Posted by: genetika21 | 6 March 2008

Kuak Konspirasi Bikin Senjata Biologi dari Flu Burung – Buku Menkes Fadilah Bikin Gerah AS-WHO

– pipie –

Ini sebenarnya komen dari pipie ke tulisannya Pristi, isinya tentang synopsis buku yang dikeluarkan Menteri Kesehatan (yang dia ambil dari sebuah blog. Link : http://www.tribun-timur.com/viewrss.php?id=65146). Komen ini agak panjang jadi atas sijin pipie saya masukkan aja ke tulisan supaya temen temen bisa komen lagi. Kira kira begini isinya…

Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari (59) bikin gerah World Health Organization (WHO) dan Pemerintah Amerika Serikat (AS). Fadilah berhasil menguak konspirasi AS dan badan kesehatan dunia itu dalam mengembangkan senjata biologi dari virus flu burung, Avian influenza (H5N1). Setelah virus itu menyebar dan menghantui dunia, perusahaan-perusaha an dari negara maju memproduksi vaksin lalu dijual ke pasaran dengan harga mahal di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Fadilah menuangkannya dalam bukunya berjudul Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung. Selain dalam edisi Bahasa Indonesia, Siti juga meluncurkan buku yang sama dalam versi Bahasa Inggris dengan judul It’s Time for the World to Change. Konspirasi tersebut, kata Fadilah, dilakuakn negara adikuasa dengan cara mencari kesempatan dalam kesempitan pada penyebaran virus flu burung. “Saya mengira mereka mencari keuntungan dari penyebaran flu burung dengan menjual vaksin ke negara kita,” ujar Fadilah kepada Persda Network di Jakarta, Kamis (21/2).

Situs berita Australia, The Age, mengutip buku Fadilah dengan mengatakan, Pemerintah AS dan WHO berkonpirasi mengembangkan senjata biologi dari penyebaran virus avian H5N1 atau flu burung dengan memproduksi senjata biologi. Karena itu pula, bukunya dalam versi bahasa Inggris menuai protes dari petinggi WHO. “Kegerahan itu saya tidak tanggapi. Kalau mereka gerah, monggo mawon. Betul apa nggak, mari kita buktikan. Kita bukan saja dibikin gerah, tetapi juga kelaparan dan kemiskinan. Negara-negara maju menidas kita, lewat WTO, lewat Freeport, dan lain-lain. Coba kalau tidak ada kita sudah kaya,” ujarnya.

Fadilah mengatakan, edisi perdana bukunya dicetak masing-masing 1.000 eksemplar untuk cetakan bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Total sebanyak 2.000 buku. “Saat ini banyak yang meminta jadi dalam waktu dekat saya akan mencetak cetakan kedua dalam jumlah besar. Kalau cetakan pertama dicetak penerbitan kecil, tapi untuk rencana ini, saya sedang mencari bicarakan dengan penerbitan besar,” katanya.

Selain mencetak ulang bukunya, perempuan kelahiran Solo, 6 November 1950, mengatakan telah menyiapkan buku jilid kedua. “Saya sedang menulis jilid kedua. Di dalam buku itu akan saya beberkan semua bagaimana pengalaman saya. Bagaimana saya mengirimkan 58 virus, tetapi saya dikirimkan virus yang sudah berubah dalam bentuk kelontongan. Virus yang saya kirimkan dari Indonesia diubah-ubah Pemerintahan George Bush,” ujar menteri kesehatan pertama Indonesia dari kalangan perempuan ini.

Siti enggan berkomentar tentang permintaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang memintanya menarik buku dari peredaran. “Bukunya sudah habis. Yang versi bahasa Indonesia, sebagian, sekitar 500 buku saya bagi-bagikan gratis, sebagian lagi dijual ditoko buku. Yang bahasa Inggris dijual,” katanya sembari mengatakan, tidak mungkin lagi menarik buku dari peredaran. Pemerintah AS dikabarkan menjanjikan imbalan peralatan militer berupa senjata berat atau tank jika Pemerintah RI bersedia menarik buku setebal 182 halaman itu.

Mengubah Kebijakan

Apapun komentar pemerintah AS dan WHO, Fadilah sudah membikin sejarah dunia. Gara-gara protesnya terhadap perlakuan diskriminatif soal flu burung, AS dan WHO sampai-sampai mengubah kebijakan fundamentalnya yang sudah dipakai selama 50 tahun.

Perlawanan Fadilah dimulai sejak korban tewas flu burung mulai terjadi di Indonesia pada 2005. Majalah The Economist London menempatkan Fadilah sebagai tokoh pendobrak yang memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak flu burung. “Menteri Kesehatan Indonesia itu telah memilih senjata yang terbukti lebih berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam menanggulangi ancaman virus flu burung, yaitu transparansi, ” tulis The Economist. The Economist, seperti ditulis Asro Kamal Rokan di Republika, edisi pekan lalu, mengurai, Fadilah mulai curiga saat Indonesia juga terkena endemik flu burung 2005 silam. Ia kelabakan. Obat tamiflu harus ada. Namun aneh, obat tersebut justru diborong negara-negara kaya yang tak terkena kasus flu burung.

Di tengah upayanya mencari obat flu burung, dengan alasan penentuan diagnosis, WHO melalui WHO Collaborating Center (WHO CC) di Hongkong memerintahkannya untuk menyerahkan sampel spesimen. Mulanya, perintah itu diikuti Fadilah. Namun, ia juga meminta laboratorium litbangkes melakukan penelitian. Hasilnya ternyata sama. Tapi, mengapa WHO CC meminta sampel dikirim ke Hongkong?

Fadilah merasa ada suatu yang aneh. Ia terbayang korban flu burung di Vietnam. Sampel virus orang Vietnam yang telah meninggal itu diambil dan dikirim ke WHO CC untuk dilakukan risk assessment, diagnosis, dan kemudian dibuat bibit virus. Dari bibit virus inilah dibuat vaksin. Dari sinilah, ia menemukan fakta, pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusaha an besar dari negara maju, negara kaya, yang tak terkena flu burung. Mereka mengambilnya dari Vietnam, negara korban, kemudian menjualnya ke seluruh dunia tanpa izin. Tanpa kompensasi.

Fadilah marah. Ia merasa kedaulatan, harga diri, hak, dan martabat negara-negara tak mampu telah dipermainkan atas dalih Global Influenza Surveilance Network (GISN) WHO. Badan ini sangat berkuasa dan telah menjalani praktik selama 50 tahun. Mereka telah memerintahkan lebih dari 110 negara untuk mengirim spesimen virus flu ke GISN tanpa bisa menolak. Virus itu menjadi milik mereka, dan mereka berhak memprosesnya menjadi vaksin.

Di saat keraguan atas WHO, Fadilah kembali menemukan fakta bahwa para ilmuwan tidak dapat mengakses data sequencing DNA H5N1 yang disimpan WHO CC. Data itu, uniknya, disimpan di Los Alamos National Laboratoty di New Mexico, AS. Di sini, dari 15 grup peneliti hanya ada empat orang dari WHO, selebihnya tak diketahui. Los Alamos ternyata berada di bawah Kementerian Energi AS. Di lab inilah duhulu dirancang bom atom Hiroshima. Lalu untuk apa data itu, untuk vaksin atau senjata kimia?

Fadilah tak membiarkan situasi ini. Ia minta WHO membuka data itu. Data DNA virus H5N1 harus dibuka, tidak boleh hanya dikuasai kelompok tertentu. Ia berusaha keras. Dan, berhasil. Pada 8 Agustus 2006, WHO mengirim data itu. Ilmuwan dunia yang selama ini gagal mendobrak ketertutupan Los Alamos, memujinya. Majalah The Economist menyebut peristiwa ini sebagai revolusi bagi transparansi. Tidak berhenti di situ. Siti Fadilah terus mengejar WHO CC agar mengembalikan 58 virus asal Indonesia, yang konon telah ditempatkan di Bio Health Security, lembaga penelitian senjata biologi Pentagon. Ini jelas tak mudah. Tapi, ia terus berjuang hingga tercipta pertukaran virus yang adil, transparan, dan setara.

Ia juga terus melawan dengan cara tidak lagi mau mengirim spesimen virus yang diminta WHO, selama mekanisme itu mengikuti GISN, yang imperialistik dan membahayakan dunia. Dan, perlawanan itu tidak sia-sia. Meski Fadilah dikecam WHO dan dianggap menghambat penelitian, namun pada akhirnya dalam sidang Pertemuan Kesehatan Sedunia di Jenewa Mei 2007, International Government Meeting (IGM) WHO di akhirnya menyetujui segala tuntutan Fadilah, yaitu sharing virus disetujui dan GISN dihapuskan.


Responses

  1. Bang Mod, itu bukan tulisan ane, ane hanya pengedar….
    tar gue di demo juga lagi kalo ngaku ngaku

    kl gitu mungkin di kasi sumbernya aja pie

  2. Untuk memenuhi etika per-dunia maya-an, sepertinya kudu di link/dicantumin deh nama blog aslinya…ntar kita diprotes para blogger..🙂

  3. Sori bang mod telat….untung dah ketemu linknya ya….

    Chim…kalo baca blog2 yang laen, banyak loh yang dukung Menkes kita. Serasa baca novel ala Sydney Sheldon yang penuh dengan konspirasi deh…

  4. Hmm..sepertinya itu menunjukkan kalo profesi kita emang ga populer, coz bloggers terdiri dari masyarakat umum dengan latar belakang pendidikan dan sosial yang sangat bervariasi…

  5. lanjut…

    Di kalangan masyarakat kita, dokter manusia cenderung lebih populer dibanding dokter hewan, and masyarakat cenderung nurut and percaya ma apa yang dikatakan dokter manusia…Menkes kita dokter manusia kan? So ya…gitu deh…emang saat ini profesi kita masih harus berjuang dengan ular berbisa (baca : luar biasa) supaya berharga di mata masyarakat kita…

  6. weh weh rekan – rekan semua selain seniman seperti taufik ismail
    nyatanya politikus juga.
    Mudah2an aja Ibu menteri pejuang Republik Indonesia sejati
    tanpa embel -embel Amerika atas nama PBB dibelakang beliau.
    tetapi…….
    ada beberapa keraguan peneguhan diagnosa ibu menteri seorang pejuang RI
    1. Beliau terlalu berani dalam menyikapi segala persoalan lebih2 waktu
    class dng ibu tata( dir keswan waktu itu) kalau tdk ada yg membekingi dibelakang beliau
    kang beliau. Jawaban sekarang siapa dibelakang beliau
    2. Secara epidimiologis kejadian Zoonosis dari hewan kemanusia sangat aneh
    kenapa tidak kasus merebak dilegok ditangerang tapi yang kena malah
    Iwan siswara yg notabene bukan drh atau pegawai kandang (analisa
    dari kang cecep wajib dipertimbangkan dlm hal ini)
    3. Kalau amerika atas nama PBB benar kenapa LDDC DAN PDSR yg
    ditempatkan diseluruh propinsi masih dijalankan. ini berarti pengumpulan data
    sejauh mana mortalit
    as akibat flu burung ini. Artinya pisau bermata dua
    4. Kesimpulanya manusia dikorbankan tuk terpapar. dan hewan khususnya
    unggas diacak-acak budidayanya
    runyamlah negeri ini … dan mudah2 kita dijauhkan dari pengkianat2 bangsa

  7. Check this out :

    http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/03/tgl/10/time/104208/idnews/905739/idkanal/10

    (kompor deh gue.. :P)

  8. Setelah nge-klik almt yg dikasih Chimay, daku jadi makin pandai olahraga geleng2 kepala. Ammmmpuuuun dah…
    Rasanya ndak yakin, jawaban2 seperti itu yang keluar dari mulut seorang Menteri.

    No comment lebih lanjut lah…wis kadung kepilih jadi Menteri.
    Leng…geleng…geleng…
    Leng…geleng…geleng…

    putus asa daku membacanya (o_ _)o

  9. Stttt……cuplis nih masa nda ngerti sih, kalo luar negeri punya Sidney Sheldon kita punya S*** S***** kekekeke novelis baru

  10. Bagi saya Menkes kita ini luar biasa. Mutiara didalam lumpur kekuasaan para komprador pemilik modal dan imperialis . Diantara kongkalikong pengusaha penguasa yang bau busuknya tercium di lumpur lapindo dan lumpur (tailing) perusahaan-perusahaan tambang.

    Penerus cita-cita besar Soekarno ini bila tetap konsisten, gigih, pantang menyerah akan jadi suluh negeri terpuruk ini.

    DR. Dr Siti Fadilah Supari for President?!!

  11. Nah loh….ho ho ho sapa diaaa???

  12. siapa dia pie??

  13. Salam kenal Mas Andre….welcome to our blog…ajang curhat anak-anak Genetika21…hihihihihihihi

  14. andre????siapa tuh…hati hati intelkam menkes…he he…
    sory…bcanda

  15. nimbrung…hehe..
    Aa’cep…, bang Andre mungkin jg seorang seniman(musisi)…andre hehanusa gitu..hehe…canda jg neh..
    btw…its good. mulai berpolitik ni critanye…tdk apa2 drh harus bisa jg sdikit nimbrung di politik…untuk masukan buat bu Menkes, perlu jg menghormati martabat suatu profesi (khusus drh)…jd Chimay gw dukung..mari tingkatkan martabat profesi kita…smangat!

  16. hmm…….
    masalah seperti ini baiknya di cek dulu kebenarannya………
    walaupun ada kemungkinan benar…….tapi tetap saja kita harus hati2……
    karena yang namanya konspirasi……ada banyak pihak dankepentingan yang bermain didalamnya……..
    wassalam

  17. […] lengkapnya di https://genetika21.wordpress.com/2008/03/06/kuak-konspirasi-bikin-senjata-biologi-dari-flu-burung-buk… Posted in Health […]

  18. ll


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: