Posted by: genetika21 | 17 June 2010

Kumpulan Berita Veteriner Hari Ini 16-17/06/2010

INDEX:

1.      Jurnal Nasional: Tiga Daerah di Kalsel Ditetapkan KLB Malaria

2.      Sinar Harapan: Relokasi Unggas Terancam Gagal

3.      Suara Merdeka: Satu Orang Tewas Terserang Flu Burung

4.      Antara: WARGA LAMPUNG SELATAN BELUM TAHU FLU BURUNG

5.      Equator News On Line : RSUD Soedarso Siaga Flu Burung

6. Equator News On Line : Sampar Ganas Dipicu Flu Burung

***

1. Jurnal Nasional

June 16 2010

Tiga Daerah di Kalsel Ditetapkan KLB Malaria

Selama Januari – Juni tahun 2010, ada tiga daerah di wilayah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) dikatagorikan sebagai kejadian luar biasa (KLB) malaria. Tiga daerah itu yakni Desa Rantau Bujur dan Pau, kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar dan Desa Karang Bintang, Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu).

“Di ketiga daerah itu terdapat delapan orang meninggal dunia akibat malaria,” kata Kabid Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kalsel, Sukamto, Selasa (15/6).

Menurut Sukamto, kasus malaria klinis di Kalsel hingga 9 Juni 2010 dari 13 kabupaten/kota se-Kalsel tercatat sebanyak 3.412 orang dan 15 orang diantaranya meninggal dunia.

Dari 3.412 orang warga masyarakat yang termasuk malaria klinis tersebut, terbanyak berasal dari Kabupaten Kotabaru 894 orang, disusul Kabupaten Tanah Laut sebanyak 667 orang, dan Kabupaten Tabalong mencapai 629 orang. Selain itu, Kabupaten Banjar sebanyak 372 orang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) 305 orang, Kabupaten Tanah Bumbu 202 orang, dan Kota Banjarbaru 117 orang, sedangkan daerah lainnya masih di bawah 100 kasus.

Sedangkan 15 korban gigitan nyamuk malaria yang meninggal dunia terbanyak berasal dari Kabupaten Banjar tujuh orang, Tanah Bumbu tiga orang, Tanah Laut, dan Kabupaten HSS masing-masing dua orang, dan Tabalong satu orang.

Sementara itu, dari sedia darah yang diperiksa sebanyak 2.193 orang, ternyata sebanyak 1.064 orang yang positif mengidap penyakit malaria. Terbanyak malaria tertiana 705 orang, tropikana 285 orang, perpana sembila orang, dan gabungan 69 orang.

Meningkat

Sedangkan di Biak, Papua, kasus malaria atau penyakit demam berdarah dengue (DBD) hingga lima bulan ini terus meningkat. Dari kasus tersebut yang sudah meninggal sebanyak dua belas orang.

Dari data Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat, sejak 2008 terdapat tiga kasus, 2009 sebelas kasus dan sejak Januari – Mei 2010 sudah mencapai 35 kasus. Dengan adanya peningkatan kasus ini maka Dinkes sejak Maret telah tetapkan kasus DBD sebagai kejadian luar biasa (KLB).

” Yang terbanyak berada di dua distrik yang jumlah penduduknya cukup padat yaitu Biak Kota dan Samofa,” kata Kepala Seksi Wabah dan Bencana Dinkes Biak, Ruslan kepada Jurnal Nasional, Selasa (15/6).

Upaya preventif terus dilaksanakan dengan melakukan intervensi, pengasapan (fogging), apatisasi dan sosialisasi pencegahan kepada masyarakat. Dan pada setiap lingkungan keluarga disarankan untuk terapkan program 3M atau menguras, membersihkan dan mengubur. n Rahma/Opin Tanati

2. Sinar Harapan

June 16, 2010

Relokasi Unggas Terancam Gagal

OLEH: ANDREAS PIATU

Jakarta – Relokasi unggas di wilayah Jakarta terancam gagal karena hingga kini baru 27 pedagang yang pindah ke lokasi Rawa Kepiting, salah satu lokasi yang disediakan Pemda Jakarta. Padahal, lokasi lainnya, seperti Cakung, Pulo Gadung, Pertukangan Utara, dan Srengseng Sawah masih kosong.

Terkait hal itu, Asisten Perekonomian Jakarta Hasan Basri Saleh yang dihubungi SH, Selasa (15/6) siang, menga ku belum tahu perihal itu. Ia hanya menyatakan, pihak nya segera memanggil Dinas Pe ternakan dan Ke lautan untuk menanyakan perkembangan relokasi unggas yang ditargetkan Des ember 2010 selesai.
“Saya belum tahu perkembangan sehingga akan memanggil Dinas Peternakan dan Perikanan pada Kamis mendatang,’’ tegasnya.
Ia menyatakan, Dinas Peternakan dan Kelautan perlu memberikan penjelasan tentang bagaimana kemajuan relokasi unggas, hambatan dan program yang akan dilaksanakan dalam mencapai target relokasi unggas yang ditetapkan Desember 2010.
Ketika ditanya apakah target yang ditetapkan akan tercapai, Hasan menegaskan, harus dilihat kondisinya saat ini, bagaimana perkembang annya, bagaimana hambatan dan upaya apa yang akan dilakukan untuk mencapai target yang sudah ditetapkan.
Dari informasi ini, ungkapnya, akan terlihat apakah akan selesai pada Desember 2010 atau ada hambatan. ‘’Sampai saat ini targetnya tetap De sember 2010 harus selesai. Ha nya, kita perlu lihat bagaimana program dan kegiatan yang dilakukan Dinas Peternakan dan Kelautan mengenai relokasi unggas,’’ katanya.
Belum Tahu
Kepala Dinas Peternakan dan Kelautan Jakarta Ipih Ruyani ketika dihubungi SH, Selasa (15/6), mengatakan, pihaknya belum tahu persis berapa pedagang unggas yang sudah pindah ke lokasi yang ditetapkan.’’ Saya akan kumpulkan suku dinas. Saya belum tahu berapa pedagang unggas yang sudah pindah ke lokasi yang telah disediakan pemda,’’ tegasnya.
Informasi yang diperoleh menyebutkan, terdapat  1.950 lokasi pemotongan unggas. Sementara tempat penampungan unggas sebanyak 210 lokasi. Lokasi pemotongan maupun penampungan unggas harus sudah pindah ke lokasi yang disediakan Pemda, Desember 2010.
Sementara saat ini, dari informasi yang diperoleh baru 27 pedagang yang sudah pindah ke Rawa Kepiting, salah satu lokasi yang disediakan Pemda. Terdapat lima lokasi yang disediakan, yakni Rawa Kepiting, Cakung, Pulo Gadung, Pertukangan Utara, dan Srengseng Sawah.
Pedagang unggas yang pindah karena lokasi penampungan yang disediakan Pem da pun belum semuanya siap kecuali Rawa Kepiting. Selain itu, pedagang unggas pun ti dak mau pindah satu per satu. Pedagang unggas menhendaki pindah sekaligus atau se­rentak. Oleh karena itu, mereka menunggu sampai semua lokasi selesai dibangun. Meski demikian, bagi pedagang yang bersedia pindah tetap dilayani.
SH memperoleh informasi, sebenarnya pedagang tidak ingin pindah ke lokasi yang disediakan karena jauh dari pasar dan konsumen. Hal ini terlihat dari penolakan adanya relokasi. Keinginan pindah serentak hanya alasan untuk menunda atau menghambat relokasi unggas. Oleh karena itu, diperkirakan, rencana relokasi unggas akan selesai pada Desember 2010, bakal gagal.n

