yang dibuat dari virus tersebut.

Sejak terjadi kasus flu burung pada manusia pertama di Indonesia, beberapa isolat dikirimkan ke luar laboratorium WHO untuk deteksi dan konfirmasi. Kerjasama untuk mendiagnosa dan menganalisa perkembangan virus ini awalnya berjalan dengan baik sampai akhirnya menjadi tidak harmonis ketika salah satu pihak merasa dirugikan.

Pengiriman isolat flu burung asal hewan

Sejak terjadinya wabah Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) H5N1 atau dikenal juga dengan flu burung pada unggas ditahun 2003, beberapa institusi dan Laboratorium Kesehatan Hewan di Indonesia dan Perguruan Tinggi telah melakukan isolasi, identifikasi dan karakterisasi virus AI penyebab wabah. Isolat-isolat tersebut digunakan untuk melakukan kegiatan penelitian guna menghasilkan teknologi dalam penanggulangan wabah. Karena fasilitas laboratorium di Indonesia saat itu belum sepenuhnya memadai dan sebagai bagian dari persyaratan internasional, maka Indonesia melakukan kerjasama dengan OIE dengan mengirimkan isolat-isolat virus AI ke laboratorium referensi OIE.

Sejak tahun 2004, Departemen Pertanian juga telah mengirimkan isolat virus HPAI ke Laboratorium Referensi Internasional OIE. Pada awalnya adalah untuk tujuan konfirmasi diagnosa dan keperluan analisa epidemiologi HPAI lebih lanjut. Laboratorium Referensi Internasional OIE untuk kawasan Regional Asia Pasific adalah di Australian Animal Health Laboratory (AAHL) di Geelong, Australia. Sesuai dengan OIE Terresterial Animal Health Code yang selanjutnya dikenal sebagai ‘OIE Code’, tugas dan fungsi Laboratorium Referensi Internasional OIE/FAO adalah membantu negara anggota dalam mendiagnosa penyakit hewan menular.

Sehubungan dengan adanya laporan ‘kegagalan vaksinasi’ di Industri Perunggasan yang ditunjukkan dengan masih terus terjadinya wabah HPAI di sektor industri serta hasil uji tantang vaksin AI di laboratorium USDA maka FAO/OIE mengusulkan suatu program ‘Monitoring AI virus variants in Indonesia poultry and defining an effective and sustainable vaccination strategy’, yang telah dimulai Oktober 2007 sampai dengan September 2008. Tujuan utama program tersebut adalah:

1. Melakukan ‘antigenic screening/mapping’ atau pemetaan secara antigenik pada isolat virus lapang

2. Intensifikasi pengumpulan isolat virus lapang untuk memonitor perubahan/mutasi

3. Melakukan challenge test/uji tantang terhadap ‘antigenic variants’ dan pemilihan ‘seed vaccine strains’ yang mewakili virus lapang untuk digunakan sebagai vaksin yang cocok untuk Indonesia, dan

4. Rekomendasi strategi vaksinasi (vaksin dan vaksinasi).

Program ini akan memberikan manfaat bagi Pemerintah Indonesia karena dengan terlaksananya program ini akan diperoleh jenis vaksin yang tepat untuk program pengendalian AI pada unggas, peningkatan kemampuan Sumber Daya Manusia melalui pelatihan serta kemampuan untuk memonitor dinamika virus secara berkelanjutan.

Secara bertahap program ini akan dilaksanakan di Indonesia melalui alih teknologi dan secara penuh akan dilakukan di Indonesia setelah Indonesia mampu secara penuh baik secara kualitas maupun kuantitas untuk melakukan kegiatan ini. Sejalan dengan kegiatan tersebut di atas, Departemen Pertanian pun melengkapi laboratoriumnya dengan berbagai fasilitas dan peralatan modern untuk diagnosis dan penelitian virus AI.

Pertimbangan dalam pengiriman isolat ke luar negeri

Beberapa pertimbangan dilakukannya pengiriman isolat irus ke Laboratorium referensi internasional tersebut adalah :

1. Bahwa program monitoring diatas merupakan program yang harus dilaksanakan segera (urgent). Kapasitas sequence virus maupun pemetaan antigenic di dalam negeri masih terbatas dan untuk melakukan uji HI diperlukan antisera yang memerlukan waktu untuk produksi serta dibutuhkan kemampuan khusus untuk melakukan analisa dari hasil pemetaan antigenic maupun genetic tersebut.

2. Pemetaan Antigenic dan genetic ini merupakan suatu teknik dan jenis uji yang tergolong baru sehingga perlu dilakukan suatu penilaian terhadap ”reliability” dan ”reproducibility” dari hasil uji tersebut. Uji paralel dengan Laboratorium rujukan Internasional diperlukan untuk menjaga keakuratan hasil uji yang didapatkan.

3. Setiap pengiriman isolat asal hewan tersebut harus selalu dilindungi dengan Material Transfer Agreement dan export permit. Dokumen dokumen ini melindungi pengiriman isolat yang dikirimkan untuk diperiksa di Laboratorium di luar negeri. Dengan adanya dokumen ini apabila dikemudian hari terjadi penyalahgunaan dari isolat yang dikirimkan maka Pihak pengirim dalam hal ini pemerintah Indonesia dapat mengajukan tuntutan kepada Laboratorium yang ditunjuk untuk memeriksa isolat tersebut.


Material Transfer Agreement

Sebelum pengiriman isolat dilaksanakan, terlebih dahulu sebuah kesepakatan harus dibuat oleh pihak pengirim. Kesepakatan ini dikenal dengan Material Transfer Agreement. Kesepakatan ini memuat ”aturan main” dari isolat yang dikirimkan. Kesepakatan ini berisi antara lain hak dan kewajiban dari masing masing pihak (pengirim maupun penerima).

Kesepakatan ini ditandatangani oleh pihak pengirim maupun pihak penerima. Dengan ditandatanganinya kesepakatan ini akan mencegah hal hal yang tidak diinginkan dikemudian hari seperti penyalahgunaan isolat untuk kepentingan komersil negara negara atau organisasi tertentu.

Kemarahan Menteri kesehatan yang merasa kedaulatan, harga diri, hak, dan martabat negara-negara tak mampu telah dipermainkan atas dalih Global Influenza Surveilance Network (GISN) WHO seharusnya bisa diantisipasi apabila ada kesepakatan yang dibuat antara Pemerintah Indonesia dengan WHO. Dan apabila WHO terbukti menyalahgunakan isolat untuk tujuan komersil atau melakukan tindakan yang tidak sesuai kesepakatan maka Pemerintah Indonesia dapat secara sah menuntut WHO.

Jaringan kerja penanganan Influenza

Di bidang kesehatan manusia, Organisasi Kesehatan Dunia WO telah membentuk Global Influenza Surveillance Network. Badan didirikan sejak tahun 1952, terdiri dari 4 WHO Collaborating Center dan 94 negara termasuk Indonesia. Di dalam negara negara anggota GISN ini dibentuk National Influenza Center (NIC) yang bertugas untuk mengirimkan spesimen di negara masing masing, melakukan isolasi dan karakterisasi virus. Apabila ditemukan ada strain baru di negara anggota maka dilakukan pengiriman ke WHO Colaborating Center untuk analisa lebih lanjut. WHO Influenza Surveillance Network ini juga bertindak sebagai mekanisme kesiapsiagaan terhadap virus influenza yang berpotensi untuk menjadi pandemic.

Dibidang kesehatan hewan pun dibentuk jaringan serupa. Jaringan kerja ini untuk mensingkronkan kegiatan pengendalian Avian Influenza di hewan. Jaringan kerja ini disebut OFFLU, merupakan jaringan kerja antara Badan kesehatan Hewan Dunia (OIE) dan FAO yang banyak melakukan kegiatan kegiatan yang berhubungan dengan pengendalian Avian Influeza langsung diapangan. Tujuan utama dari Jaringan kerja ini adalah :

§ Saling tukar informasi, data ilmiah dan material biologis (termasuk strain virus), dan juga berbagi informasi dengan komunitas yang lebih luas.

§ Menyediakan masukan yeknis dan juga ahli ahli dibidang kedokteran hewan untuk negara anggota untuk membantu dalam pencegahan, diagnosa, surveilans dan pengendalian Avian Influenza.

§ Melakukan kolaborasi dengan jaringan influenza WHO untuk masalah yang berkaitan dengan penularan penyakit dari hewan ke manusia termasuk terlibat dapalm persiapan pembuatan vaksin manusia.

§ Menentukan dan melakukan koordinasi untuk melaksanakan penelitian yang dibutuhkan untuk Avian Influenza.


Transparansi Global

Penyakit Avian Influenza ini masih merupakan penyakit yang relative baru untuk Indonesia. Transparansi mengenai penyakit ini juga menjadi tuntutan dari semua Negara di seluruh dunia mengingat penyakit ini ditakutkan dapat menjadi pendemi yang membahayakan. Ditambah dengan banyaknya keterbatasan yang dimiliki oleh kita, dan juga kesepakatan internasional, kerjasama dengan pihak lain adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari.

Perlu strategi untuk mencegah kita terjebak dalam masalah dimana kita menjadi negara yang “digunakan” atau menjadi korban untuk kepentingan organisasi atau negara tertentu. Dokumen kerjasama yang dapat dipertanggung jawabkan secara hukum harus disiapkan sebelum kerjasama dilaksanakan. Apabila dirasa perjanjian kerjasama yang dibuat memang merugikan untuk pihak Indonesia maka tidak ada salahnya kita menolak untuk bekerja sama. Jangan sampai kita merasa dirugikan, direndahkan dan dipandang sebelah mata oleh pihak asing padahal semua terjadi karena ketidak telitian kita pada penyusunan rencana kerjasama. Seperti ungkapan orang bijak yang mengatakan “jika kita gagal merencanakan maka kita merencanakan gagal“.

Peningkatan kapasitas dan kapabilitas Sumber Daya Manusia serta sarana dan prasarana juga merupakan suatu hal yang sangat diperlukan. Hal hal yang tidak diinginkan seperti diatas dapat dicegah apabila kita telah memiliki sumber daya manusia yang mumpuni dan didukung dengan sarana dan prasarana yang cukup.


Responses

  1. Prok…prok..prok (applause mode), meskipun sangat sibuk ternyata pakar AI kita yang satu ini masih menyempatkan diri buat berbagi informasi.
    Makasih nih Bang Mod buat info-nya. Paling enggak memberikan gambaran gimana sih prosedur untuk mengirimkan isolat (mgkn gak hanya berlaku ke luar negeri aja kali ya…ke sesama institusi dalam negeri pun biasanya disertakan koq dokumen seperti ini, ya paling enggak semacam perjanjian aja diantara kedua pihak).

    Jadi inti sebenarnya dan patut untuk dipertanyakan kembali adalah: apakah setiap kali mengirimkan isolat sudah disertakan pula dengan Material Transfer Agreement dan export permit???

    Monggo Jeng, dipriksa lagi kelengkapan dokumennya. Kali2 aja dokumennya ketinggalan or “ketlingsut” gitu…

    (?___?)

  2. Saluut…saluuute buat Pak Mod dengan tulisannya….tapi masih ada yang mengganjal dalam pemikiran saya :
    1. Siapa yang membuat Material Transfer Agreement (MTA) dari pihak Indonesia? Depkeskah?Deptankah?Perusahaankah?
    2. Pihak mana saja yang terlibat dan yang harus mengikuti aturan dalam MTA tersebut?Apakah hanya Departemen dan lingkungan dibawahnya saja yang terkait dengan AI, bagaimana dengan pihak lain dalam hal ini Swasta?NGO?LSM?
    Perlu diingat bahwa bisnis laboratorium mulai digemari oleh pihak swasta, dan kita mesti sadar hal itu, bagaimana kerjasama dengan mereka?Bagaimana pelibatan mereka dalam proyek pemerintah tentang AI ini?
    3. Material apa yang masuk dalam MTA?hewannyakah?tissuekah?Isolat sajakah?PCR results or just DNA sequencing saja?Itu yang sepatutnya diperjelas terlebih dahulu sebelum kita mengirim sampel?
    4. Strategi apa yang bagus dan diterapkan untuk “Import Monitoring” terhadap AI vaccine?
    Salah satu kelemahan yang mesti diingat dan diperhatikan oleh pemerintah, impor vaksin dan obat-obatan yang berasal dari Chinakah, Hongkongkah, Eropakah, USlah, sangat mudah masuk ke Indonesia setelah pemerintah menyatakan AI sebagai “wabah baru”.Siapa dibalik itu dan apa motivasinya?saya rasa sampai sekarang belum ada jawabannya?
    5. Bagaimana pelibatan dengan pihak swasta?Tiga faktor yang perlu diingat untuk keberhasilan :”Pemerintah—–Swasta—–Masyarakat”
    Maaf agak panjang Pak Mod, yang tahu jawabannya tolong dijelaskan yach…..

    Wassalam

  3. waduh, panjang banget ya pertanyaannya hehe. sepengetahuan saya MTA itu semacam kesepakatan kerjasama, dalam hal ini kesepakatan dalam pengiriman material atau sampel, baik itu virus, bakteri, atau apa pun. jadi yg bikin dan harus sepakat adalah yang terlibat dalam kerjasama itu. kl yang ngirim deptan ya deptan yang bikin, kl yg ngirim pihak swasta ya swasta itu yang bikin pak.

    kerjasama dgn pihak swasta, NGO dll ya boleh boleh aja, asal ada kesepakatan yang jelas sebelum pelaksanaan kerjasama.

    sebenernya vaksin di kita (yang terdaftar) memang ada yang lokal dan ada yang import. ada belasan memang jumlahnya, tapi seed vaksinnya (virus yang digunakan sama). dan sekarang sedang dikaji ulang statusnya. kl dibilang mudah ya nggak juga (mohon info yang temen yg daftarin vaksinnye ke deptan), mungkin yang ilegal itu yang sudah di kendalikan ya pak.

    kl keterlibatan swasta dan masyarakat memang perlu banget tuh. makanya pendekatan yg dipakai sekarang menggunakan pendekatan partisipatif yang melibatkan masyarakat dan juga pihak swasta.

    kl ada kurang kurang mungkin temen temen laen bisa bantu jawab hehe

  4. Nah, itulah yang saya maksudkan Pak Mod, bila berlakunya semacam itu, sangat mudah bagi Republik Indonesia ini kecolongan….Kenapa saya katakan demikian, karena pihak mana yang terlibat dalam MTA itu, dia punya kepentingan didalamnya…
    Yang saya soroti dalam hal ini adalah Swasta (Bukan maksud menyindir temen-temen lho, tapi setidaknya anda mesti tahu scheme apa yang ada di kepala Big Boss anda…), bila yang terlibat hanya mereka dengan pihak asing, sangatlah mustahil MTA itu merugikan bagi pihak mereka, pasti ada benefit effect dibalik itu, dan bila sudah semacam itu isi MTA akan mengarah kemana?
    Siapa atau lembaga mana yang akan menilai, mempertimbangkan dan memutuskan bahwa MTA itu layak untuk disetujui?Atau hanya pihak yang terlibat saja yang menilai?
    Adakah dasar-dasar atau garis-garis besar yang dapat dijadikan acuan jika orang/lembaga/institusi/LSM/NGO or Perusahaan akan membuat MTA agar mudah dalam kontrol/pengawasan?

    Maaf bertanya banyak lagi, sebab untuk kontrol kita-kita semua nich….

    Wassalam

  5. no comment ah…:D

    bantuin napa peb….

  6. Yeeeeeeeah Ka Peeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeb!

  7. Thank pak tulisannya…walaupun baca pul, saya mau berkomentar sedikit az…saya salut rasa nasionalis bu menkes…tapi apa benar…virus itu dah kelura negeri atau belumm…Kayu az yg gede bisa lari kelu negeri…apalagi virus…, n dah banyak kan LSM luar negerinya di Indonesia…yg namanya virus….semua org terutama yg belajar virology…di isolasi…juga gampang kan… kl menrut saya supaya virus itu ga kelur negeri… janagn ada org asing yg nangani masalh virus flu burung di Indonesia apa lagi LSM….yg di biayayi luar negeri, ga ada artinya kalau kita melarang isolat virus H5N1 diberikan ke pihak asing, ya itu tadi kayu az bisa di selundupkan apa lagi virus….

  8. top yan…buku menkes tdk ada pengaruhnya tuh, baik terhadap WHO atau usa. amerika gak mempan dengan hanya sebuah buku… kalau teroris dia baru takut

  9. sebagai informasi, setiap spesimen yang dikirim keluar negeri yang tujuannya untuk penelitian kesehatan wajib mendapatkan persetujuan MTA dari kepala badan penelitian dan pengembangan kesehatan.
    tim penelaah MTA badan Litbang terdiri dari para praktisi, peneliti dan akdemisi (UI, Ejkmen, Balitbangkes, Ristek dan LIPI)
    Tks
    kunjungi
    http://www.litbang.depkes.go.id


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: