Posted by: genetika21 | 18 June 2010

Kumpulan Berita Veteriner Hari Ini 18/06/2010

INDEX:

1.      Suara Pembaruan: Rabies Menyerang Toraja

2.       Antara: WARGA BANDA ACEH DIIMBAU WASPADAI RABIES

3.       Antara: DISNAK BALI INTENSIFKAN VAKSINASI DAN ELIMINASI ANJING

4.       Antara: DUA KASUS FLU BURUNG DITEMUKAN SELAMA 2010

5.       Republika : Virus H1N1 Bertukar Gen pada Babi

6.       Equator News On line : Permintaan Ayam Potong Menurun

7.       Kompas.com : Babi Hong Kong Kedatangan Virus Flu Babi

***

1. Suara Pembaruan

17 Juni 2010

Rabies Menyerang Toraja

Daerah tujuan wisata (DTW) Toraja mengalami angka tertinggi penyebaran penyakit rabies di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel). Untuk memberantas rabies, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sulsel saat ini mengalami kekurangan vaksin.Padahal penyebaran penyakit tersebut telah meluas ke 10 kabupaten/kota di Provinsi Sulsel. Selama tiga tahun terakhir, perkembangan penyakit rabies di Sulsel cukup tinggi. Pada tahun 2007 terjadi 116 kasus, 2008 naik menjadi 160 kasus, 2009 terjadi 114 kasus, 2010 pada posisi April terdapat 33 kasus di 10 kabupaten dan kota, meliputi Kabupaten Toraja Utara, Toraja, Bone, Maros, Pinrang, Luwu Timur, Pangkep, Barru, Takalar dan Palopo, menyebar di 26 kecamatan dan 30 desa.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sulsel, Murtala Ali kepada SP di Makassar, Kamis (17/6) pagi mengatakan, sejak 2005 sampai sekarang, Tana Toraja menempati urutan teratas penyebaran penyakit rabies dan 2008 paling tinggi, mencapai 65 kasus. [148]

2. Antara

17 Juni 2010

WARGA BANDA ACEH DIIMBAU WASPADAI RABIES

Banda Aceh, 17/6 (ANTARA) – Warga Kota Banda Aceh diimbau mewaspadai penularan rabies karena masih maraknya kasus gigitan hewan pada manusia di daerah itu.  “Kita mengimbau warga agar mewaspadai gigitan hewan seperti anjing, kucing dan kera agar segera ditangani sehingga tidak tertular rabies,” kata Kasi Peternakan Dinas Peternakan, Pertanian, Perikanan dan Kelautan (P3K) Kota Banda Aceh, drh Mustafa di Banda Aceh, Kamis.  Mustafa merincikan, selama tiga bulan pertama 2010 terjadi sepuluh kasus gigitan hewan pada manusia namun hanya tiga kasus yang mengarah ke rabies.
Sepuluh kasus tersebut terdiri dari enam kasus pada Januari, satu kasus pada Februari selebihnya terjadi pada Maret 2010 yaitu dua kasus akibat gigitan anjing, masing-masing empat kasus akibat gigitan kera dan kucing. Dikatakannya, jumlah kasus tersebut menurun dibandingkan 2009 yaitu sebanyak 26 kasus gigitan hewan sedangkan yang mengarah ke rabies mencapai 11 kasus. “Memang jumlah kasus menurun dibandingkan sebelumnya namun kita tetap waspada dan mengimbau masyarakat untuk menangani dengan tepat jika digigit hewan,” tambahnya. Rabies atau penyakit anjing gila bisa ditularkan ke manusia melalui gigitan hewan seperti anjing, kucing, kera, rakun, dan kelelawar. Penyakit yang disebabkan virus rabies itu dapat menyebabkan kematian. Maka diimbau untuk melakukan penanganan yang tepat yaitu segera membersihkan luka gigitan dengan air mengalir dan memakai sabun sekitar lima menit. Setelah dibersihkan, luka diberi yodium tincture (betadine) atau alkohol 70 persen lalu segera bawa penderita ke Puskesmas atau rumah sakit terdekat untuk penanganan lebih lanjut.
“Setiap kejadian pengigitan dilaporkan kepada petugas atau dokter hewan dan pastikan kucing, anjing dan kera sudah divaksin rabies,” tambah Mustafa. Selain imbauan, upaya lain yang dilakukan adalah melakukan eliminasi dua kali setahun terutama terhadap anjing liar. Pada Maret 2010, P3K Kota Banda Aceh telah mengeliminasi 239 ekor anjing.
Diperkirakan saat ini terdapat 800 ekor anjing liar di sembilan kecamatan di Kota Banda Aceh dengan estimasi sedikitnya 20 ekor anjing di setiap kecamatan. Sementara pada 2006-2009 diperkirakan sebanyak 1.800 ekor anjing liar. (T.D016/B/Z003)
(T.D016/B/Z003/Z003) 17-06-2010 15:50:52 NNNN

3. Antara

17 Juni 2010

DISNAK BALI INTENSIFKAN VAKSINASI DAN ELIMINASI ANJING

Denpasar, 17/6 (ANTARA) – Dinas Peternakan Provinsi Bali mengintensifkan pelaksanaan vaksinasi dan eliminasi anjing, sebagai upaya menangani penyakit rabies secara tuntas.  “Kegiatan vaksinasi yang dilakukan secara berkesinambungan itu hingga kini telah mencapai 304.275 ekor atau 67,92 persen dari perkiraan populasi anjing sebanyak 447.966 ekor,” kata Kabag Publikasi dan Dokumentasi Biro Humas dan Protokol Pemprov Bali I Ketut Teneng di Denpasar, Kamis.
Ia mengatakan, vaksinasi tersebut meningkat 7.477 ekor dibanding akhir Mei 2010 yang tercatat 296.798 ekor. Kegiatan tersebut juga disertai dengan eliminasi anjing-anjing liar atau binatang yang tidak mendapat perawatan dari masyarakat.
Eliminasi tersebut hingga kini mencapai 85.472 ekor atau 19,08 persen dari jumlah estimasi populasi.
Upaya eliminasi tersebut juga menunjukkan adanya peningkatan dibanding akhir Mei 2010 yang hanya tercatat 84.199 ekor.  Ketut Teneng menjelaskan, tindakan eliminasi terhadap anjing liar itu dilakukan oleh petugas Dinas Peternakan kabupaten/kota se-Bali bekerja sama dengan desa adat setempat.  Kegiatan eliminasi maupun vaksinasi itu dilakukan secara berkesinambungan dengan harapan tidak ada lagi anjing yang berkeliaran sesuai peraturan daerah (Perda) Nomor 15 tahun 2009 tentang Penanggulangan Rabies. Berbagai upaya tersebut diharapkan mampu menanggulangi penyakit rabies secara tuntas di Bali pada 2012. Upaya merpercepat pengendalian dan pemberantasan penyakit rabies lebih menekankan pada peningkatan vaksinasi dan eliminasi hewan penular rabies (HPR) di seluruh kabupaten/kota, ujar Ketut Teneng. B/Z003 (T.I006/B/Z003/Z003) 17-06-2010 15:26:06 NNNN

4. Antara

17 Juni 2010

DUA KASUS FLU BURUNG DITEMUKAN SELAMA 2010

Banda Aceh, 17/6 (ANTARA) – Dinas Peternakan Kota Banda Aceh menemukan dua kasus flu burung (avian influenza) yang disebabkan virus H5N1 pada ternak unggas milik warga setempat hingga pertengahan 2010.  “Kasus kematian unggas akibat virus flu burung terjadi pada Februari lalu,” kata Kasi Peternakan Dinas Peternakan, Pertanian, Perikanan dan Kelautan (P3K) Kota Banda Aceh drh Mustafa di Banda Aceh, Kamis. Kedua kasus tersebut terjadi di desa Ie Masen Kayee Adang dan Pango, Kecamatan Ulee Kareng, masing-masing ditemukan 30 unggas mati di Ie Masen dan 18 ekor di Pango. Mustafa mengatakan, kasus tersebut diketahui setelah masyarakat melaporkan kematian unggas di desanya kepada dinas terkait sehingga cepat ditangani dan tidak menular pada unggas lain. “Sesuai dengan ketentuan FAO bahwa jika ada 20 unggas yang mati, unggas lain harus dilindungi, kami segera tangani jika ada laporan dari masyarakat,” tambahnya.
Untuk setiap unggas yang mati, Pemerintah Kota Banda Aceh memberikan ganti rugi sebesar Rp15.000 Sementara hingga November 2009, tercatat 14 kasus flu burung di Kota Banda Aceh yaitu tujuh kasus di Kecamatan Kutaraja, dua di Kecamatan Meuraxa, dua di Kecamatan Jaya Baru. Kasus flu burung di ibukota Provinsi Aceh pada 2009 meningkat dibandingkan 2008 yang terjadi sebanyak empat kasus. Kota Banda Aceh merupakan salah satu daerah dari 10 kabupaten/kota di Aceh yang ditemukan kasus flu burung pada 2008. Namun saat ini belum ditemukan kasus flu burung pada manusia di Aceh. Flu burung yang disebabkan virus H5N1 sempat marak di Indonesia pada 2007 bahkan hingga menyebabkan kematian pada manusia.
Mustafa mengatakan masyarakat perlu memperhatikan kebersihan kandang unggas dan segera mencuci tangan setelah kontak langsung dengan hewan tersebut. Selain itu, kandang unggas perlu disemprot disinfektan untuk mematikan virus penyakit. (T.D016/ (T.D016/B/N002/N002) 17-06-2010 17:00:31 NNNN

5. Republika

18 Juni 2010

Virus H1N1 Bertukar Gen pada Babi

REPUBLIKA.CO.ID, HONG KONG–Virus flu babi H1N1 telah menyebar secara diam-diam pada babi di Hong Kong dan bertukar gen dengan virus lain. Para peneliti mengatakan temuan itu mendukung seruan bagi pengawasan lebih ketat penyakit pada babi sebelum virus tersebut menyerang manusia dan obat baru dapat dihasilkan.

Temuan yang disiarkan di majalah Science, Jumat (18/6), penting karena mendukung teori bahwa virus flu yang menyerang babi dapat bertukar gen dengan virus lain yang ada pada hewan tersebut, termasuk virus yang lebih berbahaya seperti virus flu unggas H5N1 atau H9N2.

Malik Peiris, ahli mengenai influenza yang mengerjakan studi itu, mengatakan temuan tersebut menggarisbawahi pentingnya pengawasan penyakit pada babi. “Itu memperlihatkan virus wabah dapat dengan mudah kembali ke babi. Segera setelah itu terjadi, virus tersebut dapat menyebar lagi bersama virus lain babi dan meningkatkan potensi konsekuensi yang tak terduga,” kata Peiris, profesor mikrobiologi di University of Hong Kong.

Peiris dan rekannya, termasuk Guan Yi di University of Hong Kong, telah menemukan virus wabah H1N1 pada kain penyeka hidung dari babi yang kelihatan sehat di rumah jagal Hong Kong selama pemeriksaan rutin sejak Oktober 2009.

“Dari analisis genetika, apa yang ditunjukkan ialah masing-masing virus yang kami temukan pada babi tersebut berasal dari manusia,” kata Peiris dalam satu wawacaran telefon dengan wartawan Reuters, Tan Ee Lyn. “Tak mengejutkan karena virus wabah muncul dari babi, jadi tak mengejutkan bahwa virus itu kembali ke babi,” katanya.

Satu sampel yang dipisahkan dari babi di Hong Kong pada Januari 2010 membawa gen dari tiga virus –wabah H1N1, H1N1 “seperti virus unggas” Eropa dan apa yang disebut virus “triple reassortant”, yang berisi sedikit virus flu unggas, babi dan manusia yang pertama kali ditemukan di Amerika Utara pada 1998.

“Ini menunjukkan babi adalah tempat virus wabah mungkin sebenarnya berubah dan menyebar kembali serta memperoleh kandungan baru yang mungkin,” kata Peiris.
Virus wabah tersebut pada manusia telah sangat stabil. “Virus tak berubah sama sekali, bahkan meskipun orang prihatin itu mungkin menyebar kembali dan bercampur dengan virus manusia … tapi tampaknya virus itu dapat bercampur dengan virus flu lain (pada babi),” katanya.

Penelitian genetika telah menunjukkan H1N1, yang pertama kali diidentifikasi pada April 2009, dan pada kenyataannya telah beredar selama setidaknya satu dasawarsa dan barangkali pada babi. Kendati ada pemantauan ketat pada ternak untuk melindungi mereka dari manusia, sedikit pemeriksaan dilakukan secara global untuk melihat apakah makanan ternak terinfeksi dan jika iya, oleh virus apa.

Beragam studi dalam satu tahun belakangan telah menunjukkan babi di Kanada dan negara lain tertular virus wabah H1N1, yang terbukti dibawa ke hewan oleh manusia. “Saya harus menekankan poin ini bahwa itu sama sekali tak berarti babi berbahaya untuk dimakan (jika dimasak dengan baik). Maksudnya ialah penting untuk melakukan pengawasan sistematis pada babi sehingga kita mengetahui apa yang terjadi pada babi sehubungan dengan virus influenza pada umumnya dan virus wabah pada khususnya,” kata Peiris.

Red: Siwi Tri Puji.B
Sumber: Antara

6. Equator News Online

18 Juni 2010

Permintaan Ayam Potong Menurun

PONTIANAK. Sampai tadi malam, belum seorangpun yang dirawat di rumah sakit di Kota Pontianak akibat flu burung (H5N1). Tapi penjualan ayam potong merosot sekitar 40 persen menurut versi asosiasi.

“Pembeli ayam berkurang karena isu terjadinya flu burung. Akibat berita itu, pendapatan kami menjadi berkurang sekitar 30 persen,” ungkap Endi, penjual ayam di Pasar Dahlia kepada Equator, kemarin (17/6).

Versi Asosiasi Agribisnis Perunggasan Kalbar, penurunan permintaan ayam di Kota Pontianak malah 40 persen sejak sepekan  terakhir. “Harga pun ikut turun,”  kata Suryaman, ketua asosiasi kepada Equator tadi malam.

Permintaan biasanya 10 ribu ekor per hari kecuali Sabtu hingga 20 ribu saat musim pesta kawinan. “Sekarang menurun hanya berkisar 4.000-6.000 ekor saja,” tambahnya.

Sebelumnya harga agen Rp 24 ribu – Rp25 ribu per kg turun seribu rupiah, begitupun tingkat eceran dari Rp 26-27 ribu jadi Rp 24-25 ribu. “Selain berita flu burung, harga turun juga oleh tengah bulan dan tahun ajaran baru anak-anak masuk sekolah, sehingga menghemat pengeluaran,” jelasnya.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Kalbar, Abdul Manaf Mustafa mengimbau warga untuk tidak takut mengkonsumsi ayam dan telur selama dimasak dengan baik. “Kemudian, menerapkan perilaku hidup sehat. Sehabis menyiang atau memegang ayam cuci tangan dengan deterjen,” sarannya.

Kompensasi
Dimusnahkannya ratusan ayam kampung milik warga maupun yang mati akibat serangan virus sepekan ini, akan diganti. “Ternak ayam yang mati dan dimusnahkan oleh dinas diganti dengan dana kompensasi sebesar Rp12.500 per ekor. Hal ini sesuai Peraturan Dirjen Peternakan,” ungkap drh. Manaf  dihubungi Kamis (17/6).

Menurut Kepala Disnakeswan Kalbar, warga yang enggan menyerahkan ayamnya untuk dimusnahkan seperti Yusuf, Manaf menilai wajar dan pihaknya tidak akan mengambil tindakan apapun.

“Ya kami berikan pengarahan saja. Sementara ini, daerah yang tertular ayam-ayamnya kami musnahkan. Kemudian ayam yang hidup dikurung dan jangan dijual. Akan tetapi ayam Pak Yusuf itu kami musnahkan total,” tegas Manaf.

Kadisnakeswan minta masyarakat untuk proaktif dalam penanggulangan virus ini. “Kalau ada melihat ada orang yang menurunkan ayam, membawa ayam dari kapal-kapal nelayan antar pulau, misalnya di Nipah Kuning, laporkan saja kepada kepolisian,” kata Manaf.

Selama ini, Disnakeswan dalam penanggulangan masih persuasif. Padahal Undang-Undang Nomor 18 tahun 2009 tentang peternakan dan kesehatan hewan, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 80 tahun 2000 tentang karantina hewan, diharuskan tegas.

“Pasal 46 ayat 5 disebutkan setiap orang dilarang membawa hewan, pangan asal hewan dan media yang dapat menularkan penyakit dari daerah tertular atau terduga ke daerah bebas,” terang Manaf.

Jika melanggar, sesuai pasal 89 ayat 2 diancam pidana minimal 1 tahun, maksimal 5 tahun dan denda minimal Rp 150 juta dan maksimal Rp1 miliar. “Jika menimbulkan kematian orang, pada ayat 3 pidana minimal 3 tahun, maksimal 9 tahun dan denda minimal Rp 3 miliar, maksimal Rp 9 miliar,” ingatnya.

Sanggau-KH Waspada
Sementara itu, Kabupaten Sanggau dan Kapuas Hulu (KH) masih bersih dari H5N1 maupun sampar. Seperti diberitakan kemarin, di Kota Pontianak terjangkit wabah sampar dan dugaan H5N1 dari hasil rapid test terhadap 50 ekor ayam mati mendadak.

“Sejauh ini, daerah kita masih aman terhadap serangan flu burung. Informasi yang kita peroleh baru terjadi di Pontianak,” ungkap Fadli Persi, Kabid Pencegahan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Sanggau, Rabu (16/6).

Menurutnya, Dinas Kesehatan baru akan menggalang komunikasi dan kerjasama dengan dinas/instansi terkait seperti Pertanian Perikanan dan Peternakan serta Dinas Perindagkop. “Untuk Dinas Pertanian, kita berkejasama dalam mengantisipasi penularan unggas milik masyarakat.,” terangnya.

Dinas Kesehatan sendiri mempersiapkan diri akan kemungkinan flu burung menular pada manusia. “Segala kemungkinan akan kita upayakan untuk segera ditangani. Harapan kita Sanggau tidak menjadi salah satu daerah terjangkit,” ujarnya.

Untuk di PLB Entikong, koordinasi dengan Kantor Kesehatan Pelabuhan. Pertanian bakal berkoordinasi dengan Karantina. Sementara Disperindag kita minta memantau keluar masuknya ternak unggas melalui jalur perbatasan “Jadi kita siap menghadapai segala kemungkinan terburuk, jangan sampai kita kecolongan” ujarnya.

Sebelumnya ketua DPRD Sanggau Andreas Nyas SAg berharap dinas instansi terkait untuk segera melakukan langkah antisipasi.“ Jangan sampai daerah kita ini menjadi salah satu kawasan penularan flu burung,” harapnya.

Meski masih aman dari serangan H5NI, Pemkab Kapuas Hulu sebagai salah satu kabupaten di kawasan perbatasan tetap siaga. Langkah pertama, membuat surat edaran kepada para camat. Warga diimbau tidak membawa masuk unggas atau daging hewan dari negara tetangga Malaysia, melalui pintu masuk perbatasan di kawasan Kecamatan Badau maupun beberapa jalan tikus.

”Segera kita akan menyurati para camat, agar mengimbau warga untuk waspada dan melarang memasukan hewan jenis unggas ke wilayah kita,” ujar Wakil Bupati Kapuas Hulu Drs Y Alexander M S kepada Equator, kemarin.

Upaya pelarangan unggas masuk wilayah Kabupaten Kapuas Hulu ini, sudah dilaksanakan sejak merebaknya virus flu burung maupun flu babi beberapa waktu lalu. ”Dulu pernah kita lakukan. Nah, dengan adanya berita merebak lagi, maka akan kita pertegas kembali pelarangan itu, melalui para camat hingga ke desa-desa. Terutama yang berada di dekat perbatasan,” tegasnya.

Alex yakin meski pintu perbatasan di Kapuas Hulu belum resmi di buka. Tapi untuk lalu lintas unggas, sangat jarang sekali dilakukan warga. Soalnya di Malaysia pun, hal itu diperketat. ”Selama ini, jarang sekali adanya warga yang membawa keluar-masuk unggas. Kan di Malaysia, hal ini sangat diperketat,” timpalnya.

Terpisah dr Harisson Azroi M Kes, pelaksana tugas (Plt) Kadis Kesehatan sekaligus Direktur RSUD dr Akhmad Diponegoro Kapuas Hulu dikonfirmasi via telepon selularnya, kemarin mengatakan pihaknya telah menyurati Puskesmas-puskesmas untuk siaga.

Jika menemukan warga, menderita demam tinggi dengan ciri-ciri mencurigakan, untuk segera melaporkan ke Dinas Kesehatan. Selain itu, pihak RSUD telah menyiapkan ruang khusus serta dokter dan perawat. ”Kita telah menyurati puskesmas-puskesmas untuk selalu siaga. Nah, untuk rumah sakit kitatelah menyiapkan ruangan khusus, berikut para tenaga medisnya,” tukas Harisson.

Dibeberkan, pihaknya malah mencurigai virus itu masuk melalui Sintang dari Pontianak. Pasalnya, jika melalui pintu perbatasan secara prosedur Malaysia sangat ketat, untuk penanganan unggas. Hal yang dikhawatirkan di Kalbar, apakah para peternak sudah melaksanakan prosedur yang benar, untuk penanganan unggas-unggas tersebut. (ian/bdu/dri/sry)

7. KOMPAS.com

18 Juni 2010

Babi Hong Kong Kedatangan Virus Flu Babi

Virus flu babi H1N1 telah menyebar secara diam-diam pada babi di Hong Kong dan bertukar gen dengan virus lain.

Para peneliti mengatakan temuan itu mendukung seruan bagi pengawasan lebih ketat penyakit pada babi sebelum virus tersebut menyerang manusia dan obat baru dapat dihasilkan.

Temuan yang disiarkan di majalah Science,Jumat (18/6/2010), penting karena mendukung teori bahwa virus flu yang menyerang babi dapat bertukar gen dengan virus lain yang ada pada hewan tersebut, termasuk virus yang lebih berbahaya seperti virus flu unggas H5N1 atau H9N2.

Malik Peiris, ahli mengenai influenza yang mengerjakan studi itu, mengatakan temuan tersebut menggarisbawahi pentingnya pengawasan penyakit pada babi. “Itu memperlihatkan virus wabah dapat dengan mudah kembali ke babi. Segera setelah itu terjadi, virus tersebut dapat menyebar lagi bersama virus lain babi dan meningkatkan potensi konsekuensi yang tak terduga,” kata Peiris, profesor mikrobiologi dari University of Hong Kong.

Peiris dan rekannya, termasuk Guan Yi di University of Hong Kong, telah menemukan virus wabah H1N1 pada kain penyeka hidung dari babi yang kelihatan sehat di rumah jagal Hong Kong selama pemeriksaan rutin sejak Oktober 2009. “Dari analisis genetika, apa yang ditunjukkan ialah masing-masing virus yang kami temukan pada babi tersebut berasal dari manusia,” kata Peiris dalam satu wawacaran telepon dengan wartawan Reuters, Tan Ee Lyn.

“Tak mengejutkan karena virus wabah muncul dari babi, jadi tak mengejutkan bahwa virus itu kembali ke babi,” katanya.
Bertukar gen

Satu sampel yang dipisahkan dari babi di Hong Kong pada Januari 2010 membawa gen dari tiga virus –wabah H1N1, H1N1 “seperti virus unggas” Eropa dan apa yang disebut virus “triple reassortant”, yang berisi sedikit virus flu unggas, babi dan manusia yang pertama kali ditemukan di Amerika Utara pada 1998.

“Ini menunjukkan babi adalah tempat virus wabah mungkin sebenarnya berubah dan menyebar kembali serta memperoleh kandungan baru yang mungkin,” kata Peiris.

“Virus wabah tersebut pada manusia telah sangat stabil. Virus tak berubah sama sekali, bahkan meskipun orang prihatin itu mungkin menyebar kembali dan bercampur dengan virus manusia … tapi tampaknya virus itu dapat bercampur dengan virus flu lain (pada babi),” katanya.

Penelitian genetika telah menunjukkan H1N1, yang pertama kali diidentifikasi pada April 2009, dan pada kenyataannya telah beredar selama setidaknya satu dasawarsa dan barangkali pada babi. Kendati ada pemantauan ketat pada ternak untuk melindungi mereka dari manusia, sedikit pemeriksaan dilakukan secara global untuk melihat apakah makanan ternak terinfeksi dan jika iya, oleh virus apa.

Beragam studi dalam satu tahun belakangan telah menunjukkan babi di Kanada dan negara lain tertular virus wabah H1N1, yang terbukti dibawa ke hewan oleh manusia.

“Saya harus menekankan poin ini bahwa itu sama sekali tak berarti babi berbahaya untuk dimakan (jika dimasak dengan baik). Maksudnya ialah penting untuk melakukan pengawasan sistematis pada babi sehingga kita mengetahui apa yang terjadi pada babi sehubungan dengan virus influenza pada umumnya dan virus wabah pada khususnya,” kata Peiris.

Babi adalah waduk bagi banyak virus manusia, unggas dan babi dan para ahli seringkali merujuk hewan itu sebagai wadah pencampur yang ideal bagi patogen baru yang mungkin lebih berbahaya.

Ketika ditanya apakah ada kemungkinan H1N1 bercampur dengan H5N1, Peiris menjawab, “Itu tentu saja satu kemungkinan, itu sebabnya mengapa kita perlu mengikuti perkembangannya.”

“Jika virus itu sangat mungkin untuk siap menyebar dan mengambil gen dari virus babi, kita mungkin akan menghadapi kombinasi gen baru yang dapat meningkat. Jika kita tak siap menghadapi itu, kita mungkin dapat menghadapi virus yang lebih mematikan, yang kembali menyerang manusia,” katanya.

Meskipun H5N1 adalah virus yang kebanyakan berasal dari unggas, virus tersebut mengakibatkan sakit yang lebih parah pada manusia dibandingkan dengan flu musiman dan menewaskan 60 persen orang yang diserangnya. Virus itu telah menyerang 499 orang dan menewaskan 295 di antara mereka sejak virus tersebut muncul pada 2003.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) awal Juni menyatakan wabah H1N1 belum usai, kendati kegiatannya yang paling kuat telah berlalu di banyak wilayah di dunia.

Posted by: genetika21 | 17 June 2010

Kumpulan Berita Veteriner Hari Ini 16-17/06/2010

INDEX:

1.      Jurnal Nasional: Tiga Daerah di Kalsel Ditetapkan KLB Malaria

2.      Sinar Harapan: Relokasi Unggas Terancam Gagal

3.      Suara Merdeka: Satu Orang Tewas Terserang Flu Burung

4.      Antara: WARGA LAMPUNG SELATAN BELUM TAHU FLU BURUNG

5.      Equator News On Line : RSUD Soedarso Siaga Flu Burung

6. Equator News On Line : Sampar Ganas Dipicu Flu Burung

***

1. Jurnal Nasional

June 16 2010

Tiga Daerah di Kalsel Ditetapkan KLB Malaria

Selama Januari – Juni tahun 2010, ada tiga daerah di wilayah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) dikatagorikan sebagai kejadian luar biasa (KLB) malaria. Tiga daerah itu yakni Desa Rantau Bujur dan Pau, kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar dan Desa Karang Bintang, Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu).

“Di ketiga daerah itu terdapat delapan orang meninggal dunia akibat malaria,” kata Kabid Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kalsel, Sukamto, Selasa (15/6).

Menurut Sukamto, kasus malaria klinis di Kalsel hingga 9 Juni 2010 dari 13 kabupaten/kota se-Kalsel tercatat sebanyak 3.412 orang dan 15 orang diantaranya meninggal dunia.

Dari 3.412 orang warga masyarakat yang termasuk malaria klinis tersebut, terbanyak berasal dari Kabupaten Kotabaru 894 orang, disusul Kabupaten Tanah Laut sebanyak 667 orang, dan Kabupaten Tabalong mencapai 629 orang. Selain itu, Kabupaten Banjar sebanyak 372 orang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) 305 orang, Kabupaten Tanah Bumbu 202 orang, dan Kota Banjarbaru 117 orang, sedangkan daerah lainnya masih di bawah 100 kasus.

Sedangkan 15 korban gigitan nyamuk malaria yang meninggal dunia terbanyak berasal dari Kabupaten Banjar tujuh orang, Tanah Bumbu tiga orang, Tanah Laut, dan Kabupaten HSS masing-masing dua orang, dan Tabalong satu orang.

Sementara itu, dari sedia darah yang diperiksa sebanyak 2.193 orang, ternyata sebanyak 1.064 orang yang positif mengidap penyakit malaria. Terbanyak malaria tertiana 705 orang, tropikana 285 orang, perpana sembila orang, dan gabungan 69 orang.

Meningkat

Sedangkan di Biak, Papua, kasus malaria atau penyakit demam berdarah dengue (DBD) hingga lima bulan ini terus meningkat. Dari kasus tersebut yang sudah meninggal sebanyak dua belas orang.

Dari data Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat, sejak 2008 terdapat tiga kasus, 2009 sebelas kasus dan sejak Januari – Mei 2010 sudah mencapai 35 kasus. Dengan adanya peningkatan kasus ini maka Dinkes sejak Maret telah tetapkan kasus DBD sebagai kejadian luar biasa (KLB).

” Yang terbanyak berada di dua distrik yang jumlah penduduknya cukup padat yaitu Biak Kota dan Samofa,” kata Kepala Seksi Wabah dan Bencana Dinkes Biak, Ruslan kepada Jurnal Nasional, Selasa (15/6).

Upaya preventif terus dilaksanakan dengan melakukan intervensi, pengasapan (fogging), apatisasi dan sosialisasi pencegahan kepada masyarakat. Dan pada setiap lingkungan keluarga disarankan untuk terapkan program 3M atau menguras, membersihkan dan mengubur. n Rahma/Opin Tanati

2. Sinar Harapan

June 16, 2010

Relokasi Unggas Terancam Gagal

OLEH: ANDREAS PIATU

Jakarta – Relokasi unggas di wilayah Jakarta terancam gagal karena hingga kini baru 27 pedagang yang pindah ke lokasi Rawa Kepiting, salah satu lokasi yang disediakan Pemda Jakarta. Padahal, lokasi lainnya, seperti Cakung, Pulo Gadung, Pertukangan Utara, dan Srengseng Sawah masih kosong.

Terkait hal itu, Asisten Perekonomian Jakarta Hasan Basri Saleh yang dihubungi SH, Selasa (15/6) siang, menga ku belum tahu perihal itu. Ia hanya menyatakan, pihak nya segera memanggil Dinas Pe ternakan dan Ke lautan untuk menanyakan perkembangan relokasi unggas yang ditargetkan Des ember 2010 selesai.
“Saya belum tahu perkembangan sehingga akan memanggil Dinas Peternakan dan Perikanan pada Kamis mendatang,’’ tegasnya.
Ia menyatakan, Dinas Peternakan dan Kelautan perlu memberikan penjelasan tentang bagaimana kemajuan relokasi unggas, hambatan dan program yang akan dilaksanakan dalam mencapai target relokasi unggas yang ditetapkan Desember 2010.
Ketika ditanya apakah target yang ditetapkan akan tercapai, Hasan menegaskan, harus dilihat kondisinya saat ini, bagaimana perkembang annya, bagaimana hambatan dan upaya apa yang akan dilakukan untuk mencapai target yang sudah ditetapkan.
Dari informasi ini, ungkapnya, akan terlihat apakah akan selesai pada Desember 2010 atau ada hambatan. ‘’Sampai saat ini targetnya tetap De sember 2010 harus selesai. Ha nya, kita perlu lihat bagaimana program dan kegiatan yang dilakukan Dinas Peternakan dan Kelautan mengenai relokasi unggas,’’ katanya.
Belum Tahu
Kepala Dinas Peternakan dan Kelautan Jakarta Ipih Ruyani ketika dihubungi SH, Selasa (15/6), mengatakan, pihaknya belum tahu persis berapa pedagang unggas yang sudah pindah ke lokasi yang ditetapkan.’’ Saya akan kumpulkan suku dinas. Saya belum tahu berapa pedagang unggas yang sudah pindah ke lokasi yang telah disediakan pemda,’’ tegasnya.
Informasi yang diperoleh menyebutkan, terdapat  1.950 lokasi pemotongan unggas. Sementara tempat penampungan unggas sebanyak 210 lokasi. Lokasi pemotongan maupun penampungan unggas harus sudah pindah ke lokasi yang disediakan Pemda, Desember 2010.
Sementara saat ini, dari informasi yang diperoleh baru 27 pedagang yang sudah pindah ke Rawa Kepiting, salah satu lokasi yang disediakan Pemda. Terdapat lima lokasi yang disediakan, yakni Rawa Kepiting, Cakung, Pulo Gadung, Pertukangan Utara, dan Srengseng Sawah.
Pedagang unggas yang pindah karena lokasi penampungan yang disediakan Pem da pun belum semuanya siap kecuali Rawa Kepiting. Selain itu, pedagang unggas pun ti dak mau pindah satu per satu. Pedagang unggas menhendaki pindah sekaligus atau se­rentak. Oleh karena itu, mereka menunggu sampai semua lokasi selesai dibangun. Meski demikian, bagi pedagang yang bersedia pindah tetap dilayani.
SH memperoleh informasi, sebenarnya pedagang tidak ingin pindah ke lokasi yang disediakan karena jauh dari pasar dan konsumen. Hal ini terlihat dari penolakan adanya relokasi. Keinginan pindah serentak hanya alasan untuk menunda atau menghambat relokasi unggas. Oleh karena itu, diperkirakan, rencana relokasi unggas akan selesai pada Desember 2010, bakal gagal.n

3. Suara Merdeka

June 15 2010

Satu Orang Tewas Terserang Flu Burung

WONOGIRI – Seorang warga Wonogiri, dilaporkan tewas diduga terserang penyakit flu burung atau Avian Influenza (AI). Korban bernama Supar (55), petani yang tinggal di Dusun Pakelan RT 4/RW 2 Desa Jeporo Kecamatan Jatipurno Kabupaten Wonogiri.
Secara klinis, kematian korban mengarah pada indikasi suspect terserang flu burung. Tapi untuk memastikannya secara medis, masih menunggu hasil tes serologi darah korban, yang kini tengah diselidiki di laboratorium. Kasus kematian korban flu burung di Kabupaten Wonogiri, sebelumnya pernah merenggut dua nyawa anak di Kecamatan Eromoko dan di Kecamatan Manyaran.
Tragedi maut di Kecamatan Eromoko, dialami oleh Setya Indratsih (5). Balita yang tinggal di Dusun Semangkahlor Desa Sindukarto Kecamatan Eromoko ini, tewas pada bulan Mei 2007 sebagai korban flu burung pertama di Wonogiri. Menyusul korban tewas kedua, adalah balita Muhamad Zaiful Hidayat (3), warga Dusun Bero Desa Bero Kecamatan Manyaran Kabupaten Wonogiri, yang meninggal pada bulan Mei 2008.
Kematian Supar yang terjadi di bulan Juni 2010 ini, menjadi korban ketiga tewas akibat serangan AI yang disebabkan oleh penularan virus H5NI dari unggas ke manusia.
’’Mencermati gejala klinis, memang penyebab kematiannya mengindikasikan ke arah serangan flu burung. Tapi kepastian medisnya, masih menunggu hasil tes darahnya yang dikirim ke laboratorium Jakarta,’’ tegas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Wonogiri dokter AUG Jarot Budiharso MKes.
Kambuh Lagi Dokter Jarot didampingi Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit Menular Penyehatan Lingkungan (P2MPL) dokter Tuti Darsari, Selasa (15/6), menyatakan, berdasarkan dari hasil penyelidikan yang dilakukan tim kesehatan, korban Supar mulai sakit demam tanggal 30 Mei 2010. Awalnya diperiksakan ke bidan Warti di Desa Mirahan, dan hasilnya membaik.
Tapi kemudian kambuh lagi, dan diobatkan ke perawat Safela Tinangon Desa Pandeyan Kecamatan Jatisrono. Karena disertai mual dan muntah, kemudian dibawa ke RS Amal Sehat Kecamatan Slogohimo, dan dirujuk ke RS Marga Husada Wonogiri. Karena keadaan kesehatannya jelek, kemudian dirujuk ke RS dokter Oen Surakarta, dengan diagnosa pnemonia.
Tanggal 9 Juni 2010, Supar dirujuk lagi ke RS dokter Muwardi Solo. Hanya sekitar 10 jam dirawat di RS dokter Muwardi, korban meninggal, dengan diagnosa suspect flu burung.
Dari hasil penyelidikan epidemologi ke Dusun Pakelan, tim kesehatan memperoleh keterangan di sekitar pemukiman korban pernah terjadi kematian ayam mendadak dan dari rapid tes-nya positif flu burung.
Kepala Dinas Peternakan Perikanan Kelautan (Nakperla) Wonogiri, Ir Ruli Pramono MM, menyatakan, pihaknya juga telah menurunkan tim ke lokasi, sekaligus dilakukan penyemprotan desinfektan ke kandang ternak warga, dan menyerukan masyarakat menjaga kebersihan lingkungannya, serta melaporkan bila mendapati unggas mati mendadak. ’’Selama ini, Kecamatan Jatipurno sebenarnya tidak termasuk ke dalam peta endemis flu burung,’’ tegas Ruli.(P27-64)

4. Antara

June 16, 2010

WARGA LAMPUNG SELATAN BELUM TAHU FLU BURUNG

Bandarlampung, 16/6 (ANTARA)- Sebagian warga Kampung Sawah di Kecamatan Katibung, Kabupaten Lampung Selatan, mengatakan banyak ternak unggasnya yang mati terjangkit flu burung sejak tahun lalu, namun mereka tidak tahu jika penyakit itu sangat mematikan dan bisa menjangkiti manusia.
“Tahun lalu saya pernah punya puluhan ekor ayam kampung, semuanya mati mendadak. Sejak saat itu, saya tidak memelihara unggas lagi,” kata Ujang, salah satu warga di Kampung Sawah, Dusun Kubu Garam, Desa Tarahan, Kecamatan Katibung, Kabupaten Lampung Selatan, Rabu.
Ia menyebutkan, ternak unggas di kampungnya sudah banyak yang mati terjangkit flu burung, sehingga warga setempat kini lebih banyak memelihara kambing peranakan etawa.
Menurut dia, sosialisasi pencegahan penularan flu burung belum pernah dilaksanakan di kampungnya sehingga tidak mengetahui kalau penyakit itu sangat mematikan jika sampai tertular ke manusia.
“Saya tidak tahu kalau flu burung itu bisa menjangkiti manusia dan sangat mematikan. Saya pikir hanya penyakit untuk unggas saja,” katanya.
Sejumlah warga lainnya juga mengatakan hal senada, yakni kurang mengetahui pencegahan penyebaran flu burung, termasuk bahaya penyakit itu.
Berdasarkan pantauan, rumah- rumah di Kampung Sawah umumnya rumah sederhana, meski terdapat sejumlah rumah semipermanen. Masih terdapat sebagian kecil unggas yang dipelihara tanpa kandang, terutama itik.
Warga setempat umumnya lebih memilih memelihara kambing atau bekerja sebagai petani dan nelayan.
Lingkungan perkampungan itu umumnya lembab dan jalan tanah kampung itu tergenang air di sejumlah titik.
Kabupaten Lampung Selatan merupakan daerah endemis flu burung dan seluruh kecamatan di kabupaten itu bahkan telah terjangkit flu burung tahun 2008 lalu.
Pada 2010, serangan flu burung juga kembali terjadi di sejumlah kecamatan, seperti Kecamatan Ketapang, Kalianda dan Palas.
Berdasarkan data di Dinas Peternakan Lampung Selatan, selama 2008 jumlah kasus serangan flu burung di Lampung Selatan 35 kasus, dan jumlah unggas yang mati mencapai 3.000 ekor. Pada 2009 jumlahnya menurun, yakni hanya 17 kasus, dan jumlah unggas yang mati 500 ekor.
Jumlah unggas yang terjangkit flu burung diyakini jauh lebih besar, karena tidak semua kasus unggas tertular avian influenza yang dilaporkan ke instansi terkait. (T.H009) (T.H009/B/R007/R007) 16-06-2010 10:34:39 NNNN

5. Equator News On Line

16 Juni 2010

RSUD Soedarso Siaga Flu Burung

Hasil lab belum keluar. Diyakini 99 persen flu burung. Pemusnahan unggas berlanjut. Hindari penularan kepada manusia, tim medis dalam kondisi siap.

PONTIANAK. Disnakeswan dan Balai Karantina Kelas I Pontianak terus meningkatkan kewaspadaan. Sejumlah unggas kembali dimusnahkan. Demikian pula RSUD Soedarso menyiapkan sarana dan tim medis jika ada yang terkena suspect flu burung (H5N1).

“Kami telah menyiapkan ruang isolasi pasien lengkap dengan alat kesehatan penunjang. Antisipasi pencegahan juga diterapkan ketat kepada perawat dan tim medis di ruang unit gawat darurat (UGD),” kata Direktur RSUD Soedarso Pontianak, dr Gede Sanjadja kepada Equator, Selasa (15/6).

Upaya rumah sakti daerah terbesar di Kalbar itu menyusul merebaknya wabah yang membunuh ratusan ayam ternak selama tujuh hari terakhir ini di Pontianak dan daerah lainnya. “Kita sudah berkoordinasi dengan Disnakeswan terkait dugaan virus flu burung yang menyerang ratusan ayam ternak,” ujar Gede.

Antisipasi dari pihak RSUD Soedarso juga dilakukan dengan mengefektifkan penggunaan masker mulut dan sarung tangan. Selain itu, perawat dan tenaga medis harus menggunakan cairan antiseptik setiap selesai melakukan penanganan medis terhadap pasien. “Bahkan semua petugas sudah dibekali pengetahuan prosedur tetap pencegahan penularan flu burung,” kata Gede.

Setelah pemusnahan unggas sehari sebelumnya, petugas dari Balai Karantina kembali memusnahkan sebanyak 64 ekor unggas terdiri dari ayam dan burung, Selasa (15/6) sekitar pukul 09.00 di Balai Karantina Jalan Komyos Sudarso.

Sebelum dimusnahkan dengan cara dibakar, unggas terlebih dahulu disembelih lehernya agar mati. Unggas yang dimusnahkan terdiri dari 19 ekor ayam, 26 burung tekukur, 11 burung merpati, 3 burung perkutut, 2 burung kutilang, 1 burung jalak dan 1 burung ciblek. Itu didapat dari hasil razia petugas selama satu minggu di Pelabuhan Dwikora Pontianak, yang dibawa penumpang dari Semarang, Surabaya, Madura dan Jakarta.

Namun pemiliknya tidak dapat menunjukkan surat rekomendasi dari balai karantina tempat asal unggas tersebut. “Bawa unggas dari luar Kalbar tidak boleh. Kecuali ada surat rekomendasi dari karantina asal hewan tersebut yang menyatakan unggas tersebut sehat,” terang Drh Faisyal Noer, Kasi Pengawasan dan Penindakan Balai Karantina Kelas 1 Pontianak.

Meski belum diyakini membawa virus H5N1, namun tetap dirazia untuk kewaspadaan menyebarnya virus flu burung ke Kalbar. “Unggas-unggas ini dibakar agar virus-virus yang dibawanyanya turut mati,” ujar Faisyal.

Untuk dapat membawa unggas dari luar Kalbar, diharapkan dilengkapi surat rekomendasi yang sah. Pengurusan rekomendasi ini pun tidak lah sulit dan memerlukan bisaya mahal. Hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit serta biaya Rp 5 ribu perekor ayam dan Rp 2,5 ribu perekor burung.

Sekitar satu minggu terakhir, masyarakat kota Pontianak dikejutkan dengan kematian mendadak beberapa ayam. Deretan kematian ayam itu berawal dari jenis ayam kampung milik Yusuf, warga Pontianak Timur, sekitar tujuh hari lalu. Soal penyebab kematian ayam-ayam ini, memang belum pasti. Namun diyakini 99 persen ayam-ayam itu tewas mendadak akibat serangan virus H5N1.

Perketat pengawasan

Terkait dugaan masuknya flu burung ke ke Kota Pontianak, Balai Karantina akan melakukan pengawasan. Tidak hanya di kapal-kapal penumpang di pelabuhan Dwikora, mereka pun akan menyusuri pelabuhan-pelabuhan rakyat. ”Kita akan melakukan pemantauan di jalur-jalur laut seperti di Jongkat, Nipah Kuning dan pelabuhan kapal-kapal lainnya,” kata Faisyal lagi.

Sementara itu drh Abdul Manaf Mustafa, Kepala Disnakeswan Kalbar, menjelaskan, untuk mengantisipasi penyebaran flu burung, akan berkerja sama dengan Balai Karantina serta di-backup polisi. Sebab pengawasannya di Pontianak lemah.

”Merebaknya flu burung di Kota Pontianak memang lemah dalam pengawasan. Kita maklum Karantina terbatas, masyarakat pun belum mengerti, contohnya ada unggas-unggas masuk tiap minggu tanpa dokumen oleh penumpang kapal,” terangnya.

Kalau unggas-unggas ini masuk dari kapal penumpang, ada petugas karantina yang menangkapnya. Tapi, kata Manaf, kebanyakan unggas-unggas tersebut dibawa melalui kapal-kapal kecil antarpulau yang merapat. ”Kalau dia masuk di tempat jajaran karantina bisa ditangkap, tapi pintu masuk Kalbar banyak,” tukasnya.

Langkah lain untuk mencegah penyebaran flu burung, Disnakeswan berkoordinasi dengan kabupaten-kabupaten melakukan pengawasan terhadap kendaraan-kendaraan yang membawa unggas dari atau pun menuju Kota Pontianak, akan disemprot.

Untuk itu pihaknya akan mengerahkan alat injection bagi kendaraan-kendaraan pengangkut unggas yang keluar masuk. ”Upaya ini tetap dilaksanakan walaupun ini belum 100 persen flu burung sebab hasil diagnosanya melalui uji laboratorium,” tambahnya. (oen/arm)

6. Equator News On Line
17 Juni 2010

Sampar Ganas Dipicu Flu Burung

Disnakeswan masih penasaran. Sampel dikirim ke BPPV Banjarbaru, tim Unair diturunkan. Aksi pencegahan berlanjut dengan penyemprotan kendaraan. 

PONTIANAK. Virus yang menyebabkan kematian ayam di beberapa lokasi se-Kota Pontianak sejak Jumat (11/6) lalu, lebih disebabkan Newcastle Disease (ND) atau sampar pada ayam yang sangat ganas. Sedangkan virus flu burung low pathogenic yang ditemukan pada unggas mati itu, hanya menumpang pada tubuh inangnya.

“Biasanya virus ini akan menumpang. Waktu kami tes hasilnya positif flu burung tetapi bukan yang ganasnya. Matinya karena ND. Virus itu menumpang,” jelas Abdul Manaf Mustafa, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Kalbar di ruang kerjanya, Rabu (16/6) kemarin.

Manaf mengkhawatirkan, virus yang muncul pada unggas yang mati berdasarkan rapid test bukan flu burung yang high pathogenic (PAI) melainkan low pathogenic. Untuk membuktikan hal ini, Disnakeswan akan melakukan pemeriksaan laboratorium dengan VCR.

Menurut dia, virus flu burung low pathogenic ditemukan dalam tubuh hewan unggas mati itu. Artinya, virus flu burung itu hanya memperlemah kondisi unggas. Karena lemah itu maka virus ND atau sampar pun masuk. Sedangkan untuk virus flu burung yang high pathogenic jika menyerang unggas akan membunuhnya secara ganas.

Sehingga, lanjutnya, Disnakeswan akan berusaha mencari tahu lebih dalam dengan mengirimkan sampel ke laboratorium Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner (BPPV) di Banjarbaru. “Mereka juga sudah mengirim tim dan turun ke lapangan pagi tadi (kemarin, red). Besok (hari ini, red) tim dari Pusat Penelitian dan Penyakit Tropis dan Flu Burung Universitas Airlangga akan turunkan tim juga,” terang Manaf.

Tim dari BPPV Banjarbaru bertugas mengungkap apakah virus yang menyerang ayam di Kota Pontianak ini termasuk virus flu burung atau bukan. Sedangkan, tim dari Unair, tugasnya menemukan jika virus yang menyerang positif flu burung apakah jenisnya baru atau merupakan jenis lama. “Jika memang benar positif flu burung apakah benar masuk dari luar atau memang mutasi yang lama-lama karena mengendap,” jelas Manaf yakin.

Sejauh ini, pemeriksaan di lapangan yang dilakukan tim Disnakeswan menemukan 18 ekor unggas yang dinyatakan positif flu burung melalui rapid test. “Sedangkan sisanya negatif, maka kami sebut diduga. Tetapi pada saat kami uji untuk ND atau sampar itu justru positif,” tegas Manaf.

Dijelaskannya, dalam menetapkan suatu penyakit itu dibutuhkan uji gejala klinis, kemudian dilakukan bedah bangkai atau pathology anatomy untuk melihat perubahan peralatan seperti saluran pernapasan, hati, limfa dan segala macamnya. “Selanjutnya dilakukan rapid test baru selanjutnya pemeriksaan melalui laboratorium dengan pemeriksaan VCR yang sekarang ini sedang dilakukan,” kata Manaf.

Sejak merebak virus yang mematikan puluhan ayam itu, Manaf mengaku pihaknya sudah dapat melokalisir virus. “Kami menerapkan pemusnahan sesuai Standard Operating Procedure (SOP). Misalnya tak sampai membunuh hewan tersebut hidup-hidup,” kata Manaf.

Alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) ini meminta kepada masyarakat untuk cepat melapor jika hewan unggas ternak yang mereka pelihara mati mendadak. “Jangan dibuang ke parit atau tempat sampah. Itu akan menyebar,” saran Manaf.

Demi meningkatkan pengawasan, terhitung Rabu (16/6) kemarin Disnakeswan Kalbar mulai menyemprot kendaraan-kendaraan pengangkut hewan ternak yang masuk dan keluar Kota Pontianak. “Hari ini memang kami sudah diberlakukan setiap truk angkutan ternak apakah membawa ayam hidup atau telur dan daging setelah menurunkan barangnya di Kota Pontianak harus disucihamakan lebih dahulu,” jelasnya.

Proteksi yang dilakukan Disnakeswan Kalbar ini untuk memutus mata rantai jangan sampai penyakit ini menyebar luas ke daerah lain. “Jadi kami menggunakan disinfectant yang dapat membunuh virus dan bakteri,” ungkapnya yakin. Penyemprotan kendaraan itu dilakukan di halaman Kantor Disnakeswan dan dibuka selama 24 jam tanpa dipungut bayaran.

Setelah kendaraan pengangkut itu dibersihkan sekitar setengah jam, maka akan dikeluarkan surat keterangan biosecurity. Setiap kendaraan sesampainya di Jembatan Timbang diharuskan menyerahkan surat tersebut. “Jika oke, mereka dapat berangkat. Tetapi kalau belum disemprot maka akan diminta kembali ke sini,” papar Manaf rinci.

Jika kedapatan ada kendaraan yang tidak mau melakukan penyemprotan maka konsekuensi yang didapat jika terjadi wabah, yang bersangkutan harus bertanggungjawab. Sebab, undang-undang menyatakan demikian. “Ya kita tuntut saja,” tegas Manaf seraya mengimbau dengan kasus ini hendaknya masyarakat tidak terlalu takut untuk mengonsumsi ayam serta telur.

Protes

Sebanyak 8 orang pegawai Disnakeswan Kalbar, pihak kecamatan dan petugas kepolisian dari Polsek Pontianak timur mendatangi rumah Yusuf di Gang Jiran Tanjung Raya I, Rabu (16/6) sekitar pukul 12.00. Mereka hendak melanjutkan pemusnahan unggas milik Yusuf dan istrinya Satiri yang sebelumnya telah dimusnahkan sebanyak 28 ekor ayam.

Yusuf protes dan terjadi dialog setelah Yusuf menghalangi petugas yang ingin memusnahkan hewan ternaknya itu. Yusuf meminta kepada petugas supaya membuat surat perjanjian karena dirinya belum mengetahui pasti penyakit yang menimpa ternaknya.  “Saya ingin kejelasan, bukan saya tidak mau ngasi ayam ternak saya dimusnahkan, tetapi saya tidak mau sebelum tahu hasilnya. Meskipun saya orang awam, tapi juga ingin tahu hasilnya,” ujar Yusuf.

Yusuf tetap bersikeras tak mau memberikan ayam dan bebek miliknya yang masih sekitar seratusan ekor. Begitu juga surat perjanjian yang disodorkan dari kepolisian, urung ditandatangani. Isi surat itu kesediaan memusnahkan unggas setelah ada hasil uji penyakit yang menimpa ternak Yusuf.

Waspadai ILI

Serangan penyakit yang mematikan unggas di empat kawasan Kota Pontianak membuat jajaran Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar siaga. Koordinasi dengan setiap Puskesmas di Kota Pontianak ditingkatkan. Di setiap tempat pelayanan kesehatan pun sudah disediakan tamiflu. Petugas Puskesmas juga sudah dilatih untuk melakukan surveillance dan sudah disiapkan alat pelindung diri.

Hal yang patut diwaspadai adalah jika ada pasien yang mengalami gejala seperti influenza (Influenza Like Illness /ILI) dan pasien tersebut baru saja bepergian atau pernah kontak dengan orang dari daerah terjangkit, maka patut dicurigai (suspect). “Jumlah puskesmas yang melayani program ILI memang tidak banyak, namun merata di setiap kecamatan pasti ada. Ada kasus flu burung atau tidak, kami tetap menghidupkan program ini,” tegas Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar, dr M. Subuh kepada Equator via telephone, Rabu (16/6).

Menurut dia, laporan terkait pencegahan ILI itu ada dua jenis, yakni jenis W1 yang laporannya dilakukan 24 jam dan jenis W2 untuk laporan mingguan. Dari laporan tersebut dapat diketahui dengan cepat setiap perkembangan pasien di puskesmas terutama yang dilengkapi dengan program ILI. ”Hingga saat ini, belum ada yang diduga terkena virus H5N1,” tutur mantan Direktur RSUD Soedarso Pontianak ini.

Ia menjelaskan, virus H5N1 ini dapat dicegah dengan menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Terutama masyarakat yang sedang terserang flu diimbau agar menerapkan etika batuk dan bersin. “Kalau batuk harus ditutup dengan tisu dan tisunya segera dibuang. Gunakan juga masker dan sementara waktu jangan sering berkerumun di tempat keramaian,” paparnya.(ian/sul/oen)

Posted by: genetika21 | 15 June 2010

Kumpulan Berita Veteriner Hari Ini 12-15/06/2010

INDEX:

1.      Kompas: Ribuan Anjing Liar Bakal Dimusnahkan

2.      Jawa Pos: Si Guk-Guk Kembali Minta Nyawa

3.      Equator News On Line : Ratusan Ayam Mati Mendadak di Kalimantan Barat

4.      Equator News On Line : Tak Rela Ayam DiMusnahkan

5.      Kompas: Puluhan Unggas Diduga Terinfeksi Flu Burung

6.      Media Indonesia: Ternak Mati Diserang Bakteri

7.      Antara: MASYARAKAT KALBAR DIMINTA WASPADA ANCAMAN H5N1
***

1. Kompas

June 14, 2010

Ribuan Anjing Liar Bakal Dimusnahkan

Menjelang pelaksanaan Sea Games 2011, Dinas Peternakan Sumsel akan memusnahkan ribuan ekor anjing liar di Palembang untuk menghindari penyakit rabies. Kepala Dinas Peternakan Sumsel Asrillazi, Minggu (13/6), mengatakan, di Palembang diperkirakan terdapat 4.000 sampai 5.000 ekor anjing liar. Asrillazi menjelaskan, pemusnahan dilakukan dengan cara memberikan pakan yang mengandung obat kepada anjing liar. ”Pemusnahan anjing liar dilakukan mulai bulan ini sampai sebelum pelaksanaan Sea Games,” ujarnya. Menurut Asrillazi, pemusnahan anjing liar perlu dilakukan agar penyakit rabies tidak berjangkit saat di Palembang banyak dikunjungi tamu asing. (WAD)

2. Jawa Pos

June 13, 2010

Si Guk-Guk Kembali Minta Nyawa

DENPASAR-Serangan virus anjing gila tak kunjung bisa dibendung. Kendati segala upaya tetap diupayakan, namun penyebaran virus rabies di Bali terus saja memakan korban jiwa. Terakhir I Ketut Rintik, 50 menjadi korban keganasan virus rabies. Pria paruh baya asal Banjar Dinas Sumber Kesambi, Desa Sumberkima, Gerokgak, Buleleng, sekitar pukul 11.15, Sabtu kemarin (12/6) dinyatakan tewas saat menjalani perawatan di ruang isolasi Nusa Indah RS Sanglah akibat suspect rabies.

Dari informasi yang berhasil dihimpun koran ini kemarin, sebelum meninggal korban sempat mengamuk sesaat setelah tiba di rumah sakit, Jumat lalu (11/6), sekitar pukul 21.30. Akibat amukan Rintik, dua anaknya, yakni Kadek Yasa, 35, dan Ketut Arnata, 34, yang ketika itu berusaha menenangkan korban sempat terkena muntahan. ”Saat itu keluarga yang ikut jaga sempat terkena ludahnya,” aku Yasa.

Yasa mengaku ayahnya sempat digigit anjing di Pulaki dua bulan lalu. ”Gigitannya ketika itu mengenai telunjuk dan ibu jari tangan kanan,” terangnya. Meski diakui pernah mendapat perawatan di Puskesmas, namun seperti dikatakan Yasa, ayahnya saat itu tidak mendapatkan vaksin antirabies (VAR) lantaran saat itu sedang kosong. Tetapi korban enggan divaksin karena merasa lukanya telah sembuh. Padahal saat itu VAR telah tersedia di Puskesmas.

Terakhir sekitar seminggu lalu, korban mulai mengeluh tubuhnya panas. Sempat dibawa ke RSUD Buleleng, namun karena curiga, tim medis akhirnya merujuk pasien ke RS Sanglah. Sekretaris Tim Penanganan Rabies RS Sanglah dr. IGB Ken Wirasandhi, MARS, yang dikonfirmasi kemarin mengakui dilihat dari gejala klinis, pihaknya tidak menampik bahwa Rintik meninggal karena rabies.

Sedangkan tindakan RS atas tiga keluarga korban yang terkena muntahan korban saat ngamuk, diakuinya pihak medis sudah langsung memberikan VAR. “Pihak keluarga sudah divaksin. Mereka kena muntahan pasien di bagian dada. Meskipun secara medis bisa dipertanggungjawabkan dengan alat pelindung diri, namun untuk menghilangkan kecemasan kami juga berikan VAR,” ungkapnya.(pra)

3. Equator News On Line

14 Juni 2010

Ratusan Ayam Mati Mendadak. Deteksi Flu Burung, Kirim Sampel ke Bogor

PONTIANAK. Wabah yang menyerang ratusan ayam ternak di Kecamatan Pontianak Timur dalam enam hari terakhir ini telah diidentifikasi Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Kalbar.

“Kita bahkan sudah menurunkan tim sejak lima hari lalu. Indikasi memang mengarah flu burung karena tingkat kematiannya tinggi,” kata Kepala Disnakeswan Kalbar drh Adul Manaf Mustafa kepada Equator, kemarin (13/6).

Tetapi, kata Manaf, alat test belum tentu akurat. Karena itu akan mengirimkan sampel ayam yang mati untuk diperiksa di Balai Besar Penelitian Veteriner, Bogor, Jawa Barat. Tim bekerja meneliti sampel ayam yang mati menggunakan Visual Conversion Reaction (VCR) dan alat test cepat (rapid test).

Menurutnya, pengiriman sampel ayam mati itu rencananya akan dilakukan hari ini, Senin (14/6). Diprediksi hari Rabu hasil laboratorium itu akan diketahui secara pasti.

Kendati enggan memberi ketegasan soal kematian ayam itu terkait erat dengan flu burung, namun Disnakeswan tidak mau under estimate. Mereka sudah melakukan sejumlah pendekatan kepada masyarakat setempat untuk segera memusnahkan ayam yang mati dengan cara dikubur atau dibakar.

Sebagai daerah yang baru saja mendapatkan pujian dari Food and Agriculture Organization (FAO) karena bebas kasus Flu Burung sejak Januari 2010, Manaf memberikan perhatian besar terhadap kasus ini. Namun di sisi lain Ia berharap agar hal ini tidak menimbulkan kepanikan. ”Kalau diberitakan flu burung, akan mundur itu investor yang sudah memiliki rencana investasi di Kalbar,” tukasnya.

Sudarso Siaga

Ketua Tim Penanggulangan Flu Burung RSUD Dr Soedarso Pontianak, Dr Abdul Salam mengaku belum ada satu pun pasien demam tinggi yang dirawat di RSUD Dr Soedarso. ”Sampai saat ini belum ada yang terkena flu burung. Kalau di Puskesmas, saya kurang tahu,” tegas Salam kepada koran ini via selularnya, tadi malam.

Sejauh ini, RSUD Dr Soedarso merupakan satu diantara empat rumah sakit rujukan penyakit flu burung di Kalbar. Rumah Sakit pemerintah ini sudah memiliki satu ruangan isolasi dengan daya tampung sebanyak 11 pasien.

”Kita selalu waspada. Persediaan tamiflu juga cukup. Sementara untuk tenaga medis, kita punya 2 dokter paru, 1 dokter anak, 1 doketr dalam,  1 dokter anastesi, 1 dokter radiologi, dan 10 orang tenaga perawat,” pungkasnya.

Setiap hari

Sementara itu, warga Tanjung Raya I Pontianak Timur merasa khawatir wabah itu positif flu burung (avian influenza/AI), karena cirinya mati mendadak dengan wajah membiru.

“Dalam sehari pasti ada ayam warga ditemukan mati. Bukan hanya di gang kami, di gang yang lain juga banyak ayam mati mendadak,” ujar Rahimah, warga Gang Alhinduan, pemilik ayam yang mati mendadak, kemarin (13/6).

Rahimah merasa heran ketika melihat ayam yang dilepasnya mati mendadak. Padahal ayam miliknya dalam kelihatan sehat. “Kalau benar itu flu burung, kami takut  virus itu menyebar kepada warga di sini. Apalagi flu burung katanya bisa mematikan,” keluhnya.

Rahimah juga menceritakan kalau ayam-ayam yang mati mendadak itu, memiliki ciri wajah berwarna kebiru-biruan. “Kita harapkan pemerintah melalui instansi yang bersangkutan dapat meneliti, penyakit apa yang mematikan ayam-ayam kami.

Hal serupa juga menimpa Yusup, warga Gang Jiran, Jalan Tanjung Raya I Pontianak Timur. Baru-baru ini, pihaknya sudah kehilangan 13 ekor ayam karena mati mendadak.

“Ayam peliharaan saya yang baru-baru ini mati mendadak 13 ekor. Namun sebelumnya 70 ekor ayam saya juga pernah mati seketika. Awalnya saya tidak begitu cemas, karena disangka penyakit biasa. Namun melihat ciri-ciri kematiannya yang mendadak, hampir tiap warga di sini ketakutan itu flu burung,” ucap Yusup dengan paras muka memelas.

Peternak ayam ini sedih dengan wabah yang menjangkiti ayamnya. Alasannya selama ini, ia menyokong ekonomi keluargannya dari berternak ayam kampung. “Ini (beternak ayam kampung, red) merupakan penghidupan keluarga kami,” pintanya.

Yusup juga memberikan kesaksian kalau kematian ayam mendadak, bukan hanya miliknya, tapi juga milik para tetangganya. “Ayam kampung milik tetangga kami juga banyak yang mati mendadak!” tegas Yusup seraya berharap pemerintah bisa membantu mengatasi masalah ini. (bdu/sul)

4. Equator News On Line

15 Juni 2010

Tak Rela Ayam Dimusnahkan

PONTIANAK. Yusuf hanya bisa menangis ketika 28 ekor ayam bangkok yang sudah dipeliharanya bertahun-tahun, dibakar petugas Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalbar, Senin (14/6).

Mulanya dia ngotot tidak mau menyerahkan ayam-ayamnya, ketika sekitar pukul 10.00 sejumlah petugas mendatangi kediamannya di Gang Jiran, Pontianak Timur. ”Saya tidak tahu sakit apa ayam saya tiba-tiba mau dibakar,” tuturnya kepada Equator, kemarin.

Ketika petugas mau mengambil ayamnya Yusuf berteriak. “Jangan bakar ayam kami, itu bukan ayam warisan, itu bukan ayam pemberian orang.  Hanya itu yang bisa diandalkan menghidupkan keluarga. Kalau mau dibakar, bakar sekalian dengan rumah kami,” teriak Yusuf terus berontak.

Setelah berdialog cukup panjang akhirnya dengan berat hati ayah 10 anak itu menyerahkan sebagian ayamnya. ”Kalau terjadi apa-apa dengan warga, bapak harus betanggung jawab. Bapak nanti akan dikenai denda dan masuk penjara,” ujar Yusuf menyitir ancaman petugas.

Satiri, 63, istri Yusuf, 57, mengaku telah 20 tahun beternak ayam bangkok dan filipina yang didatangkannya dari Malaysia. Mulanya ia membeli sepasang dari temannya seharga Rp500 ribu per ekor.

Suami istri itu tak boleh melihat ke lokasi pembakaran agar tak merasa sakit ayam kesayangannya dijilati api. “Hanya itu yang saya kembangkan, tidak ada hasil lain. Lima belas tahun lalu saya beli bibit bangkok yang menang sabung,” tutur Satiri.

Satiri merasa telah dibunuh secara pelan-pelan oleh petugas, melihat ayamnya dimusnakan.“Saya harus gimana, sedangkan keluarga saya banyak, 10 orang yang hidup dari ternak ayam. Saya sangat tidak ikhlas kalau petugas tidak ganti rugi. Saya tidak minta banyak, tetapi yang sesuai,” ujar Satiri.
Keluarga Yusif berharap ada jalan keluar dari Diskeswan Kalbar. Selain mengganti ayam yang dibakar, ratusan unggas peliharaannya yang sehat jangan terus dimusnahkan. (sul)
5. Kompas
June 15, 2010
Puluhan Unggas Diduga Terinfeksi Flu Burung

Puluhan unggas mati mendadak di Kota Pontianak dalam waktu enam hari berturut-turut. Hasil tes cepat menunjukkan positif terjadi infeksi virus flu burung. Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalimantan Barat Abdul Mustafa Manaf, seusai pemusnahan unggas di Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Utara, Kota Pontianak, Senin (14/6), mengatakan, hasil tes cepat masih akan dipadukan dengan uji laboratorium untuk mendapatkan kepastian penyebab kematian mendadak unggas-unggas itu. ”Kalaupun nanti hasil uji laboratorium menyatakan positif terinfeksi flu burung, virus kemungkinan besar berasal dari luar Kalimantan Barat karena provinsi ini telah mendapatkan sertifikat bebas flu burung dari Kementerian Pertanian pada Januari lalu,” kata Manaf. (AHA)

6. Media Indonesia
June 15, 2010
Ternak Mati Diserang Bakteri

WABAH penyakit ternak berjangkit di Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, dalam dua pekan terakhir. Belasan ternak sapi, kambing, dan unggas ditemukan mati mendadak.Dinas Peternakan dan Perikanan Sragen belum mampu menanggulangi wabah.Petugas juga belum bisa mendeteksi jenis penyakit ternak itu.”Kami telah melapor, dan pemkab juga sudah menerjunkan tim kesehatan hewan, mengambil sampel bangkai, tanah maupun makanan,” kata Haryanto, peternak dari Desa Ketro.Warga memastikan dari ciri binatang yang mati, wabah itu bukan antraks atau flu burung. Ternak mati setelah beberapa hari terlihat lemas. Kematian selalu diawali kejang-kejang. Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Sragen Eka Rini menyatakan wabah itu diduga akibat serangan bakteri clostridium. (WJ/N-3) 11.20 WIB Sragen, Jawa Tengah

7. Antara
June 14, 2010
MASYARAKAT KALBAR DIMINTA WASPADA ANCAMAN H5N1

Pontianak, 14/6 (ANTARA) – Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalimantan Barat Abdul Manaf Mustafa, Senin, meminta masyarakat setempat untuk mewaspadai virus flu burung H5N1 yang masuk dari luar provinsi tersebut.

“Masyarakat harus waspada, jangan gampang percaya jika ada tawaran jenis unggas dari luar walaupun dikatakan merupakan bibit unggul dan bagus,” kata Abdul Manaf Mustafa saat dihubungi di Pontianak, Senin.

Menurut ia, selama ini petugas Balai Karantina yang ada di Kalbar sudah mewaspadai ancaman penyakit unggas dengan mencegah masuknya unggas jenis ayam dan burung ke wilayah tersebut.

Sejak Januari lalu ada sekitar 153 ekor ayam dan burung yang disita Balai Karantina yang akan masuk lewat Pelabuhan Dwikora.

Biasanya, menurut ia, ada warga yang membawa dua sampai tiga ekor ayam bangkok (ayam untuk aduan) dari luar dengan menumpang kapal laut, padahal ayam-ayam tersebut tidak diketahui kondisi kesehatannya.

Manaf mengakui, kasus kematian ayam yang beberapa hari ini terjadi di Kelurahan Kampung Dalam, Parit Pangeran dan Gang Merak itu terkait dengan masuknya ayam bangkok dari luar Kalbar.

“Kami sudah mengatasinya dengan memusnahkan ayam satu kandang dan yang ada di sekitarnya. Masih dilakukan pemeriksaan di laboratorium dan dalam waktu dekat ada hasilnya. Indikasinya mengarah ke sana (H5N1),” katanya.

Saat ini Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalbar sedang menyosialisasikan kepada masyarakat agar terus mewaspadai ancaman masuknya unggas dari luar dan penanganan pemberian desinfektan bekerja sama dengan kantor Dinas Peternakan di Kota Pontianak.

“Tetapi yang lebih penting, kesadaran masyarakat. Letupan yang terjadi di penangkaran ayam bangkok itu karena mereka membeli ayam bangkok dari luar akibatnya tertular,” katanya.

Menurut Abdul Manaf, pemilik ayam kini dapat menerima teguran dari Pemprov dan bersedia ayam-ayamnya dimusnahkan. Pemilik ayam itu tidak dikenakan ancaman hukuman karena hanya membeli ayam dari daerah lain.

“Dia (pemilik ayam) ditawari orang dari Jawa, ada ayam bangkok yang bagus. Kemudian dibeli, dan ternyata menjadi sumber penularan,” katanya.

Sepanjang 1.500 kilometer perbatasan Kalimantan, menurut Abdul Manaf merupakan daerah rawan bagi masuknya unggas-unggas pembawa penyakit.

Sementara Kalbar pada 25 Januari lalu sudah mendapatkan sertifikat bebas flu burung dari Kementerian Pertanian. Sertifikat diperoleh setelah pada bulan Januari 2007 Kalbar mengajukan permohonan sertifikat bebas flu burung.

Komisi Ahli Kesehatan Hewan dan Masyarakat menerbitkan rekomendasi Kalbar Bebas Flu burung pada 16 Desember 2009. (U.N005/C/B013/B013) 14-06-2010 13:04:04 NNNNCopyright © ANTARA

Posted by: genetika21 | 11 June 2010

Kumpulan Berita Veteriner Hari Ini 10-11/06/2010

INDEX:

1.      Kompas: Dalam Sebulan Sekitar 900 Kasus di Mappi

2.      Antara: DI BALI TERJADI 25.531 KASUS GIGITAN ANJING

3.      Antara: KASUS RABIES DI KOTA JAMBI DIPREDIKSI MENURUN

4.     Jakarta Post :Alleged malaria outbreak under investigation

***

1. Kompas

June 10 , 2010

Dalam Sebulan Sekitar 900 Kasus di Mappi

MAPPI, KOMPAS – Kabupaten Mappi yang berada di wilayah pedalaman Papua bagian selatan menjadi daerah endemik penyakit malaria. Dalam sebulan ditemukan sekitar 900 kasus malaria di wilayah itu. Angka kematian juga cukup tinggi.

Direktur Rumah Sakit Umum (RSU) Kabupaten Mappi Pranoto mengatakan, Rabu (9/6), dari 120 pasien yang ditangani tim rumah sakit dalam sehari, penderita malaria bisa mencapai 36 kasus. Belum lagi kasus malaria di puskesmas pembantu di setiap distrik.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Mappi, jumlah penderita malaria pada 2008 mencapai 13.519 orang. Angka ini meningkat ketimbang tahun 2004 sebanyak 11.500 penderita.

Jenis penyakit yang disebarkan nyamuk Anopheles betina ini terutama malaria tropika yang disebabkan parasit Plasmodium falciparum dan malaria tersiana akibat Plasmodium ovale. Mappi menjadi daerah endemik karena kondisi topografi yang didominasi rawa.

Menurut Pranoto, dalam pemeriksaan massal, hampir semua penduduk mengidap parasit malaria dalam limpanya. ”Kebanyakan masyarakat terlambat membawa keluarganya yang menunjukkan gejala malaria, seperti lemas disertai demam tinggi. Banyak pasien dibawa ke puskesmas atau rumah sakit dalam kondisi kritis,” kata Pranoto.

Misalnya, Efraim Komimu (35), warga Kampung Emete, Distrik Obaa, membawa anaknya, Sebastianus Komimu (12), sepekan setelah gejala tampak. Semula anaknya diobati secara tradisional. Setelah anaknya kritis, baru dibawa ke RSU Mappi.

Kepala Seksi Pencegahan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Mappi Nasrun mengatakan, upaya pemkab adalah membagikan obat gratis dan kelambu. Tahun ini Dinkes Kabupaten Mappi menganggarkan Rp 74 miliar untuk penanggulangan malaria. Bupati Mappi Aminadab Jumame mengakui, tingkat kesehatan masyarakat di wilayahnya masih rendah.

Sementara itu, dugaan terjadinya kematian 40 orang sepanjang April-Juni 2010 di Kabupaten Intan Jaya, Papua, akibat malaria tropika akan diteliti Dinkes Provinsi Papua. Temuan ini mendapat perhatian khusus karena kabupaten itu terletak di dataran tinggi dan bersuhu 10-15 derajat Celcius, sehingga tidak memungkinkan nyamuk berkembang biak. Informasi kematian 40 orang akibat malaria itu berasal dari temuan Sekretaris Komisi A DPR Papua Julius Miagoni saat reses pekan lalu.

Anggota tim dinkes yang juga koordinator Health Crisis Center Provinsi Papua, Paminto Widodo, Rabu, menuturkan, ia bersama tiga anggota tim akan ke Desa Degesiga dan Desa Bamba di Distrik Homeyo, Intan Jaya, yang angka kematiannya tujuh orang sebulan. Anggota tim itu adalah dr Ary Pongtiku, dr Made Gafar, dan dr Neny Mulyani.

“Akan kita teliti, apakah betul kematian karena malaria. Kalau betul, apakah yang meninggal pernah bepergian dari kampung, karena bisa saja ia tertular saat berada di daerah lain,” katanya. Jika memang ditemukan warga meninggal akibat malaria dan tidak pernah keluar dari kampungnya, maka ini menjadi fenomena baru, yaitu munculnya malaria pegunungan. (GRE/ICH)

2. Antara

June 9 , 2010

DI BALI TERJADI 25.531 KASUS GIGITAN ANJING

Denpasar, 9/6 (ANTARA) – Terjadi sebanyak 25.531 kasus anjing menggigit manusia di Bali sejak munculnya penyakit rabies di pulau wisata itu pada 2008, demikian data Setda Bali.
“Ribuan gigitan anjing itu hanya yang dilaporkan secara resmi ke pusat-pusat pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pertolongan vaksin anti rabies (VAR),” kata Kabag Publikasi dan Dokumentasi pada Biro Humas dan Protokol Setda Bali I Ketut Teneng, di Denpasar Rabu.
Ia mengatakan, banyaknya korban gigitan anjing tersebut mengakibatkan kebutuhan VAR juga sangat banyak. Sejak 2008, Bali telah menghabiskan sebanyak 23.031 vial VAR.
Menurut Ketut Teneng, Bali hingga awal Juni 2010 masih mempunyai persediaan 15.582 vial.
Stok tersebut masing-masing di RSUP Sanglah 742 vial, Denpasar 1.780 vial, Badung 2.954 vial, Tabanan 300 vial dan Gianyar 3.549 vial, Karangasem 200 vial, Klungkung 100 vial, Bangli 350 vial, Jembrana 80 vial, Buleleng 1.713 vial dan Dinas Kesehatan Provinsi Bali 3.814 vial.
Ketut Teneng menjelaskan, persediaan VAR pada Dinas Kesehatan Provinsi Bali itu bisa diarahkan kepada delapan kabupaten dan satu kota di daerah ini yang memerlukan adanya tambahan VAR.
Untuk mencegah adanya gigitan anjing pada manusia, sekaligus menangani rabies secara tuntas, Dinas Peternakan Bali terus melakukan eliminasi dan vaksinasi pada anjing.
Vaksinasi telah dilakukan terhadap 296.723 ekor anjing peliharaan di delapan kabupaten dan satu kota hingga awal Juni 2010.
Cakupan vaksinasi tersebut menurut Ketut Teneng mencapai 66,26 persen dari perkiraan populasi anjing sebanyak 447.966 ekor.
Vaksinasi tersebut sebagian besar terhadap anjing baru, dan sebagian lainnya berupa pemberian vaksinasi ulangan. Pemberian VAR pada anjing piaraan itu terus dilakukan dengan harapan mampu menjangkau seluruh anjing piaraan. Selain itu, sebanyak 84.199 anjing, atau sekitar 18,8 persen dari seluruh anjing yang ada di Bali, telah dieliminasi.
Tindakan eliminasi terhadap anjing liar itu dilakukan oleh petugas Dinas Peternakan kabupaten/kota se-Bali bekerja sama dengan desa adat setempat.
Kegiatan eliminasi itu dilakukan secara berkesinambungan dengan harapan tidak ada lagi anjing yang berkeliaran sesuai peraturan daerah (Perda) Nomor 15 tahun 2009 tentang Penanggulangan Rabies, kata Ketut Teneng. (T.I006/B/s018/s018) 09-06-2010 12:31:47 NNNN

3. Antara

June 9 , 2010

KASUS RABIES DI KOTA JAMBI DIPREDIKSI MENURUN

Jambi, 9/6 (ANTARA) – Kasus penyakit rabies di Kota Jambi diprediksi menurun pada 2010 dibanding 2009, kata Kasubdin Peternakan Dinas Pertanian, Peternakan, Perikanan dan Kehutanan Kota Jambi Said Abu Bakar di Jambi, Rabu.
Berdasarkan data, hingga Mei 2010 ditemukan enam kasus penyakit rabies, sementara pada 2009 ditemukan sebanyak 18 kasus, sedangkan 2008 sebanyak 22 kasus.
“Jika melihat data hingga Mei 2010, hingga akhir 2010 kasus rabies bisa ditekan menjadi kurang dari 12 kasus,” ujar Said.
Untuk menekan jumlah kasus rabies, DP3K melakukan beberapa langkah, salah satunya dengan melakukan eliminasi atau pemusnahan hewan jenis anjing sebagai media utama penyebaran rabies.
Said menjelaskan, upaya pemusnahan dilakukan tiga kali dalam satu tahun. Dari beberapa kali usaha pemusnahan, rata-rata per tahun DP3K berhasil memusnahkan sekitar 200 anjing pengidap rabies.
Salah satu daerah kecamatan di Kota Jambi yang paling banyak ditemukan anjing pengidap rabies adalah Kecamatan Kotabaru. Di daerah tersebut terdapat hampir 40 persen dari total anjing yang dimusnahkan dalam satu tahun.
Beberapa penyebab banyaknya anjing pengidap rabies di daerah tersebut adalah wilayah kecamatan yang luas dan banyak terdapat kebun yang bisa dijadikan sarana bersembunyi anjing liar. Selain itu, sebagian masyarakat di Kecamatan Kotabaru gemar memelihara anjing.
Selain melakukan pemusnahan anjing rabies, DP3K Kota Jambi juga melakukan program vaksinasi rabies terhadap anjing peliharaan masyarakat.
Meski begitu, Said menilai, kesadaran masyarakat untuk memvaksin hewan peliharaannya masih kurang. Hal itu terbukti dengan minimnya minat masyarakat untuk membawa hewan peliharaannya, khususnya anjing untuk divaksinasi di pusat kesehatan hewan.
“Kami dari DP3K lebih banyak turun langsung ke masyarakat untuk memberikan vaksinasi. Namun sayangnya, banyak warga yang enggan mengaku jika memiliki hewan peliharaan anjing,” kata Said.
Untuk menyukseskan program nasional yang menargetkan bebas rabies pada 2015, Said mengimbau masyarakat lebih meningkatkan kesadaran untuk memvaksin hewan peliharan di pusat kesehatan hewan.
“Yang paling penting adalah kerja sama dan kesadaran masyarakat. Apalagi vaksin rabies hanya enam bulan sekali. Itupun dengan biaya murah yakni antara Rp3.000-Rp5.000 per hewan, pemilik sudah bisa tenang dan merasa aman memelihara hewan,” tambah Said Abu Bakar. (T.KR-BS) (T.KR-BS/B/N002/N002) 09-06-2010 16:21:00 NNNN

4. The Jakarta Post

June 10 , 2010

Alleged malaria outbreak under investigation

The Papua Health Agency has set up a team to investigate a malaria outbreak in Intan Jaya regency, where 40 people have reportedly died from the mosquito-borne disease.

Coordinator of Papua Health Crisis Center (HCC) Paminto Widodo, said the team, which comprised of four members including himself, would depart to the two subdistricts of Degesiga and Bamba, where death tolls were reportedly highest over recent months.

“We will re-examine and retest to make sure that these [40] people really died from malaria,” said Paminto.

Other team members were Ary Pongtiku, Made Gafar and Neny Mulyani.

Malaria, a serious infectious disease spread by certain mosquitoes, is most common in tropical climates and is characterized by recurrent symptoms, such as chills, fever and an enlarged spleen.

Paminto said that a report filed by the Intan Jaya Health Agency confirmed the victims had tested positive to Malaria.

However, he said, the regency’s geographical situation, which is relatively high and cold with temperatures between 10 and 15 degrees, was not a suitable place for malaria to grow.

“More thorough research is needed,” Paminto said.

One of the examined factors, he said, included whether the victims had traveled outside their villages.

“It’s quite possible they contracted malaria while traveling in other regions such as Nabire, a malaria-endemic area,” he said.

He said that if the victims were later proven to have never left their subdistricts, then the outbreak would be a new phenomenon the emergence of mountain range malaria.

He said the team would also look into the possibility that the number of dead victims listed in the report was an accumulation of deaths from previous years — and had not occurred over a short period of time.

Paminto said that three deaths in three months in a subdistrict would still be considered normal.

“That is the reason why the team will go directly to subdistricts with the highest number of deaths reported in the last month [to find out the real figure],” he said.

As a precaution, he said that the team had also coordinated with the Intan Jaya Health Agency to
conduct fogging in the region.

The secretary of  the Papua legislative council’s Commission A overseeing health, Julius Miagoni, told reporters that the deaths of the 40 people occurred over three months — from April to June.

Posted by: genetika21 | 9 June 2010

Kumpulan Berita Veteriner Hari Ini 08-09/06/2010

INDEX:

1. Jawa Pos: Flu Burung Tewaskan Wanita Hamil

***

1. Jawa Pos

June 8, 2010

Flu Burung Tewaskan Wanita Hamil

BEIJING – Flu burung kembali merenggut korban. Seorang wanita hamil meninggal karena virus H5N1. Kasus tersebut merupakan kematian pertama sejak penyebarannya mereda awal tahun lalu.
Kementerian Kesehatan mengonfirmasi kasus itu. Ibu 22 tahun yang sedang hamil empat bulan tersebut mulai terjangkit flu burung pada akhir Mei. Warga Provinsi Hubei tersebut meninggal Kamis lalu (3/6). Berita kematian tersebut dilansir website resmi Kementerian Kesehatan kemarin (7/6).
Seperti dilansir Agence France-Presse, korban baru didiagnosis terjangkit flu burung sehari sebelum meninggal. Pemeriksaan yang dilakukan oleh Pusat Kontrol Penyakit dan Pencegahan Tiongkok menemukan bahwa wanita tersebut melakukan kontak dengan unggas sebelum sakit. Namun, otoritas tidak menemukan unggas yang terinfeksi flu burung di sekitar tempat tinggal korban.
Masih belum diketahui bagaimana ibu muda itu terjangkit virus mematikan tersebut. Pasalnya, sejak tahun lalu sudah tidak ditemukan unggas yang terdeteksi terjangkit H5N1.
Kematian terakhir itu menambah panjang daftar korban virus flu burung. Yakni, menjadi 26 orang sejak virus tersebut mewabah pada 2003. Menurut badan kesehatan dunia, WHO, ada 39 kasus flu burung yang menyerang manusia. (cak/c10/dos)

Posted by: genetika21 | 7 June 2010

Kumpulan Berita Veteriner Hari Ini 05-07/06/2010

INDEX:

1.      Seputar Indonesia: Waspadai Penyakit Baru Menular

2.      Sinar Harapan: KKP Dimaksimalkan untuk Cegah Penyakit Menular

3.      Waspada: Abdya Bebas Penyakit Menular Hewan

4.      Antara: HAMA BABI DI MAMUJU KEMBALI MENGGANAS

5.      Deptan.go.id : Kementan Perintahkan Re-Ekspor Sapi Impor Ilegal

***

1. Seputar Indonesia

June 5, 2010

Waspadai Penyakit Baru Menular

PENYAKIT menular yang baru muncul (PMBM) atauemerging infectious diseases (EID), mempunyai potensi menimbulkan wabah, kerugian ekonomi,dan kekacauan sosial yang hebat.
Ancaman penyakit tersebut sekitar 70% berasal dari penyakit hewan, misalnya SARS, nipah, flu burung, dan flu babi. Hal ini diperberat karena Indonesia juga menghadapi penyakit menular bersumber binatang lainnya, seperti malaria, demam berdarah, filariasis (kaki gajah), serta rabies. Selain itu, ada juga penyakit menular langsung seperti diare,cacingan,dan kusta. Menurut Menteri Kesehatan (Menkes) Endang Rahayu Sedyaningsih, kesehatan merupakan hak asasi setiap insan Indonesia dan pemenuhannya merupakan tanggung jawab negara.
”Seluruh masyarakat termasuk peternak unggas, perlu dilindungi dari berbagai penyakit, terutama penyakit yang dapat menimbulkan wabah dan pandemi,”ujarnya ketika membuka Rakernas Gerakan Nasional Peternak Sehat Ternak Sehat (PSTS) yang diselenggarakan Himpunan Masyarakat Peternak Unggas Lokal Indonesia (HIMPULI) di Bogor, beberapa waktu lalu. Rakernas diikuti sekitar 200 anggota HIMPULI dan dihadiri juga oleh Menteri Pertanian (Menpan) Suswono. Endang menerangkan, pengembangan Desa Siaga dengan kegiatan ”Peternak Sehat Ternak Sehat” merupakan model upaya strategis terobosan kegiatan keterpaduan kesehatan masyarakat, kesehatan lingkungan, dan kesehatan ternak di desa.
Hal tersebut sesuai dengan kebutuhan masyarakat melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat, dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di masyarakat dan bantuan pemerintah. ”Gerakan PSTS merupakan terobosan baru yang harus terus diperluas cakupannya ke seluruh Indonesia. Sebagai konsep Satu Kesehatan untuk Indonesia sebagai bagian dari One World One Health,”tutur Endang. Tujuan gerakan nasional PSTS yaitu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan meningkatkan produktivitas ternak. Dengan tujuan khusus, ialah mewujudkan peternakan unggas yang sehat sesuai dengan cara beternak unggas yang baik (Good Farming Practices/GFP). Selain itu, mewujudkan lingkungan pemukiman yang sehat, serta terselenggaranya penanganan produk hewan yang higienis.
Endang mengutarakan, gerakan PSTS merupakan gerakan promosi kesehatan, kebersihan perorangan dan PHBS, deteksi dini, dan respons cepat pada penyakit yang dapat menimbulkan wabah. Selain itu, program tersebut sebagai pemberdayaan masyarakat peternak di bidang kesehatan dan UKBM,penyehatan lingkungan. Dia menyebutkan, dari 231,83 juta jiwa penduduk Indonesia (Data BPS 2009), 45.24% (104,87 juta jiwa) adalah pekerja.Sebagian besar bekerja di sektor pertanian (46%), perdagangan (19%), industri (12%),dan lain-lain.Sektor pertanian meliputi petani,nelayan, peternak,sedangkan pekerja yang bergerak di sektor peternakan unggas (ayam, itik, dan lain-lain) mencapai 5 juta, yang terdiri atas peternak unggas formal dan nonformal yang tersebar di desadesa.
”Kita ketahui, unggas air termasuk itik atau bebek merupakan ‘carrier’ dan sumber penularan flu burung pada unggas dan manusia,” terang Endang. Menurut hasil penyelidikan epidemiologi,faktor risiko penularan flu burung kepada manusia 47% disebabkan kontak langsung dengan unggas mati mendadak, 41% karena kontak dengan lingkungan tercemar, 2% disebabkan pupuk,dan 10 % belum diketahui. Hal tersebut terjadi karena kurang pengetahuan, kesadaran masyarakat dalam perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), adanya pemeliharaan unggas yang dilepas di halaman rumah (back yard farming),atau pengandangan yang tidak memenuhi syarat kesehatan. Saat ini selain beredar virus influenza musiman, bersirkulasi pula virus Influenza A Baru (H1N1) yang pernah menimbulkan pandemi pada 2009 dan virus H5N1 yang terdapat di Mesir,China,Vietnam, dan Indonesia.
”WHO dan masyarakat dunia mengkhawatirkan kemungkinan lahirnya virus influenza baru dari hasil perubahan genetik maupun melalui percampuran genetik dari dua virus atau lebih. Virus ini kemungkinan dapat menimbulkan wabah atau pandemi di banyak negara di dunia,”papar Endang. (rendra hanggara)

2. Sinar Harapan

June 5, 2010

KKP Dimaksimalkan untuk Cegah Penyakit Menular

Jakarta – Pemerintah akan memaksimalkan tenaga Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) untuk mencegah masuknya berbagai penyakit menular yang berasal dari luar negeri.

Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Dirjen PP dan PL) Kementerian Kesehatan Prof Dr dr Tjandra Yoga Aditama saat memberikan pemaparan mengenai KKP di Jakarta, Jumat (4/6).
Dikatakan Tjandra, penyakit menular yang baru muncul (PMBM) atau emerging infectious diseases (EID) mempunyai potensi menimbulkan wabah, kerugian ekonomi dan kekacauan sosial yang hebat. Ancaman tersebut sekitar 70 persen berasal dari penyakit hewan, seperti SARS, flu burung, dan flu babi.
Hal ini diperberat karena bangsa Indonesia juga menghadapi penyakit menular bersumber binatang lainnya, seperti malaria, demam berdarah, filariasis (kaki gajah), rabies, dan penyakit menular langsung, seperti diare, cacingan, dan kusta.
Di dunia saat ini, selain beredar virus influenza musiman, bersirkulasi pula virus influenza A baru (H1N1) yang pernah menimbulkan pandemi tahun 2009 dan virus H5N1 yang terdapat di Mesir, China, Vietnam, dan Indonesia.
Dalam hal ini, KKP memegang peranan penting mengingat keberadaannya sebagai pintu gerbang dalam penangkalan penyakit menular dari luar negeri. Peraturan Menteri Kesehatan No 356 Tahun 2008 menyebutkan, KKP mempunyai tugas melaksanakan pencegahan masuk dan keluarnya potensial wabah, surveilans epidemiologi, kekarantinaan, pengendalian dampak kesehatan ling­kungan, pelayanan kesehatan, serta pengamanan terhadap penyakit baru dan penyakit yang muncul kembali, bioterorisme, unsur biologi, kimia, dan pengamanan radiasi di wilayah kerja KKP itu.
KKP tidak terbatas pada pelabuhan semata, tetapi kebijakan umum di pintu-pintu masuk negara, seperti pelabuhan, bandar udara, terminal bus, dan stasiun kereta api. Setidaknya, ada 48 KKP yang tersebar dari Sabang sampai Merauke dengan wilayah kerja sebesar 294. Hampir di semua KKP telah tersedia tempat karantina.
Selain itu, tambah Tjandra, KKP merujuk pada International Health Regulation (IHR), di mana peraturan kesehatan ini telah disetujui oleh 194 negara anggota Badan Kesehatan Dunia (WHO). Tujuannya adalah meningkatkan kapasitas surveilans dari masyarakat di tingkat nasional dalam mendeteksi dan merespons, serta penanggulangan penyakit pada sumbernya. Selain itu, juga meningkatkan pengendalian dan penyebaran penyakit lintas batas.
Sementara itu, keberadaan pelabuhan-pelabuhan “tikus” yang banyak tersebar di seluruh pelosok Indonesia dapat menjadi ancaman tersendiri, mengingat di tempat seperti itu, orang dan barang akan seenaknya lalu lalang tanpa ada proses pendeteksian. “Saya tidak tahu jumlah pelabuhan ‘tikus’, tetapi keberadaannya menjadi ancaman serius bagi kesehatan di masa yang akan datang,” pungkas Tjandra. (heru guntoro)

3. Waspada

June 5, 2010

Abdya Bebas Penyakit Menular Hewan

BLANGPIDIE – Penyakit menular dari hewan ke manusia seperti rabies, antraxis dan beberapa penyakit lainnya yang berasal dari hewan dipastikan tidak endemic (berjangkit) di kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), walaupun akses keluar masuk serta perdagangan hewan di Abdya masih dinilai cukup tinggi.
Pernyataan kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Abdya, Zainuddin, terkait kecemasan sebahagian warga terhadap maraknya hewan liar di Abdya yang dianggap pemicu munculnya penyakit menular hewan ke manusia.
Hewan liar seperti anjing, kucing dan babi hutan yang semakin tinggi populasinya di Abdya dianggap memiliki kerentanan yang tinggi terhadap munculnya penyakit menular ke manusia.
“Memang populasi hewan liar seperti anjing, kera, babi hutan sangat rentan menimbulkan penyakit seperti rabies dan penyakit lainnya, tetapi kita selalu meningkatkan pengawasan serta melakukan eliminasi secara berkala, sedangkan pintu masuk perdagangan hewan ternak juga kita awasi secara ketat, setiap periodik kita selalu kirimkan sample darah ke laboratorium kesmavet di Banda aceh dan hingga saat ini Abdya masih bebas dari penyakit menular tersebut,” jelas Zainuddin.

4. Antara

June 4, 2010

HAMA BABI DI MAMUJU KEMBALI MENGGANAS

Mamuju, 4/6 (ANTARA) – Serangan hama babi hutan kini semakin mengganas dalam sepekan terakhir di wilayah Kecamatan Tappalang, sekitar 40 kilometer dari Mamuju, ibu kota Sulawesi Barat. Salah seorang petani asal Kecamatan Tappalang, Samsuddin (43) di Mamuju, Jumat, mengatakan, dalam sepekan terakhir ini, hama babi mulai mengganas dan menyebabkan sejumlah tanaman jangka pendek rusak dan bahkan mati. “Kami kewalahan mengatasi hama babi yang kian mengganas dan membuat para petani mengalami kerugian cukup besar yang ditaksir mencapai puluhan juta rupiah,” tuturnya. Ia mengatakan, desa yang menjadi sasaran hama babi itu hampir merata terjadi di wilayah Kecamatan Tappalang bahkan juga menyerang wilayah kecamatan Tappalang Barat.
“Tanaman petani jangka pendek seperti ubi kayu, ubi jalar, kacang-kacangan, jagung maupun tanaman Kakao rusak diamuk oleh hama babi,” jelasnya. Salah satu cara yang dilakukan untuk membasmi hama babi, katanya, masyarakat menggunakan cara-cara lama yakni dengan cara menaburi racun di pematang sawah dan beberapa cara tradisional seperti membuat perangkap maupun berburu babi secara rutin. “Cara berburu babi ini belum memberikan hasil positif karena yang berhasil ditangkap terbilang minim, sementara untuk membuat perangkap masyarakat terkendala dana,” katanya. Ia mengatakan, potensi sektor pertanian di daerah itu sangat besar, namun dengan ancaman hama yang merajalela, telah membuat sumber mata pencaharian masyarakat petani di Tappalang terancam. Apalagi, kata dia, pemerintah sendiri hingga saat ini belum ada solusi untuk penaggulanggan hama-hama tersebut. Hal senada diungkapkan Muslimin (30), warga Tappalang Barat. Ia mengatakan, sejak sepekan ini serangan hama babi semakin ganas. Sementara perburuan babi di Desa itu belum menunjukkan hasil menggemberikan karena hasil perburuan masih minim. (KR-ACO) (T.KR-ACO/C/Z002/Z002) 04-06-2010 22:37:07 NNNN

5. Deptan.go.id

Kementan Perintahkan Re-Ekspor Sapi Impor Ilegal

Sebagai langkah tindaklanjut dari tindakan cegah tangkal oleh Balai Besar Karantina Pertanian Tanjung Priok pada tanggal 22 Mei 2010 atas upaya pemasukan sapi potong ilegal dari Australia oleh PT. SP, Kementerian Pertanian telah merumuskan tindakan terhadap sapi impor yang masuk ke Indonesia tanpa Surat Persetujuan Pemasukan (SPP) tersebut.  Untuk menjelaskan tindakan tersebut, bertempat di Ruang Pola, Kementan pada tanggal 2 Juni 2010 telah dilakukan Konperensi Pers oleh Direktur Jenderal Peternakan, Kepala Badan Karantina Pertanian dan Inspektur Jenderal yang dalam hal ini diwakili oleh Inspektur Khusus.

Pemerintah Kabinet Indonesia Bersatu II telah berkomitmen untuk mewujudkan Swasembada Daging Sapi Tahun 2014, oleh sebab itu kebijakan dan pengendalian impor harus diletakkan pada iklim yang kondusif agar usaha peternakan sapi potong di Indonesia dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Dalam rangka itu maka pengawasan pemasukan sapi impor akan semakin diperketat.
Sebagaimana diketahui bahwa pada tanggal 22 Mei 2010 telah dilakukan cegah tangkal oleh Balai Besar Karantina Pertanian Tanjung Priok atas upaya pemasukan sapi potong ilegal dari Australia sebanyak 2.156 ekor, 1 ekor mati, 2 ekor lemah dan tidak diturunkan. Pemasukan sapi potong tersebut dilakukan oleh PT. SP dengan menggunakan Surat Persetujuan Pemasukan yang seharusnya hanya berlaku s/d 30 April 2010. Saat ini terhadap sapi impor tersebut dilakukan penahanan di 3 (tiga) Instalasi Karantina Hewan Sementara (IKHS) di Sukabumi, Bekasi dan Subang di bawah pengawasan Balai Besar Karantina Pertanian Tanjung Priok.

Hasil audit investigasi yang dilakukan oleh Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian atas dugaan pemasukan ternak sapi ilegal dari Australia melalui pelabuhan Tanjung Priok yang dilaporkan kepada Menteri Pertanian pada tanggal 27 Mei 2010, ditemukan adanya pelanggaran surat persetujuan pemasukan sapi impor.

Berdasarkan laporan hasil Audit Investigasi Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian tersebut, dan mengacu pada Peraturan Menteri Pertanian No. 7 tahun 2008, maka Direktur Jenderal Peternakan telah mengeluarkan surat No.01011/KL.430/F/06/2010 tanggal 1 Juni 2010 yang menetapkan untuk melarang pemasukan sapi impor yang telah melanggar surat persetujuan pemasukan.

Atas dasar hasil audit investigasi dan keputusan pelarangan pemasukan tersebut, maka Kementerian Pertanian memerintahkan kepada importir sapi potong yang telah melakukan pelanggaran dokumen Surat Persetujuan Pemasukan untuk segera melaksanakan re-ekspor, dan sangsi tidak akan diberikan surat persetujuan pemasukan untuk melakukan importasi selama 6 bulan sejak dikeluarkannya penetapan larangan pemasukan oleh Direktorat Jenderal Peternakan.

Kepada para importir, asosiasi, dan pelaku usaha, ditegaskan bahwa terhadap pelanggaran pemasukan sapi potong, daging/karkas dan jeroan kedepan akan ditindak tegas dan akan diberikan sanksi rekomendasi pencabutan izin usaha serta akan dikenakan sanksi hukum sesuai dengan peraturan berlaku.
Selanjutnya, untuk menjaga keseimbangan permintaan dan penawaran daging sapi di dalam negeri termasuk adanya indikasi penurunan harga sapi lokal, maka Menteri Pertanian menginstruksikan agar segera dilakukan penghitungan kembali secara cermat mengenai angka-angka ketersediaan sapi lokal dan kebutuhan impor dalam bentuk sapi hidup maupun daging/karkas, jeroan. Dengan demikian, penetapan kebutuhan impor ke depan harus benar-benar terjaga dan terkendali sehingga program

Swasembada Daging Sapi Tahun 2014 dapat berjalan dengan baik serta mampu menciptakan peluang usaha yang kondusif bagi pengembangan usaha dan investasi peternakan sapi potong di Indonesia.
Untuk pengawalan pengendalian pemasukan ini akan segera di bangun sistem informasi pelayanan persetujuan pemasukan sapi secara elektronik di lingkup Direktorat Jenderal Peternakan dan Badan Karantina Pertanian secara on line, sehingga upaya-upaya pemasukan sapi potong maupun daging, karkas, dan jeroan dengan modus pemalsuan dokumen dapat dicegah-tangkal.  (Press Conference tanggal 02 Juni 2010).

Sumber Berita : Sekretariat Jenderal

Posted by: genetika21 | 4 June 2010

Kumpulan Berita Veteriner Hari Ini 04/06/2010

INDEX:

1.      Kompas.com: Leptospirosis Renggut Lima Nyawa

2.      Antara: SEORANG MAHASISWA DI BALI MENINGGAL KARENA RABIES

3.      Antara: SULUT ANTISIPASI WABAH BLUE EAR SERANG BABI

4.     Deptan.go.id : Tindakan Terhadap Sapi Impor Tanpa Surat Persetujuan Pemasukan (SPP)

***

1. Kompas.com

June 2, 2010

Leptospirosis Renggut Lima Nyawa

Laporan wartawan KOMPAS Eny Prihtiyani

BANTUL, KOMPAS.com – Sebanyak 45 warga Bantul, DI Yogyakarta terkena leptospirosis. Lima orang diantaranya meninggal dunia. Namun, pemerintah daerah setempat belum menyatakannya sebagai kejadian luar biasa atau KLB. Padahal jumlah kasusnya melonjak pesat dibandingkan tahun lalu.

Berdasarkan data dinas kesehatan kabupaten Bantul, kasus leptospirosis tahun 2009 tercatat 9 kasus, satu orang diantaranya meninggal. Tahun ini penyakit yang ditularkan lewat air kencing tikus tersebut, banyak menyerang warga di Kecamatan Sedayu dan Sewon.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, dr Siti Noor Zaenab Syech Said, Rabu (2/6/2010) mengatakan sampai saat ini pihaknya belum menetapkan KLB. Meski ada peningkatan dua kali lipat lebih, tidak perlu ada penetapan KLB secara politis oleh bupati. “Yang terpenting adalah upaya pencegahan secara konkret,” katanya.

Dia mengatakan, tingginya kasus leptospirosis di Bantul salah satunya karena posisi daerah tersebut sebagai daerah hilir. “Semua aliran sungai dari arah utara mengalir ke selatan dengan melintasi Bantul. Air menjadi media subur bagi penularan leptospirosis. Dengan mudah air kencing tikus dan ternak lainnya mengalir ke sungai,” ujarnya.

2. Antara

June 3, 2010

SEORANG MAHASISWA DI BALI MENINGGAL KARENA RABIES

Denpasar, 3/6 (ANTARA) – Kadek Witarsa Rempi(21), seorang mahasiswa semester VI di Bali meninggal dunia di RSUP Sanglah, Denpasar yang diduga menjadi korban virus rabies akibat gigitan anjing.
Warga Banjar Dinas Tumbu Kelem, Kabupaten Karangasem, Bali, meninggal Kamis sekitar pukul 14.05 Wita. Korban dilarikan ke rumah sakit Sanglah Kamis pukul 00.45 Wita.
Menurut ayah korban, Komang Rempi, anaknya digigit anjing tiga bulan lalu. Mahasiswa Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Karangasem itu sempat diobati di puskesmas. Sehari sebelum meninggal, dia mengeluh sakit sesak nafas dan flu.
Korban kemudian dibawa ke RSUD Karangasem, dan dikatakan jika korban terduga rabies. Disarankan agar korban dibawa ke RSUP Sanglah karena vaksin antirabies di RSUD Karangasem telah habis.
Ketika di rumah sakit, keluarga korban terlihat emosi dan menyalahkan pihak rumah sakit. Komang Rempi menyesalkan lambatnya penanganan pihak rumah sakit sehingga korban tewas.
Bahkan salah seorang kerabat korban sampai melempar tas bawaannya ke arah kamerawan sebuah TV yang terus menyorotnya. (T.M026/B/Z002/Z002) 03-06-2010 19:52:35 NNNN

3. Antara

June 3, 2010

SULUT ANTISIPASI WABAH BLUE EAR SERANG BABI

Manado, 3/6(ANTARA) – Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) mengantisipasi penyebaran wabah “blue ear” menyerang ternak babi dengan mengoptimalkan tim penanggulangan penyakit hewan.
“Tim penanggulangan penyakit hewan akan melakukan pengawasan terhadap ternak babi yang ada di Sulut, meskipun kasus ini baru ditemukan di Vietnam,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Sulut, Herry Rotinsulu, di Manado, Kamis.
Wabah Blue Ear atau yang dikenal dengan nama Porcine Reproductive & Respiratory Syndrome (PPRS) mewabah di 16 provinsi di Vietnam yang menyebabkan ratusan ternak babi mati.
Herry mengatakan, antisipasi dini perlu dilakukan mengingat Vietnam cukup dekat dengan Indonesia, dan sama dengan negara tersebut, Sulut merupakan salah satu daerah ternak babi terbesar di Indonesia.
Herry mengatakan, langkah paling awal harus dilakukan peternak babi yakni menjaga kesehatan ternak serta menjaga sanitasi kandang dan lingkungan peternakan.
Meskipun belum ada kasus ditemukan di Indonesia, tetapi perlu pengetatan badan karantina pertanian mencegah jangan sampai wabah tersebut masuk Indonesia.
“Balai karantina hewan baik yang ada di bandara maupun pelabuhan laut perlu melakukan pengawasan lebih ketat terhadap hewan ternak babi,” kata Rotinsulu.
Warga Sulut, kata Herry, jangan cemas, karena penyakit ini belum diketahui apakah menular ke manusia seperti halnya Flu Burung dan Flu Babi.
Wabah Blue Ear menyerang beberapa provinsi yang berada di Vietnam yakni, provinsi Hai Duong, Thai Binh, Thai Nguyen, Hung Yen, Bac Ninh, Hai Phong, Hanoi, Nam Dinh, Ha Nam, Lang Son, Nghe An, Quang Ninh, Bac Giang, Hoa Binh, Cao Bang dan yang terbaru provinsi Son La.
Waktu penyebaran dari virus ini sangat cepat sekitar 4-5 bulan dan sedikitnya terdapat 90 persen ternak yang telah menjadi positif.
Virus PRRS ini bisa menginfeksi semua jenis ternak termasuk yang memiliki status kesehatan tinggi atau biasa saja dan menyerang ternak yang berada di dalam atau luar kandang. (T.G004/B/M012/M012) 03-06-2010 19:59:08 NNNN

4. Deptan.go.id

Tindakan Terhadap Sapi Impor Tanpa Surat Persetujuan Pemasukan (SPP)

Sebagai langkah tindaklanjut dari tindakan cegah tangkal oleh Balai Besar Karantina Pertanian Tanjung Priok pada tanggal 22 Mei 2010 atas upaya pemasukan sapi potong ilegal dari Australia oleh PT. SP, Kementerian Pertanian telah merumuskan tindakan terhadap sapi impor yang masuk ke Indonesia tanpa Surat Persetujuan Pemasukan (SPP) tersebut.  Untuk menjelaskan tindakan tersebut, bertempat di Ruang Pola, Kementan pada tanggal 2 Juni 2010 telah dilakukan Konperensi Pers oleh Direktur Jenderal Peternakan, Kepala Badan Karantina Pertanian dan Inspektur Jenderal yang dalam hal ini diwakili oleh Inspektur Khusus.

Pemerintah Kabinet Indonesia Bersatu II telah berkomitmen untuk mewujudkan Swasembada Daging Sapi Tahun 2014, oleh sebab itu kebijakan dan pengendalian impor harus diletakkan pada iklim yang kondusif agar usaha peternakan sapi potong di Indonesia dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Dalam rangka itu maka pengawasan pemasukan sapi impor akan semakin diperketat.
Sebagaimana diketahui bahwa pada tanggal 22 Mei 2010 telah dilakukan cegah tangkal oleh Balai Besar Karantina Pertanian Tanjung Priok atas upaya pemasukan sapi potong ilegal dari Australia sebanyak 2.156 ekor, 1 ekor mati, 2 ekor lemah dan tidak diturunkan. Pemasukan sapi potong tersebut dilakukan oleh PT. SP dengan menggunakan Surat Persetujuan Pemasukan yang seharusnya hanya berlaku s/d 30 April 2010. Saat ini terhadap sapi impor tersebut dilakukan penahanan di 3 (tiga) Instalasi Karantina Hewan Sementara (IKHS) di Sukabumi, Bekasi dan Subang di bawah pengawasan Balai Besar Karantina Pertanian Tanjung Priok.

Hasil audit investigasi yang dilakukan oleh Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian atas dugaan pemasukan ternak sapi ilegal dari Australia melalui pelabuhan Tanjung Priok yang dilaporkan kepada Menteri Pertanian pada tanggal 27 Mei 2010, ditemukan adanya pelanggaran surat persetujuan pemasukan sapi impor.

Berdasarkan laporan hasil Audit Investigasi Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian tersebut, dan mengacu pada Peraturan Menteri Pertanian No. 7 tahun 2008, maka Direktur Jenderal Peternakan telah mengeluarkan surat No.01011/KL.430/F/06/2010 tanggal 1 Juni 2010 yang menetapkan untuk melarang pemasukan sapi impor yang telah melanggar surat persetujuan pemasukan.

Atas dasar hasil audit investigasi dan keputusan pelarangan pemasukan tersebut, maka Kementerian Pertanian memerintahkan kepada importir sapi potong yang telah melakukan pelanggaran dokumen Surat Persetujuan Pemasukan untuk segera melaksanakan re-ekspor, dan sangsi tidak akan diberikan surat persetujuan pemasukan untuk melakukan importasi selama 6 bulan sejak dikeluarkannya penetapan larangan pemasukan oleh Direktorat Jenderal Peternakan.

Kepada para importir, asosiasi, dan pelaku usaha, ditegaskan bahwa terhadap pelanggaran pemasukan sapi potong, daging/karkas dan jeroan kedepan akan ditindak tegas dan akan diberikan sanksi rekomendasi pencabutan izin usaha serta akan dikenakan sanksi hukum sesuai dengan peraturan berlaku.
Selanjutnya, untuk menjaga keseimbangan permintaan dan penawaran daging sapi di dalam negeri termasuk adanya indikasi penurunan harga sapi lokal, maka Menteri Pertanian menginstruksikan agar segera dilakukan penghitungan kembali secara cermat mengenai angka-angka ketersediaan sapi lokal dan kebutuhan impor dalam bentuk sapi hidup maupun daging/karkas, jeroan. Dengan demikian, penetapan kebutuhan impor ke depan harus benar-benar terjaga dan terkendali sehingga program

Swasembada Daging Sapi Tahun 2014 dapat berjalan dengan baik serta mampu menciptakan peluang usaha yang kondusif bagi pengembangan usaha dan investasi peternakan sapi potong di Indonesia.
Untuk pengawalan pengendalian pemasukan ini akan segera di bangun sistem informasi pelayanan persetujuan pemasukan sapi secara elektronik di lingkup Direktorat Jenderal Peternakan dan Badan Karantina Pertanian secara on line, sehingga upaya-upaya pemasukan sapi potong maupun daging, karkas, dan jeroan dengan modus pemalsuan dokumen dapat dicegah-tangkal.  (Press Conference tanggal 02 Juni 2010).

Sumber Berita : Sekretariat Jenderal

« Newer Posts - Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.