Posted by: genetika21 | 28 February 2008

Enterobacter sakazakii, “heat-resistant”??*

– Pristiani Nurantika –

Terlepas dari perdebatan yang terjadi baru-baru ini dan marak dibicarakan di media massa, ada baiknya kita luangkan waktu sejenak untuk sedikit mengenal bakteri Enterobacter sakazakii (E. sakazakii).

Tentang E. sakazakii

Enterobacter sakazakii adalah mikrorganisme vegetatif yang termasuk kedalam golongan famili Enterobacteriaceae, merupakan patogen oportunis yang banyak ditemukan di lingkungan sekitar kita. Selama bertahun-tahun, publikasi mengenai isolasi E. sakazakii adalah kasus meningitis neonatal atau enterokolitis nekrotikans yang dikaitkan dengan formula makanan bayi dalam bentuk bubuk. Hal ini memicu timbulnya pemikiran sebab-akibat. Pada beberapa kasus yang ditemukan kemudian, bakteri ini diisolasi dari peralatan yang dipergunakan seperti alat pengaduk yang digunakan untuk botol. Meskipun beberapa kasus menunjukkan bahwa bakteri ini tidak ditemukan pada susu formula bayi, namun pemikiran hubungan sebab-akibat tetap bertahan.

Baru saja tersedia informasi mengenai penyebaran yang luas dari bakteri ini. Publikasi terkini menyatakan bahwa E. sakazakii dapat dijumpai pada bermacam makanan, air dan lingkungan sekitar kita; termasuk rumah dan rumah sakit. E. sakazakii juga telah berhasil diisolasi pada rumah sakit-rumah sakit melalui sampel klinis yang diambil dari orang dewasa. Artikel yang ada saat ini melaporkan terdapatnya E. sakazakii dalam ASI (air susu ibu) yang disimpan dalam bank susu (milk bank).

Sebagai bakteri yang tersebar luas, E. sakazakii ternyata ditemukan pada lingkungan produsen pembuat makanan bayi. Hal inilah yang memungkinkan sebagai sumber keberadaan bakteri tersebut pada susu formula bayi. Secara umum, jumlah (kuantitas) E. sakazakii pada tingkat yang sangat rendah yang terkandung pada susu formula bayi yang telah diencerkan, atau kontaminasi dari peralatan yang dipergunakan tidak menyebabkan efek yang berarti; terkecuali apabila terjadi pertumbuhan bakteri E. sakazakii yang cepat akibat penyimpanan atau pembuatan susu yang kurang baik.

Sementara ini disimpulkan bahwa E. sakazakii merupakan bakteri yang banyak ditemukan, sebagai mikroorganisme “ubiquitous” (ada dimana-mana). Penelitian terus berlanjut dan diharapkan agar tersedia informasi tambahan terhadap penyebaran (distribusi) dari bakteri ini sehingga pada akhirnya menghasilkan kontribusi terhadap pemahaman yang lebih baik apabila terjadi pemaparan.

Bagaimana “perilaku” dari E. sakazakii?

Enterobacter sakazakii tumbuh dengan sangat cepat pada susu formula bayi (setelah diencerkan, bukan dalam bentuk bubuk) yang disimpan pada suhu ruang. Bakteri ini teradaptasi dengan baik pada kisaran suhu 37 – 44oC. Beberapa strain dari E. sakazakii memperlihatkan toleransinya sekaligus resistensinya pada kisaran suhu 50 – 60oC.

Pada publikasi yang berbeda, karakter ini disebut dengan istilah “thermo-tolerance” (memiliki toleransi terhadap suhu yang lebih tinggi; masih dapat bertahan hidup dengan suhu yang lebih tinggi), dan hal ini memicu pemahaman yang keliru dari masyarakat bahwa bakteri ini bersifat heat-resistance (tahan panas; tidak mati pada suhu yang tinggi sekalipun).

Publikasi lainnya menyatakan bahwa E. sakazakii bukanlah bakteri yang “heat-resistant” dan terbukti bahwa bakteri ini mati pada suhu dibawah 60oC, seperti yang telah diaplikasikan pada industri pengolahan susu pasteurisasi. Kenyataan ini didukung oleh badan pemerintah Amerika Serikat terkait (US-FDA; United States-Food and Drugs Administration) dan bukan lagi sebagai bahan perdebatan bagi para ahli.

Kasus Kejadian & Manajemen Rumah Sakit

Infeksi E. sakazakii banyak terjadi di ruang perawatan bayi rumah sakit. Infeksi ini diduga akibat penyimpanan susu formula bayi (yang telah diencerkan) pada suhu ruang, ataupun penghangat, agar susu dapat diberikan kepada sang bayi dengan jangka waktu yang lebih lama. Oleh karenanya, peningkatan higiena dan pelatihan petugas rumah sakit sangatlah penting untuk mencegah terjadinya wabah penyakit akibat E. sakazakii.

Beberapa hal dalam manajemen rumah sakit perlu diberikan perhatian ekstra, diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Para pelaku di dunia kesehatan yang terlibat harus menjalankan pelatihan serta mematuhi aturan manajemen risiko dalam higiena untuk mengatur, menyimpan serta menyiapkan susu formula untuk bayi dengan mengindahkan instruksi produsen mengenai pencegahan terhadap keberadaan dan pertumbuhan bakteri pathogen pada susu formula tersebut,
  • Rumah sakit harus memastikan higiena yang baik pada tempat penyiapan makanan, termasuk perlakuan desinfeksi sebelum dilakukan penyiapan susu formula bayi serta meminimalisasi selang waktu penyiapan susu formula dengan waktu bayi mengkonsumsi susu tersebut,
  • Untuk mengatasi hal-hal tersebut di atas, sangat dianjurkan untuk selalu menyiapkan susu formula yang baru setiap kali hendak memberikannya kepada bayi,
  • Masih dipertanyakan rekomendasi dari WHO-FAO yang menganjurkan untuk menyiapkan susu formula bayi menggunakan air mendidih dengan pertimbangan bahwa suhu didih air (100oC) dapat menyebabkan kerusakan nutrisi yang terkandung didalamnya.

Pemberian ASI secara langsung dari ibu kepada sang bayi harus direkomendasikan sebagai cara yang paling ideal dalam segala situasi. Mereka yang memilih untuk tidak memberikan ASI harus diberi informasi yang akurat sekaligus pendidikan mengenai pentingnya higiena dalam menyiapkan dan memberikan susu formula. Para ibu harus diajarkan untuk mempersiapkan dan cara memberikan susu formula bayi sebelum mereka meninggalkan rumah sakit.

Product Quality & Safety

Produsen makanan bayi melakukan pendekatan yang ekstensif pada tingkat produksi untuk memastikan kualitas dan keamanan produk yang terbaik dengan melakukan pendekatan:

Mengacu kepada kebijakan pemerintah serta rekomendasi internasional berdasarkan pendekatan ilmiah untuk menghasilkan pangan bayi yang aman dan bergizi,

  • Sejalan dengan standar higiena ketat yang dijalankan, produsen mengambil langkah ekstra untuk meminimalisasi kontaminasi produk akhir yang berupa bubuk, termasuk terhadap Enterobacteriaceae,
  • Melibatkan serangkaian proses “dari produsen hingga ke konsumen”.

Sebagai contoh, tindakan yang dapat dilakukan produsen adalah sebagai berikut:

monitoring secara ketat terhadap kandungan produk yang dihasilkan, terutama bahan-bahan yang ditambahkan pada tahap akhir setelah proses pemanasan selesai;

melakukan pendekatan ekstensif untuk meminimalisasi kontaminasi bakteri Enterobacteriaceae maupun Coliform setelah proses pengolahan;

melatih tenaga kerja dan memastikan bahwa pendekatan kontrol higiena telah dikuasai dan dijalankan dengan baik;

menguji produk akhir untuk memastikan efektifitas dari prosedur yang telah dijalankan.

Penutup

Kekhawatiran yang timbul akibat pemberitaan dimedia massa rasanya tidak perlu berlebihan, karena seperti yang telah disebutkan pada bagian awal tulisan ini bahwa E. sakazakii adalah bakteri patogen oportunis yang terdapat di lingkungan sekitar kita. Tindakan paling penting saat ini adalah menjaga stamina sang buah hati dengan senantiasa memperhatikan higiena (kebersihan) terutama dalam merawat mereka.

Penelitian yang dilakukan terhadap kasus dugaan radang selaput otak bayi (meningitis) akibat konsumsi susu formula bayi kiranya dapat dijadikan sebagai salah satu bahan pertimbangan untuk melakukan penelitian lebih lanjut ataupun sebagai koreksi; baik terhadap penyedia jasa, pelayanan publik maupun terhadap para ibu rumah tangga, sehingga dapat dilakukan langkah-langkah yang lebih baik dan terarah untuk mewujudkan Indonesia yang sehat.

Pendekatan ilmiah serasa percuma bilamana tidak diimbangi dengan dukungan pemegang kebijakan karena egoisme tidak akan menyelesaikan permasalahan yang ada, melainkan justru akan membawa bangsa ini kedalam keterpurukan.

Semoga tulisan ini memberikan manfaat.

Bogor, 26 Februari 2008

Penulis

* diambil dari berbagai sumber


Responses

  1. Eh eh, ada apaan sih sebenernya, kok gua dapet sms katanya ada rame-rame antara Menkes ma FKH IPB?

    Ini ada hub.nya ma komennya fetty di tulisannya mas Langgeng ya?

  2. belum selesai “konflik” Dokter hewan vs Dokter manusia dalam penanganan AI/Flu Burung, udah ada lagi masalah bakteri dalam makanan bayi.

    Miris rasanya ngeliat berita di TV tentang keterangan yang diberikan Menkes masalah penemuan bakteri pada susu formula untuk bayi, ditambah lagi malam kemarin jg ada seorang kolega (gunjal) sms yang isinya : “Menkes Siti Fadilah secara terang terangan menyepelekan peneliti dan dosen IPB, dan menghina korp veteriner. RCTI 27 Peb . Liputan Petang.”

    Thanks to Ibu Pristi, bagus banget tulisannya bu, mungkin ibu Menteri Kesehatan DR. Siti Fadilah Supari perlu juga membaca tulisan tulisan seperti ini, sehingga tidak perlu keluar ucapan yang kurang bijak dari orang paling tinggi di kalangan Kesehatan. Penemuan bakteri ini di makanan bayi sebenarnya sudah lama, tp di Indoesia baru di publikasikan. temuan temuan seperti ini seharusnya ditanggapi dengan bijak, dan tidak perlu untuk menyepelekan profesi lainnya.

    Kalau Ibu Menkes bilang “itu kan penelitian di tikus, kamu mau disamakan sama tikus?” mungkin ibu DR Siti Fadilah tidak tau kalau selama ini untuk percobaan digunakan hewan ya?

    Saya setuju pernyataan terakhir penulis ” egoisme tidak akan menyelesaikan permasalahan yang ada, melainkan justru akan membawa bangsa ini kedalam keterpurukan”.

    di protes pristi katanya kepanjangan hehe

  3. Ya ampun…tega banget bu Mentri…

  4. Thank bu pristi tulisan, dapat nambah wawasan…Bapak andi gimana sebgai pejabat, sudah siapakan masa belum tuk demo ibu menteri….??sekali dokter hewan bersuara lantang lah di jalan biar masyrakat pikirannya terbuka….

  5. kemaren mahasiswa S2 IPB sudah demo kok yan masalh ini, tp kl sekedar demo kan bs tambah runyam. mungkin peran PDHI nih yg perlu maju, krn nama profesi kedokteran hewan yg dilibatkan.

    jadi bapak ibu yg terlibat di PDHI bisa juga tuh mengajukan tuntutan atau apa gitu ke menteri kesehatan krn pelecehan profesi. gimana secara yuridis kl begitu pak C. M. Wahyudin?

  6. ngomong2 bu menteri bilang apa sih??

    kok nyari di detik com gak ada ya. please

  7. Dari komen Andi :

    Ibu Menkes bilang “itu kan penelitian di tikus, kamu mau disamakan sama tikus?”

    Gitu es…kamu buka google deh, keywordnya “enterobacter sakazakii, susu formula…” .. banyak file yang dari web-web berita lain selain detik.com…

  8. Kado buat penganten baru deh, artikel Koran, biar ga ketinggalan berita ya Bu Esthi
    ——–

    Kontroversi kandungan bakteri sakazakii
    Susu bayi tetap aman diminum
    Mentri kesehatan menuding ada kepentingan bisnis di balik penelitian IPB.

    Jakarta- Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari meminta masyarakat tidak panik dan khawatir mengkonsumsi susu dan makanan bayi yang dikabarkan tercemar bakteri E. sakazakii. Sebabm belum ada keterangan resmi dari pemerintah bahwa merek susu dan makanan bayi itu tercemar dan dilarang beredar. “Tidak ada penyakit dalam susu itu”, katanya di sela rapat kabinet paripurna di kantor presiden.

    Siti akan meminta keterangan dari tim peneliti IPB. Saat ini BPOM sedang memeriksa produk terkait. Perusahaannya juga akan diperiksa, katanya.

    Tim peneliti IPB pada senin lalu mengungkapkan 22 % susu formula dan 40 % makanan bayi terkontaminasi E. sakazakii. Kesimpulan itu diperoleh dari penelitian yang dilakukan pada 2003-2006. Bakteri itu bisa menimbulkan radang pada usus sehingga bayi mudah sakit, ujar Dr. Sri Estuningsih, peneliti IPB.

    Siti menduga ada kepentingan di balik penelitian itu. Sebab, penelitian tidak didahului oleh kasus bayi yang terkena penyakit atau diare sebelumnya. “Gak ada angin gak ada hujan. Ini aneh.” Siti menuding penelitian itu dibiayai oleh perusahaan asing dari Jerman.
    —–> “Prinsip ibu menteri sepertinya lebih baik mengobati daripada mencegah ya???”

    Melalui telepon, Sri Estuningsih mengakui penelitian itu antara lain didanai oleh Milk Science Institut yang bermarkas di Jerman serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Namun, ia menegaskan tidak ada secuil pun motif kepentingan bisnis dalam penelitian itu. Saya disumpah untuk selalu berlaku jujur, professional dan bertanggung jawab.

    Ketua IDI Prof. Fahmi Idris juga mengkritik kesimpulan tim peneliti IPB. Sebab penelitian baru dilakukan terhadap mencit (tikus kecil) yang tidak dapat digeneralisasi pada manusia.

    Ini isu murahan, seolah sudah terjadi pada manusia. Seharusnya, Fahmi menegaskan, penelitian itu dibuktikan melalui studi epidemiologi, bukan dengan hewan percobaan. Penelitian dengan melihat secara alami perkembangan bayi yang minum susu, ujarnya.
    —->“Ini juga sama prinsipnya dengan ibu menteri ???”

    Ia menjelaskan, ada kriteria yang harus dipenuhi oleh sebuah hasil penelitian sebelum disimpulkan dapat terjadi pada manusia. Salah satunya harus memenuhi biological gradient, yaitu berapa banyak jumlah bakteri yang secara bermakna dapat mengakibatkan seseorang sakit.

    Sementara itu, penelitian di IPB belum membuktikan terjadi pada manusia. Kalaupun ada penelitian serupa, kata Fahmi, kasus terjadi pada bayi yang baru lahir dalam keadaan premature. Itu pun belum diketahui secara pasti penyebabnya, apakah berasal dari susu yang terkontaminasi atau dari faktor eksternal, misalnya proses pemberian susu kepada bayi.

    Saat ini tren terkontaminasinya susu semakin menurun karena semakin baiknya proses produksi.

    Meskipun begitu Fahmi mengakui, tidak ada jaminan kontaminasi nol karena susu bukan obat. Bahkan obat pun kalau dicari ada yang terkontaminasi.
    —–>“Kenyataan yang menyedihkan kok dibanggakan ya”

    Akibat isu ini, Fahmi melanjutkan banyak dokter anak yang kerepotan karena banyak masyarakat yang bertanya. “Jangan gara-gara ini, semua takut minum susu katanya.”

    Koran Tempo, Kamis – 28 February 2008

    ini lebih panjang lagi….hehehe…tp gak papa, demi ilmu pengetahuan

  9. he3…jadi rame lg …seru deh…
    lumayan nambah2 ilmu pngetahuan…
    krn sejujurnya gara2 ksus ini jadi tau Enterobacter sakazakii…
    soalnya klo ga salah mah qta ga pernah diajarin ya….
    ato diriku yg lupa ya???…
    mmm… udah biasa kyanya itu mah…^_^

  10. Nah loh…rasaan semua penelitian yang ada hubungannya ma kesehatan manusia di mulainya di hewan dulu deh…atuh kumaha atuh kalo langsung percobaan di bayi???

  11. he he maaf ibu pipie bukan gak lihat tv, lihat tv bahasa jepun semua gak ngerti daku he he.
    kmrn dah buka2 web baru ngeh he he.

    iya bukannya memang penelitian di manusia dr hewan dulu?? harusnya penelitian ini sebagai temuan bagus untuk mencegah, kalo mencit aja bisa ada efeknya kalo dibiarkan apa tidak bisa ke manusia?? nah lho??

    tapi kalo melihat bu menkes memang beliau kurang punya kode etik he he kalo berkomentar.

  12. ngomong-ngomong, info dong tadi malem gmana acara Kontroversi? g ketiduran. kelnjutannya spt apa? soalnya g baca di running text TVOne, kaget juga beritanya: Pemerintah dan IPB sepakat bahwa susu formula di Indonesia aman utk dikonsumsi, tidak berbakteri..etc.
    Kumaha iyeu teh?

  13. jadi yg di TV ketua PDHI gimana ndi?? beritanya dong

  14. eh esthi…udah di nihon lagi niy ceritanya? lagi honeymoon?

  15. Ndi, wayahna we nya, secara moderator…bikin tag khusus resume Kontroversi….hohohehehee

    moderator jg manusia….hehe.mohon maap banget,gw jg ketiduran…jarang bangun ampe jam segitu kecuali ada ”kegiatan penting”, berhubung sedang tidak boleh melakukan ”kegiatan penting” ya bobo ajah deh…

    mungkin ada temen yg punya info resume acara kontroversi?bisa dikirim ke saya buat di muat. Hatur nuhun pisan….

  16. he he boro2 honeymoon blm sempat honeymoon dah disuruh pergi.
    mana tahan he he

    disuruh pergi ama teguh es??? Sungguh terlalu…..

  17. pergi karena tugas pak demi imu pengetahuan (weeks)

    tapi kalo ilmu kedokteran hewan diremehkan seperti itu gimana ya???

  18. walah…penganten baru koq dah ngambek2an, piye tho Es??
    Jgn gitu lah, masa 1 di mal ‘n 1 di jepun…olok ongkos tah!!!
    Mending buat beli susu…. he3 (^____^)v

  19. hidup sfc…minggu depan para sfc mania akan menemui menkes,

  20. sfc teh apaan?

  21. Sakazakii Fans Club?

  22. tulisan yang informatif bagi saya, jadi tahu kalau thermo-tolerance jelas tidak berarti heat-resistance..
    tapi mengenai rentang suhu sampai 60 derajat Celcius itu, saya kutip bagian ini (apa salah tulis ya?)

    dan terbukti bahwa bakteri ini mati pada suhu dibawah 60oC,

  23. I have had issues in the past with apps that allowed
    users to scan, but fortunately this scanner worked perfectly.
    How well does the memory foam with your bed disperse warmth.
    Don’t forget that the supply of the Sun’s energy
    is endless.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: