Posted by: genetika21 | 10 January 2011

Kematian Burung

Media Indonesia, 9 Januari 2011

AUTOPSI pendahuluan yang dilakukan pada 17 dari 5.000 burung hitam di Kota Beebe, Arkansas, Arkansas, mengindikasikan mereka mati akibat trauma pada organ mereka, kata dokter hewan terkemuka di kota tersebut.

Hal itu memperkuat teori bahwa mereka terkejut oleh sesuatu. Estimasi jumlah burung yang mati bertambah menjadi antara 4.000 dan 5.000, meningkat tajam dari estimasi sebelumnya yaitu 1.000.

Cuaca yang ganas menghantam negara tersebut. Petir dapat langsung membunuh burung atau mengejutkan mereka sampai mereka kebingungan. Hujan es juga dapat menjatuhkan burung dari angkasa.

 

Posted by: genetika21 | 10 January 2011

1.000 Burung Mati Misterius di Italia

Tempo Interaktif, 9 Januari 2011


Ravenna – Setelah kematian massal burung dan ikan di Arkansas, Texas, Swedia, dan Selandia Baru, kini giliran Italia. Sebanyak 1.000 burung jenis merpati jenis turtle dove  ditemukan mati di Ravenna, Italia.

Selama lima hari terakhir para ahli hewan dan petugas dari komisi kehutanan sibuk mengambil tubuh burung yang mati. Kematian 1.000 burung yang mati ini merupakan kematian terbesaar di Eropa, sebelumnya di Swedia ada 50 burung jackdaws mati bersamaan.

Burung-burung ini mati sebagian besar ditemukan di wilayah industri di pinggiran Faenza, tapi beberapa juga ditemukan di pepohonan, jalanan dan trotoar. Sebuah koran lokal menulis: “Mari kita berdoa bahwa burung tersebut mati karena sakit atau keracunan bukan karena tanda-tanda kiamat.”

Menurut Masimo Bolognesi, aktivis lingkungan laporan pertama pada Minggu lalu, sejak itu setiap hari ada laporan yang masuk. Kemungkinan burung-burung itu keracunan bila melihat tanda-tanda di tubuhnya. Namun masih diperlukan tes lebih dalam, hasilnya baru akan keluar pekan depan. “Tapi bila melihat jumlah kematian yang besar peristiwa ini sangat misterius,” ujarnya.

Sebelumnya, di Arkansas sekitar 5.000 burung mati di dekat Kota Little Rock malam tahun baru lalu. Burung-burung nahas itu kebanyakan blackbird sayap merah (Agelaius phoeniceus) dan starling (Sturnidae). Burung-burung itu jatuh di area seluas 1,6 kilometer di wilayah Beebe, Barat Laut Little Rock. Setelah diteliti burung-burung ini tewas karena ketakutan mendengar suara kembang api saat pergantian tahun.

 

Posted by: genetika21 | 10 January 2011

Bangkai Burung Merpati Berjatuhan dari Langit

Republika, 8 Januari 2011

FAENZA–Di kota Italia, Faenza, ratusan atau kemungkinan bahkan ribuan burung merpati berjatuhan dari langit dalam keadaan mati.
Bangkai burung tergantung di pohon-pohon, ditemukan tersebar di taman, atap dan jalan-jalan. Demikian media lokal Jumat (07/01) melaporkan.
Juga ditemukan noda biru pada paruh burung-burung. Ini kemungkinan disebabkan keracunan atau kekurangan oksigen. Sejumlah bangkai burung telah dikirim ke laboratorium yang akan menyelidiki penyebab kematian.
Sebelumnya di Amerika Serikat terjadi hal serupa. Di Arkansas sekitar lima ribu burung mati berjatuhan dari langit. Di Louisiana lima ratus. Burung kemungkinan mati akibat hujan es atau petir. Juga di Swedia burung berjatuhan dalam keadaan mati. Masih belum jelas apa penyebabnya.

 

Posted by: genetika21 | 10 January 2011

Sudah 50 Warga Inggris Meninggal Karena Flu Babi

Republika, 7 Januari 2011

London–Sejak Oktober 2010, sudah 50 warga Inggris meninggal karena flu babi. Hal ini mencemaskan otoritas kesehatan negara itu, mengingat persediaan vaksin yang menipis.
Sky News melaporkan, banyak pasien yang marah karena permintaan vaksinasi tidak dilayani. Banyak rumah sakit yang menyatakan persediaan vaksin mereka telah habis.
Profesor Dame Sally Davies, pejabat Kementerian Kesehatan ad interim  mengatakan sisa stok vaksin flu babi tahun lalu akan digunakan. Menurutnya, mereka masih memiliki  12,7 juta dosis vaksin  Pandemrix keluaran GlaxoSmithKline dan pemerintah akan segera mengatur pengadaannya.
Ia menyatakan, vaksin itu agak segera diberikan bagi mereka yang berada dalam kelompok berisiko. “Segeralah menghubungi petugas kesehatan, dan akan kami prirotaskan,” ujarnya.
Ia menyatakan pemerintah juga masih menyimpan stok vaksin flu musiman. Meskipun tidak akan menawarkan perlindungan terhadap semua strain flu yang beredar tahun ini, inamun diyakini akan melindungi mereka dari  flu babi.

 

Posted by: genetika21 | 10 January 2011

Kematian Massal Jadi Fenomena Global

Kompas.Com, 7 Januari 2011

FLORIDA, – Semakin banyak binatang yang ditemukan mati saat kematianmisterius burung dan ikan secara massal telah berubah menjadi fenomena global.

Dua kejadian terpisah paling akhir adalah kematian ribuan ikan di sebuah sungai di Florida dan 200 unggas di Texas, Amerika Serikat. Ribuan ikan ditemukan mati membusuk dan mengambang di Spruce Creek, Florida, setelah periode cuaca dingin. Ikan belanak, ladyfish dan catfish (sejenis lele) berserakan di tikungan di sepanjang sungai.

Selain itu, 200 unggas juga ditemukan mati di sebuah jembatan di jalan raya yang melintasi Danau O ‘Pines di Big Cypress Creek, Texas. Para ahli percaya, burung-burung itu telah ditabrak kendaraan yang melintas atau tampaknya berusaha untuk bertengger di atas jembatan.

Sementara itu, dari Swedia dilaporkan, para ahli telah melakukan tes terhadap sekitar 50 burung gagak yang ditemukan mati di sebuah jalan di Falkoping, Swedia, yang tampaknya mengalami nasib yang sama seperti ribuan sepupu mereka yang jatuh dari langit dalam insiden terpisah di Amerika Serikat. Para ahli Swedia mengatakan, kejutan akibat kembang api yang ditembakkan di kota terdekat, di tenggara negara itu, dan kesulitan mencari makanan mungkin telah menyebabkan kematian burung-burung gagak itu.

Para ilmuwan juga telah dibuat bingung oleh sedikitnya 100 ton sarden, croaker dan catfish yang mati di sepanjang pantai Brasil, dekat Paranagua. Ribuan nelayan Brasil kini berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka setelah penjualan makanan laut dihentikan sementara saat jutaan ikan itu ditemukan mati di Paranagua, Antonina dan Guaraqueçaba Pontal do Paraná.

Para ahli telah berspekulasi bahwa cuaca dingin atau kebocoran bahan kimia mungkin saja berada di balik kematian itu. Edmir Manoel Ferreira, Presiden Federasi Nelayan dari Parana, mengatakan, kematian ikan itu telah ditemukan sejak Kamis pekan lalu. “Pada hari Kamis kami mulai menemukan banyak ikan mati. Satu komunitas harus mengubur 15 ton ikan. Kami mengalami situasi yang sangat menyedihkan di pantai itu.” Contoh ikan-ikan yang mati itu telah dikirim ke Pusat Studi Kelautan di Universidade Federal do Parana.

Sementara dari Selandia Baru, ada laporan, Kamis, bahwa telah terjadi lebih banyak kematian ikan, dan di Inggris, bangkai 40.000 ekor kepiting setan (devil crabs) berserakan di pantai Kent. Cuaca dingin di Inggris juga telah disalahkan sebagai sebab kematian 40.000 kepiting Velvet – juga dikenal sebagai kepetigin ‘setan’, yang ditemukan mengotori pantai di Thanet. Tahun lalu, Badan Lingkungan Hidup melakukan sebuah penyelidikan atas sejumlah kasus kematian yang tidak dapat dijelaskan di tengah kekhawatiran bahwa virus misterius mungkin sebagai penyebab. Namun kemudian disimpulkan, kematian kepiting itu terkait dengan cuaca dingin.

Di Kentucky, Gilbertsville, ratusan burung jalak dan robin ditemukan mati, dan sekitar dua juta ekor ikan mati terdampar di Chesapeake Bay, Maryland. Ikan-ikan itu merupakan kelompok terbaru dalam serangkaian kejadian kematian binatang yang dikatakan sebabkan oleh kembang api dalamperayaan Tahun Baru, badai, cuaca dingin, parasit, bahkan keracunan. Di internet bahkan berkembang teori konspirasi bahwa eksperimen rahasia pemerintah berada di balik fenomena kematian itu, atau hal itu telah menjadi tanda Armageddon menjelang berakhir kalender Maya tahun depan. Tes sedang dilakukan pada hewan-hewan yang mati itu tetapi hasilnya belum diperoleh.

 

Posted by: genetika21 | 10 January 2011

Dua Terduga Rabies Di Bali Meninggal

Antara, 7 Januari 2011

Denpasar, 7/1 (ANTARA) – Dua pasien terduga rabies yang dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar meninggal dunia dalam kurun waktu yang berbeda.
“Kedua pasien yang berasal dari Kabupaten Klungkung yang pernah digigit anjing itu adalah DewaNyoman Kartika (43) dan Wayan Citra (58),” kata Sekretaris Tim Penanganan Rabies RSUP Sanglah dr IGB Ken Wirasandhi di Denpasar, Jumat.
Dia mengatakan, dari kedua pasien yang menjadi korban keganasan rabies itu, terdapat ketidakwajaran yakni salah satu pasien yang meninggal, Wayan Citra, berasal dari Pulau Nusa Penida yang selama ini tidak pernah ada kasus virus rabies.
Menurut dia, selain penduduknya cukup sedikit, Nusa Penida letaknya terpisah oleh lautan dengan Pulau Bali.
Korban Wayan Citra tidak sampai 24 jam dirawat di ruang Nusa Indah RSUP Sanglah. Dia tiba di RS Sanglah pada Kamis (6/1) dan menemui ajal pada Jumat sekitar pukul 01.00. Saat dirujuk ke RSUP Sanglah, kondisi wanita paruh baya itu memang sudah kritis dan mengalami gejala klinis rabies.
Ken menjelaskan, kondisi klinis korban tersebut, berdasarkan laporan yang diterima, Citra digigit anjing sekitar sebulan yang lalu. “Korban digigit pada betis kirinya dan tidak pernah mendapatkan vaksin antirabies (VAR),” ujarnya.
Sementara Kepala Dinas Kesehatan Bali dr Nyoman Sutedja mengatakan, pihaknya terkejut terkait munculnya korban jiwa akibat rabies yang berasal dari Pulau Nusa Penida.
“Dengan demikian warga tersebut adalah korban jiwa pertama akibat terkena virus rabies di Nusa Penida,” ujar dr Sutedja.
Menurut dia, ketakutan dirinya bahwa penyakit akibat gigitan hewan penyebar rabies itu sampai menyeberang pulau saat ini agaknya sudah terbukti.
Untuk itu dia akan mengambil tindakan lanjutan agar tak jatuh korban berikutnya. “Kami akan melakukan sosialisasi ke sekolah dan warga desa. Kemudian melaksanakan vaksinasi dan eliminasi anjing liar,” tutur Sutedja.
Namun, untuk melaksanakan hal tersebut, ia mengakui banyak menghadapi kendala karena medan yang sulit dan jauh sehingga cukup kesulitan untuk bergerak

 

Posted by: genetika21 | 5 January 2011

Flu Burung Tewaskan 300 Unggas Setahun Lalu

Pikiran Rakyat, 5 Januari 2011

NGAMPRAH, (PR).-Sepanjang 2010, terjadi lima belas kasus flu burung di delapan kecamatan di Kabupaten Bandung Barat, yang menyebabkan 300 unggas mati. Jumlah tersebut merupakan penurunan secara stabil dari tahun-tahun sebelumnya sejak 2007.

“Jumlah keseluruhan unggas, terutama ayam yang terdata sekitar 250.000 ekor. Jumlah kasus maupun unggas yang mati itu tergolong kecil dan menurun dari tahun-tahun sebelumnya. Selain itu, tidak kasus penularan virus AI (avian influenza) kepada manusia, apalagi sampai korban jiwa,” ujar Kepala Seksi Kesehatan Hewan pada Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bandung Barat Wiwin Aprianti, saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (4/1).

Dia mengatakan, kasus flu burung pada 2010 terjadi di 15 titik yang tersebar di Kecamatan Parongpong, Cisarua, Padalarang, Lembang, Batujajar, Ngamprah, Cililin, dan Cipatat. Menurut Wiwin, penularan terjadi di jalur lalu lintas unggas seperti pasar.

Wiwin menjelaskan, penyebaran virus flu burung yang membunuh unggas terjadi pada periode Januari sampai Maret 2010, ketika musim hujan. Menurut dia, musim hujan dengan kondisi kelembapan tinggi sangat mendukung perkembangan virus flu burung dalam tubuh inang berupa unggas dan mudah menyebar ke unggas lain.

“Oleh karena itu, menghadapi musim hujan 2011, masyarakat diharapkan ikut aktif mengantisipasi perkembangan dan penularan virus flu burung dengan vaksinasi unggas dan desinfeksi (pembersihan) perkandangan secara rutin. Unggas, terutama ayam kampung sangat rentan terkena virus ini pada saat kondisi lembap, karena jenis ayam ini tidak diperlakukan khusus (vaksinasi dan lainnya) seperti ayam peternak,” ujarnya.

Tim khusus

Dia menjelaskan, Dinas Peternakan juga sudah menyebarkan 13 tim yang masing-masing beranggotakan 2 orang ke lima belas kecamatan, secara khusus untuk menanggulangi masalah flu burung.

Berdasarkan data dari Dinas Peternakan Kabupaten Bandung Barat, pada 2007 terdapat 1.082 unggas mati karena flu burung. Pada 2008 (29), 2009 (727), dan 2010 (300).

Wiwin menjelaskan, sejak 2007 sampai 2008 terdapat beberapa terduga (suspect), tetapi tak sampai menyebabkan korban manusia meninggal. Sementara pada 2009 sampai 2010 tidak ada kasus penularan virus flu burung kepada manusia. Keterlibatan warga yang aktif melaporkan, kasus ini sangat membantu pemerintah. (A-168)***

 

Older Posts »

Categories