3. Suara Merdeka

June 15 2010

Satu Orang Tewas Terserang Flu Burung

WONOGIRI – Seorang warga Wonogiri, dilaporkan tewas diduga terserang penyakit flu burung atau Avian Influenza (AI). Korban bernama Supar (55), petani yang tinggal di Dusun Pakelan RT 4/RW 2 Desa Jeporo Kecamatan Jatipurno Kabupaten Wonogiri.
Secara klinis, kematian korban mengarah pada indikasi suspect terserang flu burung. Tapi untuk memastikannya secara medis, masih menunggu hasil tes serologi darah korban, yang kini tengah diselidiki di laboratorium. Kasus kematian korban flu burung di Kabupaten Wonogiri, sebelumnya pernah merenggut dua nyawa anak di Kecamatan Eromoko dan di Kecamatan Manyaran.
Tragedi maut di Kecamatan Eromoko, dialami oleh Setya Indratsih (5). Balita yang tinggal di Dusun Semangkahlor Desa Sindukarto Kecamatan Eromoko ini, tewas pada bulan Mei 2007 sebagai korban flu burung pertama di Wonogiri. Menyusul korban tewas kedua, adalah balita Muhamad Zaiful Hidayat (3), warga Dusun Bero Desa Bero Kecamatan Manyaran Kabupaten Wonogiri, yang meninggal pada bulan Mei 2008.
Kematian Supar yang terjadi di bulan Juni 2010 ini, menjadi korban ketiga tewas akibat serangan AI yang disebabkan oleh penularan virus H5NI dari unggas ke manusia.
’’Mencermati gejala klinis, memang penyebab kematiannya mengindikasikan ke arah serangan flu burung. Tapi kepastian medisnya, masih menunggu hasil tes darahnya yang dikirim ke laboratorium Jakarta,’’ tegas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Wonogiri dokter AUG Jarot Budiharso MKes.
Kambuh Lagi Dokter Jarot didampingi Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit Menular Penyehatan Lingkungan (P2MPL) dokter Tuti Darsari, Selasa (15/6), menyatakan, berdasarkan dari hasil penyelidikan yang dilakukan tim kesehatan, korban Supar mulai sakit demam tanggal 30 Mei 2010. Awalnya diperiksakan ke bidan Warti di Desa Mirahan, dan hasilnya membaik.
Tapi kemudian kambuh lagi, dan diobatkan ke perawat Safela Tinangon Desa Pandeyan Kecamatan Jatisrono. Karena disertai mual dan muntah, kemudian dibawa ke RS Amal Sehat Kecamatan Slogohimo, dan dirujuk ke RS Marga Husada Wonogiri. Karena keadaan kesehatannya jelek, kemudian dirujuk ke RS dokter Oen Surakarta, dengan diagnosa pnemonia.
Tanggal 9 Juni 2010, Supar dirujuk lagi ke RS dokter Muwardi Solo. Hanya sekitar 10 jam dirawat di RS dokter Muwardi, korban meninggal, dengan diagnosa suspect flu burung.
Dari hasil penyelidikan epidemologi ke Dusun Pakelan, tim kesehatan memperoleh keterangan di sekitar pemukiman korban pernah terjadi kematian ayam mendadak dan dari rapid tes-nya positif flu burung.
Kepala Dinas Peternakan Perikanan Kelautan (Nakperla) Wonogiri, Ir Ruli Pramono MM, menyatakan, pihaknya juga telah menurunkan tim ke lokasi, sekaligus dilakukan penyemprotan desinfektan ke kandang ternak warga, dan menyerukan masyarakat menjaga kebersihan lingkungannya, serta melaporkan bila mendapati unggas mati mendadak. ’’Selama ini, Kecamatan Jatipurno sebenarnya tidak termasuk ke dalam peta endemis flu burung,’’ tegas Ruli.(P27-64)

4. Antara

June 16, 2010

WARGA LAMPUNG SELATAN BELUM TAHU FLU BURUNG

Bandarlampung, 16/6 (ANTARA)- Sebagian warga Kampung Sawah di Kecamatan Katibung, Kabupaten Lampung Selatan, mengatakan banyak ternak unggasnya yang mati terjangkit flu burung sejak tahun lalu, namun mereka tidak tahu jika penyakit itu sangat mematikan dan bisa menjangkiti manusia.
“Tahun lalu saya pernah punya puluhan ekor ayam kampung, semuanya mati mendadak. Sejak saat itu, saya tidak memelihara unggas lagi,” kata Ujang, salah satu warga di Kampung Sawah, Dusun Kubu Garam, Desa Tarahan, Kecamatan Katibung, Kabupaten Lampung Selatan, Rabu.
Ia menyebutkan, ternak unggas di kampungnya sudah banyak yang mati terjangkit flu burung, sehingga warga setempat kini lebih banyak memelihara kambing peranakan etawa.
Menurut dia, sosialisasi pencegahan penularan flu burung belum pernah dilaksanakan di kampungnya sehingga tidak mengetahui kalau penyakit itu sangat mematikan jika sampai tertular ke manusia.
“Saya tidak tahu kalau flu burung itu bisa menjangkiti manusia dan sangat mematikan. Saya pikir hanya penyakit untuk unggas saja,” katanya.
Sejumlah warga lainnya juga mengatakan hal senada, yakni kurang mengetahui pencegahan penyebaran flu burung, termasuk bahaya penyakit itu.
Berdasarkan pantauan, rumah- rumah di Kampung Sawah umumnya rumah sederhana, meski terdapat sejumlah rumah semipermanen. Masih terdapat sebagian kecil unggas yang dipelihara tanpa kandang, terutama itik.
Warga setempat umumnya lebih memilih memelihara kambing atau bekerja sebagai petani dan nelayan.
Lingkungan perkampungan itu umumnya lembab dan jalan tanah kampung itu tergenang air di sejumlah titik.
Kabupaten Lampung Selatan merupakan daerah endemis flu burung dan seluruh kecamatan di kabupaten itu bahkan telah terjangkit flu burung tahun 2008 lalu.
Pada 2010, serangan flu burung juga kembali terjadi di sejumlah kecamatan, seperti Kecamatan Ketapang, Kalianda dan Palas.
Berdasarkan data di Dinas Peternakan Lampung Selatan, selama 2008 jumlah kasus serangan flu burung di Lampung Selatan 35 kasus, dan jumlah unggas yang mati mencapai 3.000 ekor. Pada 2009 jumlahnya menurun, yakni hanya 17 kasus, dan jumlah unggas yang mati 500 ekor.
Jumlah unggas yang terjangkit flu burung diyakini jauh lebih besar, karena tidak semua kasus unggas tertular avian influenza yang dilaporkan ke instansi terkait. (T.H009) (T.H009/B/R007/R007) 16-06-2010 10:34:39 NNNN

5. Equator News On Line

16 Juni 2010

RSUD Soedarso Siaga Flu Burung

Hasil lab belum keluar. Diyakini 99 persen flu burung. Pemusnahan unggas berlanjut. Hindari penularan kepada manusia, tim medis dalam kondisi siap.

PONTIANAK. Disnakeswan dan Balai Karantina Kelas I Pontianak terus meningkatkan kewaspadaan. Sejumlah unggas kembali dimusnahkan. Demikian pula RSUD Soedarso menyiapkan sarana dan tim medis jika ada yang terkena suspect flu burung (H5N1).

“Kami telah menyiapkan ruang isolasi pasien lengkap dengan alat kesehatan penunjang. Antisipasi pencegahan juga diterapkan ketat kepada perawat dan tim medis di ruang unit gawat darurat (UGD),” kata Direktur RSUD Soedarso Pontianak, dr Gede Sanjadja kepada Equator, Selasa (15/6).

Upaya rumah sakti daerah terbesar di Kalbar itu menyusul merebaknya wabah yang membunuh ratusan ayam ternak selama tujuh hari terakhir ini di Pontianak dan daerah lainnya. “Kita sudah berkoordinasi dengan Disnakeswan terkait dugaan virus flu burung yang menyerang ratusan ayam ternak,” ujar Gede.

Antisipasi dari pihak RSUD Soedarso juga dilakukan dengan mengefektifkan penggunaan masker mulut dan sarung tangan. Selain itu, perawat dan tenaga medis harus menggunakan cairan antiseptik setiap selesai melakukan penanganan medis terhadap pasien. “Bahkan semua petugas sudah dibekali pengetahuan prosedur tetap pencegahan penularan flu burung,” kata Gede.

Setelah pemusnahan unggas sehari sebelumnya, petugas dari Balai Karantina kembali memusnahkan sebanyak 64 ekor unggas terdiri dari ayam dan burung, Selasa (15/6) sekitar pukul 09.00 di Balai Karantina Jalan Komyos Sudarso.

Sebelum dimusnahkan dengan cara dibakar, unggas terlebih dahulu disembelih lehernya agar mati. Unggas yang dimusnahkan terdiri dari 19 ekor ayam, 26 burung tekukur, 11 burung merpati, 3 burung perkutut, 2 burung kutilang, 1 burung jalak dan 1 burung ciblek. Itu didapat dari hasil razia petugas selama satu minggu di Pelabuhan Dwikora Pontianak, yang dibawa penumpang dari Semarang, Surabaya, Madura dan Jakarta.

Namun pemiliknya tidak dapat menunjukkan surat rekomendasi dari balai karantina tempat asal unggas tersebut. “Bawa unggas dari luar Kalbar tidak boleh. Kecuali ada surat rekomendasi dari karantina asal hewan tersebut yang menyatakan unggas tersebut sehat,” terang Drh Faisyal Noer, Kasi Pengawasan dan Penindakan Balai Karantina Kelas 1 Pontianak.

Meski belum diyakini membawa virus H5N1, namun tetap dirazia untuk kewaspadaan menyebarnya virus flu burung ke Kalbar. “Unggas-unggas ini dibakar agar virus-virus yang dibawanyanya turut mati,” ujar Faisyal.

Untuk dapat membawa unggas dari luar Kalbar, diharapkan dilengkapi surat rekomendasi yang sah. Pengurusan rekomendasi ini pun tidak lah sulit dan memerlukan bisaya mahal. Hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit serta biaya Rp 5 ribu perekor ayam dan Rp 2,5 ribu perekor burung.

Sekitar satu minggu terakhir, masyarakat kota Pontianak dikejutkan dengan kematian mendadak beberapa ayam. Deretan kematian ayam itu berawal dari jenis ayam kampung milik Yusuf, warga Pontianak Timur, sekitar tujuh hari lalu. Soal penyebab kematian ayam-ayam ini, memang belum pasti. Namun diyakini 99 persen ayam-ayam itu tewas mendadak akibat serangan virus H5N1.

Perketat pengawasan

Terkait dugaan masuknya flu burung ke ke Kota Pontianak, Balai Karantina akan melakukan pengawasan. Tidak hanya di kapal-kapal penumpang di pelabuhan Dwikora, mereka pun akan menyusuri pelabuhan-pelabuhan rakyat. ”Kita akan melakukan pemantauan di jalur-jalur laut seperti di Jongkat, Nipah Kuning dan pelabuhan kapal-kapal lainnya,” kata Faisyal lagi.

Sementara itu drh Abdul Manaf Mustafa, Kepala Disnakeswan Kalbar, menjelaskan, untuk mengantisipasi penyebaran flu burung, akan berkerja sama dengan Balai Karantina serta di-backup polisi. Sebab pengawasannya di Pontianak lemah.

”Merebaknya flu burung di Kota Pontianak memang lemah dalam pengawasan. Kita maklum Karantina terbatas, masyarakat pun belum mengerti, contohnya ada unggas-unggas masuk tiap minggu tanpa dokumen oleh penumpang kapal,” terangnya.

Kalau unggas-unggas ini masuk dari kapal penumpang, ada petugas karantina yang menangkapnya. Tapi, kata Manaf, kebanyakan unggas-unggas tersebut dibawa melalui kapal-kapal kecil antarpulau yang merapat. ”Kalau dia masuk di tempat jajaran karantina bisa ditangkap, tapi pintu masuk Kalbar banyak,” tukasnya.

Langkah lain untuk mencegah penyebaran flu burung, Disnakeswan berkoordinasi dengan kabupaten-kabupaten melakukan pengawasan terhadap kendaraan-kendaraan yang membawa unggas dari atau pun menuju Kota Pontianak, akan disemprot.

Untuk itu pihaknya akan mengerahkan alat injection bagi kendaraan-kendaraan pengangkut unggas yang keluar masuk. ”Upaya ini tetap dilaksanakan walaupun ini belum 100 persen flu burung sebab hasil diagnosanya melalui uji laboratorium,” tambahnya. (oen/arm)

6. Equator News On Line
17 Juni 2010

Sampar Ganas Dipicu Flu Burung

Disnakeswan masih penasaran. Sampel dikirim ke BPPV Banjarbaru, tim Unair diturunkan. Aksi pencegahan berlanjut dengan penyemprotan kendaraan. 

PONTIANAK. Virus yang menyebabkan kematian ayam di beberapa lokasi se-Kota Pontianak sejak Jumat (11/6) lalu, lebih disebabkan Newcastle Disease (ND) atau sampar pada ayam yang sangat ganas. Sedangkan virus flu burung low pathogenic yang ditemukan pada unggas mati itu, hanya menumpang pada tubuh inangnya.

“Biasanya virus ini akan menumpang. Waktu kami tes hasilnya positif flu burung tetapi bukan yang ganasnya. Matinya karena ND. Virus itu menumpang,” jelas Abdul Manaf Mustafa, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Kalbar di ruang kerjanya, Rabu (16/6) kemarin.

Manaf mengkhawatirkan, virus yang muncul pada unggas yang mati berdasarkan rapid test bukan flu burung yang high pathogenic (PAI) melainkan low pathogenic. Untuk membuktikan hal ini, Disnakeswan akan melakukan pemeriksaan laboratorium dengan VCR.

Menurut dia, virus flu burung low pathogenic ditemukan dalam tubuh hewan unggas mati itu. Artinya, virus flu burung itu hanya memperlemah kondisi unggas. Karena lemah itu maka virus ND atau sampar pun masuk. Sedangkan untuk virus flu burung yang high pathogenic jika menyerang unggas akan membunuhnya secara ganas.

Sehingga, lanjutnya, Disnakeswan akan berusaha mencari tahu lebih dalam dengan mengirimkan sampel ke laboratorium Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner (BPPV) di Banjarbaru. “Mereka juga sudah mengirim tim dan turun ke lapangan pagi tadi (kemarin, red). Besok (hari ini, red) tim dari Pusat Penelitian dan Penyakit Tropis dan Flu Burung Universitas Airlangga akan turunkan tim juga,” terang Manaf.

Tim dari BPPV Banjarbaru bertugas mengungkap apakah virus yang menyerang ayam di Kota Pontianak ini termasuk virus flu burung atau bukan. Sedangkan, tim dari Unair, tugasnya menemukan jika virus yang menyerang positif flu burung apakah jenisnya baru atau merupakan jenis lama. “Jika memang benar positif flu burung apakah benar masuk dari luar atau memang mutasi yang lama-lama karena mengendap,” jelas Manaf yakin.

Sejauh ini, pemeriksaan di lapangan yang dilakukan tim Disnakeswan menemukan 18 ekor unggas yang dinyatakan positif flu burung melalui rapid test. “Sedangkan sisanya negatif, maka kami sebut diduga. Tetapi pada saat kami uji untuk ND atau sampar itu justru positif,” tegas Manaf.

Dijelaskannya, dalam menetapkan suatu penyakit itu dibutuhkan uji gejala klinis, kemudian dilakukan bedah bangkai atau pathology anatomy untuk melihat perubahan peralatan seperti saluran pernapasan, hati, limfa dan segala macamnya. “Selanjutnya dilakukan rapid test baru selanjutnya pemeriksaan melalui laboratorium dengan pemeriksaan VCR yang sekarang ini sedang dilakukan,” kata Manaf.

Sejak merebak virus yang mematikan puluhan ayam itu, Manaf mengaku pihaknya sudah dapat melokalisir virus. “Kami menerapkan pemusnahan sesuai Standard Operating Procedure (SOP). Misalnya tak sampai membunuh hewan tersebut hidup-hidup,” kata Manaf.

Alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) ini meminta kepada masyarakat untuk cepat melapor jika hewan unggas ternak yang mereka pelihara mati mendadak. “Jangan dibuang ke parit atau tempat sampah. Itu akan menyebar,” saran Manaf.

Demi meningkatkan pengawasan, terhitung Rabu (16/6) kemarin Disnakeswan Kalbar mulai menyemprot kendaraan-kendaraan pengangkut hewan ternak yang masuk dan keluar Kota Pontianak. “Hari ini memang kami sudah diberlakukan setiap truk angkutan ternak apakah membawa ayam hidup atau telur dan daging setelah menurunkan barangnya di Kota Pontianak harus disucihamakan lebih dahulu,” jelasnya.

Proteksi yang dilakukan Disnakeswan Kalbar ini untuk memutus mata rantai jangan sampai penyakit ini menyebar luas ke daerah lain. “Jadi kami menggunakan disinfectant yang dapat membunuh virus dan bakteri,” ungkapnya yakin. Penyemprotan kendaraan itu dilakukan di halaman Kantor Disnakeswan dan dibuka selama 24 jam tanpa dipungut bayaran.

Setelah kendaraan pengangkut itu dibersihkan sekitar setengah jam, maka akan dikeluarkan surat keterangan biosecurity. Setiap kendaraan sesampainya di Jembatan Timbang diharuskan menyerahkan surat tersebut. “Jika oke, mereka dapat berangkat. Tetapi kalau belum disemprot maka akan diminta kembali ke sini,” papar Manaf rinci.

Jika kedapatan ada kendaraan yang tidak mau melakukan penyemprotan maka konsekuensi yang didapat jika terjadi wabah, yang bersangkutan harus bertanggungjawab. Sebab, undang-undang menyatakan demikian. “Ya kita tuntut saja,” tegas Manaf seraya mengimbau dengan kasus ini hendaknya masyarakat tidak terlalu takut untuk mengonsumsi ayam serta telur.

Protes

Sebanyak 8 orang pegawai Disnakeswan Kalbar, pihak kecamatan dan petugas kepolisian dari Polsek Pontianak timur mendatangi rumah Yusuf di Gang Jiran Tanjung Raya I, Rabu (16/6) sekitar pukul 12.00. Mereka hendak melanjutkan pemusnahan unggas milik Yusuf dan istrinya Satiri yang sebelumnya telah dimusnahkan sebanyak 28 ekor ayam.

Yusuf protes dan terjadi dialog setelah Yusuf menghalangi petugas yang ingin memusnahkan hewan ternaknya itu. Yusuf meminta kepada petugas supaya membuat surat perjanjian karena dirinya belum mengetahui pasti penyakit yang menimpa ternaknya.  “Saya ingin kejelasan, bukan saya tidak mau ngasi ayam ternak saya dimusnahkan, tetapi saya tidak mau sebelum tahu hasilnya. Meskipun saya orang awam, tapi juga ingin tahu hasilnya,” ujar Yusuf.

Yusuf tetap bersikeras tak mau memberikan ayam dan bebek miliknya yang masih sekitar seratusan ekor. Begitu juga surat perjanjian yang disodorkan dari kepolisian, urung ditandatangani. Isi surat itu kesediaan memusnahkan unggas setelah ada hasil uji penyakit yang menimpa ternak Yusuf.

Waspadai ILI

Serangan penyakit yang mematikan unggas di empat kawasan Kota Pontianak membuat jajaran Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar siaga. Koordinasi dengan setiap Puskesmas di Kota Pontianak ditingkatkan. Di setiap tempat pelayanan kesehatan pun sudah disediakan tamiflu. Petugas Puskesmas juga sudah dilatih untuk melakukan surveillance dan sudah disiapkan alat pelindung diri.

Hal yang patut diwaspadai adalah jika ada pasien yang mengalami gejala seperti influenza (Influenza Like Illness /ILI) dan pasien tersebut baru saja bepergian atau pernah kontak dengan orang dari daerah terjangkit, maka patut dicurigai (suspect). “Jumlah puskesmas yang melayani program ILI memang tidak banyak, namun merata di setiap kecamatan pasti ada. Ada kasus flu burung atau tidak, kami tetap menghidupkan program ini,” tegas Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar, dr M. Subuh kepada Equator via telephone, Rabu (16/6).

Menurut dia, laporan terkait pencegahan ILI itu ada dua jenis, yakni jenis W1 yang laporannya dilakukan 24 jam dan jenis W2 untuk laporan mingguan. Dari laporan tersebut dapat diketahui dengan cepat setiap perkembangan pasien di puskesmas terutama yang dilengkapi dengan program ILI. ”Hingga saat ini, belum ada yang diduga terkena virus H5N1,” tutur mantan Direktur RSUD Soedarso Pontianak ini.

Ia menjelaskan, virus H5N1 ini dapat dicegah dengan menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Terutama masyarakat yang sedang terserang flu diimbau agar menerapkan etika batuk dan bersin. “Kalau batuk harus ditutup dengan tisu dan tisunya segera dibuang. Gunakan juga masker dan sementara waktu jangan sering berkerumun di tempat keramaian,” paparnya.(ian/sul/oen)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: